
Aku panik saat melihat Ari seperti ini, tapi aku juga harus berfikir jernih agar bisa keluar dari ruangan gudang ini. Pintu terkunci rapat dari luar. Di dalam ruangan hanya ada satu ventilasi udara dan itupun sangat kecil.
"Tolong, tolong, tolong" Teriakku yang sudah dari tadi tapi tidak ada yang mendengarnnya. Karena musik di dalam sangat keras dan mungkin orang-orang sibuk melakukan tugas Masing-masing.
"RI tenang ya RI"
"Aku baik-baik saja kok Key, sekarang kita harus cari cara untuk keluar dari sini" Ari berdiri dari tempat duduknya. Spontan aku menarik tubuhnya agar duduk kembali.
"Aduhh, sakit key"
"Makanya duduk saja. Biar aku yang cari cara untuk keluar dari sini. Dan kamu sekarang diam" Perintahku pada Ari agar dia tetap duduk. Biar aku saja yang melakukan semuanya untuk keluar dari sini.
*brak, brak* aku mencoba mendobrak pintu tapi kekuatanku tidak sebanding. Artinya aku harus mencari cara apapun untuk bisa keluar.
"Batang besi kecil, ri tolong carikan batang besi kecil di sekitarmu" Ucapku pada Ari yang langsung mencarinya. Begitu juga denganku untuk mencari batang besi kecil.
Beberapa lama kami keliling ruangan itu dan mencari di setiap sudut serta sela-sela pintu. Hingga akhrinya Ari menemukannya.
"Key, ini" Ari menemukan batang besi kecil tersebut.
Aku segera mengunakan untuk membuka gembok yang mengunci pintu. Dengan konsentrasi mendengarkan serta merasakan untuk membukanya. Aku harus fokus karena hal ini membutuhkan konsentrasi yang cukup untuk membukanya.
"Aduh, ayo ayo bisa bisa" Gumamku untuk menyemangati diri sendiri sedangkan tanganku sibuk berusaha membuka pintu itu.
"Bismillahirrahmanirrahim ya Allah, semoga terbuka" Doa kecilku pada Tuhanku agar pintu ini terbuka cepat.
*klek* mataku melotot dan terlintas senyum lepas pada bibirku.
"Ari, terbuka" Ucapku dengan gembira pada Ari. Akhirnya pintu itu terbuka.
"Alhamdulillah key" Ari juga ikut senang dan berdiri walaupun kepalanya agak pusing.
Aku bergegas membantu Ari untuk keluar dari gudang ini. Memapahnya karena aku takut Ari pingsan. Sedangkan hidungnya sudah berhenti mimisan. Namun seketika aku memberhentikan langkah.
"Kena... " Aku langsung membungkam mulut Ari agar dia tidak berbicara.
"Sttt, di luar ada yang jaga. Sepertinya itu orang tadi yang menangkap kita" Mencoba menjelaskan keadaan di luar. Ternyata ada 2 orang yang menjagaku dan Ari.
Aku bingung apakah mereka tidak mendengar saat aku teriak. Atau mungkin telinganya budek. Atau mungkin ruangan itu kedap suara sehingga banyak yang tidak mendengarkan suara kami. Tapi itu tidak penting, sekarang adalah bagaiaman caranya untuk keluar dari sini.
"Ri, kamu duduk disini. Aku akan mencari sesuatu untuk melawan mereka" Aku menyuruh Ari duduk dan bersandar di tembok untuk bersembunyi. Sepertinya keadaan Ari lebih lemah daripada aku.
"Hati-hati key" Aku mengangguk dengan peringatan yang ari berikan. Aku berjalan masuk kembali ke dalam gudang untuk menemukan benda yang bisa digunakan melawan mereka.
"Aduhhh, bendanya ini saja. Tapi tidak apa-apa yang penting bisa melindungi tubuhku" Aku hersiap diri dengan mengambil panci bolong untuk menutupi kepala, wajan sebagai tameng yang melindungi tubuhku. Dan tinggal satu lagi aku mencari sebagai senjata ampuh.
