Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
113. Pertolongan Mereka


__ADS_3

Aku segera berlari dan memeluk kak Dika. Rasanya snabat lega melihat mereka semua baik-baik saja saat ini. Walaupun sudah bertarung melawan penjahat itu


"Kakak? Kalian kaka adik? " Tanya Doni heran.


"Iya" Jawab kami semua secara bersamaan. Akhirnya kami semua berpelukan bersama.


"Aduhh, punggungku sakit sekali" Ucapku pada mereka dan melepaskan pelukan itu karena terlalu menekan.


Tidak lama kemudian polisi datang dan meringkus penjahat yang sudah terikat. Sedangkan penjahat satunya masih harus memerlukan waktu untuk mengeluarkan dari kayu yang menindih kaki dia.


"Tunggu dulu pak" Aku menghampiri dia yang sudah memukulku tadi dengan kayu. Aku mendekatinya dan memegang kayu yang sama lalu memukulnya sama seperti apa yang dia lakukan padaku.


*brak*


*brak* aku memukul kedua penjahat lebih keras daripada pukulan yang dia berikan.


*buk*


"Ini pukulan terakhir karena kamu ingin menghancurkan karirku" Ucapku setelah memukul hidungnya hingga berdarah. Sepertinya hidung itu patah, biar saja sebagai tanda kenang-kenangan dariku.


"Key, ayo cepat sekarang waktunya kamu bertanding" ucap kak Dika dan segera membawa kami semua masuk ke dalam mobilnya. Sebelum sampai ke lapangan pertandingan, kami berhenti ke apotek untuk membeli salep dan obat-obatan untuk menangani lukaku.


Tidak ada waktu untuk bercerita, kak Dika melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berhenti sebentar ke apotek dan mengobati luka yang ada di tubuhku lalu melakukan mobilnya kembali ke tempat pertandingan. Aku segera menganti baju dan masuk ke dalam lapangan menemui coach Jaka.


"Key" Semua terkejut saat aku datang di hadapan mereka.


Coach Jaka memelukku dengan erat seperti seorang ayah dan anaknya. Rekan-rekan yang duduk di bangku cadangan juga memelukku, seakan mereka bergembira karena menantiku dari tadi.


"Bersiaplah, sebentar lagi kamu akan masuk" Ucap Coach Jaka yang terlihat panik karena pertandingan sudah berjalan di babak kedua.


Kami kalah dengan skor 2-0. Aku harus segera masuk untuk membantu mereka menjadi tembok pertahanan, jika perlu aku harus keluar untuk menyerang.


"Baik Coach, saya siap" Ucapku dan melakukan pemanasan kecil di samping. Tidak peduli rasa sakit yang ada di tangan yang terpenting adalah bisa masuk dan bermain baik lalu membawakan sebuah kemengan untuk tim kebanggan.


Pergantian telah dimulai, aku masuk pada menit ke 63. Sorak-sorak semakin ramai di bangku penonton yang membuatku semakin bersemangat. Apalagi di bangku penonton ada sahabat-sahabatku serta kakakku. Aku akan bermain sebaik mungkin untuk menang.


"Bismillaahirrohmaanirrohiim, bermainlah dengan baik Keyla" Gumamku memberikan semangat sendiri sebelum bertanding dan tidak lupa berdoa.


Pertandingan berjalan dengan baik, Coach Jaka juga mengubah starategi untuk bisa melancarkan aksinya dengan mempermainkan aku. Aku menjalankan perintah yang diberikan oleh Coach Jaka, apapun itu aku akan lakukan asalkan tidak membahayakan lawan.


Melakukan tackel keras saat ada lawan yang menyerang, melakukan pengamanan bola dan berani membawa lari. Melakukan umpan lambung dengan kerjasama yang baik bersama rekan di posisi penyerang ataupun gelandang.


*buk* Suara tendnagan bola yang cukup keras mengakhiri pertandingan kali ini.


Hasil yang sangat baik hingga di pertandingan akhir. Kami mampu melawan imbang dengan kerjasama tim yang baik. Walaupun tidak menang yang terpenting tidak kalah. Kami mampu mengejar ketertinggalan dan membuahkan 2 gol.


