Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
84. Keluarga Kecil


__ADS_3

Esoknya di hari minggu aku melakukan latihan di tempat biasa. Berlatih dari pagi hingga siang hari. Seperti biasa saat mereka sudah pulang, aku berlatih lagi dan mencoba hal yang diajarkan oleh Coach. Aku tidak merasa cepat puas dengan semuanya. Jadi aku harus mencoba dan terus mencoba.


"Kamu gak pulang" Tiba-tiba Reyhan menghampiriku. Hatiku agak gelisah, saat melihat sekeliling sepertinya sudah kosong. Aku harus berpura-pura mendengarkan apa yang dia bicarakan.


"Aku lagi mencoba tendangan jarak jauh Rey" Sahut ku mencoba untuk ramah. Karena aku tau sifat Reyhan yang berubah-ubah.


"Kamu sendiri ngapain? "


"Aku lagi nungguin kamu" Jawaban yang tidak masuk akal. Mengapa dia terus mengejar-ngejarku dan rasanya tidak ingin lepas.


"Sepertinya aku harus ke rumah temanku Rey, aku duluan ya" Aku segra memasukkan bola dalam tas. Tidak usah mengganti pakaian lagi, langkahku langsung bergegas keluar dari lapangan.


"Tunggu Key aku mau mengantarmu"


"Jangan" Bentak ku padanya. Seketika langkah Reyhan berhenti di belakangku.


"Kenapa, kamu menolak ku. Sudah aku bilang jangan main-main denganku keyla"


Aku menarik nafas dalam-dalam, sepertinya bibirku salah bicara. Wajah Reyhan tersenyum licik seperti berganti sifat. Apa yang harus aku lakukan, sepertinya aku akan habis bila terus berdekatan dengannya.


"Tidak, tidak, aku ada urusan penting. Jadi aku...." Aku mencoba menjelaskan tapi Reyhan menggengam tanganku dengan erat.


"Kamu harus ikut denganku Keyla" Tatapan menakutkan dari Rey, dia terlihat sangat marah jika aku menolaknya. Dia adalah orang gila yang aku temui saat ini.


Reyhan mendekat dan mengenggan erat tanganku. Matanya memaksa agar aku mengikuti kemauannya. Aku benar-benar takut dia melakukan hal nekat saat ini. Sudah terlihat jelas dari sepintas senyum kecil di bibirnya.


*bukk* aku menendangnya dan bergegas lari untuk keluar dari tempat ini. Aku berlari sekuat tenaga dan Reyhan juga mengejarku.


"Keyla tunggu, aku tidak akan melukaimu" Teriaknya dengan keras sambil mengejarku. Langkahnya cepat hampir menyeimbangi langkahku.


*brakkk* aku terjatuh ke lantai saat menabrak seseorang.


"Hey keyla, kamu tidak apa-apa? " Mataku terbelalak saat melihat orang yang aku tabrak adalah ayah Rey.


"Tidak Coach, saya baik-baik saja" Sahut ku sambil sesekali melihat ke belakang. Langkah Reyhan semakin mendekati kami.


"Reyhan kamu ngapain" Bentak ayahnya pada Rey. Aku segera bergegas untuk melihat situasai agar bisa kabur darinya.


"Tidak yah, Rey hanya bermain dengan Key kok" Sahutnya sambil tersenyum licik padaku.


"Coach, key pulang dulu yah" Aku langsung berlari meninggalkan mereka berdua. Saat Rey ingin mengejar, ayahnya menahan tangan dia dengan erat. Akhirnya aku bisa lolos dari lelaki aneh itu.


Hatiku benar-benar berdebar dengan rasa takut saat ini. Karena tangan Rey yang kekar mengenggan erat tanganku sehingga terlihat bekasnya. Untung saja aku bisa lari dan meninggalkan lelaki itu.


"Dasar gila, gila" Gumamku sambil. Mencari angkot. Lalu bergegas untuk mencari keberadaan ibu dengan alamat yang sudah aku pegang. Untung saja pak supir tau daerah itu, jadi aku tidak pusing untuk mencarinya lagi.


