Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
143. Kemenangan Kedua


__ADS_3

Sonya terus berbicara ingin bercerita tapi dia masih meracau tidak jelas. Dan belum berbicara hingga ke inti pembicaraan yang ingin dia katakan.


"Apakah kamu memiliki sahabat pemain bola yang sangat dekat" Di berkata ingin bercerira tapi nyatanya dia bertanya.


Pertanyaannya membuatku terdiam seribu bahasa. Mengapa dia bertanya seperti itu padaku. Sudah pasti aku memiliki sahabat pemain bola.


"Apa maksud perkataanmu, katanya ingin bercerita"


"Iya tapi jawab dulu pertanyaanku" Dia memaksaku untuk menjawab pertanyaannya. sedangkan pertanyaan itu membuatku kembali mengingat Ani.


"Ada" Sahutku singkat lalu kembali melahap hamburger dan meminum jus.


"Ceritakan, aku ingin mendengar sahabatmu itu" Dia sangat antusias membuatku kembali mengingat masa kelam. Dimana Ani pergi untuk selamanya.


"Diamlah, lebih baik kita makan saja" Aku tidak menghiraukan perkatannya lagi. Lebih baik aku diam daripada terus mengikuti kemauan Sonya yang membuatku sakit hati.


"Yah, kamu gak asik. Baiklah aku yang akan menceritakan semuanya"


"Hmmm" Dia mendekatkan diri padaku dan mulai bercerita.


"Aku memiliki sahabat, dia satu tim denganku Key....... " Aku terus menyimak ceritanya sambil menikmati pemandangan jalanan yang indah.


Semakin lama aku semakin terkejut dengan cerita yang Sonya buat. Karena dia bercerita seakan Sonya adalah aku. Bercerita tentang sahabatnya yang selalu bermain dalam satu tim. Selalu membuatnya tertawa dan lainnya.


Bedanya sahabat Sonya masih hidup hingga sekarang dan bermain di klub yang berbeda. Sedangkan sahabtaku sudah tiada dan kami sudah berbeda alam. Hanya ada kenangan-kenangan yang masih tersimpan.


"Lalu kemana dia sekarang? "


"Jauh, dia pergi ke luar kota. Namun kami masih bisa bertemu, karena dia akan pulang sebulan sekali"


Menarik nafas lalu memghembuskannya secara perlahan. Ternyata dia juga jauh dengan sahabatnya, tapi sahabat sonya masih menyempatkan diri untuk datang. Sama persis seperti Ari dan Yuri yang slelau ada untukku.


"Pesanku untukmu hanya satu Son"


"Apa itu Key? "


"Jagalah sahabatmu sebaik mungkin, jangan sampai kamu lupa saat sudah sukses nanti" Sonya mengangguk dan tersenyum.


Sedangkan aku berpura-pura untuk pergi ke kamar mandi. Padahal di balik dinding, air mataku kembali menetes. Langkahku segera masuk ke dalam kamar mandi dan menangis di dalamnya sambil mengunci pintu.


"Ani, aku tidak akan pernah melupakanmu. Sampai saat ini" Tangsian itu semakin menjadi.


Beberapa kali tangan ini menyekanya namun masih saja air mata terus mengalir sederas mungkin. Nama Ani selalu ada dalam hidupku sampai kapanpun.


"Key diamlah, Ani sudah tenang di sana" Gumamku pada diriku sendiri.


Mencoba terlihat tenang namun nyatanya masih saja sayatan luka yang sudah kering kembali terkelupas dan menjadi sayatan yang menyakitkan.


"Aduhh wajahku sepertinya kering nih"


"Benar, sebaiknya kamu menggunakan krim yang aku bilang"


"Iya sih, mungkin karena aku masih awal menggunakan ini ya"


Mataku langsung terbelalak. Aku mendengar suara itu tidak asing lagi. Itu adalah suara Ani. Aku segera menyeka air mataku dan langsung keluar dari toilet tempat lersembunyian ini.


*klek*


"Ani"


"Hmm, maaf kak. Saya kira kakak teman saya" Ternyata salah orang.


