Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
81. Rahasia Menyakitkan


__ADS_3

Aku benar-benar khawatir dengan keadaan Ari, namun dia tidak ingin kami menjenguknya. Aku tidak tau hal apa yang sedang Ari sembunyikan, padahal kami ingin melihatnya sembuh dan baik-baik saja.


"Eh bentar, bajumu basah karena siapa? " Tanya Yuri dengan tatapan menyelidik.


"Sudahlah tidak perlu dipikirkan" Yuri masih menatapku. Tapi akhirnya dia mengerti jika itu adalah kelakuan dari Adel dan Rena. Si biang kerok yang selalu mengganggu kehidupan ku.


Saat di sekolah aku dan David seolah-olah tidak kenal. Aku selalu menghindar darinya begitupun David, karena aku takut Adel melihat dan kembali mengancamnya. Lebih baik menjauh daripada membuat David dimarahi oleh papanya.


Sepulang sekolah Yuri mengatakan dia diundang oleh kak Dika ke pesta pernikahan kedua orang tuanya. Ternyata kak Dika tidak berbohong, aku pikir dia menipuku ternyata dia juga mengundang Yuri. Akhirnya kita memutuskan untuk berangkat ke acara tersebut bersama-sama.


Malam Hari


"Key, udah siap? " Aku terkejut saat Yuri sudah tiba di rumah pada malam hari tanpa memberitahuku. Dia memakai baju dress merah yang sangat cantik. Sedangkan aku hanya menggunakan pakaian seperti biasa dengan balitan kemeja dan kaos di dalam serta celana jeans.


"Sssttttt, kamu tunggu di mobil. Cepat! " Aku takut ibu tahu dan bertanya padaku.


Sebenarnya aku tidak ingin pergi karena ingin menemani bapak. Semenjak bapak sakit aku meminta ijin pada ibu untuk tinggal di rumahnya. Merawat bapak agar lekas sembuh.


"Key, siapa yang datang" Mungkin ibu mendengar suara mobil. Jadinya dia keluar dari rumah.


"Hmm ini bu, si Yuri. Key mau pamit ke rumah Yuri ya bu"


"Kok malam"


"Iya sebentar saja kok bu" Wajahku memelas meminta ijin pada ibu.


Sedangkan aku memberi kode pada Yuri untuk tidak keluar, jika dia keluar dari mobil dan menghampiriku maka akan ketahuan semuanya jika kami akan pergi ke suatu tempat hanya dengan melihat gaya berpakaian Yuri.


"Baiklah, Hati-hati dan jangan pulang terlalu malam karena besok kamu bertanding kan? " Ibu benar-benar memperhatikan jadwal pertandingan dan pendidikan ku.


"Iya bu, makasih banyak bu. Sebentar Key mau pamitan sama bapak dan mbak" Aku masuk ke dalam rumah untuk pamitan ke bapak dan kedua saudaraku yang konyol. Setelah itu memeluk ibu dengan kasih sayang karena memberiku ijin untuk berangkat.


"Tante, Yuri dan key berangkat dulu ya"


"Iya hati-hati ya nak. Jangan pulang terlalu malam"


"Siap bos" Mobil itu melaju ke arah rumah kak Dika. Aku harus bersikap biasa saja agar mereka tidak tau bahwa aku adalah anak ayah.


Rumahnya besar dan mewah, banyak tamu yang datang. Acaranya sepertinya sangat mewah, sedangkan aku hanya menggunakan celana jeans dan kemeja saja. Karena sampai saat ini aku tidak pernah memiliki gaun atau dress seperti wanita pada umumnya. Aku lebih nyaman berdandan seperti ini.


"Key tunggu, kamu yakin pakai baju itu" Ucap Yuri saat kami ingin turun dari mobil


"Iya, aku lebih nyaman Yur" Mata Yuri sebenarnya tidak menginginkan aku berpakaian seperti ini. Menurutku pakaian inilah yang nyaman digunakan. Tidak perlu mewah, cukup yang sederhana asalkan nyaman.


