
Aku mendekat pada ibu yang juga duduk di dalam kamar menemani bapak. Mataku menatap pilu yang digenggam malam ini. Sungguh benar aku butuh dekapannya untuk menentukan hati.
"Bu" Aku menyandarkan kepala dalam pangkuannya. Menangis kecil di pangkuan ibu. Ingin aku ceritakan semua tentang hal tadi, akan tetapi rasanya susah sekali.
"Kamu kenapa menangis" Tangan ibu mengusap air mataku yang mengalir. Tangan satunya merangkul tubuhku dan membelainya lembut.
Aku menatap wajah ibu dalam-dalam. wajahku mengkerut pilu melihat wanita yang ada di delanku bukanlah orang tuaku namun kasih sayangnya melebihi dunia.
"Key mau bilang sama ibu, jangan tinggalin Key ya buk. Hiksss, hikssss, hikssss" Tangisku semakin menjadi-jadi. Ruang kamar di penuhi dengan iringan tangis yang keluar dari mulut ini.
"Kamu kenapa nak"
"Key sudah gak punya siapapun saat ini. Key cuman punya bapak, ibu serta mbak Nia dan mbak Yeni" Air mata mengalir deras membasahi rok yang ibu gunakan.
"Lihat ibu, ibu janji akan menjagamu. Ibu sudah menganggap aku sebagai anak ibu. Kamu harus tersenyum karena ibu dan bapak akan menjagamu" Tatapan ibu sangat tulus membuatku semakin menangis kencang.
Suara keras membuat mbak Yeni dan mbak Nike datang menghampiri ke kamar bapak. Mereka takut ada hal buruk yang terjadi. Langkahnya bergegas menghampiri diriku yang masih menangis dalam pangkuan ibu.
"Key, kami akan menjagamu" Mungkin mbak Yeni mendengar percakapan ibu dan aku sudah daritadi. Dia memeluk ku dengan erat disusul oleh mbak Nike. Mereka berdua janji akan menjadi kakak yang baik untukku. Kami menangis di samping tempat tidur bapak.
"Nak....., bapak juga akan menjagamu di sisa umur bapak" Suara lirih mengalihkan perhatian kami semua.
"Bapak, bapak terbangun? " Aku mendekat ke arah bapak. Begitu juga ibu dan kedua saudara ku. Aku memegang tangan bapak dengan erat. Aku sedih melihat satu-satunya lelaki yang menggantikan peran seorang ayah kandung. Menyayangiku secara tulus tapi kali ini beliau terbaring lemah.
"Nak kamu jadi anak yang hebat, buat bapak dan ibumu bangga ya. Dan tunjukkan pada kedua orangtuamu nanti bahwa kamu adalah anak yang terbaik" Tangan lemah bapak berusaha membelai rambutku secara perlahan. Suaranya yang lirih menyayat hatiku. Air mata kami terus mengalir deras.
"Pak, key janji bakalan ngebahagain bapak dan ibu. Suatu saat nama bapak dan ibu akan bergema hebat sebagai orang tua Key. Key juga bakalan tunjukin pada dunia bahwa key akan menjadi yang terbaik. Saat ini hanya keluarga ini yang Key miliki. Key sayang kalian, dan bapak pasti akan sembuh serta melihat Key tampil di timnas" Ucapku bersemangat agar melihat bapak tersenyum dengan rasa yang semangat.
Bapakku adalah orang hebat, aku tidak di asuh olehnya dari kecil. Aku tidak pernah di gendongnya dari kecil. Bahkan aku tidak memiliki ikatan darah apapun. Tapi beliau menyayangiku seperti kedua anaknya. Kasih sayang yang tulus diberikan oleh seorang ayah, tapi bukan ayahku.
Bapak jarang sekali berbicara. Tapi hatinya ia tunjukkan padaku bahwa bapak adalah orang yang sangat tulus menyayangiku. Bahkan apapun akan beliau lakukan hanya untukku. Katanya aku adalah anugerah yang Tuhan berikan, padahal baru saja mereka merawatku tapi kasih sayangnya seperti pada seorang anak yang dirawat mulai bayi.
