
Dokter melarang ku saat melihat langkah ini ingin turun dari ranjang tidur rumah sakit karena diri ini masih lemah. Dokter menyarankan aku untuk istirahat minimal 30 menit lalu aku boleh pulang. Dokter juga mengatakan bahwa orang tersebut juga sudah membayar semua biayanya.
"Apa dia benar-benar David" Tanyaku kembali muncul dalam pikiran ini. Karena saat aku menatap matanya seakan berkata bahwa ada cahaya yang sama seperti aku bersama David.
Tapi aku masih bimbang karena David tidak ada disini melainkan ada di luar negeri dan belum kembali serta tanpa kabar. Sejenak aku kembali memejamkan mata untuk terlelap walaupun sebentar saja.
"Dokter, apakah aku boleh pulang? "
"Silahkan nona, sepertinya dirimu sudah membaik. Apakah perlu kita antar dengan ambulan? "
"Tidak, tidak, aku bisa sendiri. Terima kasih"
Setelah itu langkahku pergi dan berjalan pulang dengan balutan perban yang menghiasi dikepala. Malam-malam begini mana mungkin ada angkutan, lebih baik aku naik ojek online saja agar nyaman dan cepat sampai ke rumah. Tapi tidak ada aplikasi, astaga aku lupa jika tidak memiliki ponsel. Terpaksa aku segera naik ojek di pangkalan yang ada di seberang jalan.
Sesampainya dirumah, disana sudah ada ibu dan bapak dengan wajah cemas. Mereka kebingungan mencariku karena sudah malam tidak pulang. Ini salahku karena berpamitan untuk membeli makanan tapi ternyata tidak kembali, karena yang sebenarnya adalah aku mencari ibu.
"Astaghfirullah, kamu kenapa kepalanya nak" Ibu panik saat melihat balutan perban di kepala. Dia langsung memelukku dengan kasih sayang. Matanya berkaca-kaca saat melihatku.
"Tidak apa-apa bu, key hanya jatuh tadi" Alasanku kembali muncul agar ibu tidak semakin khawatir dan resah padaku.
"Ayo masuk, kamu harus istirahat dulu" Kami berdua masuk kedalam rumah. Sedangkan Bapak langsung pulang. Lagi-lagi malam ini ibu menemaniku hingga terlelap dalam dekapannya yang hangat.
Esoknya aku pamit berangkat ke sekolah. Seperti biasa menuju ke halte, menyapa Riki dan pak Abi sambil menunggu angkot. Rindu rasanya ingin bermain dengan mereka. Selama ini kesibukan ku sekolah bahkan bertanding, waktuku tertutup untuk bersama mereka. Hanya berpamitan dengan senyum lalu berangkat sekolah. Sorenya pasti sama dengan tatapan menyapa lalu kembali pulang. Begitulah seterusnya yang aku rasakan, rindu mengulang masa-masa bersama mereka.
Sesampainya di sekolah aku menatap sekeliling yang masih sepi. Masuk ke dalam kelas sambil memegang foto yang berisikan alamat semalam. Pikirku melayang terbang, tempat itu sangat menakutkan bagiku. Aku pikir bisa menemukan ibu tapi ternyata aku menemukan keburukan disana.
"Siapa ya lelaki tadi malam? " Pikiranku terjerat dalam lamunan ini yang kembali berkeliling. Mengitari harapan yang masih menunggu David. Tapi yang jelas itu pasti bukan David karena sudah lama tidak ada kabar dia di luar negeri.
"Bu, tega sekali dirimu. Memberikan rindu yang membelenggu hidupku. Bibirku terus berkata membencimu, tapi bohong bila hatiku juga ikut membencimu" sedih kembali datang bila ingatanku menjerat nama seorang ibu.
"Pagi keyyyyyy"
"Hey ngelamun aja kamu key" Ari dan Yuri datang bersamaan. Aku terkejut dan langsung menyembunyikan foto yang ada ditangan. Aku segera memasukkannya kedalam tas agar mereka tidak mengetahui nya.
"Pagi, hehe" Aku mencoba tertawa pada mereka untuk mengatakan bahwa baik-baik saja.
"Apa yang kamu sembunyikan key" Ucap Yuri dengan tatapan curiga.
"Oh ini, anu itu e... Iya iya buku iya buku" Jawabku berbohong lagi
"Oh iya, apakah nanti kamu berlanjut latihan" Tanya Ari padaku.
__ADS_1
"Aku tetap latihan, soalnya coach Alam bakalan ngelatih kami lagi. Dia akan berusaha sekuat mungkin untuk memenangkan pertandingan"
"Syukurlah" mereka berdua ikut senang mendengar ucapan dariku.
"Nanti aku bakalan dispen jam pelajaran untuk latihan" Ucapku sambil menjelaskan sedikit.
"Oke siap bos, biar aku kasih kamu catatan buat disalin ya" Ucap Ari dan Yuri mengikutinya.
"Oke, terimakasih sahabat-sahabat aku tersayang" Selama aku disoensasi untuk latihan sepak bola, mereka selalu memberiku catatan pelajaran yang sedang aku tinggalkan.
