
LANJUTAN POV YURI
Senja perlahan mulai tenggelam tapi mereka belum kembali juga dari pencarian. Kami menunggu dengan cemas untuk mendapatkan kabar. Doa dipanjatkan dan berharap key baik-baik saja. Aku menunggu disini dengan rasa khawatir yang sangat besar.
"Bagaimana, apakah Key ditemukan? " Aku langsung bertanya pada mereka yang sudah sampai dan berjalan ke arah kami. Tapi aku tidak melihat Key berjalan pulang bersama mereka.
"Tidak, kami tidak menemukan Key. Kami hanya menemukan sebuah sepatu yang Key gunakan" Kak Dika menenteng sepasang sepatu milik Key. Mereka hanya menemukan sepatu ini di atas bebatuan besar. Sepertinya Key memang ada disana tapi sekarang dia menghilang.
"Om akan mencari bantuan untuk mencari key. Sinyal di ponsel menghilang, kadang ada kadang juga tidak ada. Jadi om sangat susah untuk menghubungi pak Gilang" Om Roky bergegas ke desa untuk mencari bantuan. Semua orang panik karena key menghilang.
"Key kamu dimana" Aku menangis di dalam pelukan tante Maya. Hatiku hancur mendengar kabar bahwa Key menghilang. Aku berharap dia bisa ditemukan dalam keadaan selamat.
Hatiku sanagt cemas dan tidak karuan. Terlihat juga pada mata Ari yang seakan berbicara bahwa dia juga mengkhawatirkan Keyla. Air mataku tidak bisa di hentikan, pikiranku melayang tidka karuan. berbicara buruk tentang key terus meracau mengelilingi otakku.
"Sepertinya Key hanyut dalam sungai" Ucapan Ari menghancurkan harapanku. Aku tau key tidak bisa berenang, kami semua berdiam diri dan berdoa untuk mendapatkan keajaiban.
Kesunyian malam menjerit dalam hati masing-masing karena salah satu sahabat kami masih kedinginan di luar sana. Suara jangkrik bersautan, bercampur dengan hati yang kacau tapi kami hanya termenung memikirkan keadaan Key di luar sana.
Beberapa jam kemudian om Roky bersama pak Gilang kembali dari desa. Ia berkata bahwa warga desa akan membantu untuk mencarinya besok pagi. Jika ingin dicari saat ini, keadaan tidak memungkinkan karena keterbatasan penerangan.
"Kalian tidak boleh kemana-mana, tetap masuk dan istirahat di dalam tenda" Semua mengangguk mendengar perintah dari om Roky.
Sedikit agak lega mendengar berita bahwa mendapatkan bantuan dari warga desa. Tapi hatiku masih resah sebelum key ditemukan. Om Roky juga menyuruh kami semua untuk beristirahat. Tidak ada seorangpun yang boleh pergi dari perekamahn ini, agar tidak menambah masalah baru.
Kami semua masuk ke dalam tenda masing-masing. Aku tidak bisa memejamkan mata, sulit rasanya. Aku juga tidak mungkin bisa terlelap karena pikiranku dipenuhi dengan Key. Tidak sabar rasanya hanya berasa di dalam tenda. Sedangkan rena sudah tertidur pulas.
"Bagaimana jika Key tenggelam. Dan ini semua salahku" kepalaku tidka tenang sebelum Key ditemukan. karena semua ini salahku.
Aku memeriksa tas key, disana aku melihat ada ponsel, senter, obat-obatan dan tali. Aku tidak melihat ada pisau yang dia bawa. Jika memang key yang ingin mencelakai ku, lalu mengapa dia membawa pisau setiap pergi. Bahkan dia tidak membiarkan pisau itu berada dalam tas ini. Berarti benar yang key bicarakan bahwa pisau itu ia gunakan untuk melindungi diri. Ini salahku karena tidak percaya dengan sahabatku sendiri.
"Key maafkan aku" Batinku tersayat oleh rasa bersalah pada key.
Aku keluar dari tenda secara diam-diam. Membawa senter yang ada di dalam tas Key. Kali ini aku memberanikan diri untuk mencari sahabatku. Tidak peduli apapun yang mereka katakan, yang penting aku bisa menemukannya.
Aku merasa bersalah dengan Key, perkataannya benar tapi aku menghiraukan nya dan tidak mau mendengarkan sepatau kata pun. Langkahku memberanikan diri menyusuri sungai. Rasa takut dalam diriku sepertinya telah menghilang.
Langkah demi langkah aku telusuri mengikuti aliran sungai. Seperti di novel-novel yang aku baca, biasanya Key akan terbawa arus mengikuti aliran sungai. Aku berharap dia tidak terbawa arus terlalu jauh.
"Keyyyy,,, keyyyyyy,,, kamu dimana. Kalau kamu bangun, teriak lah agar aku mendengarmu" Sudah beberapa meter aku mencari tapi masih belum ku temukan Key. Sepertinya waktu akan menjelang pagi. Kakiku lelah dan beristirahat duduk di bebatuan samping sungai.
