
"Nak, kamu hebat dan jalanilah dengan senyuman. Jangan biarkan kesedihan ini merenggut hidupmu, perjalan kamu masih panjang ayo bangkitlah" Tangannya memeluk erat tubuh ini yang pilu. Saat aku ingin mengenggamnya juga namun Tidak sampai.
"Kakek" Teriakku yang membuat bu Yanti yang tidur disampingku ikut terkejut. Ternyata aku sudah lama tertidur dan larut dalam lelap yang membawaku terbang ke alam mimpi.
"Kenapa key, kamu kenapa? Ini minum dulu" Segelas teh menghilangkan rasaku yang campur aduk. Aku pikir bu Yanti sudah pulang karena harus berjualan. Ternyata dia meliburkan diri karena khawatir dengan keadaanku yang tidak stabil baik fisik atau pikiran.
"Tidak bu" Jawabku singkat.
"Kamu tidur ya, ibu disini menemani kamu hingga keadaanmu membaik.
" Bu maaf, gara-gara masalah ini key ngerepotin ibu dan keluarga ibu"tatapanku merasakan bersalah pada bu Yanti. Karena masalah keluargaku, keluarga bu yanti juga ikut terbawa.
"Sudahlah, anggap saja aku ini ibumu juga" Hati manusia yang paling baik mendampingiku. Terus saja menjagaku tanpa harus terbebani. Senyumnya yang tulus membuatku mengerti bahwa aku aman di sampingnya.
Hanya bu Yanti tetangga yang peduli kepadaku. Sedangkan yang lain tidak pernah tulus memandang keluargaku saat mengetahui ibu sang wanita penjelajah malam.
"Bu, lebih baik bu Yanti pulang saja. tinggalkan key sendiri disini. karena key tidak ingin ibu sakit gara-gara key" aku takut bu Yanti sakit karena masalahku.
"tenang saja, InsyaAllah ibu baik-baik saja kak" shautnya yang sangat lembut.
Ternyata masih ada orang sebaik bu Yanti yang mengelilingi hidupku ini. hidup petang penuh cacian tentang keluargaku dari ujung hingga ujung desa lagi. Tidak pernah berhenti gosip itu menyebar luas.
Banyak yang bilang ibuku pelacur, tapi aku tidak tau mengapa ia dibilang pelacur, ada yang berkata juga ibuku kupu-kupu malam, dan masih banyak lagi julukan keji. Padahal yang aku tau ibu adalah sang perempuan hebat, bekerja di malam hari demi sesuap nasi dan kehidupanku.
Sedangkan mulut mereka hanya bisa terus-menerus mencacinya dengan kata hinaan. Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Apa karena aku terlalu polos ataukah aku yang dodoh tidak tau tentang istilah tersebut yang orang-orang perdebatkan. Suatu saat nanti aku akan mencari tau semua tentang kebenaran.
Matahari berjalan ke arah barat. harus udah sore dan aku masih berdiam diri di tempat tidur.
"Nak, ibu mau pemait pergi ya. kamu baik-baik disini, kalau ada sesuatu kamu ke rumah ibu saja" ucapnya padaku. bu Yanti bilang padaku untuk tinggal di rumahnya saja daripada sendirian disini. tapi aku tidak mau merepotkannya.
"iya bu, Hati-hati di jalan. Key akan istirahat saja" sahutku sambil menciun tangan Bu Yanti saya berpamkt pulang.
Bu Yanti berpamitan pulang sebentar untuk memgurusi suami dan anaknya di sore hari. Aku beranjak dari tempat tidur. Berdiri di depan cermin sambil memeluk bobo. Menatap keadaan diri yang compang-camping serta memilukan.
Mata bengkak karena menghabiskan air mata begitu dalam. Rambut berantakan tidak karuan seperti orang yang tak terurus. Baju berantakan seperti keadaan hatiku saat ini.
