
Menghela nafas adalah jalan satu-satunya untuk menahan diri agar tidak masuk dalam uforia yang berlebihan. Aku ingin karirku terus melejit secara diam-diam tapi mengejutkan, memang asik bila di utamakan dalam sebuah karir dan membuka mata dunia suatu saat nanti.
Tapi menurutku uforia itu tidak boleh membuat kita terlena dan tetap harus ingat bahwa kemenangan yang diraih adalah hasil dari kerja keras tim bukan bekerja sendiri untuk mendapatkan suatu pencapaian. Aku menghiraukan semua dengan menjalani kehidupan sekolah seperti biasa bersama Yuri dan Ari. Menikmati makanan di kantin sambil tertawa dan berbincang-bincang.
"Wah ada bintang sekolah nih, asiknya diapain ya" Tiba-tiba Ana datang dengan kedua temannya. Berbicara tidak jelas di samping meja kami. Tapi kami bertiga masih asik makan dan menghiraukan ocehan yang tidak ada gunanya.
"Bintang sekolah, tapi cupu" Aku menatapnya dan hanya melemparkan senyum saja. Lagi pula tidak baik melakukan hal yang kejam sama seseorang. Biarkan saja dia mengonggong sesukanya.
*tit, tik, tik, tik* Ana menguji kesabaranku. Dia menumpahkan sedikit demi sedikit jus yang dia pegang kepadaku. Kepalaku terlihat basah dan bajuku juga.
*Pyarrr* gelas itu terlempar ke atas lantai. Membuat semua semakin terkejut.
"Kamu memang senior tapi tidak pantas seperti ini" Yuri membentak dan membuat semuanya terkejut serta saling menatap. Bahkan dia juga yang melemparkan gelas Ana dengan keras.
"Heh, kamu anak ingusan tidak usah ikut-ikut" Ucap Dewi teman satu geng Ana. Dia ikut meluapkan suara pada Yuri.
"Gila ya, udah main bola blunder dan bisanya cuma iri serta mencaci pemain yang bagus seperti Key" Suara Yuri menggema di dalam kantin. Semua perhatian tertuju pada Yuri. Ana hanya bisa terdian dengan ucapan yuri.
"Iiiikkhhhhh" Amarah Ana memuncak dan tangannya hampir sampai ke pipi Yuri. Untung saja aku sigap dan bergegas langsung menghadangnya.
"Huhuhuhuhu" Teriakan seluruh kantin mempermalukan Ana. Dia kesal dan pergi tanpa kata.
"Tunggu, mau kemana" Ucap Yuri yang membuat langkah anak terhenti.
*swarrrrr* siraman satu gelas jus penuh membasahi baju Ana.
"Aaaaa, kurang ajar"
"Itu balasan karena kamu menyiram sahabatku" Ucap Ari yang juga angkat bicara. Rupanya semua sudah geram dengan Ana. Lalu dia pergi dengan baju yang basah.
"Hahhahha" Gemuruh kantin semakin ramai karena tertawa atas apa yang sedang Ana alami. Lucu dan menarik, dia yang berbuat dan dia juga yang menanggungnya.
"Sudah yuk kita makan lagi, biarkan saja dia pergi" Aku masih tidak percaya Yuri ternyata ganas juga. Apa karena dia bergaul denganku hingga dia seperti ini. Tapi tidak apalah agar dia tidak selalu ditindas oleh semua kalangan. Kami melanjutkan makan dengan tenang di dalam kantin. Lalu kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya.
"Eh iya, kok kamu tau kalau Ana blunder Yur? "
Tanyaku saat kita bertiga jalan melewati lorong untuk masuk kedalam kelas.
"Gimana gak tau, semua vidionya tersebar. Meskipun aku tidak mendukungmu secara langsung aku ikut menyaksikan mereka dari live streaming yang dilakukan teman-teman disana" Aku mengangguk mengerti. Bahkan Ari juga tidak ketinggalan melihat pertandingan dari live streaming IG teman-teman.