"Berjanjilah pada bapak, bahwa kamu tidak boleh patah semangat dan harus menjadi yang terbaik. Dimanapun dan kapanpun"
"Iya Pak, key janji" Ucapku dengan mata yang sangat sedih. Bukan hanya memberikan nasehat padaku, bapak juga memberikan nasehat pada kedua kakakku.
Bapak bilang bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi orang hebat. Nama yang ingin dinantikan semua orang, akan tetapi kehebatan itu tidak akan sebanding apabila doaku tertutup bahkan melupakan sang Pencipta alam.
Katanya bapak ingin melihat mbak Nike nikah, hidup bahagia bersama suaminya dan memiliki anak yang lucu. Katanya bapak mau menggendong anak mbak Nike kelak, biar anak mbak Nike merasakan apa yang pernah bapak lakukan pada mbak nike.
Lalu bapak memberikan nasehat juga pada mbak Yeni, katanya dia harus rajin belajar agar lulus dengan baik mbak Yeni harus berusaha dan tidak boleh mengeluh, apapaun keadannya harus dijalani dengan lapang dada. Suatu saat mbak Yeni pasti akan menjadi orang hebat.
"Bapak sangat sayang pada kalian semua" Walaupun tangannya lemah, tapi hatinya tetap ingin memeluk keluarga kecil ini.
Kelihatan sekali bapak sayang pada ibu dan anak-anaknya. Beruntung aku bertemu dengan keluarga ini. Yang memberiku kasih sayang tanpa batas. Yang memberiku harapan kehidupan dan melewatinya diatas senyuman.
Malam semakin larut, kami semua tidur di satu kamar menemani bapak. Aku khawatir jika meninggalkan bapak, begitu juga ibu dan kedua kakakku. Jadi mereka putuskan untuk tidur bersama.
Pagi ini aku bersiap-siap untuk melakukan pertandingan yang ke 3. Semua perlengkapan sudah aku siapkan. Kali ini hatiku berat melihat bapak yang lemah di atas tempat tidurnya. Air mataku kembali menetes membasahi pipi. Biasanya bapak yang mengantarku, tapi kali ini aku harus berangkat sendiri.
"Key, kamu sudah makan?" ibu datang di belakangku. Tanganku segera menyeka air mata yang terjatuh saat melihat bapak yang sedang terlelap.
"Sudah Bu. Tadi key sudah makan" sahutku di depan kamar bapak.
"Ya sudah, kamu berangkat naik angkot kan"
"Iya Bu"
"Baiklah kalau begitu kamu segera siap-siap. Ibu mau kebelakang dulu"
"Iya Bu"
Sebelum berangkat aku pergi ke kamar bapak. Menatap wajahnya yang sudah tua, banyak keriput yang menghiasinya. Dia memang bukan bapakku, tapi dialah yang memberikan kasih sayang yang banyak padaku. Aku janji akan membuat bapak dan ibu bahagia.
"Pak, key berangkat dulu ya. Doakan Key agar bisa menang di pertandingan ini pak. Nanti kalo Key menang, terus punya banyak uang. Dan Key bakalan ajak bapak sama ibu keliling dunia. Atau ke Mekah saja pak, bapak cepat sehat ya" aku berbicara sendir karena bapak sedang tertidur.
__ADS_1
"Baiklah pak baiklah kalau bapak tidak mau bicara sama key. Bapak istirahat saja dulu, jangan banyak pergi jauh-jauh ya pak" aku berpamitan dengan mencium tangan bapak. Aku berjanji akan bermain mati-matian untuk mendapatkan kemenangan. Agar nanti aku bisa bertanding di luar kota.
"Key mau berangkat?" Ucap ibu saat melihatku yang ada di depannya.
