
Aku duduk termenung di dalam kelas dengan keadaan yang sunyi. Hanya ada aku yang bersantai disini. Melihat buku dan menulis hal apa yang aku mau, yang penting bukan pelajaran.
"Key kenapa disini? " Yuri masuk ke dalam kelas bersama kak Dika
"Eh kalian, lebih enak disini sunyi" Sahut ku
"Tidak-tidak, kamu harus ikut untuk bersenang-senang" Yuri menyeret tanganku, tapi aku memilih untuk tetap disini saja.
"Tidak Yuri, aku ingin sendiri dulu. Oke" Tutur ku dengan lembut padanya sambil melemparkan senyum.
"Ayolah key, aku takut kamu stres disini" Ucap kak Dika yang ikut membujuk ku. Tapi kali ini aku memang ingin menenangkan emosi saja. Lebih baik berdiam diri disini, tidak ingin melihat keramaian.
Mereka berdua tidak berhasil membujuk ku untuk keluar dari kelas karena egoku sangat tinggi. Apalagi aku sangat malas melihat David karena jika ku ingat wanita itu rasanya sangat menyebalkan.
"Tidak, kalian saja yang pergi. Biarkan aku disni" Egoku masih mengatakan lebih baik disni daripada di luar.
"Oke kalau gitu kita yang menemanimu" Dengan wajah kesalnya Yuri duduk di sampingku sambil memegang tangan kak Dika dan dia ikut duduk.
Akhirnya aku luluh karena tidak ingin melihat Yuri termenung menemani aku yang tidak jelas ini. Bagaimana bisa dia dan kak Dika disini untuk ikut melamun bersamaku, dasar konyol. Tapi tak sepenuhnya keluluhanku untuk ikut mereka keluar, aku hanya berpura-pura menyetujuinya saja.
"Oke oke, aku akan ikut kalian. Tapi nanti aku akan menyusulnya. Kalian pergi dahulu dan aku ingin membereskan semua ini" Yuri berhasil membujuk ku dengan baik. Dan memaksaku untuk setuju keluar dari kelas dan ikut memeriahkan uforia tersebut.
"Ya sudah kita pergi dulu ya key" Ucapkan kak Dika yang diikuti Yuri untuk berpamitan juga. Mereka berdua pergi dan berlalu dari kelas. Sedangkan aku masih nyaman di kelas karena ketenangan yang sunyi. Aku sudah terbiasa menikmati sunyi jadi aku telah berteman akrab dengannya. Aku berbohong pada mereka berdua dengan berkata ingin menyusulnya, tapi aku masih tetap berada di dalam kelas.
Di kelas hanya ada aku dan 2 teman lainnya yang sedang membaca buku. Aku membayangkan bahwa mereka berdua adalah Ari yang selalu membaca buku. Semenjak Ari dekat dengan Rena, dia semakin malas membaca atau belajar. Bahkan Ari sudah merasa sombong saat diberikan pertanyaan oleh guru dikelas. Sungguh ironis perubahan Ari yang menyakitkan bagiku.
"Key, aku mau bicara denganmu" Tidak lama kemudian David tiba-tiba datang di hadapanku. Dia membalikkan kursi sehingga kami benar-benar saling berhadapan satu sama lain.
"Apa lagi yang perlu dibicarakan, semua sudah jelas" Aku menjawabnya dengan senyuman walaupun rasanya sangat perih.
"Key dengarkan penjelasanku, " Aku tidak ingin mendengarkan penjelasannya, rasanya sudah cukup dia menyakitiku. David mencoba memegang tanganku tapi aku melepaskannya.
"Aku sudah tau semua, kamu datang dari luar negeri lalu melupakan kenangan kita. Dan ternyata pertanyaan dalam benakku saat itu sudah terjawab, sekarang dengan adanya pernyataan wanita itu bahwa kalian sudah dijodohkan. Lalu apalagi yang akan kamu lakukan padaku. Masih belum puaskah menyakitiku vid" Tatapanku benar-benar dengan rasa benci, benci pada David yang tidak pernah berkata jujur padaku.