Mereka sangat kompak, terkadang Yuri dan Ari membantu untuk menyalin catatan tersebut. Terkadang juga mereka memberiku catatan dan aku yang menyalin semuanya di rumah. Aku sangat sayang pada mereka. Di bibir mereka selalu membantuku untuk terus berlatih agar menjadi pemain hebat. Mereka satu-satunya sahabat yang sangat aku cintai. Suatu saat aku akan membawakan kebahagiaan lebih bagi mereka berdua.
Saat jam pelajaran dimulai, aku meminta ijin untuk melakukan latihan di lapangan belakang. Seperti biasa kami berlatih dengan diawali pemanasan untuk meregangkan otot-otot yang kaku. Lalu berlanjut lagi melakukan latihan taktik yang diajarkan oleh coach Alam. Setelah latihan makan akan ada pemberian arahan bagi seluruh pemain yang ada.
"Kali ini saya memiliki harapan besar dari kalian, permaian yang baik dan bisa menang. Itu saja, dan jangan sampai kalian memiliki tekanan dalam bertanding"
"siap Coach".
Waktu cepat berlalu, pertandingan telah tiba. Kami semua berangkat ke tempat pertandingan itu diadakan. Bersemangat dan tidak lupa berdoa sebelum berangkat. Berharap pada sang lencipta untuk kemenangan hari ini.
Kali ini kepala sekolah juga ikut menyaksikan pertandingan, beliau juga mempercayakan semuanya pada coach Alam. Aku yakin coach Alam kan melakukan yang paling terbaik untuk kemenangan.
"Bismillah" sambil menutup mata sejenak, aku mengucap basamalah sebelum masuk ke tempat pertandingan.
Memasuki ruang ganti, diberikan arahan dan melakukan doa bersama demi kelancaran. Kali ini coach Alam memainkan aku di menit-menit pertama. Hatiku sangat senang karena bisa tampil kembali dan bermain di menit pertama.
Saat kami memasuki lapangan pertandingan, semua bersorak gembira. Para siswa juga banyak yang datang untuk menonton tim kebanggaan yang membela sekolahnya. Aku melakukan pemanasan kecil lalu memasuki lapangan dengan sepenuh hati. Apapaun hasilnya aku akan bermain dengan hati yang penuh dengan api semangat. Tak akan mampu seseorang yang ingin memadamkannya.
*pritttt* pertandingan dimulai.
Tidak perlu melihat siapa lawan yang dihadapi, rangking berapa lawan tersebut, berapa besar kekuatannya. Tapi yang diperlukan jika sudah masuk lapangan adalah bagaimana caranya bangkit bila terjatuh, bagaimana menjaga mental saat ketinggalan poin dan yang paling penting bagaimana kita terus berjuang sampai deraian keringat mengalir tiada habisnya.
"Hey... " teriak Coach alam dari pinggir lapangan sambol memberikan intruksi berupa gerakan tangan.
Di babak pertama sangat menyenangkan, kami saling beradu serangan demi serangan. Kaki ini akan mengikuti intruksi yang diberikan coach Alam. Mendengarkan semua arahan agar bisa meraih kemenganan. Tidak ada kata egois, tidak ada kata memenangkan nama sendiri. Yang ada hanyalah kemenangan bersama.
Di menit ke 25 kami berhasil membobol gawang lawan dengan kerja sama yang sangat apik. Tendangan Ika tidak bisa di tepis oleh penjaga gawang. Skor sementara 1-0 untuk kemengan kami. Sorakan yang sangat riuh menguasai lapangan pertandingan. Lenting bersorak semangat agar kami tetap membara.
"Golllllll gollll" semua bersorak dan melakukan selebrasi sebentar kemudian kembali ke posisi masing-masing.
Di menit-menit akhir babak pertama kami bisa menambah keunggulan sementara menjadi 2-0. Gol kembali terjadi karena sepak pojok yang aku lakukan dan dapat di eksekusi dengan mudah oleh sundulan Fara yang saat itu berdiri bebas di depan gawang.
"Golllll" teriakan itu kembali terdengar. Wajah kami snahat bahagia dan melakukan selebrasi bersama-sama.
Kemenangan kami sangat membuat semangat pada tim. Semua bersorak gembira karena kemenangan yang didapatkan. Akan tetapi kegembiraan kami disambut amarah oleh pemain lawan. Permainan mereka di menit-menit akhir pertandingan babak pertama semakin keras. Banyak tackel liar yang dilayangkan, sepertinya ini bukan untuk nerebut bola tapi ingin menciderai lawan.
__ADS_1
*pritttt* hingga babak pertama usai, skor masih smaa 2-0. Kemengan sementara didapatkan oleh tim kami. Di dalam ruangan ramai dengan sorak-sorak semangat. Lalu duduk tenang dan beristirahat sambil mendengarkan arahan yang diberikan coach Alam.