"Key, kamu kemana. Maafin aku key, maaf. Hikssss.. . . . . Hiksssss" Air mataku menetes membasahi pipi. Terlalu banyak yang keluar karena kebodohanku. Kali ini hanya penyesalan yang ada dan harapan serta doa yang selalu aku panjatkan. Meminta pada sang pemilik alam berkenan membantuku untuk menemukan key.
"Keyyyyyy, keyyyyy, kamu dimana" Menyusuri sungai kembali tanpa henti. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada ranting pohon yang besar. Sepertinya ada sesuatu yang nyangkut disana. Dengan penerangan senter yang minim, aku melihat bahwa itu adalah Key.
"Key, key, key bangun key" Arus yang sangat deras. Di satu sisi aku bahagia menemukan key. Tapi disisi lain aku khawatir, karena tubuh key tidak bergerak sama sekali. Aku harus mencari cara agar bisa membantu key.
__ADS_1
Aku menarik semak-semak serta ranting-ranting yang dalam di jadikan tali dan ku ikat menjadi satu. Susunan demi susunan aku rangkai menjadi tali. Tidak peduli banyak duri dari semak-semak tersebut yang penting aku bisa menolong Key.
"Aduhhh, sakit " Gumamku yang merintih kesakitan.
Duri dari semak-semak memang sangat tajam hingga mampu melukai tanganku. Sekarang semak-semak sudah menjadi tali. Aku ragu apakah tali ini kuat atau tidak menahanku. Sebenarnya aku bisa berenang, tapi arus yang deras membuatku takut tidak bisa mengimbanginya. Hanya bisa berharap dengan tali yang aku buat dari semak-semak ini.
Melihat pohon besar disisi sungai, aku mengikatnya dengan kuat. Begitu juga di ujung sisi aku mengikatnya ke tubuhku. Sedikit demi sedikit aku berenang menuju arah key.
"Key bangun, keyy" Teriakku sambil berenang menuju arahnya. Tidak terasa air mataku terus mengalir deras melihat key yang terdiam disana. Pikirku melayang kemana-mana karena rasa takut kehilangan seorang sahabat.
Perlahan aku mendekatinya dan memeluk tubuh key untuk dibawa ke tepian. Perlahan demi perlahan aku melewati gelombang pasang. Tidak akan aku lepaskan seperti key menggenggam ku yang ingin jatuh ke dalam jurang waktu itu.
"Key ayo bangunnnn, hikssss....... Hikssss..... " Kami sampai ke tepian. Aku berusaha keras menarik tubuh key secara perlahan. Menggunakan jaket yang aku pakai sebagai alas agar tubuh key tidak tergores luka.
"Keyyy bangunnn....... " Teriakku tercampur dengan tangis. Aku memeriksa denyut jantungnya dan syukurlah masih berdetak. Melakukan pertolongan pertama untuk mengeluarkan air dari dalam tubuh key.
Berulang kali aku melakukannya namun belum ada hasilnya. hentakan demi hentakan di atas perutnya untuk mempermudah air keluar.
"Uhukkk.... Uhukkkk" Tekanan yang tepat dapat mengeluarkan air yang masuk dari dalam tubuh key. Aku menbalut tubuhnya dengan jaket dan menggunakan sepatuku untuk melindungi kakinya.
"Alhamdulillah, key ayo bangun" Bibirku tetap membangunkan key tapi dia masih belum membuka mata. Tidak ada gunanya aku menangis disini. Aku harus bertindak agar key bisa terselamatkan.
Fajar menyongsong dari ufuk timur. Pagi menerima pesan dari hatiku yang kacau. Berharap warga desa segera menyusuri sungai ini agar dapat menemukan kami.
"Key, tunggulah disini" Aku mengeringkan jaket ku dan kembali menggunakannya untuk key. Begitu juga baju key, aku peras sedikit demi sedikit agar airnya berkurang. Mengumpulkan ranting pohon untuk membuat api agar key tidak kedinginan.
"Tolongg......., tolong........., tolong..........., " Sekeras apapun aku berteriak, sepertinya tidak ada yang mendengar. Karena ini sudah terlalu jauh dari titik air terjun di perkemahan.
"Syukurlah, mentari semakin naik. Kita akan berjemur untuk mengurangi air key" Aku menarik tubuh key untuk berada tepat dibawah sinar pagi. Menghangatkan tubuh yang kedinginan karena air sungai.
Aku tidak tega melihat key, daritadi tubuhnya tidak bergerak. Sepertinya dia kedinginan dan membutuhkan kehangatan yang lebih. Aku memeluknya untuk memberikan kehangatan, tapi aku tidak tau apakah ini berhasil atau tidak. Yang terpenting adalah key tidak kedinginan.
"Tolongg...... Siapapun yang ada disana tolong kami. Kami berdua ada disini tolong....... " Suaraku melenting ke udara. Berharap burung-burung juga menyampaikan pesan pada orang-orang.
"Yuri"
"Keyy" Teriakan kak Dika dan Ari menyemangati senyumku yang hilang. Kini aku memiliki semangat agar Key bisa sadar kembali.
"Tolong kak, tolong Ari, aku disini. Tolong disini di bawah ini" Aku melambaikan tangan dengan kegiranagn. Akhirnya mereka semua beserta orang-orang desa menemukan kami.
