Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
139. Kehadiran Ibu


__ADS_3

Hari ini aku ingin bersantai sejenak. Menikmati gerimis. Setiap rintiknya membawa kebahagiaan saat aku sudah terlalu asik dengan keributan. Menghirup udara segar hingga malam telah tiba.


"Sebentar lagi aku akan menyelesaikan pertandingan di tim tarkam sebelum diriku akan segera pindah ke klub kota" Pertandingan itu akan mengingatkan kembali tentang Ani.


Rasanya pasti akan sepi dan tidak biasa seperti hari-hari kemarin. Aku harap kaki ini bisa bermain dengan tenang agar mampu mengalahkan lawan dan berakhir dengan kemenganan.


Mengingat nama Ani rasanya mengingatkan sebuah janji yang diucapkan dalam mulut dua insan dalam persahabatan. Aku akan bekerja keras untuk mewujudkannya.


*drettt, drettt*


"Nomor siapa nih, kok baru" Aku segera mengangkat telepon tersebut.


"Halo, siapa ini? "


"Keyla, apakah kamu marah denganku? "


"David? " Aku tercengang dan sangat terkejut. Sepertinya dia mengganti nomor ponsel agar bisa terus menghubungiku.


"Kenapa? "


"Kamu kenapa ketus begitu, dan mengapa nomorku kamu blokir" Malas sekali berbicara dengannya, karena dia tidak jujur padaku mengapa harus berbohong dan mencekik aku dengan rindu.


Jika saja Rena tidak berbicara padaku mungkin aku tidak akan mengetahui semua kebenaran yang disembunyikannya.


"Lupakan saja" Aku mematikan ponsel secara sepihak. Lalu dia menelpon lagi dan mengirimkan pesan yang banyak. Namun aku menghiraukan nya.


Aku memilih untuk menikmati kesendirian disini, bersantai bersama bobo. Menikmati malam-malam yang dingin sendiri sambil melihat video pemain hebat dunia.


"Ihhh, menganggu sekali anak ini. Aku sedang menonton bola" Kesal ku saat David terus mengirimkan pesan dan melakukan panggilan.


Saat malam sudah larut aku memilih tidur. Mematikan ponsel agar tidur ku nyaman tanpa David. Lagipula aku kesal sekali dengannya apalagi dengan Adel yang selalu menempel pada David seperti perangko.



Di sekolah



"Key tunggu" Langkahku berhenti di lorong-lorong kelas saat suara itu memanggil dengan keras. Aku segera membalikkan badan dan ternyata itu David.



"Ada apa? "


"Kemana kalungmu? " Dia bertanya saat melihat kalung pemberiannya sudah aku lepaskan tadi sebelum berangkat ke sekolah.



"Ini kalungmu aku kembalikan"


"Kenapa, apa ada yang salah denganku?" Dia masih bertanya tentang kesalahannya padahal sudah jelas-jelas dia berbohong dan tidak jujur padaku.



"Tanyakan saja pada dirimu sendiri" Ketusku dan langsung berbalik dri hadapannya



"Key" David memegang tanganku dan seakan menghentikan langkah ini pergi.



"Oh iya satu lagi, tanyakan pada Adel apa yang telah dia perbuat padaku selama ini"



Aku harap David tidak ada hubungannya dengan rencana jahat Adel. Karena hal itu sudah termasuk kejahatan besar. Rena sudah memberikan aku informasi yang sangat luar biasa.



\*drettt, drettt\* (dering ponsel)



"Duh siapa sih, di keadaan emosi masih saja menelpon" Aku segera mengangkat telepon di saat emosiku kesal melihat David.



"Adit, halo ada apa? "


"Key kamu nanti ada waktu tidak? Aku ingin bertemu"



"Aku latihan, lain kali saja"


"Hmm, baiklah" Aku segera mematikan telepon dan melanjutkan kembali untuk masuk ke dalam kelas.



