
Tidak lama kemudian kami sudah duduk di meja. Adit memesan makanan yang dia inginkan. Saat dia bertanya padaku, aku menjawabnya terserah Adit saja. Lagipula aku sudah tidak nafsu makan gara-gara melihat David.
"Makanlah"
"Hmmmm" Entah kenapa malam ini pikiranku tidak beraturan.
Mengapa harus David dan mengapa dia secepat itu melupakan aku. Sepertinya aku harus segera melupakannya. Melihat mereka berdua rasanya hatiku sangat panas
"Key" Aku terkejut saat David menghampiriku. Dia masih bersama Adel yang selalu bergelayut manja pada lengan David.
"David" aku beranjak dari tempat duduk.
Mengapa aku selalu bertemu dengan mereka. Apakah dunia sesempit ini sehingga tidak ada lagi tempat singgah bagi mereka berdua.
"Sekarang aku tau alasanmu meninggalkanku. Jadi cowok ini Key? " Wajahnya menampakkan kekesalan saat melihat Adit yang duduk di depanku.
"Apa maksudmu, dia Adit temanku dan tidak ada hubungannya antara aku dan kamu tentang pertemanan ini bukan? "
"Jelas ada, kamu melepaskan kalung pemberianku. Dan sekarang kamu semakin jauh denganku. Kamu juga memblokir semua nomor ponselku Key. Lalu apa lagi yang aku lihat sekarang, kamu berjalan dengannya terlihat lucu bukan? "
David terus menghakimiku seakan-akan dia merasa paling benar. Dia terus memojokan Adit dan juga aku. Memang aku berjalan dengan Adit tapi bukan berarti menghilangkan David dalam hatiku. Pikiranku terus bercerita tentangnya.
"Sudah?, sudah selesai. Kita tidak pernah ada hubungan apapun. Kita hanya sebatas teman bukan? Lantas apalagi yang engkau harapkan padaku vid? "
"Key, aku menyukaimu"
"David" Bentak Adel kesal ang ada di sampingnya. Tangannya berusaha menutup mulut David agar tidak menyatakan cintanya padaku, namun David melemparkan tangan itu.
"Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu Vid, tapi semuanya sudah terlambat. Dan mungkin bibirku telah lelah untuk menceritakan banyak hal itu. Adit ayo kita pergi dari sini" Aku menggapai tangan Adit dan segera beranjak pergi dari hadapan mereka berdua.
"Key tunggu, aku mau bicara"
"Oh iya satu lagi, aku kira kita sama-sama suka. Ternyata hanya aku yang menyatakan cinta sedangkan kamu tidak."
Ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku yang mencintainya dengan sungguh-sungguh, tapi dia merusak cinta itu dengan berjalan bersama Adel lalu menurutku berjalan dengan lelaki lain. Jika dikarakan, dia adalah pengecut yang hebat.
Hancur hatiku mengatakan hal itu. Sedangkan dia hanya tercengang melihatku, dan dengan pelukan Adel yang masih menempel. Apa ini yang dinamakan patah hati, patah sebelum menjalin hubungan.
"Malam ini aku benar-benar membencinya, dia Berkata tapi tidak mencari tau fakta. Aku benar-benar membencinya" gunamku dalam hati sambil berjalan dalam keadaan pilu.
Aku sudah muak melihat wajah Adel yang terus memaksa David untuk terikat dalam kehidupannya. sedangkan aku hanya bisa tersenyum, tertawa dan mengisahkan. Semua rasa itu disambung menjadi satu.
"Key tunggu" Telingaku sudah tertutup oleh teriakan David.
Aku memilih untuk pergi dari hadapannya. Daripada nanti menambah keributan yang sangat besar di tempat itu. Apalagi dia sebagai salah satu pemain yang banyak di kenal orang setelah ikut membela sang garuda waktu itu.
"Dia siapa? "
"Tidak tau, cepatlah aku sudah lelah ingin tidur"
"Iya" Adit melajukan mobilnya bersama serpihan hatiku yang kembali hancur.