Aku dan yuri turun dari mobil, saat ingin masuk kami disambut oleh beberapa pelayan yang khusus melakukan tugasnya untuk menyambut tamu yang datang. Aku terkagum-kagum saat masuk ke dalam rumah. Dekorasi yang sangat meriah hingga mataku terpanah.


" Benar, ternyata ayah sangat kaya" Barinku berkata demikian karena melihat semua hal mewah yang di suguhkan.


Tatapanku seakan terus melihat sekeliling, sampai aku lupa bahwa ini adalah acara dari sebuah masa lalu yang menyakitkan. Aku mencoba tetap tenang dan menikmati apapun yang disajikan.


"Syukurlah kalian datang, aku pikir kamu gak datang key" Kak Dika datang dan menyambut kami.


"Nggak kok kak, aku menghargai undangan kak Dika" Dia tersenyum, lalu kak Dika bergandengan tangan bersama Yuri untuk mengenalkan ke keluarganya.


Aku ingin mengikutinya tapi langkahku terhenti saat melihat ayah bergandengan mesra dengan seorang wanita cantik dan sepertinya dialah mama kak Dika.


"Sepertinya aku harus pergi, jangan sampai muncul di hadapan mereka" gimamki dan memilih mundur dari pertemuan yang akan terjadi.


Lebih baik aku menghindar dan berdiri disini saja. aku takut nanti bisa membuat acara yang sebagus ini menjadi rusuh. Mengambil makanan dan minuman sambil menunggu acara dimulai. Membiarkan Yuri bersennag-senang bersama keluarga kak Dika.

__ADS_1


Tidak lama kemudian acara dimulai. Aku menatapmya di sela-sela para tamu. Aku tidak peduli apapun yang sedang dilangsungkan saat ini. Acara, dekorasi, Kemesraan dan apapun itu. Saat semuanya bersorak karena kehangatan yang terjadi di atas panggung, aku memilih makan dan minum untuk menghilangkan stress.


Acara potong kue yang begitu raksasa menjadi perbincangan serta kehangatan. Sedangkan aku disini hanya bisa berhayal yang tidak pasti. Biarlah semua kesenangan ku beralih, asalkan kebahagiaanmu dalam hidupku sekarang jangan diambil alih lagi.


*prok, prok, prok*


"Hore" Teriakan dan tepuk tangan di akhir acara menggema di seluruh sudut ruangan. Lalu semua tamu diharapkan untuk menikmati hidangan sekalian berbincang-bincang. Rasanya sangat malas di dalam sini, tidak ada teman untuk berbicara. Yuri juga bersama kak Dika disana.


Aku memilih untuk berkeliling melihat beberapa lukisan indah di dalam rumah mewah ini. Pantas saja ayah betah dan memilih tinggal disini daripada bersama aku dan ibu pada masa lalu. Tidak heran karena manusia pasti akan memilih kekayaan daripada kemiskinan yang berbicara omong kosong tentang perjuangan bersama untuk menuju kesuksesan.


"Bagus banget rumah ini dan juga gede lagi. Sepertinya aku bosan. Makan sudah, Jalan-jalan di rumah ini sudah" Aku bingung karena tidak tau ingin melakukan apa lagi. Rasanya sangat bosan memperhatikan sekitar.


"Nak, kamu datang juga" Aku berbalik menatap arah suara yang muncul dari belakang.


"Ayah" Mataku terbelalak karena tidak ingin bertemu dengan ayah. Apalagi ini acara terbesarnya. Walaupun aku membenci ayah, tapi hatiku masih menghargainya dan tidak ingin menghancurkan kehidupan ayah saat ini seperti ayah menghancurkan hidupku di masa lalu.


"Berarti kamu salah satu teman yang Dika bicarakan. Dika bilanga ada 2 teman yang dia undang, satu Yuri yang tadi dekanlkan pada kami dan satunya ternyata kamu" Disini aku merasa aneh, kak Dika bilang akan mengundang beberapa teman kelasnya, tapi mengapa ayah hanya bilang aku dan Yuri saja.


