
Ibu dan bapak sudah selesai mengobati luka di tanganku. Katanya ini tidak akan kering apabila tidak diobati secara tradisional. Tapi sayang obat tradisional yang ibu punya sudah habis. Dan untuk menbelinya lagi harus pergi keluar kota. Jadi terpaksa hanya diobati dengan obat merah dan perban saja.
"Bu, pak, Key tidur sini ya. Besok kan libur sekolah" Kebiasaanku apabila hari libur sekolah maka aku lebih suka menginap disini karena ramai.
Meskipun jarak rumah yang tidak terlalu jauh tapi suasananya yang aku rindukan. Suasana keluarga yang seru dan baik sehingga membuat ku betah disini.
"Boleh, tapi kalian gak usah bertengkar ya" Ucap ibu karena sudah tau bila kami bertiga digabung maka akan ada pertengkaran saudara dengan adanya hal kecil akan menjadi besar. Tapi dibalik itu semua kami saling menyayangi satu sama lain.
"Tidur saja di kamar mbakku seperti biasa nak" Sambung bapak melanjutkan perkataan ibu yang memberikan persetujuan.
"Tidak, tidak, key tidur di loteng saja. Karena dia selalu kungfu dalam tidurnya" Mbak Nike merasa tertekan saat aku tidur satu kasur dengannya.
"Iya mbak betul, aku saja suka ditendang oleh Key" Sahut mbak Yeni yang merasakan hal sama. Mereka memiliki ranjang yang berbeda tapi dalam satu kamar dan akulah penyusup dalam kamar mereka.
"Tidak, tidak mana ada" Aku masih mencoba mengelak perkataan mereka. Dan pada akhirnya kami tetap tidur dalam satu kamar. Kadang aku tidur bersama mbak Nike dan kadang juga tidur bersama mbak Yeni.
Saat sudah memasuki kamar mereka, aku menutup pintu rapat-rapat agar ibu dan bapak tidak mendengar apa yang ingin aku bicarakan. Aku curhat pada mbak Yeni dan mbak Nike, bilang bahwa aku patah hati.
"Seorang anak tomboy bisa patah hati juga mbak? "
"Hahahahha" Ejekan mbak Yeni membuat mbak Nike tertawa. Sedangkan aku hanya diam melihat mereka.
Bukannya memberiku belas kasih, mereka bedua malah menertawai ku dengan puas. Aku juga cerita pada mereka bahwa aku memukul tembok karena kekesalan. Eh dan lagi-lagi tanggapan mereka meremehkanku. Lalu berkata bahwa aku bodoh karena tembok yang diam malah dipukul.
Setiap curhat pada mereka pasti akan menertawai ku terlebih dahulu, tapi ujung-ujungnya mereka memberiku saran agar menjadi orang dewasa untuk menanggapi semua masalah dalam hidup. Tapi sepertinya aku belum dewasa karena masih banyak emosi yang gampang tersulut.
Mereka berdua tempat curhatku di rumah karena aku percaya bahwa mbak Yeni dan mbak Nike tempat rahasia terbaik. Di sekolah aku menjadi pemberani, dan di rumah aku akan menjadi bulan-bulanan mereka. Karena mereka sudah menganggapku adik bungsunya.
*plak* bantal melayang mengenai kelapaku. Bantal itu dari tangan mbak Nike.
"Lain kali jika ada masalah langsung pulang ke rumah, jangan di sekolah biar otakmu tidak menjadi bodoh" Ucapnya menasehatiku tapi ujung-ujungnya otakku juga yang dibawa-bawa olehnya.
"Sebenarnya otak key itu nggak bodoh mbak, tapi lagi down saja. Karena jaringan sinyal disana lemot" Tanganku mengetuk-ngetuk kepala untuk mengaktifkan otak ini dan memastikan bahwa dalam keadaan baik-baik saja.