"Iya tidak apa-apa kak" Aku terdiam saat melihat kedua orang itu bukan Ani. Mungkin suaranya saja yang sama dengan Ani.


Apakah halusinasi ku mulai kembali karena hati ini masih mengingat kepergiannya yang tragis. Bayangannya kembali mengingatkan setelah beberapa bulan kepergian dirinya tanpa pamit. Bibir bisa berkata melupakan, namun nyatanya kenangan memaksa untuk terus mengingat kasih sayangnya padaku.


"Sonya ayo kita pergi dari sini"


"Kenapa? Ada apa denganmu Key"


"Sudahlah ayo pergi" Akhirnya aku dan Sonya pergi dari tempat itu.


Di dalam perjalanan aku hanya diam dan tidak berkata apapun. Melamun entah apakah itu. Kepala ini rasanya sangat pusing. Bayangan Ani masih saja terlintas di benakku.


"Key" Aku menoleh ke sumber suara itu. Ternyata dia adalah Adit, baru saja ingin masuk namun Adit memanggalku. Sebenarnya aku sangat malas bertemu dengannya, tapi bagaimanapun dia sudah membantu keluargaku waktu itu.


FLASHBACK ON


Pagi itu saat aku baru saja tiba di asrama, kedua kakakku menelpon bahwa bapak dalam keadaan tidak baik. Tiba-tiba penyakit bapak kambuh dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Sedangkan calon suami mbak nike tidak bisa menolong karena sedang ada pekerjaan di luar kota.


Adit yang sedang mengantarkan aku ke asrama, aku memohon padanya agar segera pulang dan membantu membawa bapak ke rumah sakit. Karena akses jalan besar dengan rumahku cukup jauh jadi sulit mendapatkan kendaraan mobil.


Adit segera meninggalkanku di asrama, wajahku khawatir tidak karuan. Doa dalam diriku tidak pernah terhenti. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian Adit menelpon bahwa bapak baik-baik saja karena penanganan yang cepat.


Apabila terlambat membawa bapak ke rumah sakit mungkin takdir akan berkata lain. Kejadian itulah yang membuatku menerima Adit, bukan untuk menjadi kekasih melainkan aku menerimanya sebagai teman.


FLASBACK OFF


"Kamu ngapain kesini, ini sudah malam Dit"


"Ini aku bawakan sesuatu untukmu" Dia membawa bunga dan beberapa bingkisan. Hampir setiap hari dia membawakan hal ini.


Namun beberapa hari ini aku menyuruhnya untuk tidak datang dengan alasan bahwa aku lelah setelah pertandingan. Dan tiba-tiba saja dia datang kembali hari ini.


"Lebih baik kamu pulang saja, karena aku ingin beristirahat. Dan satu lagi jangan membawakan hadiah lagi" Entah kenapa aku tidak tega mengatakan hal itu, namun di lain sisi aku harus mengatakannya agar dia tidak membuang-buang uangnya hanya untukku.


"Baiklah, kamu jaga diri baik-baik di sini key"

__ADS_1


"Hmmm" Adit menuruti perkataanku, dia segera pulang dan tidak lupa melambaikan tangan padaku.


Teman-teman berfikir bahwa dia adalah kekasihku. Padahal kami hanya sebatas teman biasa saja. Hanya saja Adit selalu mengirimkan bunga dan bingkisan makanan atau pakaian seperti aku kekasihnya saja.


Mobil Adit telah berlalu, mataku berhenti pada satu tumpuan. Baru saja ingin membalikkan badan, aku melihat seseorang yang ada di ujung seberang. Pakaian yang masih sama berwarna hitam dan menutupi seluruh wajahnya.


"Siapa lagi itu, sepertinya aku harus segera masuk" Gumamku dan bergegas masuk kemudian menutup gerbang asrama.


Sering sekali aku melihat penampakan itu. Dengan gestur tubuh yang sama dan menggunakan pakaian yang sama. Orang itu yang ada di hutan, yang melukaiku saat di rumah sakit. Yang hampir menabrak ku saat di jalan juga.