"Key, kamu kemana saja? " Ucap Ani yang sangat khawatir saat peluit panjang selesai di bunyikan.


"Tenang, aku aman kok" Sahut ku santai.


"Aman bagaimana, lihat luka yang ada di tubuhmu" Protes Ani saat melihat lenganku terluka.


Dia berkata bahwa sangat mengkhawatirkan ku sepanjang malam. Begitu juga dengan Ira yang sangat mengkhawatirkan aku yang tidak pulang. Bahkan satu rekan tim semuanya terkejut saat aku masuk ke dalam lapangan. Selesai pertandingan mereka langsung menghampiriku dengan tangisan hari.


Di lain sisi menangis haru karena menang dan di lain sisi mereka menangis haru karena aku kembali yang menyebabkan tim mampu mengejar ketertinggalan. Semangat dari mereka kembali bangkit saat aku memasuki lapangan.


"Hari ini bukan rejeki kita untuk menang, tapi hari ini bukan juga rejeki kita untuk kalah. Jadi menahan imbang saja sudah cukup karena itulah kekuatan kita semua" Ucapku dan sambil berpelukan kembali secara bersamaan.


Kami sangat senang dan merayakan di dalam ruang ganti. Tidak lupa aku mengadu pada Coach Jaka bahwa penjahat yang menculik ku sudah ada di dalam penjara dan akan di proses. Coach Jaka dan beberapa pelatih pergi kesana untuk mengurusi kasus ini.

__ADS_1


Sedangkan yang lain pergi untuk membawa para pemain kembali ke tempat penginapan. Disana aku juga melihat rombongan kak Dika yang melambaikan tangan padaku saat aku sudah masuk ke dalam bus.


"Hati-hati" isyarat bibir kak Dika yang terlihat jelas.


"Siap bos" jawabkj sambil tersenyum dan kembali melambaikan tangan.


Aku memberikan isyarat agar mereka pergi mengikuti dan bertemu denganku di tempat penginapan. Wajahku sudah lesu karena ponselku hilang karena penculikan. Kali ini tidak dapat aku menghubungi Ibu.


"Key"


"Aduh" Ani menepuk lenganku dengan keras. Aku teriak karena terkejut dan juga merasakan sakit.


"Maaf, maaf. Tanganmu kenapa? "


"Tanganku terluka, sedikit sih" Sahut ku.


"Kamu di culik? " Aku mengangguk dengan pertanyaan Ani.


Dia langsung menangis dan memelukku dengan hati-hati. Dia merasa bersalah yang membuat aku tertinggal dari bus saat latihan kemarin. Ani menceritakan telah ada kesalahpahaman karena telah melupakan Key dan dia pikir aku duduk di bangku belakang ternyata dia salah.


"Sudah, sudah, ini bukan salahmu kok. Ini semua sudah takdir" Aku membalas pelukannya dengan erat tapi ber hati-hati juga karena kedua lenganku masih sakit.


Saat turun dari bus, tidak lupa teman-teman menghampiri dan memelukku. Katanya mereka semua cemas karena lehilanganku. Dan mereka ikut bahagia saat tiba-tiba aku datang dan menghampirinya.


Kemudian mereka turun untuk menemui keluarga mereka yang datang. Kali ini aku juga menemui keluargaku yang datang, yaitu sahabat dan kakaku. Dengan santai aku berjalan menuju arah mereka.


"Key " Teriak Yuri dan langsung memelukku. Begitu juga di wajah mereka semua terlihat bahagia melihatku.


"Ayo duduk" Ucapku mengajak mereka duduk di gajebo yang terdapat di dalam penginapan ini. Perkumpulan ini membuat aku sangat senang.


"Kalian tidak mengajak ibuku? " Semuanyaa mengeglengkan kepala. Membuat wajahku menjadi sedih, karena aku ingin ibu datang dan menjengukku.


"Benarkah" Aku mendengar sedih berita ini.