Sesampainya di sana, aku bergegas turun. Sepertinya tempat ini tidak asing bagiku. Mataku kembali melebar saya mengingat bahwa aaku pernah ke komplek ini. Gang yang tersembunyi tapi banyak kemewahan.


"Benar, ini tempat orang-orang jahat" Gumamku setelah melihat foto alamat yang ada di ponsel.


Malam itu aku pernah kesini, dan bahkan hampir mati di sini juga gara-gara orang jahat yang ada di tempat haram itu. Hatiku bimbang, ingin meneruskan pencarian atau tidak.


"Tidak, tidak, aku harus mencari ibu. Aku harus menelusuri daerah ini" Dengan menggunakan baju bola serta menggunakan topi yang aku letakkan dalam tas. Mencari alamat ibu yang baru. Ternyata alamat tersebut tidak jauh dari tempat haram itu.


Tiba-tiba aku melihat mobil yang keluar dari rumah itu. Aku berharap itu mobil ibu. Dengan cepat aku berlari dan mencari ojek. Setelah mendapatkannya aku mengejar mobil itu. Dan kami berhenti di suatu mall yang sangat besar.


Mengikutinya secara diam-diam lalu bersembunyi. Betapa terkejutnya aku saat yang keluar adalah ibu. Ibu bersama seorang anak kecil dan seorang lelaki. Apa mungkin itu anak ibu, apa yang harus aku lakukan.

__ADS_1


"Aku harus bertemu ibu sekarang" Bergegas masuk dan mengikuti mereka.


Mereka bercanda riang dan berbelanja dengan kegembiraan. Seorang anak perempuan yang sangat beruntung merasakan kebahagian bersama keluarga kecil yang lengkap.


Digendong oleh seorang ayah dan seorang ibu secara bergantian. Hal itu yang aku inginkan dari dulu tapi tidak kesampaian hingga aku dewasa. Bila dibilang aku iri, iya aku memang sangat iri melihatnya. Apalagi dia adalah ibuku.


"Ibu" Aku mendekati ibu saat lelaki itu menemani anaknya bermain di tempat permainan yang disediakan.


"Keyla" Mata ibu seakan ketakutan melihatku. Dia sepertinya terkejut bukan main. Ternyata harapanku bertemu ibu disambut dengan pelukan adalah salah.


"Ibu, mengapa pergi" Suaraku lirih menahan tangis di depan ibu. Mata ibu juga tidak berbohong karena menatapku dengan air mata yang tertahan.


"Bu, terlalu banyak hari yang ibu tinggalkan. Key cuman butuh kehangatan ibu seperti dulu" Ucapku pilu menatap ibu. Tapi dia hanya diam dan terpaku. Lalu sesekali menatap ke arah lelaki dan anaknya seakan ada yang dia sembunyikan.


Matanya seperti berkata dia takut ketahuan akan kehadiranku oleh anak dan suaminya saat ini. Tapi dia lupa untuk memikirkan aku yang snahat rindu dengannya.


"Key, kamu pulang ya. Jangan disini!" Jawaban apa lagi ini Tuhan, mengapa ibu mengusir ku.


Padahal aku hanya ingin bersamanya untuk berbicara banyak hal yang telah aku jalani sendirian selama ini.


"Tapi bu, key ingin bicara sama ibu. Key ingin bertanya tentang banyak hal dengan ibu" Aku memegang tangannya dengan kehangatan. Berharap ibu mengenggamnya kembali, tapi ia malah ingin melepaskan genggaman itu dariku dengan paksa.


"Pulanglah, ibu membencimu. Ibu tidak ingin bertemu denganmu" Seketika duniaku hancur, seketika hatiku pecah dan retak.


"Jika ibu membenciku, lalu mengapa selalu mengirimkan uang padaku bu" Bentak ku lagi untuk memaksa ibu, agar dia menjawab semuanya.


"Pulanglah cepat, ibu tidak ingin bertemu denganmu. Pulanglah" Ibu mendorong ku dengan paksa. Bahkan dia tidak ingin melihatku berada di sini.


"Cepat key pulanglah" Tangannya terus saja mendorong ku dengan kasar. Tapi egoku masih ingin menetap dengan ibu.


