
Teriakan serta selebrasi selalu dilakukan oleh mereka. Sedangkan aku lebih memilih diam agar tidak ada kerusuhan baik pada pemain atau pada penonton yang hadir. Sportifitas harus banyak dilakukan di dalam lapangan untuk mempererat tali persaudaraan antar pemain.
*pritttt* peluit kembali di bunyikan.
Pertandingan dilanjutkan, aku tetap memperhatikan cara bermain dari tim sekolahku. Sepertinya permainan mereka menjadi lebih bagus tapi terkadang mereka terlena dengan kemenangan hingga beberapa kali kecolongan dan penyerang dari tim lawan mendekati kotak pinalty. Untung saja kiper bisa mengantisipasi dan mencegah kebobolan. Hingga menit akhir babak pertama selesai, skor masih sama 1-0 kemenangan sementara untuk tim kami.
Semua pemain masuk ke dalam ruang ganti untuk mendengarkan arahan dari coach Alam. Aku juga terdiam menyimak apapun yang coach Alam tuturkan. Sebenarnya aku kesal, karena kemarin di pertandingan pertama sudah memberikan permainan yang terbaik tetapi tidak dimainkan di babak pertama hari ini. Mau tidak mau aku harus tetap mengikuti arahan yang diberikan. Mungkin babak kedua aku akan dimainkan oleh coach Alam.
"Kemenangan ada di tangan kita, kalian harus mempertahankan kemenangan ini. Kalau kamu menyerang ke tim lawan gunakan taktik yang sudah saya ajarkan sebelumnya." Aku tidak tau taktik apa yang dia ajarkan, karena aku sama sekali tidak pernah dia latih. Yang aku tau adalah taktik yang diberikan oleh David dan tercatat di buku itu.
"Untuk penyerangan di sisi kiri harus lebih aktif, karena lini pertahanan sisi kiri dari tim lawan sangat lemah sehingga kita bisa memanfaatkan kelemahan yang dimiliki. Ingat terus menyerang apapun keadaannya, kalau perlu main kasar" Lagi dan lagi perkataan tentang permainan kasar tidak aku sukai. Hal itu tidak pernah dibenarkan oleh siapapun karena dapat melukai lawan bahkan bisa menghancurkan karir sejak dini.
Aku pernah mendengar jika ingin menjadi pemain hebat maka dengarkanlah kata pelatihan. Lalu bagaimana bisa aku mendengarkan pelatih, sedangkan dia tidak pernah memeperhatikan perkembanganku saat bermain. Dia juga tidak memberikan arahan padaku seperti pemain lainnya.
Sekali memberikan arahan maka arahannya tentang kekerasan pada pemain. Aku tidak bisa membenarkan semua yang pelatih katakan. Dan aku juga tidak membenarkan perkataan uraian yang aku lakukan, karena pelatih juga lebih hebat daripada aku yang anak kemarin sore.
"Apakah kalian sudah siap? "
"Siap coach" Semua bersorak semangat untuk keluar dari ruang ganti dan masuk bertanding di tengah lapangan. Aku masih duduk di bangku lapangan dan menyaksikan pertandingan yang sedang berlangsung.
*pritttt*
Peluit babak kedua sudah dibunyikan. Permainan lawan sepertinya semakin meningkat. Tim lawan banyak melakukan serangan di babak kedua. Mereka meningkatkan permainan dibandingkan dengan babak pertama. Di babak pertama mereka lebih banyak bertahan tapi di babak kedua mereka banyak keluar dari pertahanan dan mencoba menembus pertahanan tim kami.
Serangan demi serangan mereka lancarkan. Hingga 10 menit permainan babak kedua mereka menyamakan kedudukan. Skor menjadi 1-1 yang membuat beberapa pemain kesal karena lini pertahanan di belakang semakin kendor pernainannya.
"Ahhh, kenapa bisa lengah" kesalku karena melihat pertahanan di belakang tidak bisa mencegah pemain lawan saya mereka mendekati kotak putih.
Aku mencoba berfikir dengan perkataan coach Alam tadi. Ternyata lini pertahanan di bagian kiri dari tim lawan tidak terlalu lemah, bahkan yang lemah adalah jantung pertahanan dari tim kami. Sepertinya kita tidak boleh meremehkan lawan, walaupun mereka ketinggalan tapi semangatnya untuk mengejar sangat tinggi. Bola itu bulat dan apapun akan bisa terjadi di tengah lapangan.
"Ayooo, semangat" Teriakan penuh dengan kecemasan. Bibir ini rasanya tidak bisa diam saat melihat skor masih sama.
70 menit waktu normal berjalan, tim lawan menambah gol kembali. Skor berubah menjadi 1-2 dengan keunggulan sementara dari tim lawan. Tim kami gagal mengantisipasi penyerang lawan yang masuk di lini pertahanan paling belakang. Hingga akhirnya gol kembali terjadi lewat sundulan bola lambung.
"Aduhhh, sayang sekali" sangat disayangkan karena tim kami kembali kebobolan.
