
Ibu tiba-tiba datang dan menghampriiku. Menyuruhku untuk makan di pagi ini. Padahal waktu masih pagi sekali dan dia sudah menyiapkan sarapan untukku.
"Ibu, kenapa pagi sekali"
"Kamu kan harus bertanding hari ini" Ucap ibu sambil merapikan makanan. Sedangkan mbak Yeni masih membersihkan diri di dalam kamar mandi.
"Tidak bu, Key gak jadi bertanding"
"Kenapa Key? " Ibu terkejut memdengarkan pernyataan dariku.
"Key gak mau ninggalin bapak bu" Ucapku tertunduk lesu di samping bapak.
"Kamu harus berangkat nak. Disini sudah ada ibu dan mbak Yeni yang jaga bapak" Ibu memelukku dari belakang, membujukku agar mau berangkat ke tempat pertandingan.
Dengan rayuan peluk ibu yang penuh kasih sayang akhirnya aku berngakat ke tempat pertandingan dengan diantar oleh mbak Yeni. Sebelum berangkat, aku berjanji pada bapak akan membawa kabar kemenganan dan bisa bermain di luar kota. Sebelumnya aku mengambil perlengkapan dirumah terlebih dahulu lalu berangkat.
Di tengah perjalanan aku bertemu dengan doni yang berpakaian biasa. Ternyata dia bolos sekolah karena ingin melihat pertandingan ku. Akhirnya Doni yang memaksaku untuk ikut bersamanya dengan alasan bahwa takut mbak yeni kecapean mengantarkan. Akhirnya aku berngkat dengan Doni ke tempat pertandingan. Dan mbak Yeni berbalik arah untuk pulang.
"Kamu kenapa bolos sih Don" Bentakku kesal saat mendengar doni bolos sekolah.
"Aku mau lihat temanku bertanding lah, sekalian aku juga belajar skil pada wanita hebat saat ini" Sahutnya.
"Maksudmu aku? " Aku tidak tau siapa yang ia katakan wanita hebat.
"Iyalah, siapa lagi kalau bukan kamu hahaha" Tertawanya sangat kencang sekali.
*plak* aku memukulmya dan menyuruh doni untuk melakukan motornya.
Di dalam perjalanan terus saja aku dan Doni berbincang-bincang di atas motor. Walaupun suara kita samar-samar terbawa oleh angin. Tapi asik juga bicara dengannya. Kadang aku kesal dan kadang juga tertawa. Akhirnya kami sampai ke tempat pertandingan.
"Wahhh, key sayang sudah datang" Baru saja sepeda motor Doni berhenti, Reyhan sudah mendekat dengan tatapan liciknya. Tanganku mencengkeram jaket Doni dengan erat. Aku takut Reyhan melakukan hal yang diluar batas.
"Tolong ya mas jangan ganggu pacar saya" Ucap Doni dengan keras pada Reyhan yang mencoba melemparkan kata-kata rayu padaku.
"Don" Bisikku pada Doni, ternyata dia peka terhadap apa yang sedang terjadi tanpa harus dijelaskan.
"Pacarmu, memang wanita murah. Kemarin pulang dengan lelaki lain dan sekarang beda lagi" Aku geram mendengar perkataan dari Rey. Aku segera turun dari motor dan begitu juga dengan Doni.
*buk, buk*
"Kurang ajar banget kamu ya"
*buk, buk* akun tercengang melihat pembelaan Doni padaku. Dia langsung memukuli Reyhan dengan amarahnya.
*buk, buk, buk*
"Kamu pikir aku takut" Rey membalas pukulan doni, mereka bertengkar di pintu masuk ke ruangan ganti.
"Hey, hey berhenti malu" Teriakku sambil melerai mereka. Aku tidak ingin terjadi keributan di tempat ini
*buk* satu pukulan yang kuat dari Rey tidak sengaja mendarat di pipku hingga aku terkapar.
"Key, kamu gapapa" Ucapan Doni membuatku bangkit saat melihat senyum licik Rey.
*buk*
Tanganku gatal bila tidak membalasnya. Aku memukul Rey dengan pukulan penuh tekanan serta amarah.
