
Aku selalu berdoa agar nanti bila sudah merumput kembali, performa aku masih sama dan tidak berubah. Aku juga berlatih sendiri agar bisa berjalan tanpa bantuan tongkat.
Setiap berangkat pagi ke sekolah masih diantar oleh bapak. Aku sudah tidak mau diantar kak Dika, karena setiap pagi dia selalu menanyakan perasaanku. Aku tidak ingin menjadi tambah dekat dengannya karena aku tidak mau ada salah paham diantara kita yang membuat Yuri akan membenciku.
"Ari" Aku memanggilnya dari kejauhan, dia sedang berjalan sendiri di depanku.
"Eh key, sini" Sahutnya ramah dan dia berbalik menungguku. Aku bergegas kearahnya dengan berjalan secara perlahan.
"Hati-hati, kakimu masih sakit"
"Iya iya, ini aku sudah hati-hati kok" Kami berjalan berdua menuju ke kelas.
*prak*
"Aduh" Aku terjatuh dan tergelatak diatas tanah, saat ada anak yang berjalan dan dengan tidak sengaja dia menyenggol ku. Dengan segera dia langsung menolongku begitu juga dengan Ari yang bergegas menolongku.
"Maaf, maaf" Ucapnya dengan tatapan bersalah.
"Gapapa, kok" Aku tersenyum menanggapinya sambil berusaha berdiri.
Aku menatapnya dengan asing, karena sebelumnya aku tidak pernah mengenal wajah ini. Sepertinya dia anak baru.
"Kamu anak baru ya? " Tanyaku
"Iya aku anak baru" Jawabnya
"Hmm, kenalin aku Key dan ini sahabat aku Ari" Kami berdua bersalaman untuk memperkenalkan diri masing-masing.
"Aku Renata Agatha Swara, kalian bisa panggil Rena"
"Oh Rena" Ucapku dan Ari secara bersamaan. Ternyata namanya Rena sangat cantik seperti orangnya. Dari tutur bicaranya dia adalah anak baik.
"Iya, aku mau cari ruang kepala sekolah tapi gak tau dimana. Apakah kalian bisa membantuku? "
"Boleh, boleh, ini Ari bakalan membantu kamu mencari ruangan tersebut soalnya aku lagi sakit jadi gak bisa bantu" Aku mendorong Ari agar dia mau mengantar Rena.
Lagi pula mata Ari terlihat lain saat menatap Rena. Bagaimana bisa paras yang cantik seperti Rena tapi Ari tidak menyukainya, itu tidak mungkin. Aku yakin Ari menyukainya saat pandangan pertama.
Sedangkan aku berjalan sendiri menuju kelas dan Ari berlalu bersama Rena untuk mencari ruangan kepala sekolah. Duduk di dalam kelas dan melihat Yuri yang sedang melamun. Entah apa yang dia lakukan, sepertinya pikirannya penuh antara kebahagiaan dan rumitnya kehidupan.
*brak*
"Astaga" Yuri terkejut saat aku menggertak meja di depannya.
"Key, ngagetin aja"
"Mukanya serius amat mbak, sampai-sampai lupa kalo sahabatnya datang" Aku menertawai nya tapi dia hanya diam.
"Key, aku mau curhat"
"Hmmm, curhat apa nih" Sambil mengejeknya
"Tentang kak Dika" Ucapnya. Yuri selalu nyaman curhat denganku tentang apapun itu, kadang kita saling berbagi cerita antara Yuri, aku dan Ari.
Tapi semenjak aku cidera kami jarang kumpul di rumah Ari. Palingan mereka yang berkumpul kerumahku tapi tidak enak hati untuk curhat karena ada mbak Yeni dan mbak Nike, jadinya mereka malu. Hanya bisa curhat di sekolah asalkan tempatnya sepi dan berbisik.
Suasana kelas masih tidak ramai, teman-teman masih banyak yang belum datang. Yuri bercerita padaku tentang kak Dika. Katanya dia bahagia bersama kak Dika, karena kak Dika selalu mengajaknya keluar meskipun hanya sekedar makan saja. Kadang juga kak Dika mengajaknya untuk jalan-jalan mengelilingi kota walaupun tanpa tujuan yang penting Yuri bahagia.