"Siapa sebenarnya dia, jika memang itu kakanya Rena tapi bagaimana bisa. Sedangkan Rena sudah meninggalkan kota ini" Aku bingung dengan keberadaannya, saat itu gestur tubuhnya sama dengan kakaknya Rena yang selalu mengantar dia saat pergi ke sekolah.


Dan aku juga bingung, bukankah yang mendorong di hutan adalah Rena. Ataukah masih ada orang lain yang ingin melakukan kejahatan padaku data perkemahan itu. Masih menjadi teka-teki dan belum terpecahkan juga. Lama-lama yang terpecah adalah otakku.


"Aduh keyla, daritadi kamu tidak tidur dan meracau sendiri. Tidurlah, hari sudah malam" Tegur lili padaku, mungkin daritadi dia memperhatikanku yang belum tidur juga.


"Iya, iya, maaf li. Hehehheh" Aku tertawa kecil dan segera mematikan lampu lalu tertidur.




Setiap pagi kami melakukan hal seperti biasa. Membiasakan disiplin dalam bangun tidur, beribadah, makan dan selanjutnya latihan. Karena kedisiplinan adalah pembentukan karakter untuk para pemain bola. Sebenarnya bukan hanya pemain bola, tapi untuk seluruh manusia agar mempermudah mencapai impian yang diinginkan.



2 hari berlalu akhirnya tibalah pertandingan tim kami untuk yang kedua. Aku tetap dipilih menjadi pemain inti. Setelah peluit panjang dibunyikan kami segera memasang wajah fokus untuk pertandingan.



"Aaaa, aduhhh"



\*prittt\*



"Woyyy, pelanggaran keras sit. Seharusnya kartu sit, dia memberikan tackel yang sangat keras" Teriakku tidak terima karena kejadian itu ada di depan mataku.



Di menit ke 31 kapten tim kami mendapatkan pelanggaran yang cukup keras. Kaki Dara terkena tackel yang cukup keras sehingga mengharuskan dia menepi dari lapangan dan tidak bisa melanjutkan pertandingan.



"Keyla, Keyla, Key" Teriakan pelatih mengalihkan ku, langkah ini segera bergegas menghampirinya.



"Iya coach"



"Baik coach" Bagaimanapun juga aku harus mengambil keputusan. Karena pertandingan akan dilanjutkan kembali. Aku segera mengambil ban kapten dari Dara.



"Dara, bertahanlah. Semua akan baik-baik saja" Aku mencoba menyemangati Dara saat dia memberikan ban kapten itu padaku. Aku tau dia terluka dalam ataupun luar.



"Istirahat dan tenagkan dirimu, jangan berfikiran buruk" Pesanku lagi sebelum Dara benar-benar keluar dengan menggunakan tandu karena cidera di kakinya.



Terlihat jelas dari matanya yang menangis kesakitan serta menangis karena tidak bisa melanjutkan pertandingan. Aku menggenggam kuat tangannya dan memberikan untaian kata positif untuk ia genggam.



Inilah yang ditakutkan oleh pemain bola, apabila cidera menyerang maka hanya terdiam yang bisa mengalahkan. Karena percuma untuk. melanjutkan saja sudah tidak bisa.



\*prit\*



Peluit dibunyikan, pertandingan kembali dimulai. Pemain lawan yang telah melanggar Dara mendapatkan kartu kuning dari wasit. Keputusan yang kurang memuaskan karena pelanggaran itu sudah termasuk sangat berat.



Tackel yang diberikan sengaja sangat keras karena untuk mematahkan kaki lawan bukan untuk menghalau pergerakan lawan ataupun merenggut bola dari kakinya.



"Heyy, heyyy, maju" Teriakku pada lini tengah saat beberapa pemain mengatur strategi untuk melakukan penyerangan. Aku segera menyuruh beberapa dari mereka untuk maju dan ikut membantu serangan.



Sedangkan aku berjaga di pertahanan belakang untuk mengantisipasi pergerakan cepat lawan saya melakukan serangan balik. Setelah aku melihat pergerakan gelandang sangat baik, aku segera mengikuti saran pelatih untuk ikut menyusun penyerangan.