Semua pemain cadangan melihatnya murung. Sepertinya kegagalan akan kami dapatkan kali ini. Aku juga terdiam melihat keterpurukan pemain kami hingga pertahanan yang sedikit agak menurun.
"Key cepat lakukan pemanasan" Ada sedikit senyum di bibirku saat coach Alam menyuruh untuk melakukan pemanasan. Akan tetapi ada sedikit kesal juga karena aku selalu dimainkan di menit-menit akhir pertandingan.
Benar sekali menit ke 80 aku menggantikan Ana. Dengan cepat aku menempati posisiku. Penonton kami bersorak kembali saat aku memasuki lapangan pertandingan. Aku mencoba melakukan beberapa tendangan terobosan dan ada yang berhasil ada juga yang gagal. Meskipun berhasil tapi belum bisa dimanfaatkan.
Aku menghampiri Rega untuk mengatakan bahwa yang sebenarnya pertahanan bagian kanan yang lemah karena mereka tidak bisa mengimbangi kecepatan Mega dan liukan bola dari Ika. Rega mengerti, seketika tim kami melakukan terobosan dengan menyerang di bagian sebelah kanan. Dan hasilnya kami bisa mencetak gol dari tendangan jarak jauh yang dilakukan Ika.
"Golllllll" Teriakan semangat menggema dalam diri masing-masing bahkan juga pada para pendukung kami.
Bahkan penonton juga riuh dengan kegembiraan gol sehingga bisa menyamakan kedudukan menjadi 2-2 skor sementara.
"Ayo cepat kembali" Ucapku karena waktu normal tinggal 7 menit lagi. Aku berharap bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin untuk menambah kemenangan dari kami.
Saat bola berhasil ku rebut dari kaki lawan. Aku mencoba memberanikan diri berlari membawa bola ke depan. Liukan demi liukan aku lakukan dengan mengingat beberapa skil yang David ajarkan dulu.
"Key" teriakan itu mengalihkan perhatian ku untuk terus fokus ke depan.
__ADS_1
Aku menambah kecepatan saat melihat di lini belakang kosong. Aku terlepas dari pertahanan mereka dan melihat Mega berdiri bebas lalu kembali aku melakukan operan dan menjadi sebuah gol yang sangat baik. Aku kembali menyumbang assist yang berbuah gol. Selebrasi yang paling baik adalah sujud syukur pada sang Pencipta karena sudah diberikan kesempatan untuk melakukan yang terbaik bagi tim.
"Gollll" ketegangan bisa di bayarkan oleh gol tadi. kali ini wajah murung berubah menjadi kesenangan tim.
Di menit ke 89 skor menjadi 2-3 kemenangan sementara bagi tim kami. Kali ini kami hanya melakukan pertahanan dan tidak usah menyerang terlalu dalam untuk mengamankan kemenangan yang dimiliki.
"Key, jaga pertahanan belakang jangan sampai lepas"
"Oke" Jawabku sambil melakukan konsentrasi penuh.
Tambahan waktu di menit akhir yaitu 4 menit. Waktu yang lama bagi kami untuk menjaga konsentrasi tetap utuh. Aku mencoba menjaga pertahanan dan terus melakukan perebutan bola dengan sengit dari kaki lawan. Walaupun terjatuh bahkan sempat terinjak lawan tapi aku segera bangkit. Tidak akan aku biarkan mereka memasuki pertahannanku dengan mudah.
David pernah bilang padaku, posisiku adalah rumah yang harus dijaga bila ada penyerangan makan dengan sigak harus tetap menjaga dan mengusir penyerang tersebut. Jika ingin meninggalkan rumah, mata kita harus jeli melihat kesempatan untuk memanfaatkan kelengahan dari lawan. Dan rumah itu juga yang harus tetap kokoh meskipun sang pemilik terjatuh berkali-kali. Jangan sampai rumah kita kebobolan dan dimasuki oleh orang asing dengan mudah.
*prittt* pluit menit akhir dibunyikan. Aku kembali melakukan sujud syukur karena kemenangan saat ini berada di tim kami. Semua kerja keras yang telah dilakukan dan diselingi dengan usaha dan doa Masing-masing. Maka dari itu kemenangan sangat pantas bagi yang pantang menyerah meskipun sempat tertinggal.
"hore, hore, hore, hore"
"hore, hore, hore"
Saat diruang ganti semua bersenang-senang merayakan kemenangan. Aku hanya terdiam dengan membereskan sepatu dan mengganti baju. Semuanya bersorak gembira, coach Alam memuji penampilan dari tim inti yang ada kecuali aku karena bukan tim inti. Aku juga merasakan kebahagiaan karena kemenangan yang didapatkan. Selanjutnya kami bergegas untuk pulang.
Sesampainya di sekolahan, orang tua dari tim kami sudah datang menyambut. Mungkin beberapa dari mereka menonton pertandingan secara langsung atau menonton live ig yang dilakukan oleh salah satu teman sekolah kami. Hanya aku yang berdiam diri dan bersantai duduk di taman sekolah.
"Selamat ya" Kak Dika datang dan mengucapkan kata selamat sambil mengulurkan tangan padaku yang sedang menikmati lelah hari ini.