"Itu semua salah Key, aku tidak menyukainya. Aku hanya menyukaimu dari dulu"
"Simpan perkataanmu itu, buang saja di tempat sampah jika perlu" Aku beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan David sendirian di sana.
Tanganku mengepal ingin melakukan sesuatu. Ingin menghantam siapapun untuk melupakan kekesalan. Berlari ke toilet yang sunyi, meluapkan segala emosi pada tembok-tembok yang diam. Memukulinya hingga darah mengalir dari kedua tanganku.
"Aaaaa, mengapa kamu selalu menyakitkku. Apakah semuanya belum cukup? "
*buk, buk, buk* aku meluapkan semuanya, sesekali menyeka air mata yang nenetes. Secara bergantian kedua tanganku meluapkan kekesalan. Dan berusaha menahan tetesan air mata tapi rasanya sudah penuh menggenang dimataku.
"Jika memang kamu menyukaiku dari dulu, mengapa tidak bilang vid. Mengapa harus menghindar" Teriakku menyendiri di sana. Untung saja toilet dalam keadaan sepi.
"Ya Allah, aku lelah" Menyeru pada Tuhan sang pemilik alam. Aku berharap ada keajaiban yang datang pada hidupku dan merubah segalanya agar aku bahagia kembali. Mencoba berdiri dari rasa terpuruk ku yang membuat tubuh ini bersimpuh pilu di bawah lantai.
Menatap ke cermin dan mencuci wajah agar tidak terlihat bahwa aku habis menangis. Tidak terasa ternyata tangan ini sudah berlumuran darah. Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit di kehidupanku. Cukup diam dan merasakannya lalu mengobati luka ini. Tapi hanya luka luar bukan luka dalam.
Membasuh tangan dengan air, tapi darahnya terus saja mengalir. Aku bergegas pergi menuju ke UKS untuk mengobatinya sendiri agar tidak menjadi infeksi. Melupakan semuanya dan berjalan menuju UKS.
__ADS_1
Di pertengahan jalan aku tidak sengaja melihat ari yang terjatuh karena ditabrak oleh para siswa yang bersennag-senang mengadakan perayaan kemenangan. Rena hanya diam dan tidak membantunya. Langkahku bergegas menghampirinya.
"Bangunlah" Aku membantu Ari untuk berdiri. Tatapan Ari berpadu menjadi satu dengan tatapanku yang menahan rindu. Rindu persahabatan yang dulu dan bahkan rindu segalanya. Ingin sekali aku memeluknya namun rasanya sangat mustahil.
"Terimakasih" Ucapnya, lalu pandangan Ari tertuju pada kedua tanganku yang terluka. Dia mencoba menyentuhnya seakan bibirnya ingin bertanya, apa yang terjadi dan mengapa seperti ini?. Tapi aku segera menarik tanganku dan pergi dari hadapannya.
Pertemuan yang sangat singkat tapi bermakna dengan tatapan sahabat. Andai kamu tau ri bahwa aku rindu denganmu yang dulu. Denganmu yang memiliki perhatian lebih, bahkan aku rindu segalanya.
Termenung di dalam UKS dengan dibantu oleh pengurus disana. Membersihkan luka dengan kasih sayang, Lagi-lagi aku mengingat masa itu. Saat kakiku cidera, Ari dan Yuri yang selalu membantu untuk membersihkan luka itu. Walaupun tidak setiap hari tapi aku merasakan kasih sayang dalam sentuhannya.
"Kenapa bisa begini nak" Tanya guru pengurus UKS.
"Nak, nak" Panggilan itu menyadarkanku stelah guru itu memanggil berkali-kali sambil mencolek badanku.
"Maaf Bu, maaf saya tidak dengar" Ucapku merasa bersalah karena tidak langsung menyadari panggilannya karena renungan yang aku pikirkan.
