
Kami berbincang dengan senang di dalam ruang tamu ini. Dan hanya ada keluarga kecil yang sangat aku sayangi. Senyum mereka seakan kembali lagi menghiasi hidupku.
Kebahagiaan kembali datang tanpa harus diminta dengan paksa. Karena Tuhan tau, setiap luka pasti tersimpan bunga di lain waktu.
"Kemenangan ini karena kalian semua" Ucapku dengan gembira dan memeluk satu per satu mulai dari ibu, bapak dan kedua saudaraku.
Tatapan mereka merasa heran dengan apa yang aku maksud. Mungkin mereka belum tau bahwa karena semangat yang mereka berikan, aku bisa mencapai ke titik ini.
Hidupku semakin berubah, banyak cinta yang datang dari keluarga kecil ini. Keluarga dalam tim. Keluarga dalam persahabatan dan pertemanan yang melekat dengan ciri khas masing-masing.
Pagi
"Bapak antar kamu sekolah ya nak? "
"Lebih baik key naik angkot saja biar tidak menyusahkan bapak" Ucapku.
Karena aku tidak ingin merepotkan bapak yang terus mengantarkan pergi ke sekolah, apalagi usia bapak tidak muda lagi. Aku takut penyakit bapak kambuh, lagipula mandiri lebih baik dan tidak mengusahakan orang lain.
"Capek bapak akan hilang, karena mengantarkan pemain hebat untuk pergi ke sekolah" Sahutnya sambil tersenyum, terlihat matanya berkaca-kaca dan ingin berbicara tentang kekaguman.
"Baiklah kalau begitu, aku berangkat dengan bapak" Sahut ku dengan gembira seperti anak tk yang sedang diantarkan sekolah oleh bapaknya.
Aku ingin menolaknya, namun tidak tega melihat mata bapak berkaca-kaca. Sepertinya bapak rindu mengantarku ke sekolah. Karena sudah lama sekali dia tidak membonceng ku untuk pergi kemanapun.
Di dalam perjalanan tertawa riang dan bernyanyi senang. Bercerita banyak juga tentang bola pada bapak. Dan bapak hanya mengangguk dan ikut tertawa.
Pagi yang kusam dengan asap motor terlihat sangat segar karena tawa bapak. Aku sangat gembira walaupun bapak tidak banyak bicara untuk menanggapi obrolan ku. Yang paling penting ada tawa yang melintas dalam wajah keriputnya.
"Pak Key berangkat dulu ya"
"Iya hati-hati nak"
"Dadah" Melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Subahanallah, indah sekali"
\*SELAMAT DATANG KEYLA ADARA, TERIMA KASIH TELAH MENGHARUMKAN NAMA SEKOLAH\*
Banner sambutan yang cukup besar kembali terpampang di depan gerbang sekolah. Wajahku tersenyum dalam haru. Benarkah ini ataukah hanya sebuah mimpi yang aku rangakai dalam bunga tidur dari hari kemarin.
"Key bangunlah, apakah ini mimpi?"
"Ini bukan mimpi, ini nyata" David berada di sampingku dengan senyuman yang damai.
Dia mengatakan bahwa sambutan ini hampir sama dengan sambutannya saat dia pulang setelah membela timnas. Sekolah ini selalu memberikan penghargaan dan penghormatan bagi siswa yang berprestasi.
"Kamu pantas mendapatkan ini semua" Ucapnya dengan tatapan memuji. Sedangkan aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Ayo masuklah sang punggawa" Godanya padaku.
"Kamu ini, ada-ada saja"
Aku masuk dalam sekolah dan benar saja mereka memberikan selamat padaku atas kemenagan yang telah di dapatkan untuk nama baik kota ini.
Tidak jarang juga yang meminta foto serta tanda-tangan padaku. Sedangkan David hanya mengekori dari belakang sambil tersenyum melihat suasana ini.
Sesekali aku menatapnya dan dia membalas dengan senyuman serta acungan jempol untuk memberikan syarat bahwa aku pemain yang hebat.
"Ihhh apaan sih pagi-pagi. Lebih baik kalian bubar, bubar" Teriak Adel yang baru datang.
