
Aku terus menatap David dengan teliti. Dan aku yakin bahwa dia adalah David yang aku kenal dulu. Sedangkan benerapa siswa terus nerbicara tentang David. Berargumentasi tentang dirinya sambil berbisik-bisik.
"Kamu tau nggak, dia itu pemain bola dari luar negeri"
"Iya, dia jadi bintang sepak bola di luar negeri"
"Wah gila banget, kita harus mendapatkan tanda tangannya " Semua membicarakan tentang David. Aku tidak bisa melakukan apapun karena David sibuk dengan para siswi yang mengerubunginya.
Aku berjalan menuju kantin dengan tatapan yang melamun. Aku masih tidak percaya bahwa David tidak mengenaliku. Aku harus menunjukkan sesuatu agar dia mengenaliku lagi. Andai dia tau, hatiku bahagia saat melihat kedatangannya. Ingin rasanya aku berkata bahwa aku selalu menunggunya.
*brukkk*
"Maaf, maaf, key" Kak Dika tidak sengaja menabrak ku hingga tejatuh. Untung saja hanya terjatuh ke lantai, bukan ke pelukannya. Aku hanya diam dengan lamunan yang sedang menguasai otakku.
"Kamu tidak apa-apa? " Kak Dika membantuku untuk bangun. Dia menanyakan keadaanku dan hanya anggukan kepala yang menjawabnya.
"Kamu mau kemana, kok sendirian"
"Ehh, aku mau ke kantin kak, Yuri sama Ari sudah disana"
"Oh begitu, ayolah bareng sama aku. Soalnya aku juga mau ke kantin" Aku dan kak dika berjalan bersama menuju kantin. Tapi tetap saja diam adalah caraku untuk berfikir.
Aku melihat ari dan Yuri duduk disana dan sudah memerankan makanan untukku. Mereka tau saja jika aku masih dalam keadaan lapar. Memang sahabat yang sangat baik untukku.
"Kalian udah lama? " Tanya kak Dika
"Tidak kak, ini pesanan kita baru selesai" Sahut Yuri
"Kalian kenapa bisa jalan bersama? " Tanya Ari padaku. Dengan tentang kak Dika menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman.
"Oh tadi aku bertemu key, dan gak sengaja nabrak dia jadinya kita barengan ke kantin nyusul kalian" Yuri dan Ari mengangguk mengerti dengan penjelasan kak Dika yang diutarakan.
Kami makan bersama di kantin. Sedangkan di satu sisi kantin sangat ramai karena siswi yang berebutan untuk berfoto dengan David. Mereka bilang David adalah salah satu siswa pindahan dari luar negeri. Dan dia bermain bola disana hingga namanya terkenal.
Aku jadi mengingat masa itu, dia pergi pamit padaku. Katanya David berjanji akan kembali. Tapi setelah dia kembali, ingatannya tidak tertuju padaku. Apakah David yang aku kenal sudah berbeda dari dulu. Mungkin David tidak ingin berteman denganku karena dia sudah menjadi pemain hebat di luar negeri.
"Tidak, tidak, aku harus berusaha untuk mengingatkan David tentang masa-masa itu" Batinku berbicara untuk membuat David mengingat kembali tentangku.
Besok akan Aku bawa buku David untuk ditunjukkan padanya bahwa aku sudah bisa memainkan skil yang ada di dalam buku itu. Aku juga akan cerita tentang perjalananku bersama bola. Dan aku akan cerita pada David tentang sekolah bola yang saat ini melatih ku. Aku ingin katakan semua padanya.
"Yuk kita balik ke kelas" Ajak Ari karena sebentar lagi belajar akan segera tiba.
Setelah makan selesai, kami kembali masuk ke dalam kelas. Melakukan pembelajaran seperti biasa tapi pandaganku tidak bisa berpaling dari David. Wajahnya sekarang sangat dingin tidak seperti dulu yang suka tertawa bersama.