"Key,, kamu pasti bisa bangkit. Bersedih bukanlah jalan utama karena kamu perlu bahagia" Menarik nafas sedalam mungkin untuk menenangkan diri. Berkata dengan bayang-bayang cermin yang sudah tidak karuan.
"Bobo, kamu jangan tinggalin aku ya" Memeluk erat pada bobo yang selalu menemaniku. Berharap bobo tidak pernah pergi dan selamanya bersamaku. karena dia satu-satunya yang membuat aku ingat kehadiran ibu.
Lalu aku pergi ke kamar mandi, membersihkan diri dan merubah untuk menjadi terlihat segar. Menghilangkan sedikit demi sedikit rasa sakit yang ibu tinggalkan. Membuat senyum yang aku paksakan dengan tanganku sendiri. Menjadikan diri ini kuat dan semakin kuat untuk tidak terus menangis.
"Kamu gak boleh cengeng key, Allah masih mengirimkan orang baik kok" Ucapku sambil sesekali menyeka air mata yang menetes. Bersama guyuran air, air mata itu juga larut di dalamnya. Ikut terbawa arus ke tempat pembuangan akhir. Aku juga berharap sedihku pergi membawa luka yang terlalu dalam.
Selesai mandi, aku kembali duduk di dalam kamar. Melihat dinding-dinding tebal yang menatapku dengan bisu. Ku belai lembut dengan rasa cinta lalu tangan ini memukul kembali dengan rasa kesal.
*brukk, brukkk*
"Hhmmmmmffuuuuu" Menarik nafas lalu menghembuskannya.
"Ternyata sakit juga ya, tapi lebih sakit hatiku sih" Melihat tangan yang sudah merah dan lebam. Bila dipegang akan terasa sakit karena berbenturan dengan benda keras.
Memang aku bodoh memukul dinding tapi menurutku inilah jalan terbaik. Daripada aku lari dari keadaan dengan cara terjerumus dalam dunia kejam. Seperti miras, narkoba dan banyak lagi lainnya.
Sempat berfikir untuk menyelesaikan hidup tapi aku tau bahwa hidup hanya sementara yang Allah titipkan. Untuk saat ini aku tidak ingin, entah esok hari ataukah nanti semoga aaja tidak. Aku juga tidak mau jadi hantu penasaran karena mati konyol. Lebih baik menjalani dengan keadaan sebenarnya serta menerima semua dengan lapang dada.
3 hari berlalu, waktu demi waktu aku lewati. Dan Bu Yanti sering mengirimi aku makanan. Padahal aku masih memiliki uang untuk membeli bahan makanan dan bisa memasaknya sendiri. Setelah 3 hari aku tidak sekolah, dan hari ini memberanikan diri untuk berangkat sekolah lagi.
Berharap mendapatkan kebahagiaan di sekolah dan menghilangkan hatiku yang letih. Sekarang tempat pamit ku adalah Bu Yanti, seorang tetangga sekaligus menjadi ibu angkat bagiku.
__ADS_1
Sebenarnya Bu Yanti mengajakku untuk tinggal dirumahnya, tapi aku memilih tinggal disini sendiri saja. Berulang kali kata itu ia keluarkan dan berulang kali juga aku menolaknya.
Karena setiap sudut ruangan rumah ini terdapat banyak kenangan. Berbagai macam warnanya, ada bahagia, sedih, harmonis, kehangatan dan masih banyak lagi.
Berjalan sendiri ke sekolah setiap hari. Menikmati pagi yang indah, tapi kali ini hanya diam dan merenung saja. Sesampainya di sekolah aku duduk dan diam. Mendengar ocehan Yuri yang sangat berisik bersama teman-temannya. Menunggu Ari yang belum datang juga.
"Keyyy," Ari datang dan langsung berlari ke arahku. Dia memeluk erat seperti tidak bertemu selama beberapa tahun saja. Padahal hanya 3 hari aku tidak masuk sekolah.