Dia masuk dalam kerumunan dan mencoba membubarkan para siswa yang memberikan ucapan selamat padaku. Kadang kebingungan menghiasi kepalaku. Mengapa makhluk tidak jelas ini datang dan menghancurkan kebahagiaan ku.
Ingin rasanya aku tikam, tapi tidak mungkin karena setiap masalah harus bisa menahan emosi lagi. Karena untuk masuk ke dalam tkmnas membutuhkan atitud yang baik.
"Seharusnya yang bubar itu kamu del, dasar biang rusuh"
"Ia rusuh sekali, sana keluar dari kerumunan ini" Hardik mereka saat melihat Adel yang sangat menyebalkan.
Beberapa dari kerumunan mendorong Adel keluar hingga membuatnya terjatuh. Aku hanya bisa tersenyum melihat Adel, sedangkan David telah menghilang dari hadapanku. Mungkin karena Adel sudah datang.
"Keyyyy" Teriak Ari dan Yuri dengan keras.
Mereka senang mndengar bahwa aku telah kembali ke sekolah untuk beberapa hari saja. selebihnya akan bermain untuk tim kota kembali dan tinggal di asrama.
"Yuri, Ari. Aku sangat merindukan kalian" Pelukan wrat untuk kedua sahabat yang aku cintai. Padahal baru kemarin bertemu, tapi rasanya rindu menggebu.
__ADS_1
Tidak lama ada upacara penghargaan. Rasanya aku sangat di pandang sebagai siswa yang berprestasi. Gemuruh tepuk tangan menyambut riang dengan berbagai senyuman di sudut.
Ada beberapa pula yang enggan tersenyum namun aku tak menghiraukan apapun. Karena menurutku akulah pemenang yang harus lebih berjuang agar semua bibir mampu tersenyum gembira saat melihatku.
Waktu Pulang Sekolah
"Pulang sama aku? " Aku diam saat David tiba-tiba datang dan menghampiri. Walaupun pertanyaannya belum aku jawab, dia masih saja menerimaku dengan senyuman.
"Apakah Adel tidak marah? " Sahutku sambil tersenyum.
"Sepertinya tidak, jika dia tidak menemukan ini" Ujarnya sambil tertawa kecil.
"Aku pulang sendiri saja, lihatlah dia datang tanpa di undang" Adel datang berlawan arah dari kami.
Wajahnya terlihat kesal saat menatap aku dan David sedang berbicara di depan pintu. Jika saja akuelihat, mungkin kepalanya sedang terbakar dan akan meledak.
"Lalu kamu? "
"Nih" Sahut ku sambil menatap Ari dan Yuri yang sudah berdiri dari tadi di belakang kami.
"Baiklah, Hati-hati ya"
"Siap calon pacar" Ejek Yuri yang berbicara genit pada David. Membuat Ari tertawa sedangkan aku merasa malu.
\*plak\* pukulan kecil dan menyeretnya untuk segera pulang. Melewati Adel yang menatap kesal dan aku membalasnya dengan senyuman.
"Dasar orang miskin" Ketusnya memuncungkan bibir.
"Dasar orang tidak berprestasi" Sahut Yuri yang membalas olokan dari Adel.
Hal tersebut membuat aku dan Ari tertawa kencang dan disusul oleh tawa Yuri yang begitu kencang. Sedangkan Adel langsung terdiam dan berlari ke arah David lalu memeluknya. Entah apalagi yang dia adukan pada David.
"Hahahah, dasar kocak" Ucapku tertawa paling kencang.
Mulut mercon yang tidak pernah berhenti menghina seseorang. Untung saja tidak aku pukul wajahnya. Ingin sekali menampar dan meremas tapi hatiku masih menahan sabar.
"Sudahlah yuk pulang" Ajak Ari sambil menahan tertawa. Sedangkan aku melihat David dan adel yang sedang mesra tapi wajah David terlihat datar menanggapi kemanjaan Adel.
Mereka berdua pulang dengan jemputan mobil mewah dan seperti biasa aku pulang menunggu angkot lewat. Anggaplah angkot itu mobil mewah yang aku tumpangi, karena milik rakyat kecil heheh.