Mataku mencoba menahan air mata karena kesedihan. Aku berharap ibu baik-baik saja dan bisa menyambutku pulang dengan bahagia. Aku ingin ibu tersenyum saat aku pulang nanti. Tapi rasanya sakit sekali mendengar keadaan kaki ibu yang sakit. Walaupun kaki itu tidak ada surgaku, tapi setidaknya surga itu bisa aku jaga.


"Tenang saja, ibumu menitipkan makanan padaku" Yuri mengeluarkan rantang yang berisi nasi dan juga makanan kesukaanku yaitu ikan pindang tongkol.


Aku tersenyum sambil menahan tangis karena tidak ingin terlihat sedih di hadapan mereka.


Kami memakan bekal ibu serta beberapa makanan yang mereka beli. Rasanya enak sekali makan bersama di tempat terbuka ini. Aku shabat senang mereka datang hingga tidka terasa makanan sudha habis.


Aku membersihkan semuanya dan kembali duduk untuk menanyakan mengapa mereka bisa sampai disini dan juga sampai menemukan aku yang sudah di culik. Karena rasanya sangat aneh, mereka beda kota tapi mengapa bisa menemukanku di tempat terpencil.


"Sebentar, kalian tau dari mana aku di culik? " Tanyaku membuat mereka saling menatap satu sama lain. Sepertinya ingin menunjuk seseorang untuk menjelasmannya.


"Jadi gini key" Yuri menceritakan bahwa dia merasakan hal aneh. Karena saat malam tiba aku selalu menghubungi Ari dan Yuri. Tapi hingga pagi tidak ada pesan atau telepon yang masuk. Bagaiaman bisa masuk, sedangkan ponselku saja mati.


Hari ini adalah hari minggu, mereka semua sudah berencana untuk menyaksikan aku tampil langsung di lapangan. Mereka tiba dan menunggu kehadiran bus yang membawa rombongan ku.


Mereka merasa aneh karena tidak melihat aku keluar dari bus. Lalu ada pelatih yang berbincang tentang pencarian atas nama pemain keyla, barulah mereka sadar bahwa aku hilang.


"Lalu mengapa kalian bisa menemukanku, padahal di sana tempat terpencil" Semua menunjuk ke arah Ari.


"Itu kebetulan aja kok, aku bisa melacak ponsel kamu key" Ari mencoba menjelaskan agar tidak ada yang mengetahuinya bahwa dia adalah seorang hacker.


Aku dan Yuri tersenyum melihat ketegangan Ari. Karena kami berdua tau bahwa Ari memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan kami yang ada di sini. Diam-diam aku mengacungkan jempol padanya, sangat keren sekali karena Ari sudah menemukanku dengan otaknya yang bekerja keras.


"Oh iya key ini" Ari membawa ponselku yang hilang.

__ADS_1


"Aaaa" Aku teriak bahagia sambil loncat-loncat.


"Kalian tau, disini banyak sekali video tentang bola. Dan banyak kenangan di ponsel ini" Teriakku sambil gembira.


Aku sangat senang karena ponsel ini kembali. Ponsel ini seperti semangat hidupku, di dalamnya berisi banyak sekali kenangan. Kenangan tentang sahabat, keluarga dan tentang idolaku selama ini.


Kebahagaianku tiba-tiba mendadak lesu saat kak Dika membuka suara padaku. Semeua diam saat mendengarkan kak Dika berbicara tentang ayah.


"Ayah rindu denganmu" Aku langsung duduk dan mendengarkan pembicaraan yang akan kak Dika utarakan.


"Bagaimana keadaan ayah sekarang? " Aku mencoba menahan air mata saat bertanya tentang ayah.


"Tenanglah, ayah sedang istirahat" Jawabnya


Kak Dika menjelaskan bahwa ayah sedang istirahat. setiap hari bertanya tentang ku, jadi itulah alasan utama kak Dika mau ikut bersama Yuri dan Ari ntuk datang melihat pertandingan ini dan mengambil gambar serta video untuk ditunjukkan pada ayah.


Seketika semua hening, aku masih tetap sama menahan air mata karena tidak ingin terlihat lemah. Lalu kak Dika kembali membuaka suara dan menjelaskan tentang kekaguamnnya padaku.