"Kamu sakit lagi? " Tanya Ari dengan tatapannya yang khas. Aku hanya mengangguk dan tersenyum untuk memberi isyarat.
"Kamu sakit apa? "
"Aduhh" Ari tidak sengaja memegang tanganku yang bengkak. Karena setiap malam aku selalu melampiaskan nya ke dinding jadi bengkak yang ada di tangan masih ada dan selalu membekas.
"Ini kenapa key? " Aku hanya diam.
"Palingan jadi preman di pasar" nynyiran dari mulut Yuri kembali keluar.
\*gubrak\* tanganku kembali memukul meja. Seketika Yuri terdiam dan berhenti berbicara.
"Udah key, mulut Yuri memang minta di kunci" Ucap Ari sambil menenangkan aku.
"Oh iya key, aku audah menulis catatan buat kamu di pelajaran kemarin jadi bisa kamu pelajari yah karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas"
"Makasih ya ri" Jawabku singkat
\*Kringggg\* pelajaran jam pertama dimulai seperti biasa. Tanya jawab dilakukan selama di kelas tapi masih saja Ari yang selalu menjawab dengan benar. Sedangkan aku masih tetap diam mendengarkan dan akan menjawab sebisaku.
Aku pikir yang paling bodoh di kelas ini adalah aku, ternyata masih ada Yuri serta gengnya yang sama-sama bodoh. Ternyata penampilan cantik tidak menjamin dia pintar. Penampilan Yuri yang selalu terlihat mewah, berbanding terbalik dengan otaknya yang sederhana.
Perkalian kecil saja dia susah untuk mengerjakan, apalagi matematika tentang al-jabbar mungkin sudah memasuki mode stres. Ditambah lagi pitagoras, bisa gila kepala Yuri.
Setelah pelajaran selesai, bel istirahat berbunyi. Ari mengajakku ke UKS, katanya ingin mengobati tanganku yang sedang terluka. Sesampainya disana ia langsung dengan cepat mengambil kotak p3K. Memberi salep pada luka lebam di tangan, lalu membalutnya dengan perban.
Aku hanya terdiam dan menikmati persahabatan layaknya keluarga. Setelah itu kami pergi ke kantin, kali ini aku bisa makan di kantin karena uang ibu. Aku mencoba menerima uang itu karena untuk biaya kehidupan ini. Aku tidak mau bergantung terus sama Bu Yanti, dan suatu saat nanti akan aku kembalikan semua uang Ibu di saat aku sudah sukses.
"Hmm Ari, bisa gak ajarin aku untuk belajar karena sebentar lagi ujian semester"
__ADS_1
"Bisa banget dong key" Jawab Ari menyetujuinya sambil menikmati semangkuk bakso.
"Kapan kita bisa mulai key? "
"Kapanpun dan dimanapun aku siap ri, asalkan aku bisa merubah nilai-nilai ku yang jelek" Aku ingin menjadi orang yang berguna nanti. Dan aku akan belajar lebih keras untuk memperbaiki nilai ku yang jelek. Agar nanti bisa aku gunakan sebagai jembatan menuju kesuksesan.
Tidak salah aku memilih teman seperti Ari, selain dirinya pintar tapi dia juga pengertian. Sahabat satu-satunya yang selalu mengajariku tanpa kenal lelah. Setiap pulang sekolah aku belajar di sekolah dengan Ari. Sedangkan dia ijin pada ayahnya katanya ada les tambahan padahal dia mengajariku untuk memperbaiki nilai.
Lalu sorenya aku berlatih bola sendirian di rumah, hingga tidak ada waktu untuk bermain di lapangan ataupun bermain di jalanan bersama riki. Saat malam aku akan belajar lagi untuk persiapan besok pagi agar pada saat ujian aku bisa menjawabnya dengan baik dan benar.