"Iya Bu"
"Ibu gak punya uang saku nak"
"Tidak usah Bu, cukup berikan Key doa biar selalu mendapatkan kemenangan saat bertanding.
"Insyaallah ibu selalu doakan Key, di setiap sujud ibu" hatiku tersentuh saat mendengarkan ucapan ibu. Beliau mendoakan ku di setiap sujudnya. Sedangkan ibu kandungku belum tentu dia mendoakan langkah yang akan aku jalani.
Aku pergi menaiki angkot ke tempat pertandingan. Disana sudah ada beberapa teman-teman yang hadir dan bersiap-siap. Aku bergegas ke kamar mandi dan mengganti pakaian, lalu mengambil sepatu dan bersiap untuk melakukan pemanasan sebelum pertandingan.
"Hmm, Setiap pertandingan aku harus menenagkannya biar bisa membawa pulang kemenangan untuk bapak" Gumamku di ruang ganti lalu berangkat ke lapangan.
Pemanasan seperti biasa telah dilakukan, lalu kami bersiap untuk masuk ke dalam lapangan. Kali ini aku harus menang agar bisa membawa kabar baik untuk bapak. Siapa tau bapak jadi senang dan keadaannya semakin membaik.
Aku selalu mengawalinya dengan doa sebelum menginjak rumput untuk bertanding. Berdoa pada sang pencipta agar selalu diberikan kemudahan. Dan mendapatkan hasil yang sangat baik di setiap pertandingan.
"Yuk semangat, semangat, kalian harus bekerja dengan tim bukan mencari nama sendiri" Ucap Rani sebagai kapten tim dan tatapannya tertuju padaku.
Ucapan itu ia lontarkan setelah sesi foto bersama. Aku tidak tau apa yang dia maksud. Dan aku tidak peduli, karena ku tidak pernah mencari nama akan tetapi ingin melakukan yang terbaik di setiap pertandingan.
"Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah berikanlah kemudahan dalam setiap langkahku. Aamiin"
\*pritttt\* pertandingan dimulai, aku bersiap di posisi dan fokus melihat arah bola dan serangan dari pemain lawan yang akan diberikan. Babak pertama terlihat tim kami menguasai pertandingan. Bola selalu melekat pada para pemain kami. Hal ini menjadi unggulan untuk membangun serangan.
Meskipun kami unggul dalam penguasaan bola, serangan yang kami berikan selalu tidak akurat. Selalu saja tendangan dari para penyerang tidak dilakukan dengan finishing yang bagus. Selain bertahan, permainan ku juga lebih maju karena pemain lawan lebih memilih berada di kotak pertahan mereka.
"Tenang, fokus" teriak pelatih di samping lapangan karena selalu melihat pasang yang belum akurat.
Aku akui penjaga gawang tim lawan sangat bagus. Karena dia melakukan save berulang kali untuk timnya. Penampilannya tidak diragukan lagi karena dia selalu jatuh bangun tanpa ada rasa mengeluh di tengah lapangan. Kegigihannya membuahkan hasil sehingga bola tidak ada yang menebus gawangnya.
"Mundur" teriakan pelatih menyadarkanku.
Pada saat-saat yang tenang, tiba-tiba Rani melakukan blunder yang menyebabkan pemain lawan melakukan serangan tanpa kawalan. Aku menahannya dengn lari secepat mungkin untuk menggapai bola. Syukur alhamdulillah bola dapat terselamatkan dan aku bawa ke depan untuk memberikan umpan.
Dimenit-menit terakhir pertandingan babak pertama aku harus fokus memberikan umpan pada mereka yang dekat dengan gawang. Kali ini aku tidak memberikan umpan lambung melainkan melakukan gerakan taktik untuk mengecoh lawan.
\*bluk\* mataku fokus tanpa berkedip untuk memastikan mereka yang berada di posisi penyerang mampu mengontrol bola dengn baik.
__ADS_1
"Yes, tepat" Gumamku merasa umpan yang aku berikan sangat cantik.