"Aku kagum sama kamu Key, karena telah menjadi wanita kuat walaupun kamu hidup sebatang kara." Ucapnya


"Maksudnya? " Tanyaku yang belum mengerti dengan apa yang kak Dika bicarakan.


"Aku sudah tau bahwa ibu meninggalkan kamu sendirian. Dan disana itu ibu angkatmu kan?"


Tangisku pecah bila mengingat hal itu. Aku mengingat saat ayah dan ibu ketgi meninggalkan aku sendirian. Air mataku mengalir deras lalu mencoba menjelaskan semuanya agar mereka tau bahwa kebohonganku memiliki tujuan.


"Iya benar, aku berbohong pada kalian. Tapi asal kalian semua tau bahwa keluarga ku saat ini tidak pernah bohong tentang kasih sayang" Ucapku. Aku menjelaskan saat ayah pergi dan hidupku bersama ibu berantakan, tapi ibu masih mengenggam kasih sayang untukku.


Itulah salah satu alasan aku membenci ayah karena tidak bertanggung jawab. Lalu ibu juga pergi meninggalkan aku sendirian dalam rumah tanpa ada tegur sapa dari kasih sayang yang lembut seperti seseorang di luar sana.


"Apa salahku lahir di dunia? " Tanyaku pada mereka semua. Tidak ada yang bisa menjawabnya, seketika semuanya diam. Lalu matanya menatap haru padaku yang sendang asik menceritakan nasibku yang malang.


"Tapi tenang, kalian tau aku kan. Aku kuat kok" Aku menyeka air mata yang sudah membasahi pipi. Menunjukkan pada mereka bahwa aku bukan pengemis kasih sayang pada siapapun.


"Coba lihat, aku bisa atertawa bersama kalian" Aku melebarkan senyum menampakkan gigi-gigi ini.


Aku mengatakan pada mereka bahwa aku menangis saat mengingat semuanya, tapi aku tidak pernah menangis saat menjalani semuanya. Kepahitan dalam hidupku yang nyata adalah cara Allah memberikan cobaan pada hambanya yang akan menang di masa depan.


Yuri mendekatiku, dia langsung memelukku dan menangis. Aku heran dengannya kenapa dia selalu menangis bila memelukku, bisakah memelukku dengan tawa terus menerus agar aku selalu tersenyum setiap harinya.


"Key, kamu hebat. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan menjadi pemain bola terkenal" Aku membalas pelukannya dan menenangkan hatinya agar dia tidak menangis lagi. Baru saja aku selesai menangis, Yuri malah membuatku menahan air mata lagi aku tidak ingin menangis terus.


"Kalian semua yang hebat, karena sudah menjadi teman, sahabat dan keluarga bagiku. Aku selalu berdoa agar nanti kita akan berteman selamanya" Ucapku membuat mereka tersenyum dengan apa yang aku katakan.


"Key, maafin kakak" Kak Dika langsung memelukku dengan erat. Dirinya meminta maaf karena pernah menjalaninya saat mengetahui bahwa Key adalah anak dari papanya.


Katanya Kak Dika malu denganku, yang berjuang sendiri. Jatuh sendiri dan membangun sendirian. Tidak ada kata menyerah dalam hidupku dan selalu bangkit.


"Semua sudah di atur kak, Key menikmati semuanya kok. Walaupun banyak rintangan yang harus di hadapi" Ucapku dalam pelukannya yang erat.


Tiba-tiba wajahku terdapat tetesan air dari atas. Ternyata kak Dika sedang menangis tapi ia menyembunyikan wajahnya.


Aku membalas pelukan itu dengan erat. Aku sangat senang memiliki saudara sepertinya yang selalu melindungiku dari hal buruk. Aku terasa nyaman dalam pelukan kak Dika, mungkin karena kita berdua memiliki ikatan saudara yang kuat.


"Ingat, kamu harus bisa bermain dengan baik lagi. Agar bisa membawa kemenangan saat pulang ke kota kita Key"


"Iya key, semangat" Ucap mereka semua seakan memberikan energi positif untukku.


__ADS_1


__ADS_2