Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
157. Fans David


__ADS_3

Kamar asrama membuatku terpesona menatap keseluruhan bangunannya. Kamar yang sangat luas dan terlihat sangat terawat.


"Wah lumayan besar sekali kamarnya" Aku terkagum melihatnya. Kamar yang luas dan berisi beberapa orang, bahkan dari berbagai daerah.


"Haii, aku Tara"


"Aku Keyla, panggil saja Key" Baru duduk di ranjang tidur dan aku sudah menemukan teman baru namanya Tara.


Tara tidur di atas ranjang ku karena kasur kami bertingkat. Wajahnya lugu dan ramah karena dia langsung menyapaku tanpa banyak basa-basi.


"Kamu dari kota mana?"


"Aku dari kota A, sedangkan kamu? "


"Kota B" Aku terkejut saat dia menyebutkan kota B.


Kota dimana saat ini David sedang bermain dalam klub yang digelutinya. Rasanya aku juga rindu dengannya karena tidak bisa berkomunikasi sesering dulu lagi.


Aku harap David menikmati permainannya disana. Karena harapanku juga melihat dia akan dipanggil timnas untukk persiapan turnamen selanjutnya.


"Kamu sendiri? "


"Aku tidak tau apakah ada teman satu kota atau tidak" Ucapku, dan dia menangguk mengerti.


Tidak lama kemudian teman-teman satu kota dengan Tara datang menghampiri kami. Kami berbincang-bincang berbagai macam hal dan rasanya sangat asik sekali.


Mereka semua sangat ramah, ternyata pemain dari kotaku tidak ada. Hanya aku sendiri yang mengikuti seleksi ini melalui jalur undangan. Untung saja ada teman Tara yang sangat baik sehingga dengan cepat kami berteman.


"Ihh kalian berisik sekali, apakah kalian tidak bisa diam" Teriak salah satu peserta seleksi.


Entah darimana asalnya kemudian dia masuk dan memarahi gerombolan kami yang sedang ngobrol. Wajahnya terlihat ketus, jadi mengingatkan aku dengan Adel.


"Maaf, maaf, kami tidak bermaksud" Sahut Tara dan begitu juga teman-temannya.


Wajah dia terlihat merasa bersalah dan yang membentak nya tadi terlihat sangat sombong. Ingin rasanya aku pukul jika saja tidak ada hukum dan aturan dalam seleksi ini.


Dari pakaiannya saja terlihat jelas bahwa dirinya orang kaya. Tapi hal itu tidak memundurkan mentalku, aku yakin orang sepertinya akan slelau merasa benar tanpa harus melakukan hal baik terlebih dahulu.


"Daripada kalian kumpul dan banyak bicara, lebih baik pikirkan nasib kalian besok siapa tau gagal" Ujarnya, membuat aku menarik nafas dan menghembuskannya secara kasar.


"Memangnya kalian dari SSB mana ha? " Dia kembali bertanya dengan nada yang merendahkan.


Tara dan teman-temannya menjawab asal SSB yang mereka geluti. Ternyata mereka berasal dari SSB yang sama, sedangkan aku hanya terdiam karena tidak masuk ke dalam SSB.


"Lalu kamu? " Tanyanya padaku, aku harus menjawabnya dengan tenang dan tidak boleh emosi.


"Aku tidak masuk SSB" Sahutku.


"Hahahha, tidak masuk SSB tapi mau ikut seleksi timnas? Ah mimpi sekali kamu" Sahutnya yang sangat merendahkan diriku.


Aku harus bisa menahan diri saat berhadapan dengan orang sombong sepertinya. Dia sangat pandai merendahkan namun lupa diri untuk berkaca apakah dia layak atau tidak.


"Lebih baik kamu pulang saja, karena tidak mungkin masuk dalam timnas" Ejeknya lagi padaku.


Bagiku hinaannya adalah motivasi untuk membuatku lebih semangat lagi dalam seleksi besok. Karena dia aku akan bermain dan menunjukkan bahwa aku layak ikut seleksi ini.


"Apakah hidupku harus bertaanya padamu untuk masuk seleksi ini? Sepertinya kamu salah orang untuk mencaci. Kita lihat saja hasil akhirnya" Sahutku dengan senyuman.


