
*prittt*
Suara peluit pembukaan telah dibunyikan. Pak Pur selaku guru olahraga yang mengatur jalannya pertandingan. Ia menjadi hakim di tengah lapangan. Permainan memang asik, tapi kelasku khawatir karena tidak ada pemain pengganti disana.
Siswa laki-laki hanya berjumlah 9, sedangkan Ari tidak bisa bermain dan menolak untuk bermain bola. teman-teman satu kelas menjadi bingung takut terjadi hal yang tidak diinginkan sehingga menyebabkan kekalahan.
"Mengapa kamu tidak mau bermain ari? "
"Kamu tau sendiri bahwa aku tidak menyukai olahraga. lebih baik aku menjadi penonton saja" memang dari dulu Ari sangat benci dengan olahraga. Dia hanya memilih menonton saja daripada harus bermain bola.
"hmmm, baiklah"
Meskipun ini hanya pertandingan biasa, tapi euforia penonton sangat luar biasa di setiap kelasnya. Pertandingan ini bukanlah pertandingan bola sebenarnya, konon katanya mereka berkata bahwa pertandingan ini saling menyangkut pautkan dengan harga diri dari masing-masing kelas. Dan rivalitas hanya ada di lapangan, selesainya kita teman dan saudara.
Menit per menit sudah berjalan dengan aman dan lancar. Permainan cantik dikeluarkan oleh masing-masing pemain. Skil demi skil dan tendangan yang sangat apik sehingga membuat tim kami mencetak gol pada menit ke 10. Kelas kami nersorak gembira, begitupun aku dan Ari yang senang serta menikmati jalannya permainan.
"Golll" sorakan kami terlalu semangat, begitu juga denganku yang terus kegirangan dan sambil meloncat-loncat.
"Asik sekali permainannya Key"
"Benar ri, aku sangat menikmatinya" permainan kembali dilanjutkan.
Karena kekalahan yang didapat, tim lawan mulai mempercepat adu tempo penyerangan. Beberapa dari mereka ada yang bermain keras sampai lupa bahwa ini hanya rivalitas sementara dalam sekolah.
Hingga pada menit-menit akhir, Niko teman sekelasku mendapatkan tackle cukup keras sehingga membuat kakinya keseleo dan tidak bisa melanjutkan pertandingan.
"Pak pelanggaran itu Pak"
"Berikan kartu Pak"
"Dia sengaja menciderai lawan" teriakan para pendukung kami yang hampir seluruhnya terdiri dari wanita.
Pluit dibunyikan sebagai tanda pelanggaran, satu tendangan bebas yang dimiliki. Sebuah kesempatan yang harus digunakan sebaik mungkin untuk menambah gol dan yang mengeksekusinya adalah Adi. Tapi sayang tendangan itu tidak akurat sampai pluit panjang dibunyikan.
*pritttt* babak pertama selesai, istirahat 5 menit dilakukan untuk menyusun rencana. Niko masih meringis kesakitan dan sudah ditangani oleh tim kesehatan. Saat tim kami bingung untuk mencari pengganti Niko, aku memberanikan diri untuk mengikuti permainan mereka.
Awalnya aku ditolak karena perempuan sendiri yang melakukan pertandingan. Tapi tidak ada waktu untuk pikir panjang, sedangkan pemain pengganti tidak ada. Akhirnya aku terpaksa masuk dengan menggunakan baju serta sepatu olahraga yang Niko pakai.
"Huhuhhuhhu"
"Hahahah, cewek tu main boneka bukan bola"
Sorak-sorak semakin ramai, semua penonton meneriaki aku dengan kata-kata meremehkan saat kaki ini memasuki lapangan.
Beberapa tim lawan juga ikut meremehkan sedangkan aku hanya diam dan ingin menikmati suasana pertandingan awal yang aku lakukan. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan pertandingan ini, tapi dalam pikiran mencoba tenang mengingat perkataan David saat melatih ku.