Jika dilihat-lihat aku mirip rambo yang akan bertarung melawan penjahat. Cuman masih kekurangan piatol yang akan melawan penjahat itu.
"Mana ada senjata ini lagi. Tidak, tidak aku harus mencari yang lain" Setelah beberapa lama aku mencari akhirnya menemukan sebuah batang besi yang cukup besar dan sepertinya aku bisa mengalahkan dia dengan semua kepercayaan diri yang ada di dalam diriku.
Tanganku membawa panci kecil lagi untuk mengecoh mereka dan menyuruh Ari membawa sesuatu untuk melemparkan pada penjahat tersebut. Ari mengerti dengan perkataan ku. Walaupun tubuhnya agak lemah tapi setidaknya dia membantuku dengan cara duduk.
"Siap" Ari memberikan kode dengan mengacungkan ibu jarinya padaku.
Aku mengambil ancang-ancang untuk lanjut menyerang. Pertama melemparkan sebuah panci dari jendela ventilasi yang kecil untuk mengalihkan mereka.
*kompyangggg*
"Berhasil" Aku langsung kembali ke tempat Ari dan mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Apa itu" Ucap salah satu dari mereka.
"Tenang bos, biar saya saja yang melihat" Salah satu dari mereka berhasil di tipu.
__ADS_1
Langkahnya berjalan dan menyusuri ruangan samping untuk menemukan bunyi itu. Aku dan Ari tersenyum karena berhasil mengecohnya.
Dengan waspada aku keluar dan mengendap-endap lalu memukul kepala penjahat itu dengan batang besi besar yang aku bawa. Tidak terlalu besar sih, tapi cukup besar seperti ukuran tanganku.
*plakkk*
"Aaa" Dia menejerit saat menerima pukulan dariku.
Aku kembali memukulnya hingga dia pingsan karena pukulan yang terlalu keras. Aku terus menambahkan pukulan itu di perutnya agar dia tidak bisa bangun. Tapi jangan sampai dia mati karena aku takut di cap sebagai pembunuh.
"Yes, berhasil" Aku gembira riang di dekatnya yang sudah terkapar.
"Makanya om, jangan cuman badan doang yang besar. Otak harus juga lebih besar" Ejek ku bicara dengannya yang sudah menutup mata.
"Hey, kamu dasar anak kurang ajar" Teriak salah satu temannya dari belakang membuatku terkejut.
Aku segera mengambil ancang-ancang untuk melawannya. Menodongkan batang besi pada dirinya. Aku tidak peduli apapun yang penting bisa menghadapinya dengan siap.
*plak* pukulan itu dia tangkas dengan tangannya yang kekar. Aku berusaha menariknya tapi dia terus saja memegangi dengan kekuatan yang tidak bisa aku imbangi.
"Aduh" Aku terjatuh karena dorongannya yang kuat.
*Prang* dia memukul kepalaku dengan keras, tapi dia lupa jika aku menggunakan panci bolong di kepala. Meskipun sakit tapi setidaknya masih terlindungi otakku.
"Aduhh" Keluhnya sambil mengibaskan tangannya karena kesakitan.
"Nah kan, matanya buka lebar om biar keliatan" Ejek ku kembali. Tapi dengan marah dia menyerangku. Aku menggunakan tendangan untuk melawannya. Lalu Ari melemparkan panci yang tadi padaku.
*prang*
*plak* tendangan panci tepat sasaran dan mengenai kepalanya yang botak.
"Nah kan, rasakan itu" Ucapku padanya yang kesakitan memegangi kepalanya lagi.
Lalu dia bangkit dan menghampiriku. Dengan kekuatan tangannya dia menamparku dengan keras selama meluapakn amarahnya. Aku ada dalam genggaman dia yang tersisa menampar wajahku tanpa ampun.
"Key, keyla" Mataku masih melihat saat dia ingin menendang Ari. Tapi aku menghalau dirinya sehingga tendangan itu mengenai ku.