"Aduhhh, pasti kamu orang miskin yang mencoba keberuntungan untuk ikut seleksi agar bisa bermain timnas. Lihatlah sepatumu saja dekil" Hinaan dan kata-katanya semakin menjadi-jadi padaku.


"Sepatuku dekil karena sering dipakai untuk pergi turnamen, kalau sepatumu masih baru berarti kamu jarang merasakan turnamen" Lebih baik membalasnya dengan kata-kata.


Sejenak dia terdiam lalu menatapku dengan tatapan bengis. Dia ingin membalas namun seperti bingung dengan balasan apa yang harus dikatakan oleh nya.


"Hei perempuan, aku tidak tau namamu siapa dan asalmu dari mana. Tapi biasakan kau diam, karena seleksi akan dilakukan besok dan hasilnya akan diumumkan selesai seleksi" Sambung Tara yang juga terlihat geram.


"Ihhh, kau ini minta dipukul ya" Tinjuannya hampir mengenai wajah Tara.


Aku segera menahannya begitu juga dengan beberapa teman Tara yang ikut membantunya dan mendorong perempuan gila yang sedang sibuk memamerkan hartanya pada kami.


*brakk* dia terjatuh karena beberapa dorongan dari teman Tara.


"Aduhhh, kurang ajar"


"Makanya jangan buat keribuatn, disini kami ingin seleksi timnas bukan seleksi MMA" Ujar salah satu teman Tara yang membuatku tersenyum.


"Awas kalian ya" Dia langsung pergi dari hadapan kami, mungkin menuju kasurnya dan tertidur karena malu.


Tara dan yang lainnya tertawa melihat dia pergi dengan kesal. Sangat aneh, dia yang datang tanpa diundang lalu merendahkan dan kembali pergi tanpa kemenangan.


"Sudah key jangan didengarkan, biasalah orang sirik. Memangnya meski tidak masuk SSB, tidak boleh ikut seleksi apa? "


"Iya biarlah dia menggonggong sendiri"


Tara dan teman-temannya memberikan semangat padaku, padahal aku baik-baik saja dan tidak masalah dengan hal itu. Karena menurutku cacian nya adalah semangat ku untuk bangkit.


Dari ucapannya aku akan berjuang untuk menunjukkan bahwa aku layak dibandingkan dirinya. Aku akan melihat siapa yang masuk dalam skuad garuda pertiwi.


Malam 20.00


"Ibu apa kabar ya? Meskipun tadi sudah menghubunginya namun hatiku belum tenang jika tidak melihat wajah ibu" Tidurku menjadi dilema karena memikirkan keadaan ibu disana.


Tapi aku yakin jika keluarga bu Yanti akan menjaga ibu dengan baik, aku juga menitipkan ibu pada kedua sahabatku agar mereka tetap menjaga ibu dan melakukan pengawasan agar suami ibu tidak menemukan kamar rumah sakitnya.


Harapanku masih sama, semoga ibu dan keluarga bu Yanti baik-baik saja disana. Dan disini aku akan berjuang untuk mendapatkan tempat di timnas walaupun tidak mudah tapi aku harus yakin.


"Sepertinya aku harus istirahat untuk persiapan besok"


"Key"


"Hmmm" Baru saja ingin memejamkan mata, Tara memanggilku dari atas.


"Ada apa? "


"Apa sudah tidur?"


"Belum, kamu? "


"Belum juga"

__ADS_1


Memang benar saat kita memikirkan sesuatu makan mata akan sulit untuk terpejam. Banyak pikiran yang bertanya-tanya tentang keadaan ibu yang sedang terbaring lemah di sana.


"Tidurlah Key, besok seleksi akan dimulai" Ujarnya


"Baiklah, kamu harus tidur juga Tara agar besok bisa bermain sangat baik"


"Siap"


Malam berlalu begitu saja, aku terlelap dalam tidur malamku saat ini. Dan kembali bangun dalam sebuah bunga mimpi, bertemu dengan kakek yang sedang berdiri di dekat cahaya.


