Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
10. Ari sahabat terbaik


__ADS_3

"Hey key, kamu kemana saja kenapa tidak masuk sekolah" Ari yang baru saja sampai langsung melemparkan pertanyaan padaku. Aku bingung mau berbicara apa pada ari. Aku tidak ingin dia tau bahwa aku tidak masuk sekolah karena beberapa drama yang masuk kedalam rumah kecilku.


"Hmmm, aku sakit ri"


"Apa sudah berobat key? " Tanya ari yang mulai cemas. Tangannya kembali memegang dahiku dan memastikan apakah masih panas atau tidak.


"Hmmm, tidak aku hanya demam biasa saja ri" Perlahan akun menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ari berikan.


"Kamu gimana sih, ayo nanti kita berobat setelah pulang sekolah" kesalnya padaku saat kekhawatirannya kembali muncul untuk seorang sahabat Satu-satunya yang ia miliki. .


"Tidak, tidak aku sudah sembuh kok" Terus saja jwabanku mencoba untuk meyakinkan ari.


*bruk, brukkk*


"Lihat aku sudah sembuh kan" Aku loncat-loncat di depan ari agar dia merasa yakin bahwa aku sudah sehat.


"Sudah, sudah sini duduk" Kepalaku mengangguk dan tersenyum untuk memberikan jawaban bahwa aku setuju.


*kringgggg* bel sekolah berbunyi, persiapan melakukan pembelajaran di jam pertama. Aku bersiap diri untuk mengikuti pelajaran. Buku dan bulpoin sudah siap di atas meja. Tidak perlu kotak pensil atau apalah itu, karena aku suka yang simpel saja.


"Pagi anak-anak" Bu Leni memasuki ruang kelas untuk melakukan pelajaran utama yaitu bahsa Indonesia. Selain sebagai guru bahasa Indonesia, bu Leni juga salah satu wali kelas kami. Mengajari kami dengan kasih sayang dan melindungi satu sama lain.


Meski terkadang jika beliau marah maka terasa pecah gendang telinga ini. Tapi terkadang juga tutur katanya menjadi lemah lembut. Seperti memiliki kedua sifat dalam dirinya. Dan aku selalu menghargai apapun keputusannya.


"Pagi buuuu" Sahut para siswa yang sudah duduk rapi di dalam kelas.


"Oh iya kita absen dulu ya"


"Baikk bu"


"Key" Saat tiba namaku dipanggil, tatapan bu Leni menjadi tajam. Aku menelan ludah karena sudah takut menatap matanya. Sepertinya dia akan marah karena aku tidak bersekolah selama 2 hari.


"Iii, iiiya saya bu" Bu Leni berdiri dari tempat duduknya. Langkahnya bergegas maju menghampiriku


*brakkkk* semua siswa terkejut saat tangan bu Leni memukul meja dengan keras.


"Kenapa kamu kemarin tidak masuk tanpa keterangan" Tatapannya semakin tajam dan mendekat. Terasa aku sedang diinterogasi karena kasus besar. Lagi-lagi aku menelan ludah sebelum menjawab.


"Sa,, saya sakit bu" Ucapku gemetar.


"Kenapa tidak mengirim surat" Bentuknya kembali.


"Karena tidak ada yang membantu saya untuk mengantarkan surat ke sekolah bu" Sahut ku dengan suara yang melirih.


"Apa buktinya jika kamu benar-benar sakit key" Pertanyaan terus bertubi-tubi diberikan padaku. Aku berusaha tenang dan menjawabnya untuk memastikan bu Leni percaya kepadaku. Tapi sangat susah untuk meyakinkan bu Leni karena dia tidak mudah tertipu.


"Huuuuu, palingan juga kelayapan main si key bu" Yuri memprovokasi bu Leni untuk memarahiku. Sepertinya kali ini aku tidak selamat.


"Diam kamu yuri, saya tidak berbicara dengan kamu" Bentak bu Leni pada yuri, seketika bibir yuri langsung terdiam dan tidak mengeluarkan perkataan apapun.


"Hmm, mohon maaf bu key memang sakit kemarin saya menjenguknya setelah pulang sekolah bu" Ari memotong pembicaraan kami sekaligus dia menyelamatkan aku meskipun sementara.


"Benarkah ari? Apa kamu tidak berbohong pada ibu? "


"Tidak bu, saya tidak berbohong"


"Baiklah, kita akan melanjutkan pembelajaran hari ini" Aku dan ari menghembuskan nafas dengan tenang. Kali ini ari menyelamatkanku lagi dari amarah bu Leni.

__ADS_1


Bu Leni tidak akan mebantah jika ari yang mengatakannya. Karena ari adalah anak teladan di kelas ini yang disayangi oleh guru-guru. Selain tutur bahasanya dan perilaku ari yang sopan, dia juga pintar dan selalu menjadi andalan guru-guru.