*brakk*
"Aaaaa" Tendangan yang sangat kuat mampu membuat tubuhku terpental walau sedikit. Tiba-tiba temannya bangun dan ikut menyiksaku. Lalu mereka berdua memegangi aku dan Ari lagi yang sudah lemas.
"Jangan bergerak" Sambil menahan kesakitan, bibirku tersenyum melihat polisi datang di dekat kami berdua.
"Ampun pak" Mereka melepaskanku dan Ari. Sedangkan polisi melaksanakan tugasnya untuk meringkus mereka.
Benar-benar keajaiban, saat tubuhku sudah tidak berdaya melawan mereka pak polisi datang dengan tepat waktu dan menolongku serta Ari yang sudah lemah.
"Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu" Tanya Yuri yang tiba-tiba datang dan menghampiri penjahat itu. Ternyata yang menyuruh mereka berdua untuk melakukan ini adalah calon ayah tiri Yuri.
"Tunggu pak, tolong temanku dulu" Ucap Yuri meminta pertolongan pak polisi.
"Tidak, tidak, kami tidak apa-apa" Sahut ku sambil mencoba bangkit dengan segala kesakitan di tubuh.
Aku berdiri sambil membantu Ari, begitu juga dengan Yuri yang membantu kami berdua untuk berjalan. Pak polisi membawa kedua penjahat itu masuk ke dalam acara mamanya Yuri untuk menangkap biang kerok sebenarnya.
"Berhenti, tolong hentikan semuanya" Teriakan polisi memberhentikan acara tersebut.
"Ada apa ini pak? " Mamanya Yuri menghampiri polisi dan bertanya. Dirinya merasa sangat heran dengan kedatangan kami semua.
"Yuri, ada apa? " Wajahnya kebingungan menatap kami semua yang baru masuk.
"Maaf Bu, saya ingin menangkap calon suami ibu. Karena dia sudah melakukan kejahatan" Penjelasan pak polisi mengejutkan wajah mamanya Yuri.
__ADS_1
"Tidak, dia tidak bersalah. Ini salah paham pak" Mamanya Yuri masih membela keras lelaki itu. Bahkan dirinya tidak rela jika pak polisi membawa paksa lelaki hidung belang itu.
Tiba-tiba monitor yang seharusnya memutar vidio tentang pertemuan mereka berdua yang romantis kini menjadi tontonan yang sangat membuat para tamu kesal. Yaitu vidio perselingkuhan lelaki itu.
Semua orang menatapnya dengan terkejut, lelaki itu memiliki banyak pasangan bahkan ada vidio ia berjalan masuk ke hotel bersama wanita lain. Semuanya menonton dengan rasa malu dan berbisik untuk menghujatnya karena tidak tau diri.
"Ari? " Tanyaku pada Ari. Padahal kami sedang di culik dan flashdisk itu sudah di hancurkan. Lalu bagaimana bisa vidio itu masih bisa di putar.
"Tenang" Ari tersenyum dan berkata santai padaku dan Yuri. Wajahnya santai yang membuat kami berdua heran.
Sepertinya ari sudah memiliki rencana yang baik untuk semua ini. Aku hanya mengikuti dan melihat bahwa lelaki itu di tangkap oleh polisi dan acara ini dibubarkan dengan paksa. Semua tamu pulang dengan rasa kecewa.
"Mama" Yuri dan adiknya menghampiri sang mama yang sedang menangis karena kegagalan acaranya yang dipermalukan oleh calon suaminya sendiri.
"Maafin mama ya nak, karena gak percaya pada mu" Mamanya memeluk Yuri dan adiknya dengan tangisan.
Rasa bersalah ada pada dirinya karena tidak mempercayai semua perkataan Yuri. Mamanya selalu berkata bahwa Yuri anak yang tidak baik karena tidak menghormati orang yang lebih tua darinya, padahal orang itu tidak baik dihormati.
"Maafin Yuri juga karena sudah hancurin acara mama"
"Tidak, mama sangat berterima kasih denganmu nak" Suasana yang seharusnya bahagia kini menjadi haru.
Semua ini karena lelaki jahat itu. Tapi apapun masalahnya yang penting semuanya sudah selesai dan rencana berjalan dengan lancar.