Aku dimasukkan dalam posisi bek kiri menggantikan Niko, menjaga lini belakang untuk mencegah pemain lawan masuk ke dalam pertahanan kita. Saat ini tim kami memang sudah memimpin 1-0 dalam pertandingan, namun kewaspadaan tidak boleh kendur.
*prittt* pluit babak kedua sudah mulai, kami bermain dan bersusah payah merebut bola saat bola ada di kaki lawan. Permainan lawan semakin baik hingga kebobolan tidak bisa dipungkiri.
*pritt*
"Golll" Sayang sekali, pada 2 menit babak kedua tim kami kemasukan bola. Itu semua karena salahku yang masih belum bisa beradaptasi.
"Horeee, golll makanya jangan main bola mendingan main boneka" Seruan gemuruh penonton dari tim tersebut menjadi gaduh. Banyak ejekan dan cacian mengolok-olok ku di tengah lapangan. Beberapa selebrasi berlebihan ditunjukkan saat tim musuh menyamakan kedudukan.
"Tenang key, kamu pasti bisa ayo ikuti permainan dengan tenang" Ucap Dendi selaku kapten di tim kami. Padahal yang dia tau aku tidak bisa bermain bola, tapi dukungannya sangat baik untuk terus memotivasi agar aku tidak berbuat kesalahan.
__ADS_1
"Aku akan bermain sebaik mungkin, karena Dendi berani mempercayaiku. Dan aku tidak ingin mengecewakannya" Gumamku dalam hati. semua ini karena kebaikan Dendi yang memberiku semangat.
Sedangkan Ari memberikan bahasa isyarat dengan mengangkat tangannya untuk tetap semangat. Aku semakin menguatkan tekad dan pikiran untuk mengikuti permainan dengan tenang dan baik.
*pritt* bola sudah digulirkan, tim kami mencapai bola. Meskipun aku berada diposisi bek kiri, tidak menutup kemungkinan juga dapat membantu penyerangan agar bisa mendapatkan gol yang bagus. Yang harus di ingat tugas utama ku adalah menjaga pertahanan lini belakang
*bluk* Bola terpantul ke kakiku, saatnya menunjukkan skil untuk menggiring bola. Melewati beberapa pemain lawan yang bertahan. Hingga posisi dekat sampai ke kotak finalti. Aku mengoper pada striker di lini depan dan akhirnya berhasil.
*pritt*
"Gollllllllll" Semua senang dan bersorak gembira. Kami menyamakan kedudukan dengan gol Doni yang didapatkan dari assist yang aku berikan. Doni melompat gembira dan langsung berterima kasih padaku. Kali ini benar-benar pertandingan yang asik.
"Kalian jangan terdiam jadi boneka dong" aku mengembalikan ejekan pada mereka yang tercengang saat aku berhasil melewati hadangan mereka dan berhasil memberikan assist.
"Yuk key" kami melakukan selebrasi secukupnya lalu kembali ke posisi untuk melakukan tugas masing-masing di tengah lapangan. Selanjutnya kami melakukan permainan kembali.
Kali ini percaya dirikiu semakin menjadi-jadi. Melakukan taktik yang diberikan oleh sang kapten. Mengecoh pandangan dari lawan dan membuatnya lengah hingga melakukan blunder di lini belakang. Dimenit-menit akhir aku kembali menyumbangkan assist ke dua dan membuahkan gol.
*pritt* hingga peluit panjang dibunyikan, kelasku bersorak gembira kecuali kelas lawan yang terbungkan dari omongannya sendiri.
Aku hanya diam dan tersenyum tidak meremehkan dan tidak melemparkan ejekan kembali. Karena menurutku permainan ini adalah awal kalinya aku mencoba rumput lapangan dengan adu tandang bersama lawan.
"Gila, kamu belajar bola dimana key" Ucap Dendi yang merasa kagum serta menghampiriku saat pertandingan telah usai.