Bahkan ari juga dikenal dengan anak yang memiliki kepribadian yang sangat baik, berbeda sekali dengan aku yang selalu saja menjadi bahan obrolan guru karena kebodohan dalam belajar. Tapi sebetulnya tidak bodoh-bodoh amat, hanya saja susah untuk memahami pelajaran.


"Ri makasih"


"Santai saja key, kita adalah sahabat bukan?"


"Iya, hehehe" Kami berdua kembali mengikuti pembelajaran yang bu Leni terangkan.


*kringgggg* bel istirahat berbunyi. Waktunya untuk bersantai di dalam kelas atau ke kantin.


"Key, wajah kamu kenapa sih kok seperti lebam begitu" Pandangan ari menatap jelas wajahku yang masih ada bekas sedikit lebam di pelipis dan bekas sayatan luka.


"Oh ini, aku terjatuh kemarin tapi udah gak kenapa-kenapa sih" Ari hanya mengangguk dan tidak meneruskan pertanyaannya.


"Oh iya ri, kita kan udah temenan lama dan bisa dibilang kita adalah sahabat. Boleh gak aku nanya sesuatu sama kamu?"


"Kenapa memangnya key?"


"Kamu kan pinter, tapi kenapa tidak sekolah di tempat anak-anak yang hebat? " Tanyaku yang penasaran dengan pilihan ari.


"Oh itu, lagipula percuma key"


"Percuma kenapa? " Ari langsung memalingkan wajahnya seakan dia sedang salah untuk berbicara.


"Eeee, ya percuma kan semua sekolah itu sama jadi apa salahnya tidak bersekolah di tempat elit"


"Hmm, iya juga sih" Disini aku berbagi cerita bersama ari.


Kata ari, kebahagiaan memang ada tapi sewaktu-waktu akan hilang dimakan waktu begitu juga kesedihan yang bergulir saja di hidup seseorang tapi sewaktu-waktu akan di ganti juga dengan kebahagiaan. Begitulah kehidupan yang tidak terus bertumpu pada satu titik, karena roda kehidupan akan terus berputar hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.


Setelah itu kami melanjutkan jam pelajaran hingga waktu pulang tiba. Aku dan ari berjalan bersama-sama melewati lorong kelas-kelas menuju gerbang sekolah. Seperti biasa mobil ari sudah terparkir rapi dan siap untuk menjemputnya.


Lalu aku kembali pulang kerumah dengan berlari-lari kecil dan berniat akan berkunjung kejalanan tapi tidak untuk berjual koran karena aku butuh istirahat walau sebentar saja. Hanya saja aku ingin berbicara dengan riki sambil membawa bola. Supaya riki bisa bermain bola sambil jualan dan juga mengajariku beberapa skill yang pernah riki miliki.


"Hay ki, gimana udah laku banyak?"


"Lumayan lah key, setidaknya masih siang begini udah laku daripada tidak laku sama sekali.


" Iya bener, pokoknya harus tetap semangat dan jangan lupa bersyukur" riki mengangguk dengan ucapanku


"Oh iya, kamu gak jualan? "


"Nggak, lagi mau santai aja sih. Nih bola" Bola itu langsung melekat pada kaki riki. ia melakukan juggling bola dengan baik membuat aku terpanah menatapnya. Meskipun riki sudah lama tidak bergelut lagi dengan bola, tapi skill dasarnya masih ada dan tidak hilang.


"Wihhh, hebat juga temen aku yah" Riki hanya menjawab dengan tawa kecil lalu fokus lagi bersama bola.


"Ki, ajarin aku dong biar juggling dengan baik seperti kamu" aku sangat ingin belajar dengan riki setelah melihat kemampuannya.


"Yaudah ayo" Riki mengajariku untuk juggling bola. Meskipun David sudah mengajari saat itu, tapi aku harus tetap berlatih dan berlatih hingga bisa. Karena tidak mungkin belajar itu hanya satu kali. Setidaknya kita bisa belajar dimanapun kita mau asalkan ada kemauan yang besar. Baik itu di rumah, di sawah, atau dijalanan. Asalkan tidak bermain di tengah jalan karena bahaya.


"Asik juga cara kamu juggling bola key" Ucap Riki yang dari tadi tatapanny tertuju padaku.


"Is, masih bagusan kamu lagi kan aku masih tahap belajar ki"


"Yaudah berlatih terus key biar nanti bisa menjadi pemain hebat" Oke siap ki. Riki kembali melanjutkan jualan di tengah ramainya kendaraan yang berhenti saat lampu berwarna merah.