"Nanti lama-lama kamu bakalan stres key, terus lari-lari gak jelas jadi orang gila dan hilang entah kemana. Terus kamu bicara sendirian dengan hayalanmu. Hiiii, aku takut dekat kamu key" Mulut julid mbak Yeni mulai aktif.
*plak" Aku membidik mereka dan melemparkan bantal sehingga tepat di kepala mbak Yeni.
"Aduhhh"
"Hahahahha" Aku dan mbak Nike tertawa puas dan disaat itulah kamar menjadi ramai dengan pertarungan bantal antara saudara. Biasanya ibu akan mengetuk pintu untuk menegur kami agar tidak berisik. Tapi sepertinya ibu telah tertidur karena waktu sudah tengah malam dan kami masih saja berisik.
Terlelap bersama dengan kehangatan keluarga dan saudara tanpa ada ikatan darah. Malamku hari ini ceria walaupun sementara setidaknya dapat mengusir hati yang sedih.
Esoknya di pagi hari aku diajak mbak Nike untuk pergi ke dokter. Katanya buat mengobati luka di tanganku agar tidak terinfeksi. Kami berdua berangkat menaiki sepeda motor. Sesampainya di rumah sakit kami harus menunggu antrian untuk masuk.
Perutku sakit dan ingin ke toilet, sedangkan mbak Nike masih menunggu di bangku cadangan takut giliranku sudah tiba. Melewati lorong rumahh sakit dan berjalan sendirian di sana. Katanya di rumah sakit angker dan banyak hantu. Tapi aku tidak percaya, lebih baik bodo amat dengan sekitar.
Beberapa menit ke toilet untuk membuang air kecil. Kemudian berkaca di ceriman yang tergantung di atas wastafel. Tapi ada yang aneh dengan wajahku, mengapa bayanganku tidak bergerak padahal aku sudah menggerakkan sebisa mungkin namun dia masih dian. Aku diam dan berfikir apa yang sedang terjadi, tapi sudahlah mungkin aku sendagn lelah.
"Hah, darah" Aku mengambil tetesan darah dari kaca. Dan darah tersebut mengalir yang membuat aku terkejut dan berlari dari kamar mandi. Ternyata benar kata orang bahwa rumah sakit ini sangat angker.
Di luar aku pura-pura tidak takut apa-apa, karena sangat lucu bila aku teriak hanya karena hantu. Lebih baik berjalan seperti biasa walaupun rasanya sangat takut.
"Gila Key, ternyata mereka benar adanya" Gumamku mengoceh sendirian dengan perasaan yang gugup.
Tiba di salah satu kamar ruang rawat. Mataku melihat salah satu sosok lelaki yang tidak asing. Dia sedang menunggu seorang pasien, sepertinya anaknya.
__ADS_1
"Dia, dia kan orang yang ada di dalam mobil bersama ibu waktu itu. Aku harus masuk dan menemuinya untuk bertanya keberadaan ibu" Perlahan kakiku mendekat ke pintu tersebut. Ingin membuka pintu dan menemuinya.
Ponselku berbunyi, ternyata mbak Nike yang menelpon. Katanya giliranku telah tiba dan ia memintaku untuk segera datang ke tempat perawatan. Aku berlalu pergi sambil mengintip ruang kamar tersebut dan hanya terlihat sedikit saja.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan menemuinya setelah berobat ini selesai" Gumamku sambil berjalan menuju tempat pemeriksaan seorang dokter.
Tapi hingga selesai berobat aku lupa menghampiri ruang rawat itu dan melihat serta mencari tau siapa orang tersebut, karena mbak Nike harus cepat-cepat pulang karena ada temannya yang akan datang tiba-tiba ke rumah untuk memberikan berkas pekerjaan ujarnya.
Di perjalanan mbak Nike melajukan kecepatan dengan standar. Agar kami menikmati perjalanan ini dengan nyaman. Tapi tiba-tiba ada sepeda motor berboncengan yang melaju kencang dari belakangan dengan menggunakan knalpot yang berisik.