Apa perlu aku menghangatkannya dengan cara menjemur David di bawah sinar matahari biar dia mencair dan tidak menjadi es lagi. Wajahnya membeku, begitu cepat tawa itu hilang dari bibirmu. Ingin rasanya menikmati senyummu seperti dulu vid.
"Key, key key"
"Eh iya" Ari mencolek lenganku beberapa kali tapi aku baru menyadarinya.
"Kamu kenapa? Aku lihat daritadi kamu memperhatikan David si anak baru itu"
"Ah tidak, tidak" Jawabku singkat lalu kembali menunjukkan rasa konsentrasi pada pikiranku.
"Hey ri, sepertinya key suka sama David" Bisik Yuri dari depan sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi.
"Tidak tidak, kenalan saja belum" Sahut ku berkata pura-pura tidak mengenali David.
"Ada apa di bangku belakang? " Ucap bu Tri yang nenegur kami bertiga karena suara yang gaduh dari bangku ini.
"Tidak ada Apa-apa bu, hanya kepala saya yang kejedot meja bu" Sahutku
"Hahhahahaha" Kelas bergemuruh menertawai ku. Padahal itu hanya alasanku saja agar tidak menambah banyak pertanyaan.
"Sudah, sudah anak-anak silahkan lihat apa yang ibu tulis di Papan"
"Baik bu" Pandanganku masih saja melihat David, tapi sesekali memalingkannya agar tidak diketahui oleh Ari.
Saat bel pulang berbunyi, semuanya sudah bersiap-siap untuk pulang. Membereskan yang ada di meja dan bergegas pulang. Sedangkan aku menunggu semuanya keluar dan beralasan pada Ari untuk membersihkan meja terlebih dahulu.
Yuri dan ari bergegas keluar dan di dalam kelas hanya ada aku dan David. Aku menelan salivaku dengan kasar terlebih dahulu dan memberanikan diri untuk berbicara padanya. Aku sangat rindu dengannya dan aku ingin sekali dekat seperti dulu.
"David, apakah kamu masih tidak mengenalku" Aku berbicara padanya, tapi kepala David tidak menoleh sama sekali. Sepertinya kepalanya lagi salah bantal atau sakit kali ya.
"Kamu tau gak, kalau aku bermain dengan menggunakan skil yang kamu ajarkan. Dan buku itu masih ada di rumah dan selalu aku simpan" Aku mencoba mendekatinya tapi dia beranjak dari tempat duduk dan pergi.
Di luar sudah terdengar gemuruh siswi yang teriak histeris pada david. Aku menoleh sebentar lalu kembali fokus pada jalanku untuk pulang dan menghiraukan mereka semua.
Sesampainya di rumah aku mencari buku David dan langsung memasukannya ke dalam tas takut nya besok ketinggalan. Aku juga memotret sepatu dan juga bola yang terdapat tanda tangan David. Bola pemberiannya dan sepatu darinya pasti dia akan mengenali semuanya.
"Bobo, David sudah kembali dari luar negeri tapi dia tidak mengenaliku. Kau tau, tadi aku mengatakan padanya bahwa aku adalah key temannya dulu tapi dia menghiraukan" Hanya bisa bercerita pada bobo yang bisu. Dia tidak pernah memberi saran ataupun kritik padaku. Dia hanya diam mendengarkan cerita ini sampai selesai.
Banyak cerita yang aku katakan padanya. Hingga petang menbelai lembut untuk membuatku terlelap. Aku tidur dan memeluk bobo menuju lingkaran mimpi.
__ADS_1
Paginya aku bersiap-siap ke sekolah. Memeriksa kembali buku David yang akan aku bawa. Aku yakin kali ini David akan mengenaliku dan kita bisa bermain bola seperti biasa.
