
Setiap Ari dan Yuri mengunjungi ku, pasti mereka tidak lupa untuk mampir ke rumah ibu. Dan ibu selalu menitipkan sesuatu padaku, memang aku yang tidak memperbolehkan ibu dan bapak kesini. Karena aku tidak ingin mereka kelelahan.
Sedangkan mbak Nike sibuk dengan mengurusi untuk persiapan pernikahannya yang tinggal beberapa bulan lagi. Dan mbak Yeni sibuk untuk persiapan KKN. Serta aku akan menyibukkan diri untuk persiapan turnamen.
"Bagaimana, apakah kalian sudah kenyang?"
"Sudah dong Key, masakan ibumu selalu juara" Yuri dan Ari selau menikmati masakan ibu. Apalagi tentang pindang tongkol. Yang awalnya tidak suka ikan maka akan menyukai ikan.
"Oh iya kalian datang ya di stadion, karena teriakan kalian bisa membuatku semangat"
"Siap" Sahut Ari dan Yuri secara bersamaan.
Teriakan mereka berdua menggelegar di stadion. Membuatku semakin bersemangat bermain bola. Terasa di teriaki satu kampung padahal hanya dua orang saja.
"Bagaimana di sekolah? "
"Biasa, David dan Adel"
"Hmmm" Meskipun aku sudah tidak berhubungan dengannya. Ternyata hatiku masih menanyakan kabar tentang dirinya.
Kurasa hati ini sudah kosong dengan nama lelaki lain yang ingin masuk ke kehidupanku. Kecuali nama David masih melekat dan sulit di lupakan. Adit juga beberapa kali berbicara ingin menjadi pacarku tapi aku selalu menolaknya.
"Apakah ada yang menganggu kalian di sekolah?"
Kekhawatiran untuk mereka lebih dalam, karena selama aku tidak di sekolah rasanya sangat asing dengan pikiranku. Aku takut hal buruk terjadi pada kedua sahabatku karena diri ini tidak bisa melindunginya.
"Tenang saja, aku tidak takut dengan Adel" sahut Yuri.
"tenang key, mereka tidak ada lagi yang menindas kami" Sambung ari.
Dari raut wajah mereka aku bisa membaca bahwa hal baik selau ada mengiringi hari-hari mereka di sekolah tanpaku. Aku harap itu terus terjadi, karena jika ada yang menyakiti sahabatku maka akulah taruhannya.
"Baguslah kalau begitu, aku harap kalian baik-baik saja. Apabila ada yang menyakiti kalian maka adukan padaku"
"Siapppppp" Senyum mereka adalah penghibur di saat aku jenuh dalam asrama ini.
"Baiklah, kita pulang dulu ya Key. Kamu jaga diri baik-baik karena sebentar lagi pertandingan akan dimulai"
"Siap ri, kamu juga jangan sampai lupa untuk datang" Ari tersenyum.
"Ingat jangan mikirin David terus. Pikirkan karirmu, katanya ingin masuk timnas" Ejeknya dengan senyuman yang menggelikan bagiku.
"Ihhh, kamu sangat menyebalkan Yuri"
*Tlak* sesekali aku menjitak kepalanya sambil bercanda riang. Ari juga ikut menjitak kepala Yuri hingga mereka lupa untuk segera pulang.
"Sudah-sudah, nafasku tinggal sedikit" Benar saja nafas Yuri terengah-engah karena terus berlari dari kejaranku dan Ari.
"Aku mau pulang" Pamitnya sambil memelukku.
"Aku mau pulang juga ya Key" Begitu juga dengan Ari dan kami selalu berpelukan bertiga.
Pasti orang yang melihat kami seakan geli karena berpelukan dua cewek dan satu cowok. Yang jelas pelukan ini hanyalah tanda persahabatan kami yang kuat sampai kapanpun.
Mereka adalah tempat saat aku sedih, senang, kecewa dan apapun itu. Kami seperti tiga serangkai yang selalu memadukan semua rasa dalam kehidupan menjadi satu yaitu gembira pada ujungnya.