Tumben sekali Adit menelpon ku, dan dia mengajak untuk makan malam bersama. Aku takut dia semakin dekat denganku. Aku tidak ingin dekat dengan lelaki lain kecuali sahabatku dan David.



Seperti biasa di dalam kelas aku bermain dan tertawa bersama Ari dan Yuri. Tidak lama kemudian David masuk setelah bertemu dengan beberapa siswa yang tergila-gila untuk meminta tanda tangannya.



Matanya menatapku, aku melihatnya namun pura-pura menghiraukan dan tidak melihat David. Aku tidak tau dengan perasaanku ini, baru saja nyaman dan sekarang sudah menjadi benci.

__ADS_1



\*tetttt\*



"Yuk ke kantin"


"Kalian berdua saja dulu, nanti aku menyusulnya" Sahutku pada Ari dan Yuri. Kemudian mereka berdua pergi lebih dahulu ke kantin dan aku masih duduk disini.



"Key" David menghampiriku saat Ari dan Yuri sudah menjauh dari kelas. Aku masih sibuk dengan duniaku sendiri, meskipun aku tau David mendekat tapi aku memilih untuk diam.



"Ada apa denganmu?" Dia mendekat dan membalikkan bangku yang ada di depanku. Hingga wajah kami saling berhadapan.



"Key, bisakah cerita denganku"


"Apa? Apa lagi yang harus aku ceritakan? " Jawabku dengan kesal. Wajah ini murung melihatnya.



"Key, ayolah aku minta maaf. Aku tidak tau apa salahku" Wajahnya memelas, tangannya memegang tanganku dengan erat aku mencoba melepaskan cengkeraman tangan itu.



"Bisakah engkau kembali saat itu, 2 bulan sebelum sekolah kau sudah pulang dari luar negeri. Tapi mengapa tidak menemuiku. Aku tidak marah saat kau pura-pura lupa denganku. Tapi yang membuat aku kecewa adalah dirimu yang mencekik tubuhku dengan rindu yang dalam vid"



"Tapi key, aku memang datang saat itu karena sedang memperbaiki cidera yyangaku alami setelah bermain di luar negeri ey. Aku belum sempat menemuimu" Dia kembali berkata dengan alasan terssbut.



"Cidera? Lalu mengapa kamu bisa menolongku saat orang jahat hampir membunuhku di klub malam itu" Benar saja dia terdiam.



Keyakinanku benar bahwa dialah David. Dia menolongku dan selalu memantau ku. Aku tidak bisa dibohongi dengan sorot matanya yang tajam karena aku mengenalinya.



Untung saja di dalam ruang kelas kosong hanya ada aku dan David. Aku benar-benar meluapkan kekesalan padanya. Karena dia aku sengsara memeluk rindu yang bertahun-tahun lamanya.



"Maaf Key, aku bisa menjelaskan"



Aku keluar dari ruang kelas dan meninggalkan David. Dia ingin mengejar tapi setelah sampai di pintu, aku berpapasan dengan Adel. Dia mencegah David untuk mengejarku. Selalu saja dirinya mencoba menahan David dengan berbagai cara agar tidak bersamaku.



"Aku tau aku bodoh, aku tau itu." Teriakku di dalam kamar mandi.



Kebodohanku adalah mengejar cinta seseorang yang sudah jelas dia memiliki belenggu cinta lain yaitu Adel.



\*buk, buk, buk\* Kembali tangan ini berteman dengan emosi. Tangan bersih kini menjadi merah lebam. Rasa sakit kembali datang, saat David tidak pernah menghirauakn aku.



Dia selalu mendengarkan Adel, dia tidak mau mendengarkan aku. Mungkin benar kata Rena bahwa aku harus menjauhi David. Mungkin mulai saat ini aku harus pergi dari hadapannya.



"Cintaku pupus sia-sia dan semuanya tidak berguna" gumamku kesal.



Lagipula percuma saja aku mengatakan padanya bahwa hati ini menyukainya. Mungkin David hanya membalas dengan senyuman tapi tidak membalas rasa sayangku padanya. Dia hanya mendengarkan Adel dan selalu Adel.