\*brukk\* mereka menyerempet motor kami hingga terpenral jauh.
"Aaaaaaaa" Teriakan yang keras mengagetkan semua orang. Kami terjatuh di atas aspal jalanan yang tajam. Semua orang langsung berbondong-bondong menuju ke arah kami untuk membantu.
"Mbak Nike gapapa" Sempat-sempatnya aku menanyakan keadaan mbak Nike. Karena aku takut dia terluka. Untung saja tanganku mampu melindungi kepala mbak Nike yang ingin terbentur langsung ke pinggir trotoar.
"Gapapa Key, tanganmu terluka" Mbak Nike langsung melihat bahwa tanganku kembali terluka. Semua orang menolong kami untuk duduk terlebih dahulu di trotoar. Ada yang memberinya minum, ada yang mengajak ngobrol katanya agar tidak trauma dengan kejadian tadi.
"Rumah kalian dimana? " Ada salah satu orang yang menanyakan rumah kami, mbak Nike langsung menunjukkan alamat rumah kami. Ada juga yang bertanya tentang kejadian hal tersebut, bahkan ada juga yang menjadi saksi atas kejadian ini.
Tapi sangat disayangkan karena kita tidak bisa meminta pertanggungjawaban. Sebab pengendara itu sudah pergi dan melakukan tabrak lari. Untuk saja tidak ada luka yang serius kecuali luka ditanganku.
"Baiklah, kami akan mengantar kalian pulang agar tidak terjadi hal burukagi denagn kalian"
"Iya benar, apalagi kalian masih terkejut dengan kejadian ini" Gumamnya saling bersautan.
"Baik Pak, Terima kasih" ucapku dan mbak Nike secara bergantian.
Untung saja ada orang baik yang menolong kami untuk mengantarkan pulang ke rumah. Namanya adalah pak haikal.
Sampai dirumah ibu terkejut melihat mbak Nike dan aku pulang dengan keadaan terluka. Memang tidak parah tapi hanya luka goresan di tangan Mbak Nike serta tanganku karena benturan dengan aspal.
"Astagfirullah,bapak, Yeni tolong keluar" teriak ibu histeris saat melihat kami jalan terpincang-pincang. Ibu Sampai menangis melihat keadaan ini. Sungguh bersih hati ibu menyayangiku dengan tulus.
Pak Haikal membantu mejelaskan kronologi yang terjadi pada ibu dan bapak. Pak Haikal juga berkata bahwa kami berdua masih bersyukur karena hanya terluka goresan dan pak Haikal menyarankan untuk ke tukang urut takutnya ada benturan keras yang tidak terlihat.
__ADS_1
Setelah itu pak Haikal berpamitan untuk pergi serta temannya yang membantu membawakan motor kami. Syukurlah kami hanya luka ringan dan motor yang digunakan hanya tergores dan pecah sedikit di bagian samping body motor.
Tapi yang paling sakit adalah lukaku, baru saja diobati oleh dokter eh malah kembali mengulang masa lalu dengan berciuman sama aspal segala lagi. Udah tau aspal tajam tapi malah menyentuhnya.
"Ayo masuk nak biar ibu kompres dengan air hangat" aku dan mbak Nike masuk ke ruang tamu dibantu bapak dan ibu sedangkan mbak Yeni menyiapkan air hangat untuk kami.
Dengan telaten ibu mengusap luka yang tergores dan mengompresnya. Aku juga sangat bersyukur karena tidak ada luka serius yang dapat menyebabkan kakiku cidera kembali. Apalagi besok aku harus tanda tangan kontrak dengan tim tarkam. Dan pasti aku akan melakukan latihan bersama serta melakoni debut pertama di turnamen tarkam dalam waktu dekat.
Terimakasih ya Allah, sudah memberikan aku dan mbak Nike keselamatan. Alhamdulillah sekali kami tidak terluka parah. Hanya goresan sedikit dan itupun bisa diobati secara berlahan. Kecuali tanganku yang membuat sedih dan tertawa.