"Itu disana, ayo cepat kesana" Warga desa langsung bergegas ke arah kami berdua. Mereka membawa Key dengan tandu yang terbuat seadanya dengan menggunakan sarung dan kayu-kayu hutan yang kuat.
"Tolong, tolong selamatkan key" Tubuhku sudah lemas dan tidak ada tenaga untuk berjalan. Kak Dika segera menggendong ku, sedangkan Ari dan om Roky mengikuti warga desa untuk membawa Key ke tempat puskesmas yang ada di desa.
Mereka melewati jalan pintas agar lekas sampai ke puskesmas. Sesampainya disana, dokter yang bertugas langsung menangani Key. Memasang selang infus dan oksigen pada tubuhnya yang terkulai lemas. Aku juga tergeletak lemas di kasur yang bersebelahan dengan Key. Jarum infus juga di berikan pada tanganku, karena saat ini tubuhku juga lemah.
__ADS_1
"Key, bangunlah. Aku disampingmu key. Ayo bangun key.... Hikssss hikssss" Terus saja air mata ini terjatuh kembali melihat sahabatku yang masih belum membuka mata.
"Key, Yuri" Tante Maya masuk dengan tatapan ccemas dan khawatir. Dia langsung menuju ke arahku.
"Tante, Key belum bangun hikssss.... Hikssss" Tangisku kembali pecah dalam pelukan tante Maya. Semua orang masih menunggu kabar dari dokter yang memeriksa key.
"Sabar ya, key baik-baik saja kok. Kamu harus berikan semangat buat Key biar dia bangun" Tante Maya terus memberikan energi positif agar aku tidak menangis dan terus memberikan semangat agar Key terbangun.
"Dok bagaimana keadaannya? " Om Roky coba berbicara dengan dokter mengenai keadaan Key.
"Untung saja air yang masuk tidak terlalu banyak, saat ini tubuhnya sangat lemah. Mungkin butuh beberapa jam untuk dia sadar kembali" Dokter mencoba menjelaskan semuanya. Kami menunggu cemas di dalam ruang perawatan itu.
Wajahku terus menatap Key yang terlelap di sampingku. Kali ini aku sangat menyesal, dan semua yang terjadi pada key adalah perbuatanku. Ini semua salahku, kalau aku tidak jatuh ke jurang pasti key tidak akan disalahkan dan tidak akan terjadi seperti ini.
POV YURI SELESAI
"ini dimana" aku membuka mata dan tempat yang asing bagiku.
" Key, kamu sudah bangun " Ari menghampiriku dan berteriak bahagia.
"Nama, papa, key sudah bangun" Tante Maya, om Roky, Rena dan kak Dika menghampiriku.
"Sebentar, om panggil dokter dulu" Om Roky bergegas untuk panggil dokter
"Kamu sudah bangun nak? " Tanya tante Maya, sedangkan kepalaku masih pusing untuk berbicara banyak.
"Ini dimana tante? " Kamu lagi di puskesmas terdekat. Kepalaku rasanya sangat pusing. Tatapan masih samar-samar
"Syukurlah kamu sudah bangun, aku daritadi khawatir karena kamu tidak sadarkan diri" Kak Dika mendekatiku. Wajahnya begitu cemas saat menatapku. Apakah aku terlalu lama terlelap hingga mereka semua khawatir dengan keadaanku.
Aku tidak tau berapa lama tertidur. Yang aku ingat hanyalah air yang menerkam tubuhku dengan ganas. Gelombang besar menyapu tubuh ini yang tidak bisa berenang. Aku masih bersyukur Allah memberikan kesempatan kembali untuk aku menghirup udara segar.
"Sebentar ya saya periksa dulu" Dokter datang dan langsung memeriksa keadaanku. Dokter bilang keadaanku sudah stabil, dan nanti sore bisa langsung pulang. Semua orang yang ada di dalam ruangan merasa sangat senang.
"Kemana Yuri" Tanayku memecahkan suasana. Daritadi hanya Yuri yang tidak ada disini. Aku pikir Yuri masih marah denganku, makanya dia tidak mau bertemu denganku.
*Krekkkkk, krekkkk* Ari membuka tirai yang ada disebelah. Rupanya Yuri sedang terlelap disana.
"Yuri kenapa, dokter tolong teman saya kenapa?" Aku sangat cemas melihat keadaan Yuri yang juga tidak sadarkan diri. Lalu dokter menjelaskan ternyata Yuri hanya istirahat karena kelelaahn saat menolong ku keluar dari dalam sungai.
"Yuri, Yuri bangun" Meskipun kepalaku pusing, suaraku tidak berhenti memanggil nama Yuri untuk membangunkannya aku ingin memastikan bahwa Yuri baik-baik saja. Tapi dia masih terlelap dan aku harus diam agar Yuri bisa istirahat dengan lebih banyak.
__ADS_1
\*Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca novel ini hingga episode sejauh ini. semoga kalian menyukainya. saat kalian membaca dan memberikan like, disitulah dukungan kalian yang sebenarnya 🥰🥰🥰❤\*