"Bagus dong, jadi kalain bisa menjadi dekat. kalau bisa kalian jadian lah"
"Tidak key, belum bisa. karena ada hal besar yang sedang aku pikirkan" sahutnya pilu dan wajahnya mendadak layu.
Pikirannya bercerita tentang suasana keluarga yang sedang dia jalani, yaitu papa dan mamanya memutuskan untuk bercerai. Hal tersebut karena orang ketiga yang membuat hubungan mereka menjadi renggang.
Yuri adalah anak pertama dari 2 bersaudara, yang Yuri pikirkan adalah adiknya. Yuri tidak merasa berat hati walaupun tidak mendapatkan kasih sayang dari keduanya tapi yang ada dipikiran Yuri hanyalah 1 yaitu kebahagiaan adiknya.
"Benarkah? " Yuri mengangguk, sedangkan hal itu membuatku terkejut. Bagaimana bisa hal itu terjadi. Perceraian memang tidak baik untuk mental anak-anak. Dan aku sangat membenci mendnegar hal tersebut.
Kali ini aku benar-benar tau masalah Yuri, pantas saja aku tidak pernah melihat papanya yang menjemput Yuri. Selalu saja mama Yuri yang menjemputnya. Apalagi akhir-akhir ini Yuri terlihat sangat murung. Ternyata itu masalahnya, perpecahan tumah tangga.
"Mau peluk aku? " Yuri mengangguk, lalu dia menangis di pelukanku.
__ADS_1
"Menangislah sejadi-jadinya, asalkan setelah itu kamu menjadi kuat ya" Aku memeluk erat dengan kasih sayang.
Aku tau rasanya ditinggalkan seorang ayah apalagi ditinggalkan seorang ibu. Semuanya seakan hancur, bahkan dunia pernah tidak bisa memberiku hiburan dan kebahagiaan saat mereka pergi. Tapi aku tidak ingin semuanya terjadi pada Yuri sahabatku. Cukup aku saja yang merasakannya.
"Key" Ari datang dan langsung menghampiri kami.
"Yuri kenapa? " Wajahnya bertanya-tanya dengan tatapan khawatir. Kami sudah seperti keluarga, jadi bila ada masalah satu maka yang lain akan ikut merasakannya.
"Yuri... " Aku terdiam lalu. Membisikkan sesuatu pada Ari. Aku menceritakan sedikit tentang Yuri dan keluarganya. Ari mengangguk mengerti lalu mencoba melakukan sesuatu untuk menghibur Yuri.
"Yuri, Yuri, jangan menangis dong. Oh iya mamaku rencana mau ajak kita kemah sambil berkebun di liburan semester ini" Yuri langsung melepaskan pelukannya padaku. Tangannya sibuk menyeka air mata yang menetes deras. Bajuku basah tapi aku hanya memilih tersenyum saja.
"Benarkah? Ucapannya lirih, Yuri sangat suka berkemah dan berkebun. Jadi Ari mengatakan hal itu. Aku pikir dia hanya berkata bohong saja untuk menghibur Yuri. Ternyata Ari berkata benar dan dia juga menjelalsan padaku bahwa mama dan papahnya sudah memiliki rencana itu jauh sebelumnya.
"Beneran ri? " Ucapku dengan tatapan tidak percaya
"Iya bener key"
"Tapi... Kakiku" Suaraku langsung mengecil saat melihat kondisi ku belum sepenuhnya sembuh.