Tibalah di saat pertandingan pertamaku di klub kota ini. Aku menjadi pemain inti dengan posisi yang sama yaitu sebagai bek kiri. Di pertandingan kali ini yang aku harapkan adalah kerjasama tim dan rasa saling beradaptasi yang tinggi.
Kami berasal dari beberapa desa yang berbeda, dari beberapa SSB yang ada di kota ini. Di sinilah kami dipertemukan dan pertandingan ini awal untuk menguji kerjasama kami setelah berlatih beberapa bulan sebelumnya.
"Assalamu'alaikum ibu"
"Waalaikumsalam, bagaimana kabarmu nak"
"Alhamdulillah baik bu, bu minta tolong doakan key ya karena hari ini akan bertanding"
"InsyaAllah nak, ibu akan selalu mendoakanmu agar diberikan keselamatan dan kelancaran dalam bertanding"
Tidak terasa air mataku menetes, ingin rasanya memeluk ibu dan bapak. Sudah lama aku tidak tinggal di sana, biasanya mampir ke rumah ibu kadang ke warung dan kadang juga jalan-jalan ke pasar.
"Key, Key, Key kamu harus tetap semangat ya. Jangan lupa sebut namaku kalau menang"
"Hahahah" Aku tertawa mendsngar kekonyolan mbak Yeni setiap dalam telepon. Kadang juga mbak Nike.
Seketika air mataku bercampur dengan tawa karena kekonyolan mbak Yeni. Rindu rasanya bercanda dengan mereka tapi mau bagaimanapun aku harus melihat peluang untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi lagi.
"Sudah dulu ya bu, Key mau persiapan berangkat ke stadion"
"Baiklah nak, kamu jaga diri baik-baik ya"
Aku mematikan ponsel dan bersiap untuk melakoni laga utama dalam turnamen ini. Dalam bus kami semua melakukan doa bersama sebelum berangkat. Agar diberikan keselamatan dan kelancaran. Selebihnya kemenangan adalah bonus bagiku.
__ADS_1
\*Prittt\*
Awal peluit dibunyikan, awal aku harus memulai konsentrasi sepenuhnya untuk bermain di tempat ini. Tugas utama sudah pasti menjaga lini pertahanan belakang dan jangan sampai terlewatkan oleh lawan.
"Naik, naik. Fokus depan" Bagaimanapun juga seorang pelatih tidak akan diam. Dia akan selalu memantau dari samping lapangan hingga peluit akhir dibunyikan.
Walaupun dalam lapangan sepenuhnya milik kami. Maka tetap saja harus melihat kondisi dan konsentrasi penuh tidak boleh di tinggalkan. Ada kesalahan sedikit harus di perbaiki sesuai instruksi pelatih.
"Bagusss," Teriaknya dengan keras.
Hingga peluit akhir babak kedua dibunyikan kami mendapatkan kemenangan di pertandingan utama ini. Semua pemain segera bersorak gembira menghampiri jajaran staf dan pelatih.
"Ari, Yuri" Teriakku dengan senang saat melihat di bangku penonton ada Ari dan Yuri. Aku tersenyum bahagia karena mereka salah satu penyemangat hidupku.
Semua pemain langsung beralih ke ruang ganti untuk berdiskusi serta evaluasi dari pertandingan awal ini. Walaupun kita menang, tetap saja evaluasi dari pelatih perlu untuk diberikan. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kesalahan berulang.
"Pertama-tama saya mengucapkan selamat atas kemenangan ini. Namun jangan berkecil hati karena ada beberapa evaluasi dari saya"
"Baik coach"
Kami menyimak dengan tenang tentang apa yang akan dibicarakan oleh pelatih kami. Setiap pertandingan pasti akan ada evaluasi baik kalah ataupun menang.