"Ada apa ini" Tiba-tiba lelaki itu datang bersama anaknya. Aku segera menghapus air mata yang terjatuh dan pura-pura tidak terjadi apapun.


"Papah" Gumamku dalam hati, berarti benar bahwa dia adalah suami ibu yang baru. Dan anak kecil itu benar anaknya.


"Tapi sepertinya kalian ribut tadi"


"Tidak kok pa, dia hanya...... " Belum selesai ibu berbicara, aku segera memotong pembicaraannya.


"Maaf om, saya salah orang. Tadi saya pikir dia ibu saya ternyata saya salah orang. Soalnya ibu saya pergi ninggalin anaknya sendirian om" Gumamku padanya sambil mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya.


"I... Iya pah, dia salah orang" Sahut ibu berkata pada suaminya. Seakan dia membenarkan skenario yang aku ucap. Dia juga membetulkan bahwa tidak mengenaliku.


"Oh, papa kira kenapa ma" Sahutnya percaya pada ibu.


"Kalau boleh tau, bagaimana bisa ibumu berbuat seperti itu? " Pertanyaannya kembali dari lelaki itu, membuat ibu semakin terdiam.


"Entahlah, mungkin karena harta. Baiklah om tante, saya pergi dulu ya" Pamit ku sambil melambaikan tangan.


Saat badanku berbalik, air mataku menetes deras. Lagi-lagi kekecewaan yang aku dapatkan. Aku membencinya dan sungguh membencinya. Aku terus berlari keluar dan kehilangan arah lagi. Entah mau kemana yang terpenting menemukan hati saat ini.


Arahku kali ini tanpa tujuan. Berlari ke pantai sepi dan teriak keras disana. Teriak mengadu pada langit, mengapa kedua orang tuaku tidak ada yang menginginkanku. Apakah aku salah karena telah hidup.


"Tuhan, apa salahku. Mereka tidak ada yang mau memberikan kasihnya padaku Tuhan"


"Langit, bisakah engkau kirimkan jawaban padaku yang hilang. Pada hatiku yang kelabu. Bisakah pula kau kirimkan hujan sebagai penghapus lelahku. Jiwaku pilu tak bertuan"


Pertama oenolakan datang dari ayah yang tidak menganggap ku sebagai anaknya sehingga membuat diriku dicaci dan dihina. sekarang lenolakan itu datang dari ibu yang menganggap ku sebagai orang asing.

__ADS_1


"Aaaaaaaa, bisakah aku membenci semuanya Tuhan" Tanganku terus memukul bebatuan di pinggir pantai. Memukul keras tanpa perasaan. seperti ibu yang tanpa perasaan juga.


Tidak ada senja yang menghibur, hanya ada jingga yang nengubur. Mengubur kebahagiaan seketika hingga aku hilang arah. Mengubur kesetiaan menunggu rindu, yang ujungnya tersampaikan tapi tak terbalaskan pula.


Baru kali ini aku merasakan rasa sakit yang begitu dalam. Ditinggalkan ayah, ditinggalkan ibu, bahkan mereka tidak ada yang mau mengakui ku secara terang-terangan. Baik pada orang terdekat ataupun pada dunia.


"Apa ini yang namanya bom waktu? Mengejutkan dan menyakitkan. Untung saja aku tidak mati" Gumamku menatap gulungan ombak yang semakin besar.


Mengapa aku harus dilahirkan, bila cinta dari mereka tidak pernah diberikan. Bila cinta dari mereka dipupuskan oleh perpisahan. Bila cinta dari mereka dipendam oleh pandangan buruk yang diterapkan.


Aku duduk menikmati ombak yang mengancam batu jarang. Mungkin itulah gambaran ku yang saat ini masalah mencoba menghantam ku dengan keras. Aku akan menjadi batu karang yang kokoh, tetap berdiri tegar walaupun dihantam berulang kali.


Aku juga bisa menjadi ombak, berkeliling samudera dan menghantam karang-karang kecil yang ia hemlaskan di tepian. Begitupun seperti masalahku yang akan aku hempaskan satu per satu agar membawaku kuat menjalani kehidupan.