"Aku hanya coba-coba saja kok"
"Nggak, nggak, kamu memiliki skill bagus dan nanti bisa bermain untuk tim bola tarkam, klub dan timnas tau"
"Hehe, kamu kejauhan den aku cuma anak kemarin sore yang belajar bola" sahutku sambil berjalan kembali.
*plak*
"Kita itu patut bersyukur karena menang, tidak usha berlebihan" Ucapku pada mereka.
"Besok kamu wajib ikut pertandingan selanjutnya melawan kelas 3D" Sahut Dendi selaku kapten tim dan disertai teman-teman yang juga mengangguk untuk memberikan Isyarat agar aku ikut kembali di pertandingan besok.
"Tapi aku tidak punya sepatu bola" Ucapku untuk memberikan alasan agar tidak ikut bertanding
"Pakai saja sepatuku Key, lagian ukuran kaki kita sama. Sama-sama kecil maksudnya hehe" Sambung Niko yang tiba-tiba datang dan dipapah karena kakinya keseleo.
"Tapi kamu? "
"Aku gak bisa main karena kaki keseleo, memangnya kamu gak mau kelas kita menang?" Terpaksa aku mengangguk setuju untuk mengikuti pertandingan selanjutnya.
Semua orang senang melihatku menyetujui untuk mengikuti pertandingan besok. Tatapan mereka memberikan harapan padaku. Padahal aku hanya ingin mencoba sekali untuk menggantikan Niko tapi malah disuruh untuk bermain hingga akhir.
Tapi tidak apa-apa, mungkin ini awal dariku untuk mencoba belajar bagaimana rasanya merumput di lapangan seperti pertandingan sebenarnya. Serta mencari banyak ilmu dalam permainan bola, meskipun tanpa pelatih serta hanya sepak bola biasa saja di sekolah.
Pertandingan yang asik dan ditutup juga dengan asik karena skor akhir 3-1. Sangat senang bukan main, baru pertama mengajak lari bersama bola dan pertama juga aku menang.
"Key kamu ikut klub?"
"Enggak Ari"
"Kok bisa hebat? " Tanyanya lagi
"Nggak Ari, itu hanya beruntung" Ari terdiam dan kami melanjutkan perjalanan menuju kantin untuk menghilangkan dahaga dan lapar.
__ADS_1
"Pak jono, baksonya 2 ya"
"Oke neng"
Beberapa menit kemudian, 2 mangkuk bakso datang di meja kami.
"Kali ini aku traktir kamu ri, karena pertandingan tadi menang"
"Lucu banget, padahal kita satu kelas key yang pasti kan sama-sama menang" Ucap Ari sambil tertawa.
"benar kita satu kelas, tapi ini pertandingan pertamaku" kelasku padanya
"Sudah-sudah, ayo kita makan baksonya oh iya es juga sudah aku pesan" Kami berdua menikmati makanan dengan suasana tenang dan gembira.
"Hidihh, baru menang sekali aja udah bangga. Palingan bentar lagi afk" Ucap kakak kelas 3a, mungkin karena kekalahan tim kelasnya mereka masih tidak menerima. Aku hanya diam dan tersenyum, biarlah mereka mengonggong lagian tidak ada untungnya bila aku meladeni ocehan mereka. Yang penting mereka tidak keterlaluan yang bisa membuat telinga serta hatiku menjadi panas.
"Yaelah, kalo kalah yaudah kalah aja kak" Sambung Yuri yang duduk dibelakangnya. Tumben sekali Yuri tidak berselisih paham denganku, dan kali ini aku setuju dengan Yuri. Biasanya dia yang berbuat ulah tapi kali ini dia yang mencegah ulat yang berbuat ulah di kantin.
*brak*
"Diem kamu ya, ikut-ikutan saja" Amarahnya memuncak, memang lagi lucu-lucunya ya. Siapa yang buat ulah malah dia yang marah.