Sesampai di rumah aku menemui ibu dengan tersenyum seperti tidak ada apa-apa. Setelah Adit pergi, aku berpamitan untuk pulang kerumah. Di sana aku melemparkan semua tubuh ini. David kembali membuatku menangis.
"Mungkin cukup disini antara aku dan kamu vid. Aku kira kita sama-sama suka ternyata hanya aku saja yang menyukaimu sedangkan kamu tidak"
Aku membersihkan barang pemberian David. Bola, sepatu, gelang dan baju yang pernah dia berikan sebelum terkenal menjadi punggawa timnas. Aku melepaskan apa yang bukan milikku walau dengan air mata.
Aku tau bahwa adel pernah berkata bahwa mereka sudah bertunangan. Setelah aku telursuri hingga sejauh ini, mungkin kata-kata nya benar karena David selalu menurut dengan apa yang dibicarakan oleh Adel.
Aku mengasingkan barang David ke tempat yang tidak terjangkau oleh tanganku. Barang yang tersimpan di lemari dan nakas kini beralih ke kolong tempat tidur untuk melupakannya.
POV DAVID
"Pulanglah, aku sudah mengantarmu bukan? "
"Aaa David, antarkan aku hingga ke dalam rumah ya" Rengekan adel membuat telingaku semakin panas. Karena dia hubunganku dengan Key menjadi berantakan.
"Apa kau belum puas menghancurkan hidupku, aku memiliki jalan hidup tapi karenamu papah mengaturnya sedemikian rupa" Nada suaraku yang tinggi membuat adel terdiam.
__ADS_1
Aku tidak ingin dekat dengannya, namun papa selalu mengancam agar aku selalu ada bersama Adel bukan bersama Key. Bahkan kedatangan Adel membuat papa semakin membenci Key.
Jika saja tidak ada ancam itu, maka aku akan terus mengejar Keyla hingga dia berada di sampingku. Tapi ancaman papa selalu menakutkan, karena menyangkut masa depan Key
"Tapi bukankah itu bagus agar kamu tidak bermain perempuan sepertinya. Apalagi dia anak orang miskin"
"Cukup Del, cepatlah keluar sebelum aku menyeretmu" Amarahku semakin memuncak saat Adel terus berkata buruk tentang Key.
"David, kamu jahat sekali" Dia terus saja merengek seperti anak kecil.
Tubuhnya segera beranjak dan keluar dari mobil tanpa sepatah kata lagi. Sedangkan matanya terus mengeluarkan air mata yang begitu deras.
*brak* dia menutup pintu dengan keras dan berlari masuk ke dalam rumahnya yang sangat mewah.
Dia terlalu dimanja oleh keluarganya sehingga apa yang dia inginkan harus diruruti. Termasuk menuntun papah dan pamannya untuk menuntun keluargaku agar aku terasa bagai burung dalam sangkar.
Memiliki ikatan tidak jelas, tidak di lepas dan tidak pula terbang bebas. Aku belum menemukan jati diriku sebenarnya karena terus saja dirundung ketakutan. Takut karir keyla hancur berantakan.
"Key, bisakah kita kembali seperti dulu lagi? Aku bodoh karena terus mendengarkan Adel, tapi ini demi kebaikanmu"
Dalam rasa pilu aku mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Biarkan bila ku mati disini karena otakku penuh dengan kegelisahan dan pikiran yang hitam. Tanpa Key rasanya hampa sekali hidup ini.
*Critttt*
"Astaga" Aku segera turun dari mobil saat seseorang menyeberang jalan tanpa melihat situasi dan keadaan. Untung saja kakiku dengan sigap mengambil rem agar bisa berhenti tepat waktu.