Menunggu di halte bersama teman-teman lain dan saling berbincang. Aku tidak mengenal mereka karena beda kelas sedangkan mereka banyak yang mengenalku sebagai pemain bola wanita.
"Key" Mataku terpaku menatap seorang wanita kembali datang di hadapanku.
Tanpa banyak bicara aku pergi meninggalkan halte itu dan segera berlari. Dan menghindarinya agar kami tidak saling bertemu. Aku melangkahkan kaki dengan kecepatan tinggi agar tidak mudah digapai.
"Tunggu nak, tunggu ibu. Aduh... "
"Ibu" Aku berlari ke arah ibu.
Dia terjatuh saat mengejarku. Terlihat memar di kakinya karena dia menggunakan sepatu hak tinggi. Aku segera menghampirinya dan mencoba memberikan obat.
"Bu, ibu gapapa? " Walaupun aku membenci karena kepergiannya tanpa pesan, hatiku masih tetap sama mencintainya dan memiliki ikatan perasaan.
"Ibu gapapa"
"Lihatlah, kaki ibu terluka" Lututnya berdarah, aku segera membersihkannya dengan air lalu mengambil plester yang disimpan dalam tas untuk menutupi lukanya agar tidak infeksi.
"Ibu seharusnya pakai sepatu saja jangan pakai sepatu hak tinggi jika ingin bertemu denganku. Karena aku akan berlari dan ibu tidak akan bisa mengejarnya" Ketusku.
Aku segera bergegas pergi dari hadapan ibu. Namun tangan ini di cegah oleh cengkeraman erat agar langkahku tidak meninggalkannya kembali. Aku menatap ibu dan dia masih terlihat memiliki wajah penyesalan atas perbuatannya.
"Ada apa lagi bu? Key ingin pulang"
"Ibu ingin berbicara denganmu nak"
"Apa, bukannya semua sudah jelas" Aku tidak ingin berbicara dengan ibu. Jika mengingat dia pernah menghiraukan kasih sayangku.
"Tentangmu, tentang ibu dan juga karirmu?" Ucapnya sambil menatap dengan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya aku tidak ingin ikut, namun sorot mata ibu sepertinya ingin mengungkapkan sebuah kebenaran dan aku tidak tau kebenaran apa yang sedang disimpan. Aku harap semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Akhirnya aku ikut bersamanya untuk mencari tempat yang baik agar kami bisa berbicara 4 mata. Ibu membawaku ke kafe yang cukup mewah.
"Nak, maafkan ibu" Ucapnya memecah keheningan. Aku hanya menatapnya dengan rasa kekecewaan.
"Ibu telah salah karena meninggalkanmu sendirian dan membiarkanmu bertahan hidup tanpa pendamping keluarga hingga saat ini" Sambungnya.
"Tapi ibu mengirimkan banyak surat agar kamu membacanya"
"Surat itu tidak pernah aku baca, dan apakah ibu pernah berfikir bagaimana sengsara yang masuk dalam hidupku? Aku yakin kebahagiaan menghampiri ibu, karena hidup ibu bergelimang harta tanpa harus tau bagaimana keadaan seorang anak yang selalu menyepi dalam hidupnya" Ketusku.
Terlalu banyak emosi dalam hati ini saat mengatakan hal itu pada ibu. Tidak terasa air mataku menetes mengungkapkan seluruh isi hati yang ada.
"Aku berjuang sendirian bu, aku berteman malam yang sepi. Untung saja ada keluarga bu Yanti yang mau menjadikanku anak bungsunya dan memberikan banyak kasih sayang" Jelasku.
Sudah lama rasa sakit itu aku simpan. Bertahun-tahun aku berjalan sendiri menyimpan rasa sakit yang mengikis kehidupan. Dan sekarang semua hampir pulih namun ibu datang kembali untuk bertemu denganku.
"Aku menjerit, menangis, tertawa dan senang dalam malam. Dengan siapa? Dengan bobo, boneka kecil pemberian ibu di ulang tahunku"
Ibu hanya diam mendengarkan semua ucapan dari mulutku. Bibirnya terbungkam dengan banyak cerita yang aku berikan. Matanya menangis tersedu-sedu, mungkin dia ibah dengan hidup yang aku jalani.