"Tenang saja, kan masih ada aku yang membantumu berjalan" Ucap Ari meyakinkan. sedangkan Yuri kembali tersenyum dan memeluk Ari sebagai ucapan terimakasih,
"Oh iya, nanti sore aku mau periksa ke dokter dulu. Di pemeriksaan terakhir kemarin dokter bilang kalau kaki sudah membaik, hanya saja perlu belajar dan terapi lagi untuk sepenuhnya berjalan tanpa menggunakan tongkat. Aku berharap pemeriksaan nanti aku sudah berjalan dengan lancar tanpa tongkat"
"Benarkah? Aku ikut senang mendengarnya" Wajah Yuri kembali tersenyum sumringah walau hatinya sedang sedih tapi dia menampakkan senyum saat mendengar kabar gembira dariku. Apalagi Ari juga ikut tersenyum mendengarkan hal ini.
"Pas sekali key, semoga saja kamu sembuh dan kita bisa melanjutkan rencana berlibur"
"Hore, hore, hore" Kami bertiga malah asik sendiri dan bergembira sendiri di belakang.
*tettttttt* bel masuk berbunyi, semua bersiap diri untuk mengikuti pelajaran jam pertama.
"Pagi anak-anak, kali ini ada murid baru yang akan masuk ke sekolah ini" Saat murid itu masuk, Ari dan aku langsung mengenalnya. Ternyata itu Rena yang tadi pagi bertemu dengan kami.
Rena mengenalkan diri ke seluruh kelas. Wajahnya yang cantik menjadi rebutan teman-teman lelaki yang ingin duduk dengannya. Tapi dia memilih duduk dengan Yuri. Karena hanya bangku Yuri yang kosong.
"Hay" Dia menyapa aku dan Ari, kami membalasnya dengan senyuman.
"Aku Renata Agatha Swara, kamu bisa panggil dengan nama Rena" Kami semakin akrab, tapi sepertinya Renata anaknya pendiam.
"Wah nama yang indah dan cantik"
"Terima kasih"
Saat jam istirahat kami ke kantin tapi Rena tidak ikut dia memilih untuk melukis sesuatu di kertas. Ternyata dia sangat suka dengan melukis, lukisannya indah dan sangat cantik. Tapi sayang dia suka menyendiri dan jarang berinteraksi dengan orang-orang di sekitar. Aku belum tau lebih jelasnya, tapi dia terlalu banyak diam.
Meskipun duduk dengan Yuri, Rena tidak pernah berbicara dengannya. Rena hanya mendengarkan apa yang perlu dia dengarkan, lalu dia akan mengerjakan apa yang perlu dia kerjakan. Selebihnya dia akan diam dan melukis sesuatu.
Sepulang sekolah aku pergi ke dokter bersama bapak, melakukan pemeriksaan dan syukur alhamdulillah dokter mengatakan kakiku semakin hari sudah semakin membaik. Disana dokter melakukan terapi dengan melepas tongkat yang aku pegang. Katanya aku harus berjalan tanpa menggunakan tongkat lagi. Meskipun jalanku masih pelan dan tertatih, tapi itu perlu di coba.
"Jadi mulai sekarang kamu harus berlatih tanpa tongkat dan harus dibiasakan"
"Baik dok, tapi apkah aku boleh jalan-jalan? "
"Boleh asalkan hati-hati"
Aku tersenyum bahagia mendengarkan penjelasan dari dokter. Sebentar lagi aku bisa bermain bola kembali.
Dirumah aku mengumumkan pada ibu, mbak Nike dan mbak Yeni. Bahwa aku akan bisa bermain bola lagi. Aku juga membeli makanan untuk merayakan syukuran kecil-kecilan. Kebahagian tercipta karena kebersamaan, hingga saat ini keluarga disini adalah keluargaku.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, ibu"
"Waalaikumsalam, bagaimana kata dokter dan bagaimana kakimu. Apakah sudah sembuh atau masih harus perawatan lagi"
"Ibu, key mau jawab yang mana dulu kalau ibu terus bertanya" Ucapku saat dilempar pertanyaan begitu banyak dari ibu.
"Iya nih ibu, key baru saja datang udah dilemparin banyak pertanyaan" Sahut mbak Nike yang berdiri di samping ibu.
"Heheheh, iya iya maaf" Ibu tertawa geli atas pertanyaannya sendiri.