"Kamu kenapa, melamun dan hilang fokus. Bahkan tanganmu kenapa seperti ini" Dengan lembut dia bertanya sambil megusap lembut luka ini dan membalitnya dengan perban.
"Tidak bu, saya hanya terjatuh" Aku mengucapkan kata bohong, karena tidak ingin ada yang tau tentang hancurnya hatiku saya ini.
Sepertinya ibu guru penjaga UKS mengerti perasaan yang aku genggam saat ini. dia hanya memilih diam lalu mengobatinya dengan telaten hingga luka itu benar-benar tertutup.
"Terima kasih banyak sudah membantu saya bu"
"Iya Sama-sama, kamu harus semangat" Tangannya mengusap lembut rambutku seakan sentuhan seorang ibu. Hatinya tulus seperti sutra, dan akupun berpamit pergi dengan menciun tangannya.
Berjalan di lorong yang sepi, karena hampir semua siswa ada di tengah lapangan merayakan kemenangan. Sesekali melihat tanganku secara bergantian yang sudah tertutup dengan perban. Membolak-balikan seakan masih tidak percaya bahwa aku meluapkan kekesalan dan sakit ditangan hingga tidak terasa.
"Key, ayo " Doni tiba-tiba datang menghampiri ku. Dia menggenggam tanganku dan menariknya.
"Aduh, aduh, sakit Don"
"Astaga, kenapa itu Key" Doni terkejut saat melihat tanganku diperban.
"Tidak apa-apa" Sahut ku singkat. Doni terdiam lalu kembali menatap kedua tanganku yang terluka.
"Bohong, kamu terluka terlalu parah key. Mungkin bukan hanya tanganmu tapi juga hatimu"
"Sok tau kamu" Sahut ku sambil berjalan meninggalkannya.
"Key, aku baru menemukan wanita sekuat kamu" Doni mengejarku dan mengatakan demikian. Tapi aku terus saja bergegas pergi dan meninggalkannya.
"Maka dari itu aku sangat menyukaimu aku juga mencintaimu key" Aku memberhentikan langkah kaki ini saat mendengar perkataan yang diucapkan Doni.
"Apakah kamu mau menerima cintaku key? " Begitu cepat rasanya, tapi rasa sayangku masih sama ada pada David. David tidak bisa digantikan oleh siapapun, walaupun aku harus sadar bahwa David sudah dijodohkan. Saat ini aku tidak ingin menerima siapapun, hatiku mungkin sudah mati.
"Kamu orang baik Don, aku harap kamu mendapatkan yang lebih baik daripada aku. Cukup kita berteman saja " Memegang bahu Doni untuk memberikan pengertian bahwa aku menolaknya secara halus. Aku tidak ingin menambah beban rasa sakit dalam diriku. Biarlah berjalan dengan kesendirian yang aku rasakan.
"Tapi aku suka sama kamu key" Teriakan doni melenting dengan keras yang disertai emosi. Di terus berteriak saat aku berjalan membelakangi nya.
"Key, " Panggilannya pilu, suaranya penuh kesepian. Aku tau dia dirundung rasa sepi sama denganku tapi hatiku tidak bisa berbohong karena saat ini aku tidak menyukai orang lain kecuali David.
__ADS_1
"Don, aku ingin kita hanya menjadi teman tidak. lebih dari itu" Aku memeluknya sekali lagi, dia bersimpuh di atas lantai dengan rasa lemah.
"Angkat kepalamu, jangan membuat hatimu disakiti oleh kata cinta" Aku mengangkat dagunya agar Doni tidak tertunduk lesu karena menerima penolakan.
"Saat ini hanya kamu yang aku percaya key, tidak ada lagi" Doni menangis sedih, untung saja lorong kelas saat ini sepi jadi tidak ada yang mengetahui kesedihannya.
"Berdirilah, kamu tidak pantas untuk menangis. Karena kamu pantas untuk melihat masa depanmu yang cerah" Aku membantunya untuk berdiri.