__ADS_1


Sedangkan aku asik bermain dengan bola di pinggir trotoar jalan samping warung pak abu. Walaupun juggling aku masih belum sempurna, tapi tekad ini sangat kuat dan tidak mudah menyerah. Gagal lalu melanjutkan lagi, jika terjatuh lalu bangun lagi. Begitulah seterusnya hingga aku merasa puas bermain-main dengan bola.


Sudah dua jam aku dijalanan, berbincang-bincang dengan Riki, ngobrol dengan pak abu dan bermain bola. Waktunya aku berpamit untuk pergi dan lanjut ke tempat latihan David.


"Ki, aku mau ke lapangan dulu ya"


"Sendirian key?"


"Iyalah, memangnya kamu mau ikut? " Tanyaku pada Riki.


"Hmm, sebenarnya ingin tapi jika aku terus meninggalkan dagangan ku makan uang yang aku dapatkan akan berkurang"


"Iya juga sih, tenang aja Riki nanti aku bakalan kesini main bola sama kamu"


"Oke siap kwy" Senyuman Riki kembali menampakkan semangat padaku.


"Pak, key pamit pergi dulu ya" Pamit ku pada pak abu yang sedang sibuk menjaga waringnya. Tanganku pamit dan bersalaman pada pak abu. Lagipula pak abu sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri karena selama dijalanan ia selalu menjagaku.


"Hati-hati ya key, jangan lupa semangat" Aku membalasnya dengan lambaian tangan dan senyuman. Langkahku berangsur-angsur menjauh dan berlari kecil menuju lapangan biasa tempat David berlatih. Membawa bola yang David berikan agar membuat semangat latihan membara pada diriku.


Saat aku sudah sampai disana, rupanya masih latihan dan belum selesai juga. Bahkan di sana sudah dilakukan game yaitu beradu taktik atau skill untuk melawan teman sendiri selayaknya pertandingan. Disana aku melihat David, permainannya yang cantik memukau mataku.


Pandangan ini tidak pernah lepas dari david. Meski ini hanya permainan game untuk mencoba taktik dari pelatih, skill yang dimiliki David sangat bagus. Kontrol bola yang baik serta membawa bola seakan melekat di kakinya. Sepertinya nanti David akan bermain di timnas Indonesia jika pernainannya selalu baik dan berkembang.


*prittt* pluit dibunyikan oleh sang pelatih. Pertanda game sudah usai dan semua berkumpul di tengah lapangan. Mendengarkan arahan serta evaluasi yang pelatih berikan dari game yang sudah dilakukan tadi. Meski permainan David sangat cantik, tapi masih ada kekurangan dari David yang harus diperbaiki.


Serta beberapa kekurangan dari pemain yang masih belum membangun kekeluargaan dalam tim. Karena dalam sebuah pertandingan, kekeluargaan harus terjaga. Kerja sama dan rasa kekeluargaan dalam lapangan dari masing-masing pemain harus ada agar bisa menikmati jalannya pertandingan tanpa tekanan.


"Baik itu saja yang saya sampaikan, selebihnya kalian evaluasi dan perbaiki sendiri dari masing-masing kekurangan yang ada"


"Siap Coach"


"Sebelum mengakhiri pertandingan berdoa mulai"


"Selesai" Latihan sore ini sudah selesai, semua bergegas untuk pulang. Saat mataku tertuhu pada David, dia masih menunggu disana.


"Apa dia selalu menunggu seperti ini pada saat selesai pertandingan?, sedangkan aku tidak hadir selama 2 hari" Gumamku di balik semak-semak.


Pandangan David terus menatap ke segala arah seakan mencari sesuatu. David duduk seperti biasa dibawah pohon besar dengan tatapan yang penuh harap. Aku tidak mengerti apa yang sedang David harapkan. Langkahku bergegas keluar dari persembunyian dan masuk ke lapangan untuk menemui David yang menyendiri disana.


"Woy, kok bengong aja" David langsung terkejut dan beranjak dari tempat duduknya menghampiriku yang sedang berjalan ke arah pohon.


"Akhirnya kamu datang juga key, sudah 2 hari aku menunggu tapi kamu tidak datang" sahutnya.


"Hehehe, maaf yah ngerepotin. Aku lupa bilang kalo aku gak datang karena sakit"


"Hah sakit? Memangnya kamu sakit apa? " David mendekat dan menatapku dan mencari tau aku sakit apa.


"Udah sembuh David"


"Beneran key" Tangannya kembali memegang dahiku untuk memastikan bahwa keadaanku benar-benar baik.


"Ihhh, aku bilang udah sembuh kok" Ku lemparkan tangan David yang masih saja menampakkan wajah kekhawatirannya.


"Iya, iya, oh bentar aku ada sesuatu" David kembali menuju ke tempat tasnya. Dia mengambil sebuah kotak dan cukup besar lalu membawanya kepadaku.


__ADS_1


__ADS_2