"Kamu gak capek apa Rey selalu buat amarah" Bentak ku pada Rey yang masih menatapku bicara dengan kedua tangannya memegang pipi yang terkena pukulan. Terlihat bekas merah yng mwndarat kuat membuatnya kesakitan.
"Don, aku mau masuk dulu ya. Persiapan untuk bertanding. Nanti aku bareng kamu pulangnya Don" Ucapku pada Doni dan kami berpisah di tempat itu. Doni di bangku penonton dan aku masuk ke ruang ganti.
Saat pergi mataku menatap Rey, dan dia terus mengeluarkan senyum liciknya padaku. Hatimu sedikit takut dengan sikapnya. Aku takut dia melakukan hal yang bodoh. Tidak, aku harus menghiraukan Rey agar permainanku menjadi lebih baik dan bisa memenangkan pertandingan hari ini.
Aku bergegas mengganti pakaian di kamar mandi. Tidak sengaja aku mendengar seseorang yang berbicara tentangku di kamar mandi sebelah. Aku menempelkan telinga pada tembok untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan tentangku.
"Kali ini kita tidak boleh kalah dengan Key, kenapa selalu dia yang di idam-idamkan oleh penonton padahal dia bukan asli kampung sini"
__ADS_1
"Benar, pertandingan kemarin juga kenapa kaki dia masih selamat. Padahal sudah aku tancapkan paku" Mataku langsung melotot. Untung saja aku menyediakan ponsel untuk merekam perkataan mereka berdua.
Aku segera menyelesaikan ganti baju dan ikut mendengarkan hingga selesai dari pembicaraan mereka berdua. Lalu langkahku perlahan keluar dari kamar mandi menunggu mereka keluar juga.
"Key" Ternyata Rika dan Rani. Mereka terkejut saat melihatku di luar pintu kamar mandi mereka.
"Bagus banget, untung saja kakiku lekas sembuh dan tidak tetanus. Kalau tidak aku bisa menuntut kalian" Ucapku sambil tersenyum pada mereka.
Terlihat jelas rasa ketakutan yang terpampang dalam kedua wahah itu. Bibirnya terasa sulit untuk berbicara hal padaku. Dan aku masih terdiam memandanginya.
"Maksdumu apa? " Masih saja wajahnya pura-pura tidak tau. Aku memutar rekaman itu agar mereka paham. Seketika wajahnya pucat dan bibirnya membeku. Mereka berdua tidak bisa berkata-kata lagi.
"Aku salah apa sama kalian, aku tidak pernah benci siapapun. Aku disini hanya ingin menjadi pemain bola bukan untuk mencari muka" Sedikit memberikan pengertian agar mereka tau apa tujuanku masuk kesini.
"Key... "
"Tunggu, aku belum selesai bicara" Aku menahan saat Rika saat ingin membuka suara.
"Asal kalian tau, pemain yang hebat berawal dari mimpi yang diperjuangkan melalui usaha dan doa. Jadi perjalan ku sampai kesini bukanlah hal mudah" Sebenarnya aku sangat kesal, tapi aku mencoba menahan karena kakiku sudah lebih baik setelah dibawa ke rumah sakit.
"Satu lagi, aku jatuh bangun meraih mimpiku. Tapi kalian jatuh bangun untuk menjatuhkan mimpiku" Aku bergegas pergi dari ruang ganti dan akan meninggalkan mereka berdua di sana.
"Key tunggu"
"Apa? " Bentak ku dengan wajah yang sangat kesal.
"Kamu akan memberikan rekaman itu pada semua orang? " Sebenarnya aku ingin menunjukkan pada pelatih. Menurutku itu adalah pikiran yang cukup buruk.
"Aku bukan kalian, kata ibuku kejahatan harus dibalas dengan kebaikan. Bukan dibalas dengan kejahatan pula. Aku harap kalian akan menjadi lebih baik" Aku pergi dan meninggalkan mereka.
Aku memasang sepatu dan seakan tidak terjadi apapun di dalam kamar mandi. Sikapku biasa saja, biarlah yang sudah selesai berlalu begitu saja. Asalkan tidak memutuskan mimpiku. Aku harap mimpiku akan berjalan dengan mudah, biar Allah saja yang menghukum mereka bukan aku.