"Keyy" Teriakan yang bagus, mengalihkan perhatian lawan. Sehingga dengan mudah aku bisa menembus pertahanan mereka dan memberikan umpan lambung yang cantik. Di lini belakang saat ini terlihat lemah, mungkin pertahanan lawan sudah kendor.


__ADS_1


\*bluk\*



"Gollllll" Gol kembali tercipta lewat sundulan. Gol pertama berhasil menutup pertandingan babak pertama dengan skor sementara 1-0 untuk kemenangan tim kami.



Satu gol sangat berharga, dan sekarang peran ku sudah berbeda. Harus menjadi tenang dan terlihat menahan emosi lebih tinggi. Karena kapten tim adalah supir dari tim. Jika supir oleng maka semua penumpang akan terjerumus.



"Pergerakan kalian jangan terlalu lambat, cepatkan tempo permainan apabila sudah melihat posisi yang bagus. Ulangi pergerakan yang sama seperti tendangan Keyla tadi"


"Baik coach"



"Jangan takut untuk menyerang, jika perlu kalian terus melakukan serangan demi serangan agar mereka bisa merasakan kelelahan. Dan untuk lini belakang tetap mempertahankan dan bisa juga mengikuti strategi penyerangan yang sudah diberikan"


"Baik coach"



Arahan yang cukup banyak bagi kami untuk melakukan pertandungan di babak kedua ini. Dan satu lagi pesan pelatih padaku yaitu tetap menjadi pemimpin untuk tim dengan baik selama di lapangan.



"Bismillahirrahmanirrahim" Berharap babak kedua kembali mengantongi gol dan membawa kemenangan.



Pertandingan babak kedua segera dimulai. Aku menjadi kapten dan tetap mengawasi pergerakan serta memberkkan benberapa arahan pada teman-teman. Mengatur strategi agar tetap menjalankan pertandingan untuk meraih kemenangan.



Pertandingan terus berjalan dengan waktu 45 menit di babak kedua. Kami kembali memenangkan pertandingan di babak kedua ini. Teriakan yang sangat ceria oleh pendukung kami.



"Yeyyyy, horeee" Permainan yang sangat disiplin dan baik.



Semua peran dari pemain dilakukan dengan tertib dan sesuai dengan arahan. Sehingga kemengan kembali didapatkan oleh tim kami. Dengan datangnya peliit akhir pertandingan, datang pula kegembiraan merayakan kemenangan.



"Dara" Panggil kau sambil memeluknya.


"Key, bagus sekali kepemimpinannya kapten"


"Tidak, tidak, kamulah kapten sesungguhnya" Sahutku saat Dara mencoba memuji mu.



"Ayolah, aku akan memggendongmu"


"Tapi aku berat"


"Sudahlah, kau pasti sangat ringan bukan" Aku menggendong Dara untuk menuju ke ruang ganti. Kakinya sudah dibalut dengan perban untuk mengurangi rasa nyeri.



Seperti biasa, di ruang ganti kami kembali melakukan uforia kemenangan untuk tim. Kami bersorak bergembira, begitupun aku yang sangat senang dengan kemenangan kedua ini.



"Kerja sama yang sangat bagus, saya harap pertandingan selanjutnya kami bisa menang kemabali"



"Baik coach" Tidak lupa aku menghampiri Ari dan Yuri sebentar di pintu keluar stadion.



Mereka selalu hadir di pertandingan ku kali ini. Namun waktu pertemuan yang singkat karena aku harus kembali lagi ke asrama. Sedangkan mereka harus kembali lagi untuk pulang.



"Andai saja ibu dan bapak hadir menonton ku, mungkin aku sangat senang melihatnya" Batinku kembali memikirkan ibu. Aku ingin ibu dan bapak melihat pernainanku agar mereka ikut bersorak saat terciptanya gol dari kami.



"Key"


"Astaghfirullah, terkejut aku" Lili mengagetkan ku yang sedang melamun. Dia membuang semua hayalanku.



"Gila, kapten baru telah hadir" Aku hanya tersenyum dengan ucapan lili yang sangat heboh.



"Ih kau ini, Lama-lama ku jitak kepalamu Li"


"Hahahhaha"

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2