"Terima kasih" Aku menyambutnya uluran itu.
"Permainanmu sangat bagus key, tapi kenapa kamu selalu dimainkan di menit akhir"
" Tau gak key, di dunia ini ada dua hal yaitu diam dan berbicara. Diam saat orang lain berbicara adalah hal yang buruk dan berbicara saat orang lain diam adalah hal baik untuk menghiburnya" Ucap kak Dika.
Aku mengerti apa yang dia maksud, mungkin karena aku terlalu diam saat dia mengajaku berbicara. Atau mungkin wajahku yang selalu dingin bila bertemu dengannya.
"Di dunia ini juga ada dua hal, diam dan pergi. Diam lebih baik daripada berbicara yang membuat sulit. Lalu pergi bahkan sangat lebih baik untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan" Aku mencoba membalikkan kata-kata yang kak Dika ucapkan. Hingga saat ini aku tidak ingin berurusan lagi dengan kak Dika. Karena aku sangat menyayangi Yuri sahabatku.
"Kamu kenapa sih key, oke kemarin aku salah karena menyatakan cinta padamu. Tapi aku benar-benar cinta sama kamu key. "
"Kak, simpan saja cinta kak Dika karena ada seseorang yang menyayangi kak Dika secara diam-diam dan tulus tapi bukan aku" Perdebatan itu kembali terulang lagi. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan itu tapi kak Dika memancing ku lagi.
"Apa maksudmu? " Tanya kak Dika lagi
"Dan saya juga sudah memiliki seseorang yang mengisi hidup ini" Ucapku dan pergi meninggalkan kak Dika sendiri. Kali ini aku bingung untuk pulang dengan siapa. Jadi aku memutuskan untuk menunggu bis walaupun sudah malam.
Sudah lama aku menunggu di halte tapi bisa belum datang juga. Aku baru ingat untuk menelpon Bapak, namun saat ini aku tidak memiliki ponsel yang dapat digunakan. Jadi lebih baik aku menunggu.
*tinnnn*
"Bapak" Wajahku kembali semangat saat melihat bapak datang dengan motor kesayangannya dan menjemputku.
"Kamu ini, kenapa tidak telpon bapak"
"Bagaimana bisa key menelpon, sedangkan key saja tidak punya ponsel"
__ADS_1
"Oh iya bapak lupa, yasudah ayo naik"
"Siap boskuuuu" Aku bersyurkur karena bapak menjemputku. Jadi aku tidak sendirian menunggu bis yang sangat lama datangnya.
"Kenapa bapak jemput key? "
"Jelas bapak jemput kamu, karena bapak lihat rumah masih kosong dan bapak ingat kalau kamu tadi pagi bilang ke ibu ada pertandingan ya sudah bapak jemput saja" Aku mengerti dengan penjelasan bapak. Dan kami segera pulang ke rumah. Begitu juga aku yang makan terlebih dahulu di rumah ibu. Setelah itu aku pulang dan beristirahat untuk mengumpulkan energi dan kembali sekolah besok.
Sekolah SMA A
Saat aku tiba di sekolah semua sudah ramai. Banyak poster yang menyambutku seperti pahlawan. Padahal aku biasa saja, karena semua itu kerja tim bukan kerja sendiri. Banyak wajahku yang tertempel di dinding mading sekolah.
Bahkan siaran radio sekolah juga mengatakan bahwa aku pemain hebat. Sebenarnya semua ini tidak benar, karena aku hanyalah pemain cadangan yang kebetulan saja bisa menyamakan kedudukan atau melakukan serangan yang berbuah gol.
"Gila key namamu banyak dikenal sekarang" Ucap Yuri saat masuk ke dalam kelas.
"Alhamdulillah, tapi kita tidak boleh terlena dengan semuanya Yuri"
"Kenapa? "
"Mereka tidak tau, bahwa keberhasilan didapatkan oleh satu tim bukan satu orang" sahutku memberikan penjelasan padanya.
"Iya benar juga ya, oh iya Ari mana ya? "
"Aku gak tau, katanya sih kemarin mau ke rumah pamannya. Mungkin hari ini dia absen"
"Iya benar juga, yasudah ayo bersiap untuk belajar" Saat pelajaran jam pertama sudah dimulai ternyata Ari benar tidak masuk sekolah.
Kata bu guru surat itu berisi ijin ari yang pergi ke rumah pamannya karena ada kepentingan keluarga. Ternyata ucapan Ari kemarin benar. Tapi sepi juga jika tidak ada Ari. Karena dia yang suka mengajariku dan Yuri saat beberapa pembelajaran tidak tersambung ke dalam otak.
Saat jam istirahat tiba, aku menuju ke ruang gudang untuk berlatih bola. Sedangkan Yuri membeli minuman di kantin untukku. Kami saling mendukung satu sama lain. Serta saling melengkapi.
Terkadang saat Yuri berlatih drama, aku juga ikut mendukung dan menontonnya. Karena letaknya semangat itu datang saat ada orang-orang terdekat yang memberikan semangat lebih untuk menjalaninya.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~