"Kakek" Beliau hanya tersenyum, mendekat ke arahku dan kembali mengelus rambutku ini.


"Nak, bermainlah dengan tenang dan jadikan cacian sebagai motivasimu. Kamu harus bisa menggapai impianmu, dan jangan pikirkan keadaan ibumu karena kakek akan menjaganya"


Air mataku kembali mengalir deras manatap wajahnya dengan jelas dan sama dengan di foto ibu. Kakek ini benar-benar kakek kandungku, nasehatnya selalu membangkitkan semangatku.


Aku ingin mengelus pipi kakek yang tidak pernah aku lakukan sama sekali sepanjang hidup ini. Karena saat aku lahir, kakek telah tiada. Namun saat tangan ini hampir sampai ke wajahnya, kakek mencegah hal itu dan mengenggam tanganku.


"Sekarang tidurlah, kakek akan menjagamu walau di atas sana" Aku mengangguk dengan ucapannya.


Kali ini tangannya mengenggam erat tanganku, senyumnya menghiasi wajahnya yang khas. Aku hanya bisa mencium kehadirannya walaupun hanya dalam mimpi. Andai saja ini nyata maka aku akan merasa sangat senang.


Pagi 05.00


"Key"


"Hmmm"


"Sudah mandi? "


"Alhamdulillah sudah pas sholat subuh tadi"


"Ohh iya lupa heheheh" Dasar Tara, padahal tadi aku jalan bersamanya ke kamar mandi.


"Key tadi malam aku melihat kakek-kakek, dia berdiri di samping ranjang ku dan tangannya menggenggam dirimu" Mataku terbelalak mendengar ucapan Tara.


Berarti tadi malam kakek benar-benar datang dan itu semua bukanlah mimpi melainkan kenyataan. Lagi-lagi air mataku menahan tangis, ternyata kakek menjagaku selama ini.


Kenapa kakek datang namun tak membangunkan diriku. Atau mungkin kakek ingin berpamitan. Tapi aku tidak rela jika harus berpisah dari kakek, karena aku sangat menyayanginya walau dapat merasakan kasih sayang itu dalam mimpi.


"Tidak ada, mungkin kamu hanya bermimpi"


"Iya juga ya, lagipula tidak mungkin ada seorang kakek masuk asrama" Tara semakin bingung sendiri dan berfikiran hal yang tidak-tidak.


"Ayo kita berkumpul di lapangan"


"Oke siap Key"


Setelah sarapan pagi kami melakukan seleksi timnas di lapangan stadion belakang. Lapangannya indah dan pijakan rumputnya yang sangat nyaman.




Hari-hari berlalu dan seleksi dilakukan dengan ketat. Aku mengikutinya dengan baik dan selalu sesuai dengan skil yang aku miliki. Kali ini satu keraguan ku telah hilang karena kakek yang membuat keraguan itu pupus menjadi emosi mengenggam semangat yang tinggi.




Kesempatan tidak datang untuk yang kedua kali, maka manfaatkan kesempatan itu dengan baik dan bertanggung jawab. Masalah hasilnya kita serahkan pada sang pencipta, intinya kita bisa dan maju untuk lolos.



"Hari ini adalah seleksi terakhir, pengumuman kelolosan akan diberitakan lusa. Jadi untuk menunggu berita tersebut, kalian bisa bermain bola di lapangan ini sekaligus untuk pemanasan"


"Siap coach"



Aku harus sabar untuk menunggu pengumuman tersebut, karena tidak ada yang tau hasil akhir dari sebuah perjuangan yang sudah mempertaruhkan segalanya dalam seleksi kemarin.



Malam



Siang berganti dengan malam, sesekali aku menyempatkan diri untuk melihat senja yang muncul diantara bangunan bertingkat karena disini padat dengan bangunan, tidak ada laut dan juga sawah.



Aku juga bersyukur karena keadaan ibu sudah lebih baik dari kemarin. Ibu sudah bisa bergerak dan berbicara banyak hal. Kata bu Yanti, ibu akan pulang besok namun tinggal di rumah kita bukan rumah suaminya yang keji.