Saat ini aku fokus dengan pertandingan yang akan dilakukan. Tidak lama kemudian kami semua masuk ke dalam lapangan untuk persiapan bertanding. Pertandingan terakhir yang akan menentukan siapa yang berhak bertanding di luar kota.
"Bismillahirrahmanirrahim" Doaku sebelum peluit di bunyikan.
Aku fokus mengambil bola dan mengoper pada teman-teman. Dipikiranku adalah kemengan agar nanti aku ceritakan kembali pada bapak yang terbaring di rumah sakit.
Permainn yang sangat asik dan menarik. Di babak pertama kam iunggul dengan skor 2-1. Dan alhamdulillah di babak kedua kami menguasai pertandingan hingga mencetak gol dengan skor sementara 4-1.
Hingga peluit akhir dibunyikan skor tidak berubah yaitu 4-1. Kemenangan ada di tangan kami dan semuanya bersorak gembira karena berhasil menang dan akan berangkat bertanding ke luar kota 3 bulan depan.
"Yeyyyyyhh, alhamdulillah ya Allah" Sujud syukur tidak pernah aku lupakan. Karena kekalahan dan kemengan sudah diatur oleh sang Maha Pencipta.
"Key, yeyyyyy akhirnya kita menang key" Teriak Ani dan memelukku dengan erat.
"Alhamdulillah ni, permainanmu sangat bagus"
"Tidak, operanmu yang sangat cantik" Sahutnya sambil tersenyum.
Semua pemain bersorak kegirangan dengan kemengan ini. Tidak terasa mataku berkaca-kaca karena bangga dengan apa yang telah diraih. Aku bisa menceritakan semuanya pada bapak, agar bapak tau bagaiaman disana kemengan tidak lupa aku merekamnya dalam ponsel agar bapak bisa menonton.
"Bagus anak-anak, kalian sudah emberikan yang terbaik untuk tim. Saya mengucapkan terima kasih karena telah menbawa tim ini ke posisi tertinggi" Ucap cocah Jaka pada kami semua. Semuanya tersenyum dan kembali bersorak merayakan kemenangan.
Begitu juga dengan manajer tim yang ikut senang dan mengucapkan selamat serta terima kasih karena sudah menampilkan permainan terbaik mulai awal pertandingan hingga akhir.
"Sekarang kalian boleh istirahat selama 3 hari setelah itu latihan kembali akan dimulai"
"Horeeee" Mendengar kata libur tersebut aku senang karena bisa menjaga bapak agar cepat sembuh.
"Key tunggu" Rika dan juga Rani memberhentikan langkahku yang sedang bahagia berjalan bersama Ani.
"Ada apa? " Tanyaku dengan wajah santai.
"Aku minta maaf soal tadi" Wajah mereka berdua mendadak merasa bersalah. Wajahnya tertunduk malu atas kesalahan yang mereka lakukan. Aku menghela nafas untuk menjawabnya.
"Aku sudah memaafkan kalian, aku tidak ingin kalian mengulangi itu lagi. Apalagi paku itu sangat berbahaya buat kaki seorang pemain. Jika tidak ditangani dengan benar maka akan menyebabkan hal buruk. Aku harap kalian tidak berbuat hal bodoh lagi" Nasehatku pada mereka berdua.
__ADS_1
"Apa? Jadi kalian yang memberikan paku di sepatu key? " Teriak Ani yang dapat menyebabkan semua orang mendengarnya.
"Ssssttttt, tidak usah berisik. Mereka sudah tau kesalahannya kok" Tanganku menutup mulut Ani karena tidak ingin hal ini menyebar.
Aku yakin dengan memaafkan mereka, pasti hatinya akan bergerak untuk menjadi orang baik. Lagipula tidak ada gunanya menghukun merwka karena nanti pasti akan ada balasan yang setimpal.
"Tapi key, mereka sudah keterlaluan" Ani geram mendengarkan apa yang telah dilakukan mereka berdua.