\*bluk\*
"Golllllll" Assist dari kakiku membuahkan hasil lewat tendangan dari Ani. Finishing yang cantik menghasilkan gol yang epik.
Ani langsung berlari dan memelukku untuk mengucapkan terima kasih. Kami melakukan selebrasi bersama dengan sujud syukur. Akhirnya di menit-menit akhir kita bisa menembus pertahanan penjaga gawang yang dengan baik.
Tidak ada yang tidak mungkin jika kita terus bersuaah dan melakukan percobaan walaupun terus saja gagal. Tapi pada akhirnya percobaan tanpa putus asa akan membuahkan hasil yang baik.
"Makasih key" Ucap Ani dengan senyuman
"Sama-sama, yuk semangat lagi" Tanganku menepuk kecil ke kepala Ani. Seketika pertemanan ku tercipta dengan Ani. Memang dari pertama aku masuk, Anilah yang lebih dekat denganku.
Setelah terjadinya gol, permainan dari kami semakin meningkat. Serangan lebih sering di lakukan dengan waktu yang tersisa sekitar 5 menit waktu normal. Tepat di menit ke 44 kami menambah keunggulan lewat sepak pojok.
Bola yang melambung tinggi berhasil ditutup dengan sundulan yang sempurna dari Sela yang juga berperan sebagai gelandang bertahan. Suara penonton gemuruh dengan hebat. Kami bersorak gembira begitu juga aku, tidak lupa selebrasi yang melekat adalah sujud syukur pada sang Pencipta.
Tambahan 2 menit di babak pertama. Kali ini kami hanya bertahan untuk menjaga energi yang akan digunakan di babak kedua. Mataku menatap sepatu yang sedang digunakan. Sepertinya sepatuku rusak dan jebol karena lari yang terlalu kencang.
\*pritttt\* peluit akhir babak pertama telah dibunykkan. Semua bersorak senang atas kemenangan. Aku juga ikut tersenyum senang, tapi sepatu ternyata memang sudah jebol. Untung saja aku masih membawa sepatu cadangan. Jadi tidak terlalu khawatir.
"Kenapa sepatumu key? " Tanya Ani yang berjalan disamping. Mata dia tertuju pada sepatu yang aku buka saat berjalan menuju ruang ganti karena sudah jebol.
"Eh Ani, ini jebol hehehe" Tawa kecilku saat menerima pertanyaan Ani.
"Kamu ada sepatu lagi? "
"Ada kok, bentar lagi aku menggantinya"
"Syukurlah" Kami berdua berjalan menuju ruang ganti.
Disana Coach Jaka mengambil peran untuk memberikan arahan dan evaluasi dari pertandingan di babak pertama tadi. Evaluasi nya adalah jangan mudah untuk kehilangan bola walaupun tim lawan memiliki serangan yang minim. Tetap fokus dan harus lebih fokus lagi serta Jagan pernah meremehkan apapun.
Sambil memasang sepatu, aku mendengarkan arahan dari Coach Jaka. Mendengarkan dengan baik agar tidak ada kesalahan apapun. Dan aku juga harus tetap beroenampilan yang baik meskipun katanya pemain lawan sangat lemah.
Tapi hal itu tidak bisa di anggap remeh, bola itu bundar dan di dalam lapangan tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya akan terjadi dengan bergilirnya waktu. Maka fokus adalah nomor satu dan tetap menampilkan yang terbaik.
15 menit berlalu, kami semua masuk ke dalam lapamahn untuk melanjutkan permainan. Berdoa dan usaha adalah kunci sukses. Jangan lupakan tuhanmu diamanapun dan kapanpun itu.
\*prit\* babak kedua sudah dimulai, tidak sengaja mataku melihat David yang ada di kerumunan penonton. Aku pikir mata ini salah melihat dan ternyata itu benar-benar David. Pasti dia bolos sekolah untuk datang kesini. Dasar David, ingin ku jitak kepalanya bila pertandingan telah usai.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1