Berangkat sekolah menggunakan angkot dan selalu menunggunya di halte sambil menyapa Riki dan pak Abi. Terakhir kali aku bermain dengan mereka adalah liburan semester kemarin. Jadi rasa rinduku bisa diobati walau sedikit. Bahkan aku sempat membantu Riki berjualan. Dan bercanda ruang saat istirahat di trotoar atau di halte yang dingin.
Saat sampai di sekolah, aku melihat kelas masih kosong. Hanya ada 2 siswa yang datang, itupun tasnya saja yang di kelas. Tidak tau kemana orangnya.
Dengan sabar aku menunggu David datang dan ingin membicarakan banyak hal dengannya. Sudah 3 tahun kita tidak bertemu. Melihat wajah David menjadi obat rinduku selama ini. Benar kata orang, rindu itu meresahkan apalagi tidak bisa kita bayar dengan tatapan. Bahkan rindu itu menyakitkan.
Sepertinya aku harus menunggu David di luar, bosan menunggunya di dalam kelas sendirian. Takutnya nanti aku akan kesurupan. Kalo kesurupan siapa yang susah, ya pasti aku juga.
"David" Panggilku dengan tatapan bahagia saya melihat David datang.
"David tunggu, ini bukumu yang berisi tentang banyak pelajaran bola. Bahkan aku bisa melakukan skil yang ada di dalamnya. Apa kau tau, sepatu dan bolamu masih aku simpan rapi dan selalu aku gunakan untuk berlatih" Aku menarik tangannya dan menceritakan semuanya pada David. Tapi dia tidak menatap mataku sama sekali.
\*brakkk\* tangannya dengan cepat melemparkan buku ini di lantai. Aku tercengang melihat kelakuannya.
"Kau tau, aku tidak mengenalmu apalagi tentang buku, sepatu dan bola yang kau ceritakan" Jawabannya mengejutkan, tidak sesuai dengan harapan yang selalu aku nantikan.
\*brakkk\*
"Hahahhaha" Semua siswa yang melihatnya tertawa keras. Bahkan beberapa fans dari David menertawakanku.
"Makanya jangan sok kenal sama David, kalau suka bilang aja gak usah sok jadi orang terdekatnya" ketusnya menghakimi.
"Iya, kalau mau jadi fans dia bilang dong, gak usah ngaku-ngaku memiliki kenangan apa itu sepatu bola dan lain-lain"
"Hahahhaha" Pembicaraan Dewi dan Puja menyakitkan batinku. Mereka adalah fans dari David yang selalu mengejar-ngejarnys. Pikiran mereka, aku adalah orang gila yang mengakui pesepak bola terkenal dari luar negeri.
Aku tidak mau mendengarkan ocehan mereka. Aku pergi dan bergegas menuju taman untuk menenangkan diri. Andai mereka tau bahwa David adalah teman yang megajariku dan memperkenalkan ku dengan bola hingga sejauh ini.
"Aaaaaa"
\*brakkk\* aku melemparkan buku itu dengan kesal.
Sia-sia aku menunggunya hingga selama ini. Untuk apa aku selalu memikirkannya bila akhirnya pertemuan sekian lama rusak seperti ini. Apalagi yang aku harapkan, semuanya terlihat jelas bahwa aku dan dia sudah tidak ada ikatan persahabatan seperti dulu.
"Aaaaaa, aku benci sama kamu Vid. Aku gak bakalan lagi kenal dengan orang sepertimu" Jerit ku yang menyendiri di halaman belakang. Aku benar-benar benci David, dia sudah memeprmalukan aku seakan aku salah satu pengagumnya yang ingin mengaku-ngaku menjadi kenalannya.
"Cukup kali ini aja vid, aku gak bakalan kenal lagi" Hatiku saat sakit, dan bahkan sakit sekali. Belum sempat aku menunjukkan foto tanda tangannya bersama bola yang dia berikan.
__ADS_1
Tapi tangannya sudah melemparkan buku yang sangat jelas bahwa buku itu dia berikan padaku untuk belajar bola lebih dalam sebelum dirinya pergi ke luar negeri.