"Ani, sekarang waktunya bahagia. Jangan membuat gaduh. Dan mereka sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi kok" Aku sudah melupakan hal itu.
Walaupun aku masih kesal, aku mengingat kata ibu bahwa harus sabar dan memaafkan orang yang mengakui kesalahannya. Biarlah mereka yang berkaca untuk dirinya sendiri.
"Yuk kita pergi, kita harus bersennag-senang"
"Iya benar key" Aku merangkul Ani dan meloncat kegirangan
"Halo luar kota, kami segera datang" Teriakku dan Ani sambil tertawa senang.
Biarlah hari kemarin menjadi pelajaran untuk tidak saling percaya dan harus hati-hati. Bahkan orang yang aku anggap baik ternyata bisa jahat juga dan bersekongkol. Padahal aku telah menganggap mereka rekan seperjuangan tapi nyatanya mereka menusuk dari belakang.
Aku tidak tau mengapa mereka begitu bodoh melakukan hal tersebut. Tapi mereka juga pandai meletakkan paku di dalam sepatu tanpa ada yang mengetahui. Entahlah, semoga saja mereka benar-benar berubah.
"Keyyyy, selamat yaaa tim kamu menang key" Doni datang dan langsung memelukku dengan erat. Wajahnya gembira mengatakan ucapan selamat atas kemengan ini padaku.
"He'em" Aku lupa jika ada Ani di samping. Aku langsung melepaskan pelukan itu agar tidak ada yang salah paham.
"Pacarmu? " Tanya Ani sambil menunjuk Doni yang berdiri di samping.
"Bukan, dia teman sekolahku"
"Akrab banget, mana ganteng lagi Key" Bisik Ani dengan gayanya yang centil untuk menggoda.
Matanya selalu melek jika melihat lelaki tampan dan masuk dalam kriterianya. Dia memang selalu suka berbicara tentang lelaki tampan di manapun dan kapanpun saat bersamaku.
"Kenalin, aku Ani"
"Doni" Tanpa aku suruh, Ani menjulurkan tangannya untuk berkenalan. Doni menyambutnya dengan ramah.
"Key dia cocok tau denganmu, dia ganteng dan kamu cantik" Ucapan Ani sangat ngawur. Sudah dibilang bahwa Doni adalah teman bukan pacar, dasar Ani.
"Iya bener kata temanmu key, lebih baik kamu denganku" Sambung Doni dengan senyuman genitnya.
*pakk, plak, plak* Tepukan kecil di atas pipi Doni untuk mengingatkan masa itu.
"Ngimpi, udah ingatkan waktu itu" Ucapku padanya. Saat aku berbicara dengan Doni dan Ani, aku melihat David. Ternyata dia datang juga kesini. Tapi dia hanya berdiri di samping pintu gerbang disana.
"Davidddd" Aku menghampiri David yang akan beranjak pergi.
"Kamu datang juga" Ucapku senang saat melihat David.
"Iya" Jawabnya singkat dan wajahnya kembali dingin seperti dulu.
"Kok wajah kamu begitu sih, kamu kenapa? " Tanyaku pada David yang wajahnya dingin serta terlihat agak tidak suka.
"Enak ya dipeluk Doni" Aku mengerti sekarang, sepertinya David cemburu saat melihat Doni memelukku tadi.
"Hahahhaha, kamu cemburu? " Tanyaku sambil tertawa padanya.
"Cemburu? Gak ada yang cemburu. Sia-sia juga aku datang kesini lihat kamu dengan Doni. Sepertinya kamu senang sekali" Sejenak aku terdiam mendengar apa yang David katakan.
"Maksudmu apa, aku dan Doni tidak ada apa-apa kok. Aku dan dia hanya berteman" Bentak ku merasa kesal dengan sikap David. Aku mendorongnya karena kesal dengan apa yang David ucapkan.
"Sudahlah, memang kamu cocok dengannya"
"Kamu bilang aku cocok dengannya, lalu kamu cocok dengan Adel kan? Sudah ku duga kamu akan berkata demikian" Lagi-lagi emosiku keluar gara-gara David. Dia terdiam saat aku mengatakan hal tersebut.
__ADS_1