\*drettt, drettt\* (bunyi telepon berdering)


\*David\*



"Halo assalamu'alaikum vid"


"Halo key, bagaimana kabarmu? " Wajahku terlihat full senyum saat David kembali menelpon. Rasanya hari ini sangat senang sekali karena sudah lama tidak berbicara dengannya.



"Alhamdulillah baik, bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulillah baik, oh iya apakah seleksinya sudah selesai? "



"Sudah" Obrolan kembali hangat, walau tidak ada hubungan yang berstatus pacaran, namun di hati kami sama-sama menyukai.



"Bagaimana seleksimu apakah berjalan dengan baik"

__ADS_1


"Alhamdulillah baik sekali" Berbicara dan bercerita banyak hal padanya.



Aku menceritakan mulai awal seleksi hingga akhir dan tentang apa saja yang dilakukan untuk seleksi, semuanya aku ceritakan tanpa terkecuali.


Entah mengapa rasanya nyaman bercerita tentang bola dengan David, mungkin karena dia yang mengenalkan bola pertama kalinya padaku saat itu.



Andai saja saat aku terjatuh di lapangan dan disoraki banyak orang lalu dia tidak menolongku, mungkin aku akan membenci bola. Namun tangan lembutnya mampu membangun hatiku untuk mencintai bola dan juga dirinya.



"Sekarang sudah malam, lebih baik kamu tidur saja" Rasanya hatiku berbunga-bunga saat dia selalu menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu.



"Baiklah, kamu juga tidurlah karena besok akan bertanding kan? "


"Iya, iya selow aja"


"Hahaha"



Akhirnya percakapan itu berakhir. Aku menatap ke atas dan terlihat papan kasur Tara yang menghalangi pandanganku untuk melihat langit-langit kamar secara langsung.



"Key, siapa? "


"Astaghfirullah, gila aku kaget Tara" Kepalanya kembali nongol dan mengintip dari atas. serasa menyaksikan film horor karenanya.



"Siapa? "


"Tadi"


"Oh... david"


"Da.. Da.. David pemain timnas? " Bicaranya terbata-bata. Dia langsung turun dari ranjang dan duduk di samping ranjang ku.



"Iya, kenapa kamu terkejut?" Mulutnya terbuka lebar dan menyapa wajahku, tatapannya seperti tidak percaya bahwa aku sedang berbicara dengan David.



"Kamu mengenalnya? "


"Iyalah, dia satu kelas denganku"


"Haaa? " Mulutnya ternganga lagi saat mendengar ucapan pengulangna dariku.



"Astaga, aku tidak bermimpi kan. Tolong tampar aku"



\*plak\*



"Aduhh" Jeritnya lalu kembali menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh mereka yang telah tertidur.



"Maaf, maaf, katanya suruh tampar" Ucapku sambil memeriksa pipi Tara.



"Iya sih key, rasanya mantap. Tapi kamu benar mengenal David? "


"Iya"



"Aku adalah fans dia, aku menyukai cara main bolanya Key. Aku selalu meneriaki namanya saat dia main di timnas dan menjadi tim inti" Drama kamar kali ini kembali dimulai oleh Tara.



Aku hanya tersenyum melihat setiap gerakan yang dipergakan olehnya. Dan yang paling tidak aku sangka bahwa dia adalah fans David. Bibirnya terus bergumam panjang sekali.



Dia juga berkata bahwa tidak akan melewatkan permainan David saat di timnas. Dirinya sangat mengidolakan David saat dia bermain untuk tim kota. Tapi sekarang Tara tidak mengetahui klub David yang baru.



"Apakah aku boleh meminta nomor ponsel David? "



"Tara, aku sudah mengantuk. Biarkan aku istirahat" Aku berpura-pura memejamkan mata.



"Ah, kau sungguh tidak asik. Awas saja besok tidak memberi nomor David. Aku akan menghajarmu key" Aku tersenyum dalam mata terpejam dengan pura-pura.



Sedangkan Tara masih mengoceh sendiri di atas ranjangnya dan aku tersenyum lalu tidak lama mata ini sangat berat dan mulai perlahan terlelap menikmati malam.



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~

__ADS_1


__ADS_2