"He.em, pagi-pagi udah kesel aja" Aku terkejut mendengar suara lelaki yang tiba-tiba datang duduk di sampingku. Aku menoleh padanya lalu menghiraukannya karena aku tidak mengenalnya walaupun kita satu angkatan.
"Kamu kenapa teriak sendirian disini" Tanyanya padaku
"Kamu siapa? " Aku tidak mengenal dirinya. Wajahnya asing bagiku, mungkin aku yang kurang memperhatikan beberapa teman sekolah.
"Aku doni, kelas 11 IPS. masak kamu tidak mengenalku sih, kita kan satu angkatan"
"Maaf, aku kurang bergaul jadinya tidak banyak siswa yang aku kenalin kecuali satu kelasku"
Karena selama ini aku hanya bergaul dengan beberapa orang yang aku kenal saja. Bisa dibilang aku anaknya tidak bisa mendekat apabila tidak didekati dahulu sebagian teman.
"Oh iya, kamu Keyla pemain terbaik di semester kemarin dan membawa tim sekolah ini juara tiga kemarin kan? " Aku mengangguk dan mengiyakan apa yang dia katakan.
"Aku selalu menonton pertandingan, dan aku juga bergabung di tim sepak bola sekolah ini. Tapi di permainan kemarin aku selalu jadi cadangan"
Ternyata dia juga anak bola yang berada di bangku cadangan. Pantas saja aku tidak melihatnya saat ada pertandingan persahabatan kemarin. Ternyata nasibnya sama denganku duduk di bangku cadangan.
Dia terus saja berbicara padaku, tapi aku memilih untuk menjawab seperlunya saja dan selebihnya aku diam. Sepertinya dia orang yang asik karena mampu mengembalikan rasa kesalku menjadi rasa nyaman mendebarkan ceritanya. Walaupun aku hanya diam dan tidak ikut bercerita bersamanya.
"Aku pergi dulu, karena sebentar lagi bel berbunyi" Ucapku padanya karena aku ingin menenangkan hati tanpa ada yang mengusiknya.
"Eh tunggu dulu, kita belum selesai berbicara. Aku ingin berbicara denganmu key" Aku pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata keluar dari mulutku.
"Sebentar, ini bukumu" Dia kembali mengejar dan memberikan buku yang telah aku lemparkan tadi. Aku membalasnya dengan senyuman lalu bergegas pergi meninggalkannya.
Malas sekali kembali ke kelas dan bertemu dengan David. Tapi bagaimanapun juga kelas tempatku untuk belajar. Jadi aku harus berusaha dengan cara apapun untuk diam dan tidak berbicara dengan David.
Saat aku memasuki kelas, David berdiam diri di dalam. Sedangkan di luar masih banyak penggemarnya. Karena ketua kelas kami yang tegas jadi mereka tidak bisa masuk ke kelas kami sembarangan.
"Key, " Yuri memanggilku yang baru masuk ke kelas. David sedikit melirik padaku tapi aku melempar wajah agar dia tidak melihatnya.
"Hei, kalian sudah lama datangnya? " Tanyaku pada Ari dan Yuri
"Tidak, baru saja. Kamu. Kemana saja key, tasnya ada eh orangnya gak ada" Ucap Ari. Aku terdiam dan berbicara pada diriku sendiri agar tidak menghiraukan David. Anggap saja David tidak pernah ada.
"Aku tadi lagi cari angin"
"Dimana? Disini kan juga banyak angin" Tanya Yuri
"Di halaman belakang, soalnya disana anginnya besar. Sedangkan disini anginnya panas".
"Hmmm disini juga besar loh key, tapi apa bedanya angin disini dan disana" Ingin rasanya menjelaskan kepala Yuri yang tidak lemot. Semua angin itu sebenarnya sama tapi yang buat berbeda itu suasananya. Ingin aku teriak tapi sudahlah dia sahabatku dan lebih baik diam.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1