Hari demi hari aku lewati, hingga 2 minggu lamanya. Sedikit demi sedikit aku melupakan rasa sakit yang ibu buat padaku. Nilai ku juga berangsur-angsur menjadi baik dari nilai sebelumnya. Ranking kelasku juga ada peningkatan.
Meskipun belum masuk 10 besar, setidaknya sudah memasuki 15 besar. Dan skil bolaku setiap hari aku asah seperti yang David ajarkan. Aku yakin suatu saat akan melupakan masa-masa kelam dan bangkit untuk merajut masa depan yang indah.
Suatu hari pada minggu pagi, aku menyusuri jalanan dan menuju tempat riki berjualan. Disana aku bertemu dengan riki dan Pak Abu. Aku bercerita bahwa saat ini tidak akan berjualan koran lagi karena akan fokus belajar dan bermain bola.
Aku berjanji pada mereka berdua, aku akan bermain disini walaupun sudah berhenti menjajakan koran. Aku juga berjanji, bahwa suatu saat nanti jika sudah sukses maka aku akan mentraktir mereka makan enak di tempat yang mereka inginkan. Karena selama aku dijalanan, riki dan Pak Abu yang selalu menjagaku baik susah maupun senang.
Selanjutnya aku mengambil bola dan sepatu, mencoba kembali merumput di lapangan. Bermain skil yang aku asah sendiri di rumah. Ditemani sinar jingga yang menyala di pagi ini.
Melakukannya sendiri dengan apa yang sudah di ajarkan. Memang dia bukan pelatih, tapi setidaknya David memberikan ilmu padaku setelah dia mendapatkannya dari pelatih.
"Huhh,, lumayan capek juga" Aku berteduh di bawah pohon setelah berlatih sendirian dan cukup lama.
"Key" Aku langsung menoleh ke arah suara
*critttt* rem David yang cukup tajam membuatnya berhenti tepat di smpingku.
"Gila, kamu kemana aja" Langsung merobohkan sepeda dan bergegas menghampiriku.
"Aku belajar untuk ujian" Jawabku tenang
"Oh iya, aku lupa kalau kita ujian. Tapi latihan ku tidak pernah libur dan saat aku mencarimu, tidak pernah aku temukan"
"Ya karena aku tidak datang" David tertawa kecil mendengar ucapanku.
David berkata bahwa sempat mencariku di tempat persimpangan kampung. Dimana ia sering menurunkan aku disana saat selesai bermain bola. David juga bertanya rumahku pada warga yang ada disana, tapi tidak ada yang mengetahui.
Bagaimana bisa warga disana mengetahui tentangku, dekat saja mereka tidak mau apalagi kenal dengan keluargaku. Uppsss, aku lupa bahwa aku tidak memiliki keluarga. Akhir-akhir ini aku sudah nyaman dengan kesendirian.
Aku rasa hidupku sudah damai dengan keadaan tanpa harus memanggil Ibu untuk kembali. Setidaknya ada uang yang Ibu kirimkan untuk sekolahku meskipun wajahnya lagi tak nampak dihadapanku.
"Yaudah, suatu saat aku akan ajak kamu main di rumahku tapi tidak sekarang"
"Yesss" tawanya bahagia saat aku berencana mengajaknya kerumah.
"Oh iya key, gimana perkembangan bolamu"
"Alhamdulillah aku sudah bisa mengusai pelajaran yang kamu berikan" sedikit demi sedikit aku bangkit dengan menunjukkan skil pada David.
"Wah, gokil banget key. Kamu gak mau apa mencoba skil itu dalam pertandingan"
"Pertandingan" Ucapku heran, karena selama ini aku belum pernah berfikir untuk memasuki pertandingan bola
"Iya pertandingan tarkam"
"Tarkam itu apa? " Tanyaku yang tidak tau tentang tarkam. Dengan sabar David menjelaskan pertandingan di tarkam.
__ADS_1