"Tenang Key, jangan sampai itu membuatmu patah dalam perjalanan hidup. Kamu masih yang terhebat" Aku kembali berbicara sendiri dan mencoba menemukan diri yang hilang.



Aku tidak ingin mengambil keputusan saat emosi sedang meluap-luap. Lebih baik aku menjalaninya dengan apa adanya saat ini. Biarlah semua berjalan dengan semestinya dan aku akan menghadapi dengan lapang dada.



Aku keluar dari kamar mandi dan bertemu Ari serta Yuri. Mereka berdua sedikit marah padaku karena hingga selama ini tidak menyusul mereka ke kantin.



"Kamu kemana aja sih, kami menunggumu di kantin" Tutur Yuri dengan kesal.



"Maaf ya, soalnya aku lagi kebelet" Aku kembali berbohong pada mereka berdua. Lebih baik aku saja yang merasakan ini.

__ADS_1



"Aku sudah memesankan kamu ini. Sudah ditunggu lama namun tidak datang juga, ya gak ri? "



"Benar katamu Yur, dia selalu saja tidak menghampiri kami" Sambung Ari.



"Ya maaf, kan lagi sakit perut we" Aku tersenyum seperti wanita polos, memang sangat jijik senyumku bila dilihat tapi mereka berdua akan ikut kembali tersenyum.



"Eh key apakah kamu tau jika Rena sudah pindah sekolah? " Tanya Ari padaku.



Aku tidak tau dia mendapatkan informasi dari mana sehingga mendengar berita itu. Biasanya Yuri yang selalu menawarkan informasi tapi sekrang Ari yang mendapatkan nya lebih dahulu.



"Sudah tau, dia pindah ke luar kota" Sambung ku menanggapi oernyraan ari.



"Apa? " Mereka berdua kaget secara bersamaan. Matanya melotot menatap ke arahku. Karena aku juga terkejut maka aku menutup mata mereka seperti vampir saja.



"Jangan bersikap, ikutlah bersamamu" mencari tempat kosong yang aman untuk berbicara.


"tentang apa? "


"Rena?"



Aku menceritakan tentang Rena yang ingin bersekolah di luar kota karena ibunya dipindah tugaskan di kota sana. Cerita itu juga aku bumbuhi dengan sedikit kebohongan agar tidak terungakap semua rahasia tentang rena.



Biar nanti saja aku menjelaskan panjang lebar tentang keadaan Rena. Karena tidak enak bila menceritakan semuanya disini. Aku hanya ingin menyimpan rahasia ini secara rapat kecuali sudah berkumpul bertiga di tempat sepi.



Hari-hari berlalu, hubunganku dan David juga tidak baik. Dia selalu menelpon ku tapi aku selalu mematikannya. Bahkan di sekolah aku juga tidak pernah bertegur sapa karena Adel selau menempel bagaikan dinding dan cicak.


Di tempat latihan klub tarkam.


"Key, besok adalah permainan terakhirmu untuk menutup laga ini. saya harap kamu memberikan kesan terbaik sebagai dalam perpisahan pada kami"


"Siap Coach, saya akan menjalankan dengan sebaik mungkin".


Tidak terasa waktuku sebentar lagi habis untuk berjuang bersama tim tarkam. Sebentar lagi aku akan beranjak ke tim kota untuk membelanya di turnamen antar Indonesia.


Latihan sore ini telah selesai. Aku bergegas untuk pulang ke rumah. Saat di ruang ganti aku merasakan ada hal yang berbeda biasanya Ani akan tertawa dahulu denganku sebelum kami pulang.


"Tenanglah disana Ani, aku akan selalu mendoakanmu " Gumamku sambil mengelus bangku yang biasa Ani duduki bersamaku.


Bukan karena terlalu berlebihan tapi ini berbicara tentang rindu dengan sahabat yang selalu bersama itu rasanya sangat sulit. Apalagi yang telah berbeda dunia.