"Nenek tidak apa-apa? "
"Tidak nak, nenek baik-baik saja. Maaf ya karena menganggu perjalanan mu"
"Tidak nek, aku yang salah karena telah mengemudikannya dengan kecepatan tinggi"
Setelah menjelaskan hal itu, aku segera membantu nenek tersebut untuk menyeberang jalan. Usianya sudah sepuh namun masih berada di batas trotoar tanpa pendampingan anak dan cucunya. Sungguh malang nasibnya.
"Aahhh, Tuhan. Biarkan aku saja yang mati tapi jangan orang lain" Aku kembali pergi melajukan dengan kecepatan tinggi untuk pulang.
Seperti biasa sesampainya di rumah, papah sudah menunggu di ruang tamu. Dan ini pertanda bahwa ada masalah karena Adel sudah melaporkan hal tadi pada papah.
"Ada apa pah? "
*plak* tamparan keras kembali aku dapatkan. Hal itu sudah biasa dan sebentar lagi dia pasti akan berkata untuk menjauhi Key dan aku harus melindungi Adel. Aku sudah hafal semua tentang obrolannya.
"Kamu sudah menyakiti Adel lagi. Papah sering bilang bahwa kamu harus menjauhi anak kampung itu...... "
Sudah bisa di tebak, telingaku semakin panas. Untung saja aku menggunakan trik mendengar dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.
Begitulah yang pernah di bilang oleh Key, saat aku mengeluh dengan ocehan pelatih apabila aku memiliki penampilan yang buruk. Trik itu juga aku gunakan saat papah kembali memberikan ocehan yang menurutku tidak pernah bermutu sama sekali.
*plak*
"Awas saja kamu sampai melanggar lagi. Papah akan menghukummu kembali" Setelah melakukan itu, papah pasti akan pergi ke dalam kamar. Dan mama akan menghampiriku dengan air mata tak berdaya.
"Nak, masuklah ke kamarmu. Tenangkan dirimu" Nasehat itulah yang keluar dari mama.
Selanjutnya aku pergi ke dalam kamar mendengarkan musik yang cukup kencang dengan bantuan headset yang menempel di telinga.
"Key, aku sengaja membelikan kalung ini spesial hanya untukmu. Tapi mengapa kau mengembalikannya padaku dan keluar dengan lelaki lain" Sungguh tersayat pilu, melihat kalung tanpa tuan. Karena pemiliknya sudah bersama orang lain.
Aku juga tidak pernah mengerti kenapa Key pergi dan meninggalkanku. Dia bilang bahwa masalahnya ada pada Adel, lalu apa maksudnya. Sedangkan yang aku tau Adel hanya menempel padaku seperti biasa.
"Kau tau Key, aku memang lelaki bodoh yang tidak pernah menerima cintamu yang tulus. Kamu berani mengungkapkan rasa sedangkan aku pecundang yang hanya bisa menerima rasa itu"
Bagaimana tidak bisa di sebut pecundang, sedangkan Key sudah menyatakan bahwa dia menyayangiku sedangkan aku belum bisa menyatakan hal tersebut. Karena aku harus melindungi Keyla agar dia juga bersinar menjadi punggawa garuda.
"Bintang, sampaikan padanya bahwa aku rindu. Katakan padanya bahwa aku juga mencintainya" Tiba-tiba satu bintang berpindah tempat seakan menjawab semua obrolan ku dengannya.
Semoga saja bintang jatuh itu bisa di lihat oleh orang yang aku sayang saat ini. Dan semoga saja bintang itu jatuh pada orang yang tepat. Perempuan penikmat malam yang sunyi dengan sinaran rembukan yang mulai meredup.
Aku segera terlelap lewat tidurku dalam kesunyian malam ini. Pikiranku penuh dngan Key. Tamparan yang di berikan tidak pernah membuatku putus harapan untuk selalu bersama Key walaupun hanya memandangnlnya jauh-jauh saja.