"Mengapa kamu menolak cintaku? "
"Karena jika aku menerimamu, maka aku harus mengambil resiko. Jika suatu hari nanti kita putus hubungan, aku bukan hanya kehilangan kekasih namun juga kehilangan teman yang baik sepertimu" jelasku padanya.
Kami duduk di bangku yang terdapat di lorong. Aku berusaha menenangkan dirinya dan memberikan pengertian. Baru kali ini aku melihat seseorang yang patah karena cinta. sebenarnya hati Doni sudah patah dalam rumahnya, tapi aku tidak pantas di jadikan rumah karena saat ini aku sendiri sedang berusaha mencari rumah.
"Rumahmu bukan aku Don, tapi aku hanya bersedia menjadikan tempat naunganmu sementara untuk menampung semua ceritamu"
" Aku tidak tau key, dipikiranku hanya ada kamu" Masih saja Doni berkata seperti itu.
"Senyumlah, aku adalah temanmu dan aku menyayangimu sebagai teman" Ucapku untuk membuat keadaan hatinya menjadi lebih baik.
"Jangan tinggalin aku key, aku sendiri" Suaranya lirih, aku tau dia sudah terpuruk di ujung tanduk. Jika orang seperti Doni ditinggalkan maka tidak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal yang lebih nekat.
"Aku akan ada disampingmu saat kamu butuhkan sebagai tempat berkeluh kesah" Aku memeluknya denagn kehangatan sebagai rasa persahabatan.
Aku tidak ingin Doni melewati rasa sakit dalam keluarganya dengan kesendirian. Tapi aku juga tidak bisa menemaninya sebagai seorang kekasih. Aku hanya bisa menemani Doni sebagai teman dan sahabat dalam perjalannya.
"Baik key, jadilah teman ceritaku. Jangan tinggalkan aku sendiri karena aku orang yang lemah" Doni menyadarinya dan dia tidak memaksa lagi untuk mengatakan cinta padaku.
"Ya sudah aku pergi dulu ya"
"Iya key hati-hati" Aku terpaksa pergi dari hadaoannya, walau matanya tidak bisa berbohong tentang rasa sepi yang menyelimuti hari Doni.
"Oh iya satu lagi, usap air matamu takut ada yang lihat" Doni langsung buru-buru mengusap air matanya dan berkaca di samping kelas. Aku tersenyum melihat kelakuannya seperti itu.
Aku tau hati Doni tidak sepenuhnya melupakan ini. Mungkin dia merasa nyaman denganku hingga terburu-buru menyatakan cinta. Tapi aku rasanya sudah mati dengan kata cinta, aku takut tersakiti lagi. Dan di hati ini masih ada nama David walaupun mustahil untuk bersamanya.
"Keyyyy, kamu berbohong padaku. Katanya ingin keluar untuk menemuiku dan merayakan kegembiraan di lapangan. Tapi kamu tidak ada dan aku mencarimu"
Dengan wajah murung Yuri menghampiriku yang sedang duduk di dalam kelas. Dia datang lalu mengoceh sepanjang waktu. Dan aku hanya mendengarkan dan menyimak ocehannya. Telingaku sudah terbiasa mendengar radio rusak.
"Tadi aku udah kelaur, tapi kamu gak ada" Sahut ku singkat
"Gak ada gimana, aku di...... " Yuri memberhentikan ocehannya saat melihat kedua tanganku terbalut perban. Dia langsung memegangnya untuk melihat apa yang terjadi
"Ini kenapa key? "
"Aduh sakit Yur" Dia memegang dengan tidak hati-hati sehingga terkena luka ini.
"Maaf, maaf, kamu kenapa key"
"Tidak apa-apa, aku hanya terjatuh tadi kok" Membohongi Yuri adalah caraku agar dia tidak terlalu khawatir. Bila nanti sudah waktunya maka akan aku jelaskan dengan baik.
__ADS_1