Aku menunggu taksi online untuk pulang. Beberapa menit kemudian ada seseorang yang duduk mendekat padaku. Awalnya aku tidak menghiraukannya tapi lama kelamaan aku menyadari tentang kehadirannya.


"Ibu" Sedikit terkejut dan kembali berdiam diri seperti biasa.


"Nak, ibu kangen denganmu" Selalu kata rindu yang dia ucapkan tapi kenyataannya tidak ada.


Selalu wajah melas yang ditampakkan tanpa dia tau bagaimana perasaanku yang selalu pilu bahkan tidak pernah ada senyum di wajah saat ibu meninggalkanku dulu.


"Ibu, lebih baik pergi dari sini. Key hanya ingin sendiri" Ucapku dan menggeser agar tubuhku tidak terlalu dekat dengan ibu.


"Apa yang harus ibu katakan lagi padamu nak. Ibu benar-benar salah, tapi ibu sangat menyayangi mu"


Ibu pandai sekali untuk merayu agar kesalahannya menghilang begitu saja. Tidak bu, tidak akan segampang itu tentang rasa sakit yang datang selama ini.


"Bu, bisakah ibu kergi? Aku tidak ingin durhaka, cukup ibu pergi saja dari hadapanku. Lagipula kehidupan ibu sudah berubah drastis, tidak kepanasan, kehujanan, mencari uang dijalan. Lalu apa lagi yang ibu inginkan bukanlah semuanya sudah nyaman? "


"Tapi ibu ingin membawamu pergi bersama ibu, ibu akan belikan rumah yang lebih bagus lagi" Aku kembali menoleh pada ibu dan menatapnya secara tajam!


"Rumah? Kenanganku mulai dari kecil ada di sana. Sedangkan ibu ingin aku meninggalkan kenangan itu begitu saja? " Aku menggeleng dan tertawa sedikit. Menertawakan keputusan ibu yang sangat lucu.


"Dalam rumah kecil itu aku merasakan keluarga yang utuh, aku senang walaupun sunyi tapi aku memiliki rasa kebahagiaan tinggi. Karena rumahku adalah istana ku saat ini bu" sambung ku.


Bagaimana tidak, ibu yang meninggalkan aku. Ibu juga yang menyayat hidupku hingga dulu hampir membuat kesalahan untuk mengakhiri hidup. Dan sekarang ibu datang dengan tangan kosong dan merayu agar aku ikut dengan nya.


"Lucu sekali, sangat lucu. Biarlah aku pergi dan tolong jangan ganggu hidupku lagi. Satu lagi bu, sekarang aku sudah bisa menghasilkan uang meski tidka seberapa. Jangan pernah ibu mengirimkan uang lagi karena uang kemarin masih utuh dan aku juga mengumpulkan untuk mengganti uang ibu yang pernah aku gunakan"


"Nak, tapi..... " Aku bergegas pergi meninggalkan ibu.


Tidak peduli teriakan ibu, karena hingga saat ini kekesalan pada diriku masih menggunung. Ingatan itu sangat jelas, saat ibu meninggalkanku dan ibu yang tidak mengakui aku sebagai anaknya.


Rasanya air mata ini sudah kering, tidak bisa menangis lagi seperti dulu saat hariku sepi dan mengingat ibu. Tentang apa yang aku alami tidak akan semanis apa yang aku rasakan saat ini.


"Aaaaaa, hei ikan apakah aku salah meninggalkan ibu sedangkan dia dulu yang meninggalkan aku waktu itu"


Aku berteriak tidak jelas di atas jembatan dan dibawah mengalir deras aliran sungai yang besar. Aku tidak bisa berfikir lagi tentang kehidupan yang seperti ini karena aku tidak pernah menginginkannya. Mungkin sudah takdirku menghadapi kehidupan tanpa ayah dan ibu.


"Astaga, hari sudah malam dan aku harus segera pulang" Karena ibu aku harus membatalkan ojek online dan sekarang aku harus memesannya lagi.

__ADS_1



__ADS_2