"Nak, ayah kangen sama kamu" Ayah memegang tanganku, dia mengungkapkan rasa rindunya. Bukan hari ini yang aku inginkan yah, tapi saat itu.


"Tolong yah, ini acara ayah jangan dihancurkan" Aku melepaskan genggaman ayah. Aku mengingatkan ayah agar tidak dekat denganku di acara spesialnya.


"Tapi aku ini ayahmu, wajar kan seorang ayah merindukan anaknya yang sudah tidak bertemu beberapa tahun lamanya" Ucapnya seakan-akan aku mengharapkan kasih sayang ayah, sebenarnya tidak untuk saat ini karena aku membencinya.


"Wah, wah wah akhirnya rencanaku berhasil juga" Aku terkejut saat melihat kak Dika datang menghampiri. Sedangkan Yuri asik ngobrol bersama mama kak Dika.


"Tenang kak, ini gak seperti yang kak Dika kira" Ucapku takut dia mengetahui semuanya. Yang akan menyebabkan kekacauan acara ini.


"Apa hubunganmu dengan papahku Key, apa kamu mau jadi selingkuhannya" Aku kesal mendengar perkataan kak Dika. Untungnya kita berbicara di tempat yang sepi dari sekumpulan tamu. Hanya ada aku, ayah dan kak Dika di surut ruang yang kosong.


"Tutup mulut kak Dika, aku bukan orang seperti itu. Aku juga bukan pelakor ataupun pelacur" Bentak ku padanya dengan wajah yang kesal.


"Dika dengarkan papa, ini adikmu. Adik kandungmu tapi beda ibu" Wajah kak Dika terlihat kesal mendengar pernyatan yang ayah ucapkan. Matanya menatap tajam padaku dan tangannya menjambak kesal rambutnya.


"Oh, berarti dia anak pelacur atau pelakor 17 tahun lalu yang membawa papa kabur ke desa kan pah? "


*plak* tamparan keras dari tangan ayah mendarat di pipi kak Dika. Aku baru tau ternyata aku adalah anak yang tidak diinginkan. Ternyata ibu adalah seorang pelakor yang berusaha merebut kebahagiaan dari keluarga kecil.


"Maksud kak Dika? " Tanyaku yang ingin mengetahui semua kejelasan.


"Dengar key... "


"Cukup Dika" Ayah membentaknya sekali lagi saat kak Dika ingin mengatakan semuanya padaku.


"Kenapa pa, apakah papa takut keyla tau kalau dia anak haram hasil perselingkuhan papa dan ibunya 17 tahun lalu. Papa bilang katanya kerja tapi ujung-ujungnya mendapatkan istri baru dengan pernikahan tanpa persetujuan mama kan pah? " Muak aku mendengarkan kenyataan. Sungguh sangat muak mendengarkan semuanya.


*plak* tamparan kedua kalinya pada kak Dika. Aku sangat membenci semua yang ada di kehidupanku. Aku berlari keluar untuk pergi dari acara gila ini.


"Key tunggu nak, key tunggu" Ayah mencoba mengejar, suaranya mengalihkan perhatian para tamu. Aku segera berlari pergi dari acara yang soal ini.


"Aaaaaaa, aku benci kalian semua" Air mataku mengalir deras. Setelah mendengarkan kenyataan bahwa aku seorang anak yang tidak pernah diinginkan. Lahir dari seorang wanita yang merebut paksa kebahagiaan seseorang. Aku membenci semuanya.


Malam yang dingin aku berjalan bagaikan orang gila. Bunyi pesan dan telepon terus saja berdering di saku. Aku tidak peduli, biarlah aku pulang dengan keadaan hancur seperti ini. Berjalan melewati lorong kehidupan yang tajam.


Air mata mengalir, langkah terhenti di sebuah taman dengan lampu remang-remang. Banyak keramaian disana, tapi hatiku tetap saja sunyi. Lebih baik aku tidak mengetahui kenyataan jika pada akhirnya aku menjadi seperti ini.