"Permainan kalian sudah baik, namun finishing harus di perbaiki lagi. Hal ini berlaku untuk kalian semua yang mencoba shoot bola ke gawang lawan"
"Baik coach"
Memang aku akui banyak peluang yang terbuang sia-sia. Maka dari itu kami semua harus belajar untuk melakukan finishing yang baik agar bisa menghasilkan gol sebanyak-banyaknya.
"Siap coach"
Semua berkemas diri untuk pulang. Begitu juga aku sedang membuka sepatu bola dan membersihkan diri di ruang ganti. Kemenangan ini akan membuat ibu dan bapak tersenyum bahagia.
"Key hebat sekali pertahanannmu, aku harap kedepannya semakin membaik. Pelatih tidak salah memilihmu untuk bermain penuh" Dara tiba-tiba datang padaku.
Dia adalah salah satu kapten tim yang menempati posisi gelandang sayap kanan. Dia sangat antusias saat aku bermain tadi. Padahal saat awal masuk asrama, kami tidak dekat. Namun lambat laun kedekatan menjadikan kami seperti keluarga dalam satu tim.
"Aku memberikan permainan sebisa mungkin, dan menurutku operanmu juga sangat baik. Dan fisikmu yang paling kuat mangkanya kamu dipercaya menjadi kapten dalam pertandingan penuh"
Sahutku kembali memujinya. Karena di antara kami semua hanya Dara yang memiliki fisik yang kuat di bandingakan denganku. Dia juga sering memberikan motivasi bahkan saling bertukar pendapat bersamaku.
Aku salut dengan kerja kerasnya. Dia juga bisa menahan emosi daripada aku. Karena aku suka terpancing emosi apabila ada pelanggaran keras. Melihatnya aku menjadi ingat tentang Ani.
"Hmmmmfffuuu" Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
Mengingat tentang Ani yang selalu memberikan aku semangat dalam pertandingan dan kami saling melengkapi. Sekarang hanya kenangan yang aku genggam tentang dirinya. Sungguh sahabat yang malang.
\*tlak\* aku terkejut saat mengambil tas untuk memasukkan sepatu, terlihat sebuah kotak kecil berwarna merah terjatuh di bawah lantai. Aku segera memgambilnya dan melihat isi dari kotak tersebut.
"David" Gumamku setelah melihat bahwa kotak itu berisi kalung DK yang pernah David berikan padaku dulu. Mengapa kalung itu bisa berada di tempat ini. Sepertinya David ada di sini.
"Kenapa Key" Tanya Dara yang melihatku sedang melamun sambil memegang kalung tersebut.
__ADS_1
"Hmmm, apakah kamu tau siapa yang meletakkan kotak merah ini di tasku? "
"Oh itu, tadi ada Bela yang meletakkannya. Coba saja kamu tanyakan padanya, siapa tau dia mengetahuinya"
Aku segera menghampiri Bela untuk bertanya perihal kotak ini. Karena tidak mungkin David bisa masuk ke dalam ruangan ganti karena yang masuk kesini hanya peserta dan para staf.
"Bela tunggu, apakah kamu yang meletakkan kotak ini di tasku? " Aku bertanya padanya saat dia ingin bergegas keluar dari ruang ganti.
"Oh itu, tadi ada seorang lelaki tingginya segini. Kulitnya putih tapi sayang dia pakai masker dan topi jadi aku tidak mengenalnya. Dan dia menitipkan ini padaku untuk diberikan di lokermu key" Jelasnya panjang lebar.
"Terima kasih ya atas penjelasanmu Bela" Berarti benar bahwa yang membawa kalung ini adalah David.
Dari ciri-ciri yang Bela berikan aku sudah yakin bahwa itu David. Tapi mengapa dia datang kesini dan memberikan kalung ini, bukankah kami sudah lama tidak saling menyapa.
"David, jika memang ini kamu maka keluarlah" Gumamku berbicara dalam hati kecil ini. Bohong bila aku tidak merindukannya, selama ini aku rindu dengan David tapi lebih baik pilihanku adalah menjauh darinya.