"Jadi gini bu....... " Aku menceritakan semuanya pada keluarga kecilku. Bahwa aku sudah boleh melepas tongkat tapi harus terus melakukan terapi sendiri baik di rumah ataupun di tempat terapi. Yaitu berjalan untuk merenggangkan otot-otot, meskipun masih sakit tetapi harus dipaksa agar terbiasa.
"Alhamdulillah" Ucapan syukur dari bibir ibu dan mbak Nike. Mereka langsung memelukku dengan bahagia. Mereka sangat menyayangiku, jadi aku merasa nyaman masuk di keluarga ini.
"Oh iya tadi ibu sudah masak banyak sekali, kamu mau makan di rumah atau disini" Tanya ibu padaku.
"Disini saja ibu, karena lebih rame" Sahut ku dengan gembira. Selanjutnya aku pulang terlebih dahulu dan berganti pakaian. Kemudian kembali lagi ke rumah ibu untuk makan bersama keluarga kecil mereka.
Sudah sebulan yang lalu aku kembali ke rumah. Walaupun keluarga ibu melarang, tapi aku tetap dengan pendirian ku untuk kembali pulang. Suasana disana sangat menyenangkan, tapi aku tidak boleh terus-terusan menumpang disana meskipun mereka sudah menganggpaku sebagai anaknya sendiri. Hatiku tidak terlalu nyaman, karena mereka akan membutuhkan biaya tambahan jika aku terus tinggal disana.
Terkadang aku juga tidur di rumah ibu bersama mbak Yeni dan mbak Nike hanya untuk sekedar menginap dan bercerita banyak hal. Sebenarnya aku ingin tinggal bersama mereka untuk selamanya, tapi dilain sisi mereka juga butuh tambahan ekonomi dan dilain sisi juga aku tidak rela meninggalkan rumahku yang penuh dengan kenangan yang sangat banyak.
Bila Yuri, Ari datang makan aku akan mengajak mereka ke rumahku. Kami akan bercerita banyak hal, seperti tidak ada habisnya walau bertemu sesering mungkin. Tapi jika kak Dika yang datang, mbak Yeni akan berkata bahwa aku sedang jalan-jalan. Padahal aku bersantai di rumah.
Makan malam sudah selesai, aku berpamitan untuk pulang. Aku sudah tidak menggunakan tongkat lagi, tapi mataku terus fokus saat berjalan. Dengan perlahan langkah demi langkah aku jejaki. Karena ibu tidak tega jadi dia mengantarku hingga sampai ke rumah.
"Hati-hati kalau jalan, nanti tidurnya jangan malam-malam dan jangan lupa baca doa" Setiap mengantarkan ku, pasti nasehat itu yang selalu diucapkan. Aku mengangguk mengerti lalu memeluknya seperti biasa.
"Terima kasih ibu sayang" Ucapku dengan senyuman sumringah
"Ibu pulang dulu ya" Ibu melambaikan tangannya lalu pergi berlalu untuk pulang. Aku tersenyum sambil melihat ibu pergi.
Di kamar aku selalu melemparkan semua kerinduan. Kepada siapapun itu aku ingin bicara, kembalilah orang-orang yang aku sayang. Aku sangat rindu dan benar-benar rindu.
Ayah bisakah engkau kembali, muncullah sebentar dan peluklah aku. Benar hariku telah kau lukai, tapi setidaknya tolong obati sedikit saja dengan wajah dari senyumanmu walau itu masih teras menyakitkan untuk tatapan mataku.
Ibu kemana lagi aku harus mencari, sebenrnya engkau ada disini tapi jejakmu tak dapat aku temukan. Ibu aku ingin bertanya banyak hal, tentang alamat yang mengatarkanku ke tempat yang menakutkan.
Aku juga ingin bertanya mengapa kau menghilang, apa mungkin engkau sudah memiliki tempat baru untuk berlindung. Atau bahkan yang lebih parah engkau sudah memiliki keluarga baru, banyak sekali pertanyaan yang melintas dibenakku. Tapi pada siapa aku bertanya bila tidak ada engkau di sisiku bu.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~