"Jadi ini alasan ayah meninggalkanku, sekarang aku tau bahwa ayah dan ibu jelas-jelas tidak menginginkan aku lahir" Gumamku sambil menatap langit dengan terangnya rembulan. Namun terangnya rembulan tidak dapat menembus jiwaku yang gelap.


"iInu semua adalah rahia yang menyakitkan" Gumamku pada malam gelap.

__ADS_1


"Ya Allah, mengapa seperti ini. Mengapa ya Allah" Ucapku terasa hampa, hanya bisa mengadupada Tuhan sang Pencipta seluruh alam. Biarkan semuanya berjalan dengan waktu, Dan sebuah harapan untukku melupakan semua yang terjadi.


"Bapak" Tiba-tiba pikirku mengingat bapak. Aku harus segera pulang untuk menjaga bapak. Aku khawatir jika terlalu lama meninggalkan bapak walaupun disana sudah ada kedua saudaraku dan ibu.


Aku berlari ke pinggir jalanan, mencari ojek yang sedang mangkal tapi tidak ada. Mengambil ponsel untuk menghubungi ojek online, namun sayang sekali baterai ponselku habis. Aku terpaksa berlari untuk segera pulang. Tidak pantas rasnaya menangisi keadaan yang sudah terjadi.


Tapi bohong bila aku berhenti saat mengingat hal tersebut. Air mataku terus mengalir karena masih terasa sakit dan sangat sakit. Butuh ketenangan jiwa namun tidak bisa kutemukan hingga saat ini.


*tinnnn*


"Key, keyla, keyla" Teriakan yang begitu kencang mampu menghentikan langkahku.


"Doni" Tanpa basa-basi aku langsung ikut dengannya. Firasat ku sudah buruk tentang bapak, apalagi keadaan hatiku saat ini benar-benar hancur.


"Tolong antarkan aku pulang" Doni langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


"Kamu kenapa? "


"Tidak, tidak apa-apa" Perkataan kembali berbohong padanya. Aku memeluk Doni dengan erat. Menangis di pundaknya tanpa suara. Dan dia hanya diam serta fokus melakukan motornya.


Sesekali aku menyeka air mata itu menggunakan kemeja. Tidak ingin ada yang melihat bahwa aku sendang menangis.


"Menangislah jika itu membuatmu nyaman" Bisik Doni padaku.


"Tidak, aku tidak menangis kok" Sahut ku berbohong pada Doni.


"Bajuku basah, sepertinya air matamu atau air liur Key hahaha" Doni mencoba menghiburku dengan lerkataannya.


"Enak aja"


*plak* pukulan kecil pada punggungnya.


"Sudahlah, ayo tambah kecepatannya" Perintah ku yang membuat Doni melajukan motornya dengan kencang.


Perjalanan malam yang membuatku gelisah antara kecemasan dan rasa sakit. Tidak bisa terpungkiri rasa sakit bergulir kembali pada diriku. Perih rasanya bagaikan tertusuk duri.


"Key udah sampai"


"Makasih ya Don, kalau gak ada kamu aku gak tau mau ngapain" Aku turun dari motor dan ngobrol sebentar bersama Doni.


"Iya Key, santai saja. Apa sih yang tidak buatmu. Kita kan kawan" Doni tersenyum sekaligus menghiburku hingga senyum kecil terlukis dari bibir ini.


"Kamu mau mampir? "


"Tidak usah, aku ada kepentingan"


"Baiklah, kapan-kapan mampir kesini ya Don" Ucapku sebagai tanda terima kasih atas jasa Doni yang mau menjadi menghibur walaupun sedikit


"Siap bos, aku pulang dulu ya" Doni berlalu pergi.


Aku masuk ke dalam rumah dan langsung menemui bapak. Aku bersyukur ternyata firasat burukku salah. Alhamdulillah bapak baik-baik saja. Dan beliau sedang istirahat.


"Kamu sudah pulang" Tegur ibu saat melihat aku ada di samping bapak.


"Iya bu, kan katanya gak boleh malam-malam. Yaudah key pulang" Sahut ku.


"Anak pinter" Tangan ibu menyentuh rambutku dengan gemas.


__ADS_1


__ADS_2