"Nanti kalo mau menang mending ikut main juga deh" Ejek Yuri dengan gaya bahasa seperti biasanya. Mungkin Yuri juga tidak ingin jika kelasnya selalu dijelek-jelekin. Jadi dia angkat bicara.
"Kamu ngelawan ya" Dia beranjak dari tempat duduknya dan ingin menampar Yuri. Kali ini telingaku sudah benar-benar panas. Tanpa basa-basi aku menahan tangannya dan dengan keras melemparkan ke sembarang arah.
"Kalo memang kamu kakak kelas, seharusnya beri contoh yang benar jangan hanya berani satu geng" Ucapku yang mulai angkat bicara, seakan membungkam mulutnya untuk berkutik.
"Kurang ajar kamu ya" Tangannya kembali lagi ingin menonjok wajahku. Tapi lagi-lagi aku bisa menangkasnya. Aku remas tangannya dengan sekuat tenaga.
"Aduh, aduh sakit tolong lepasin" Dengan senyuman aku melepasnya. Lagi pula tidak ada guna untuk bertengkar dengannya. Aku langsung pergi meninggalkan kantin itu agar tidak terjadi kegaduhan yang semakin besar. Aku dan Ari kembali menuju kelas untuk bersantai saja disana.
"Ayo ri" Langkahku bersama Ari meninggalkan kantin dengan 2 gelas air es dan 2 mangkok bakso yang belum aku habiskan. Beristirahat sejenak di dalam kelas yang berisi beberapa anak saja. Sedangkan yang lain mungkin mengikuti lomba lainnya.
"Key, nanti dimasa depan kamu masih mau gak berteman sama aku? " Mataku langsung menatap tajam pada Ari. Pertanyaan yang tidak masuk akal dan sulit dimengerti.
"Ya iyalah, kita itu sahabat dan gak boleh ada kata bertengkar"
"Tapi nanti kalo kamu udah sukses, apakah masih sudi berteman denganku" Aku langsung menatap Ari kembali kali ini aku dan Ari saling berhadapan.Ku pegang erat bahu ari dengan memberikan pernyataan padanya.
"Ri kamu harus ingat, dalam setiap perjalanan menuju sukses pasti ada peran sahabat yang penting dan salah satunya adalah kamu. Aku juga gak bakalan lupa kebaikan yang kamu berikan sampai kapanpun. Walaupun nanti ragaku menjadi abu sekalipun, aku akan tetap menjadi sahabatmu ri" Ari terdiam sejenak, lalu memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Saat aku memaksa menatap matanya yang terlihat berkaca-kaca. Tapi Ari berusaha untuk menyembunyikannya dari pandanganku.
"Kamu kenapa? " Ucapku lirih sambil menatap ari dengan tatapan yang paling dalam.
"Enggak key, aku harap kita akan selamanya bersahabat"
"Iya ri, aku janji tidak akan meninggalkan kamu" Tangan kami saling mengucapkan janji untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Apapun keadaannya akan tetap menjadi satu yaitu sahabat.
Perlombaan hari ini telah usai, kita akan menyambut untuk hari esok. Saatnya semua siswa pulang dan beristirahat di rumah masing-masing. Ari juga sudah di jemput dan pulang bersama orang tuanya.
Aku juga bergegas pergi untuk pulang dan beristirahat. Sesampainya di rumah aku ingat bahwa ingin menemui David dan menceritakan tentang hal dari pertandingan tadi.
Baju sekolah sudah berganti dengan baju bermain. Kali ini aku berangkat dengan tangan kosong. Tidak membawa bola dan sepatu karena hanya ingin bercerita dengan David saja.
Sesampainya di lapangan, latihan belum selesai. aku sabar menunggu di tempat biasa serta menyaksikan dan menyimak beberapa trik yang pelatih ajarkan. Melihatnya dari jauh saja aku sudah bersyukur karena banyak pelajaran yang didapatkan. Apalagi ditambah David yang menjelaskan serta mempraktekkan ilmu sepak bola padaku saat latihannya sudah selesai.
__ADS_1