Aku tidak tau ingin menangis atau tertawa. Baru saja log out dari rumah sakit, eh malah disuruh log in lagi gara-gara kecelakaan ini. Biarlah, aku tidak akan ke dokter lagi. Lebih baik menggunakan obat tradisional saja.
"Key kamu tidur disini saja ya, jangan pulang ke rumah" mungkin ibu masih khawatir dengan keadaanku makanya dia menyuruhku untuk menginap lagi.
"Iya Bu"
Pagi hari di sekolah, tanganku masih diperban karena luka itu masuk belum kering. Tapi setidaknya tanganku sudah mulai bisa digerakkan meskipun belum leluasa.
Seperti biasa, bapak mengantarku ke sekolah. Katanya dia juga sekalian ingin ke kota seberang untuk membeli obat tradisional yang dapat mengeringkan luka seperti yang ibu bicarakan kemarin.
"Hati-hati ya pak, jangan lupa baca doa"
"Iya kamu juga ya nak" bapak mengelus rambutku dengan lembut, aku juga mencium tangannya bersalaman untuk berpamitan ke sekolah.
Bapak pergi berlalu dengan sepeda motornya yang tidak terlalu mewah tapi menyimpan banyak kenangan bersama ibu. Selama ini aku tidak pernah mendengar bapak dan ibu bertengkar. Aku rasa keluarga mereka selalu menciptakan kehangatan bukan kebakaran, hehehe.
"Hati-hati bapakku tersayang" Senyumku terpaut saat melihat bapak sudah berlalu menjauh pergi dari hadapan ini.
Baru saja berbalik dan mataku langsung terkejut serta melotot. Ayah sudah ada dibelakang ku dan ingin berbicara. Entah apa lagi yang ingin ia lakukan. Aku sudah malas melihatnya, apalagi setelah mengetahui bahwa kak Dika adalah anaknya. Entah anak sambung atau anak kandung aku tidak tau.
"Apa itu ayahmu nak?" Aku mengangguk padanya
"Lalu mana ibumu?" Buat apa dia menanyakan ibuku, sedangkan dia sudah bersama wanita lain bahkan tidak pernah menjengukku hingga saat ini.
"Untuk apa? Bukankah ayah sudah melupakannya. Sepertinya aku tidak perlu memberitahu" Sahutku padanya.
Sebelum dia mengatakannya lagi, aku bergegas pergi. Masuk ke dalam sekolah sedangkan ayah masih mematung menatapku. Dia tidak akan mengejar ku ke dalam sekolah, mungkin takut kak Dika mengetahuinya.
"Key" David menyapa saat aku berjalan di lorong kelas
"Ada apa" Sahutku sambil berjalan.
"Aku minta maaf, aku tidak suka dengannya dan aku berani bersumpah" Tubuhku seketika berbalik pada David saat mendengar perkataan tersebut.
"Lalu apa masalahku?"
"Aku tau kamu suka sama aku key, kamu menungguku dari lama kan. Dan aku juga menyukaimu dari dulu" mengapa hatiku tiba-tiba luluh saat mendengarkan perkataannya. Benar aku sangat menyukai David bahkan tidak ada lelaki yang menggantikan namanya dihatiku.
"Asal kamu tau bahwa aku tidak menyukaimu" Ketusku padanya, walaupun berbanding terbalik dengan hatiku yang benar-benar menyukai dan menunggu dirinya dari dulu.
"Tidak usah berbohong key, kamu menungguku dari dulu" jawabnya seakan tau apa isi hatiku.
Jika memang dia tau bahwa aku menyukainya dari dulu, mengapa dia terus menyakitiku tanpa henti. Melupakanku, menghiraukan ku bahkan yang aku dengar dari telingaku sendiri bahwa David sudah dijodohkan.
"Itu urusanku, urusanmu adalah menjaga hati sesuai isinya" dengan kesal aku meninggalkannya sendirian dan berlalu pergi.
__ADS_1