__ADS_1
POV DAVID SELESAI
"Mengapa malam ini mataku susah untuk terpejam, mungkin karena dalam hatiku masih memikirkan tentang David" Batinku tidak pernah berbohong apalagi tentang David
Setiap aku tidak bisa tertidur, bintang lah yang menjadi tempat untuk aku berbicara. Di langit yang cerah ini aku selalu ditemani rembulan dan bintang yang bertaburan indah menghiasi malam.
"Bintang, bisakah engkau menemaniku disini. Biar aku ceritakan semua tentang cintaku padanya" Aku berdialog dengan malam. Tanganku tidak henti seakan-akan melukis di antara ribuan bintang.
"Hah, bintang jatuh? " Aku melihat sebuah bintang jatuh dan bersinar terang. Seakan mereka mendengarkan apa isi dari hatiku.
Kata orang bintang jatuh dapat mengabulkan permintaan. Maka aku meminta agar bisa kembali menemukan seluruh cintaku yang hilang serta bisa bermain di klub yang sangat baik dalam karirku.
Serta satu lagi semoga skil yang aku miliki bisa membawa tubuh ini menjadi punggawa garuda untuk terbang tinggi mengepakkan sayap-sayap yang pernah patah dan mengharumkan nama bangsa.
"Bo, apakah kamu tidak ingin berdoa? Ahhh rugi sekali dirimu. Ayolah kita tidur karena hari sudah malam.
Terlelap salam kesunyian malam yang tiada habisnya. Menyepi sendirian hanya ditemani hayalan yang menjadi cerita antara cinta dan kesetiaan. Tapi nyatanya kesetiaan tidak ada, yang ada hanya rasa sakit.
Hari-hari telah berlalu, aku dan David tidak pernah saling menyapa lagi seperti dulu. Meskipun dalam satu kelas, kami berdua bagaikan orang asing yang tidak pernah mengenal satu sama lain
Aku juga sudah keluar dari tim tarkam dan berhasil lolos dari seleksi tim kota. Dimana aku akan bermain di sebuah turnamen antar kota. Disanalah skil yang sesungguhnya harus di tunjukkan.
"Ani, lihatlah aku berhasil masuk ke tim kota. Namun ingatanku tentangmu masih sama. Sama-sama tentang rindu di lain dunia"
Bila aku ingat kembali perkataan tentang Ani. Dia pernah berkata ingin masuk ke dalam tim kota yang sama denganku. Dan sekarang kami berdua masuk ke tim yang sama. Karena fotonya selau aku simpan setiap latihan.
"Baiklah, latihan kali ini kita akhiri. Mungkin catatan tadi bisa kalian pertimbangkan" Semakin besar klub yang aku pijaki, maka semakin berkelas pula pelatih karena membawa pengalamannya yang tinggi.
"Baik coach" Semua menjawab serantak dan membubarkan diri. Latihan kali ini cukup jauh dari rumah. Jadi kami diberikan fasilitas berupa mers yang sudah di sediakan untuk para punggawa.
Dan kami juga bisa bersekolah, kecuali turnamen sudah dekat maka kami diberikan dispensasi agar tidak menganggu konsentrasi dalam permainan bola. Namun tetap saja kami bersekolah tentang bola.
"Keyyy" Teriakan itu mengalihkan pandanganku. Ternyata Ari dan Yuri sudah ada di depan gerbang menungguku.
"Heyyyy" Aku sangat senang, karena mereka berdua ikut andil dalam karirku ini. Mereka juga yang memberiku semangat saat hati ini dipatahkan oleh cinta pertamaku, iya dia adalah David.
"Kalian, aku rindu sekali" Aku sangat merindukan mereka berdua.
Semenjak aku tinggal di mers, kami jarang bermain bertiga lagi. Mungkin hanya bermain di sekolah itupun waktunya hanya sedikit. Selebihnya aku habiskan waktu ini dengan bola.
"Oh iya ini ada makanan dari ibumu"
"Wahhh pasti enak sekali. Ayo kita duduk di taman itu saja" Kami mencari tempat ternyaman untuk berbincang-bincang bertiga.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~