"Permainan kali ini cukup baik, tapi lini belakang masih ada kekosongan. Tolong jangan sampai mereka lolos dari hadangan kalian. Kali ini jangan pernah bermain kasar, bermainlah dengan hati. Kalian tidak boleh menciderai lawan karena kita sama-sama harus menghormati sesama pemain"
"Siap coach" Kali ini aku sangat setuju dengan arahan yang diucapkan coach Alam. Arahan ini adalah ucapan baru untuk semangat kami dan profesional saat menghadapi situasi di dalam lapangan.
"Kalian harus bermainlah dengan ngotot. Jangan sampai permainan kalian kendor. Jaga pertahana dan tanggung jawab masing-masing. Gunakan taktik yang sudah saya ajarkan. Jaga kemenangan kita hingga pluit babak terakhir dibunyikan"
"Siap coach"
"Satu lagi, pemain lawan mengincar Key, Rega, dan Fara. Permainan kalian yang bagus membuat tim lawan selalu mengincar untuk menciderai kaki kalian. Jadi tolong waspada jangan sampai terbawa emosi. Main yang tenang dan hindari saat mereka menatap mangsa"
"Baik coach"
Aku mengerti sekarang, mengapa mereka selalu mengincar ku saat di dalam pertandingan. Bahkan ada beberapa yang menjaga ketat pergerakan ku, Rega dan Fara. Aku juga harus waspada, karena mereka sudah memperlihatkan permainan kerasnya saat tim kami sudah unggul 1-0.
"Coach, kenapa saya tidak bermain" Tanya Ana dengan wajah yang kesal karena belum nendapatkan menit bermain hingga babak pertama selesai.
"Tunggu, nanti ada waktunya"
"Lagian permainan saya lebih baik dari Key"
"Cukup Ana, tolong hargai keputusan saya" Wajah Ana semakin kesal dan dia memalingkannya dengan keras dari tatapan coach Alam.
Istirahat selesai, waktunya untuk memasuki lapangan dengan permainan yang baik. Saat peluit pertama dibunyikan, aku berhati-hati dengan ucapan yang dikatakan coach Alam. Permaian mereka juga semakin ganas dan liar. Sepertinya mereka marah karena kekalahan dan berusaha merebut bola dengan kekerasan.
Benar saja, di babak kedua banyak pelanggaran yang terjadi. Mereka semakin ngelunjak dan terus-terusan bermain kasar. Sedangkan coach Alam di luar lapangan berteriak agar kami fokus dan tenang.
"Fokus, dan tenang" gerakannya mengatakan untuk menjaga hati dan tenang karena pelanggaran yang dibuat secara bertubi-tubi.
Ketenangan dan kesabaran dari tim kami saat menyerang membuahkan hasil. Tepat di menit 67 kami menambah gol ke gawang lawan. Skor menjadi 3-0 kemenangan sementara bagi tim kami. Akan tetapi kemenangan ini membuat para pemain tim lawan naik pitam. Mereka melakukan banyak sekali pelanggaran dan kekerasan. Sepertinya mereka bermain kungfu bukan bola.
"Key naik, naik" Teriak coach Alam yang menyuruhku untuk naik membantu serangan.
Saat ini bola berada di kakiku. Aku mencoba meliuk-liuk membawa bola untuk bisa lolos dari 2 pemain belakang lawan. Tapi sungguh malang nasibku, tendangan dari tim lawan berhasil menciderai kaki ini.
*blakkk*
"Aduhhhhhh" Teriak kesakitan. Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pertandingan. Saat aku terjatuh, wajah mereka melemparkan senyum licik padaku. Aku terus menjerit kesakitan sambil memukul-mukul tanah lapang.
"Aaaaaaaaaaa" Sakit tidak kunjung membaik. Tim medis memberikan syarat bahwa aku harus ditarik keluar karena tidak bisa meneruskan pertandingan. Ana menggantikanku untuk bermain di sisa menit terakhir. Aku dibawa ke ruang pengobatan dan langsung ditangani oleh dokter yang bertugas.
"Sepertinya cidera kamu cukup parah" Dokter mencoba menjelaskan tentang kecelakan yang aku alami.
"Maksudnya dok? "
"Cidera engkel yang cukup parah, butuh terapi dan latihan untuk pulih dan kamu harus menepi dari lapangan beberapa bulan terlebih dahulu"
"Saya tidak bisa bermain lagi dok? "
"Masih bisa dengan pengobatan dan terapi yang rutin" Keputusan yang sangat mengecewakan ku. Aku harus menepi dari lapangan karena cidera yang aku alami. Sepertinya memang harus istirahat terlebih dahulu karena cidera yang cukup parah.
"Aaaaaaaaaaa" teriakku dengan kesal.
*brak, brak* aku meluapkan kekesalan saat dokter pergi ke luar untuk mengambil obat. Aku benci dengan diriku sendiri karena tidak bisa mencegah mereka yang sedang mengincar ku. Padahal coach Alam sudah memberitahu tapi aku tidak hati-hati.
Tidak lama kemudian, dokter membawa obat-obatan dan perban. Perban itu dia balutkan ke engkel ku yang sedang cidera untuk mengurangi rasa sakit. Saat ini kakimu saat sakit untuk digerakkan. Dokter menyarankan aku untuk istirahat sejenak dan menunggu coach Alam menjemputku.
__ADS_1