"Aku bangkit dengan rasa perih, menjerit tanpa suara dan menangis lewat tawa karena kepura-puraan bu. Semua itu aku lakukan demi kebahagiaan aku sendiri. Dan kemana ibu dahulu ha?? "
Bertanya agar mendapatkan jawaban darinya. Namun tangis ibu semakin menjadi-jadi menatap wajahku yang sudah dibasahi air mata. Aku kecewa dengan ibu yang meninggalkan kehidupan tanpa rasa tanggung jawab.
"Maaf nak, ibu salah. Ibu pergi karena ingin mencari uang untuk memenuhi kehidupanmu agar bisa bersekolah setinggi mungkin" Ibu membuka suaranya. Matanya menangis dan menatap penuh rasa bersalah.
"Key gak butuh uang, jika ibu tidak percaya silahkan kembali ke rumah dan kita ambil semua uang itu" Aku menjelaskan bahwa uang yang ibu berikan masih utuh.
Aku menceritakan semuanya bahwa aku sudah bisa mencari uang dengan bermain bola. Serta uang ibu yang pernah aku pakai, sedikit demi sedikit sudah terkumpul dan uang yang ibu kirim hingga saat ini masih utuh dibalut amplop putih beserta surat yang ibu tulis.
"Sekarang mungkin sudah tidak ada yang perlu di jelaskan bu. Biarkan aku hidup sendiri dengan ketenangan. Aku pamit mau pulang" Ucapku sambil berjalan membalikkan badan.
Tanganku sibuk menyeka air mata yang jatuh terus menerus. Hatiku benar-benar sakit, bertemu dengan seorang ibu tapi bukan untuk melepas kerinduan melainkan untuk mengungkapkan semua rasa sakit.
"Tunggu, hidup kamu tidak akan tenang karena banyak orang jahat ingin mengincar kaki kamu nak" Langkahku berhenti mendengar ucapan ibu.
Aku tidak tau apa maksud yang ibu ucapkan. Dia berbicara seakan-akan tau semua tentang kehidupan ku yang bergelut dnegan bola. Lalu apa yang dibicarakan sehingga menyangkut dengan seseorang yang mengincar kakiku.
Penasaran kembali muncul saat ibu menyebutkan ada seseorang yang mengkncar kakiku. Kaki adalah tempat dimana aku merasakan kebahagiaan bersama bola.
"Mereka akan mematahkan kakimu sebelum langkah kamu ke timnas nak" Aku berbalik dan menatap ibu dengan penuh tanda tanya.
"Mereka? Mematahkan kaki? Apa maksud ibu? " Aku kembali mendekat dan menatap ibu.
"Mereka berusaha menghancurkan karirmu agar tidak bisa bermain bola lagi. Karena kamu adalah pemain yang banyak diminati oleh klub"
"Siapa bu? "
"Prabu"
Nama yang tidak asing menyapa telingaku. Aku ingat bahwa nama Prabu juga pernah disebutkan oleh Ani. Orang itu yang pernah melakukan percobaan untuk membunuh Ani.
"Siapa dia? " Aku kembali mendekat untuk mendengar penjelasan dari ibu.
"Dia suami ibu"
Deg........
Bom besar kembali dikeluarkan dari mulut ibu. Sungguh tidak disangka bahwa suaminya yang akan menghancurkan karirmu dalam bola. Entah apa yang ada dipikirannya membuat suami ibu ingin menghancurkan karir sepak bolaku.
"Mengapa dia ingin menghancurkannya bu?" Aku terus bertanya untuk mengetahui kenyataan agar aku dapat berhati-hati menghadapi bahaya yang mendekat.
"Suami ibu......... " Ibu menceritakan bahwa suaminya merasa curiga saat melihatku dan ibu di sebuah mall besar. Dimana pertama kalinya ibu dan aku bertemu dan tidak menganggapku sebagai anaknya.
Ibu juga mengatakan bahwa suaminya menyelidiki asal usul ku dan mengetahui bahwa aku adalah anak ibu. Dia berusaha untuk menyingkirkan aku dari sepak bola dengan cara menabrak dan mematahkan kaki ini.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~