"Tugas kita selesai key" Ucap Ari sambil tersenyum menampakkan giginya.
"Ehh, hidungmu" Aku kembali mencari tisu untuk membersihkan hidung Ari yang mulai mimisan lagi.
"Duduk" Perintahku sambil menarik ari agar duduk di sebuah kursi.
"Bentar-bentar, biar aku obati kalian" Yuri segera berlari mengambil kotak p3k untuk mengobati aku dan Yuri.
"Key, luka kamu juga parah. Jangan terlalu urusin aku tau" Ketus Ari yang melihat luka di tanganku. Darahnya masih segar karena goresan kaca. Sedangkan di kepalaku juga terasa sakit dan darahnya juga sudha kering.
Yuri segera membersihkan dengan air hangat dan membalut luka di tanganku dengan perban. Ternyata lukaku lebih banyak, tapi kepedulian ku pada Ari lebih banyak. Karena aku lebih memilih menyelamatkan Ari terlebih dahulu. Masalah luka yang ada di tangan bisa ku tahan.
"Oh iya, ini ponsel kalian berdua ada di aku" Ucap Yuri sambil memberikan ponselku dan Ari. Katanya tadi dia mengambilnya daritas lelaki itu sebelum dia di tangkap oleh polisi.
"Makasih banyak Yuri, ponsel ini berisi banyak hal penting" Ucapku yang sangat berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan ponsel satu-satunya. Begitu juga dengan Ari yang sangat berterima kasih.
Setelah semuanya beres mamanya Yuri menghampiri kami. Aku pikir akan dimarahi olehnya ternyata mamanya yuri mengucapkan Terima kasih pada aku dan Ari karena telah menolongnya membongkar kebusukan dari lelaki itu.
"Kalian anak yang hebat, tante sangat berterima kasih atas jasa kalian yang telah membantu Yuri mengungkapkan semuanya" ujarnya.
"Tenang saja tante, kami semua akan bersatu dalam hal apapun" sahutku sambil tertawa.
Kami berdua disuruh menikmati hidangan yang tersedia. Kami makan bersama dengan hidangan tersebut. Katanya tidak peduli acara ini gagal yang penting kehidupannya tidak gagal untuk yang kedua kalinya.
"Enak banget makanannya, baru kali ini aku makan makanan di tempat gedung seperti ini" Ucapku yang kagum dengan masakan yang ada.
"Iya bener Key, aku juga makanannya dengan lahap" Sahut Ari. Padahal dia sering sekali makan makanan seenak ini. Mungkin Ari sedang menutupi sikapku nyang terlalu kampung, hehehe.
Kami makan dengan sangat lahap lalu berpamitan untuk pulang pada Yuri dan mamanya. Aku ikut dengan mobil Ari yang mengantarkan aku pulang ke rumah ibu. Mana hari sudah malam lagi, tapi gapaplah.
Di rumah Ibu
Sesampainya di rumah, keluarga ibu sudah menungguku di depan. Katanya ibu cemas jika aku belum pulang. Apalagi dia melihat luka di tanganku. Wajahnya panik dan langsung memelukku.
"Tanganmu kenapa lagi? " Aku duduk di teras bersama mereka dan menceritakan semuanya tentang kejadian tadi. Kejadian yang menimpaku dan Ari. Menceritakan penculikan serta acara tunangan mamanya Yuri yang gagal.
Semua aku ceritakan tanpa ada kebohongan serta ketinggalan sedikitpun. Aku menceritakan panjang lebar yang membuat semuanya antusias mendengarkan ceritaku. Bahkan ibu sampai terharu dengan apa yang aku ceritakan.
"Gila, hebat banget kamu bisa ngalahin penjahat itu" Ucao mbak yeni setelah mendengarkan ceritaku.
__ADS_1
"Hebat gimana, wajah sampek bonyok gini" Sahut ku sambil menatapnya kesal. Ucapan mbak Yeni antara memuji atau mengejek ku. Dasar memang selalu jahil.