"Key, kamu gak boleh nangis. Kamu harus kuat menerima dan menjalani apapun. Kata kakek dan bapak, kamu harus kuat key" Gumamku menasehati diri sendiri di bawah semilir angin yang sedikit kencang.


Deburan ombak menjadi saksi bisu rasa tangis yang berkobar. Kekecewaan saat ingampie menghilangkan semuanya. Semua rasa cinta, tapi aku masih ingat bahwa ada ibu dan bapak di rumah yang akan menghadirkan ribuan cinta. Bahkan mbak Nike dan mbak Yeni beraedia melakukan hal yang serupa.


*pok, pok, pok* tanganku menampar kecil pipi ini untuk sadar bahwa keinginan tidak sesuai kenyataan.


Tapi aku tidak boleh terlalu lama disini. Aku harus cepat pulang karena bapak sedang sakit. Aku harus segera pulang, lupakan masalah ini karena tidak penting harus berlarut-larut dalam kesedihan. Masih ada masa depan yang harus aku raih.


Suatu saat ayah dan ibu akan menyesal karena telah membuangku. Aku akan buktikan pada mereka bahwa aku bisa. Bisa menjadi kebanggaan semua orang bahkan aku harus bisa menjadi kebanggaan negara.


"Astaghfirullah, aku lupa" Aku melupakan sesuatu. Seketika tanganku menyeka air mata yang sudah menetes dan membersihkan ingus kesedihan.


"Obat bapak" Tadi mbak Yeni mengirimiku pesan untuk membeli obat bapak sebelum pulang. Aku bergegas pergi ke apotik sebelum terlambat.


Aku meninggalkan pantai dan pergi ke apotik. Menaiki angkutan lalu setelah itu aku kembali pulang. Memberikan obat bapak yang sesuai dengan resep dokter. Merawat bapak seperti orang tua sendiri.


Kali ini yang aku pikirkan hanyalah bapak dan ibu bukan yang lainnya. Karena kedua orang tuaku sudah tidak menginginkan aku apapun itu alasannya. Aku hanya ingin membahagiakan bapak dan ibu sampai akhir hayatku.


Di Rumah


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam, gimana key obat bapak sudah kamu beli? " Mbak Yeni keluar dari dalam rumah saat mendengar suaraku.


"Sudha kok mbak, keadaan bapak gimana mbak?"


"Alhamdulillah bapak baik-baik saja kok" Aku segera ke kamar bapak untuk memastikan bahwa bapak baik-baik saja. Syukurlah keadaan bapak semakin hari semakin baik.


"Ibu di warung sendirian ya mbak? " Tanyaku pada mbak Yeni sambil mengganti baju.


"Iya, mbak mau ke sana tapi kata ibu mbak disuruh jaga bapak sambil kuliah online" Aku mempercepat diri mengganti baju dan membersihkan diri lalu bergegas ke tempat ibu.


"Kamu mau kemana key? "


"Key mau bantu ibu di warung mbak. Key titip bapak ya" Ucapku sambil bergegas keluar untuk pergi ke warung ibu.


"Oke siap key, Hati-hati ya" Kali ini kami berbagi tugas. Mbak Yeni jaga bapak, mbak Nike kerja cari uang dan aku membantu ibu di warung.


Selama ini warung ibu selalu ramai dan biasanya bapak yang membantu ibu, tapi bapak sakit. Meskipun sendirian ibu tetap menbuka warung, kadang juga kualahan. Karena jika tidak buka warung maka ibu tidak akan memiliki uang untuk membiayai hidup. Karena uang mbak Nike digunakan untuk biaya mbak Yeni kuliah. Mungkin itulah alasan mbak Nike sampai sekarng blum menikah.


"Assalamu'alaikum bu, maaf key telat" Menggapai tangan ibu dan bersalaman


"Iya gapapa, gimana latihan mungkin baik kak?" Ibu selalu menyakak tentang perkembangan bolaku. Bahkan ibu selalu memberikan perhatian nomor satu untuk perkembangan karirku. Karena ibu adalah ibuku yang paling baik di dunia ini. Aku sangat menyayanginya.

__ADS_1



__ADS_2