"Key, ayo cepatlah kita masuk ke dalam bus"
"Oh iya maaf" Aku segera menyimpan kalung itu dan segera berlari dalam bus.
Di tengah perjalanan Yuri dan Ari langsung pulang setelah pertandingan. Kami belum sempat bertemu karena perbatasan antara sporter dan pemain sangatlah rumit untuk ditembus.
Mereka memgirimiku pesan singkat dan berkata ingin pulang karena susah untuk menemuiku. Katanya masih ada beberapa yang ingin masuk namun harus bayar lebih. Lebih baik mereka pulang daripada membayar sia-sia hanya untuk bertemu pemain seperti aku.
"Apakah sebaiknya aku memakainya? Tapi tidak mungkin, karena hatiku masih sama merasakan rasa sakit. Apalagi David belum menampakkan diri padaku" Gumamku sendiri dalam kamar.
Malam ini semakin larut, aku segera tidur untuk mengistirahatkan otak, fikiran dan apapun untuk tetap menjaga stamina. Setelah menelpon keluarga berusaha ku terlelap bersama malam ini.
Di pagi hari kami akan melakukan kegiatan makan, latihan istirahat. Selanjutnya materi dan latihan. Begitulah seterusnya untuk tetap menjaga kemampuan dan melatih tubuh agar terus menjadi kuat untuk menyambut pertandingan yang akan datang kembali.
Saat siang hari aku kembali melihat kalung yang David berikan. Tanganku juga sibuk menggenggam ponsel, rasanya ragu ingin menelpon David ataukah masih mempertahankan ego.
"Key, Key, di suruh istirahat tapi masih mondar-mandir seperti setrika" Ucap teman sekamarku namanya Sonya.
Kami dibagi dalam satu kamar ditempari oleh 4 orang dan aku satu kamar dengan Sonya, Lili, raisa.
Lili dan raisa sudah terlelap karena mereka sangat suka dengan tidur siang. Sedangkan Sonya belum tidur juga. Mungkin dia sibuk memperhatikanku dari tadi karena dia memiliki rasa ingin tau yang sangat tinggi.
"Iya son, bentar lagi aku tidur kok"
"Cepatlah tidur sebelum pengecekan oleh pelatih" Aku mengikuti ajakan Sonya. Karena jika kami ketahuan tidak tidur maka akan kena denda.
Di klub ini memiliki rasa disiplin yang sangat tinggi. Jadi tidak ada yang bisa melawannya. Mungkin semakin besar klub maka semakin besar juga aturan yang diberikan dan harus di patuhi oleh jajaran yang mengikutinya.
Saat malam tiba kami sudah selesai melakukan pertemuan untuk membahas materi yang diberikan pelatih. Meskipun pelatih kami non muslim, tapi toleransi yang diberikan snagat besar.
Latihan dan percakapan akan berhenti saat adzan dikumandangkan. Kami juga melakukan kewajiban sebagai seorang muslim dengan mengerjakan sholat 5 waktu dalam sehari.
"Key kita keluar yuk cari makan"
"Ayo, si Lili sama Raisa ikut tidak? " Tanyaku pada mereka berdua yang asik sendiri bermain ponsel.
"Kalian duluan saja, nanti aku akan menyusulnya"
"Benar, aku juga" Dasar memang pemalas.
Mereka sangat susah jika di ajak keluar karena selalu saja asik dengan game dan pacar mereka. Dan nanti malam aku yakin bahwa mereka berdua akan kelaparan dan terus mencari makan. Saat itulah aku dan sonya akan tertawa keras.
"Ya sudah, aku duluan ya sama Sonya"
"Iya, Hati-hati di jalan"
Setiap malam kami akan keluar menghirup udara segar. Manajemen kota ini mengizinkan kami untuk keluar malam asalkan pulang tepat waktu dengan perjanjian yang sudah di berikan.
"Key"
"Hmmmm"
"Aku mau cerita"
"Ceritalah" Sahutku sambil melahap hamburger dan duduk di dalam resto kecil di seberang jalan.
__ADS_1