"Baguslah kalau begitu, setidaknya kalian bisa melihat permainan kami" ucapku sambil tersenyum pada kedua sahabatku ini.
Pembelajaran dimulai dengan tenang. Memperhatikan guru dengan baik meskipun kadang tidak bisa beberapa hal. Tapi untung saja ada Ari yang selalu membantu aku dan Yuri untuk memahami semuanya. Bahkan Ari sangat sabar mengajarkan kami berdua yang otaknya pas-pasan. Tidak seperti otak Ari yang kapasitasnya tidak terjangkau.
Sepulang sekolah Ari mengundang kami untuk melakukan makan bersama dirumahnya. Aku dan Yuri setuju dan ikut bersama ke rumah Ari. Kami pulang dengan mobil Ari bersama pak supir. Tapi saat di tengah perjalanan tepatnya di lampu merah mobil berhenti. Tatapanku tidak bisa teralihkan dari seorang perempuan yang duduk asik di dalam mobil mewah dengan menggendong seorang anak perempuan yang umurnya sekitar 2 tahun.
__ADS_1
"Ibu, ibu, ibu" Teriakku dan berusaha turun dari mobil.
"Key kamu kenapa" Tanya Ari, tapi aku belum sempat menjawabnya.
"Pak tolong hentikan sebentar " Mobil itu berhenti lalu aku segera berlari ke arah mobil yang membawa ibu.
"Ibu, ibu" Teriakku semakin keras tapi ibu tidak menoleh. Aku bergegas mencoba mendekati mobil tapi sayangnya lampu sudah kembali hijau.
*tin, tin, tin*
"Key awas key" Teriakan Yuri yang membuat aku tersadar dan langsung menepi. Siapa bilang aku tidak rindu, aku sangat merindukannya. Sudah lama ibu meninggalkanku tanpa alasan.
Aku hanya ingin bertemu dan bertanya mengapa dia meninggalakan aku. Apa karena lelaki mobil mewah dan anak itu yang ada bersama ibu. Sekali lagi aku ingin bertemu tapi ibu malah memalingkan wajahnya saat melihatku.
Sekarang aku sedikit mengerti, mengapa ibu selalu mengirim ku uang banyak. Ternyata dia sudah memiliki pendamping yang kaya. Apa mungkin ibu meninggalkanku karena harta. Pertanyaan apalagi yang menjadi teka-teki dalam hidupku. Aku tidak paham alur cerita yang ibu ciptakan. Aku hanya ingin bertemu dan bertanya itu saja. Tapi semuanya tidak sempat atau bahkan tidak bisa.
"Key itu siapa? " Tanya Ari yang menghampiriku di tepi jalanan.
"Bukan siapa-siapa"
"Tapi kamu memanggil ibu key, bukankah ibumu ada di rumah" Sahut Yuri.
"Seorang malaikat tanpa sayap, tapi dia yang mematahkan sayapku" Akhirnya aku mengungkapkan semua kepada mereka tentang sosok ibu yang ada di rumah dan sosok ibu di mobil itu.
Mereka berdua sama-sama ibuku yang sangat aku sayangi dan cintai. Tapi salah satu dari mereka meninggalkanku tanpa suara. Dan satunya lagi memelukku saat aku dirundung luka padahal aku tidak lahir dari rahimnya.
"Sekarang aku paham, kenapa kamu menyuruhku untuk mencintai mama" Yuri menangis dan langsung memelukku. Yuri sudah mengerti bahwa aku membutuhkan kasih sayang seorang ibu tapi aku tidak pernah mendapatkan serta mengeluarkan kata mengeluh.
Sedangkan Yuri masih ada seorang mama yang harus dibahagiakan maka dari itu mencintai seseorang sebanyak mungkin adalah cara terbaik sebelum dia pergi meninggalkan kita.
"Aku juga bersyukur selalu ada mama dan papa karena menyayangiku sepenuhnya" Sahut Ari, kami berpelukan di pinggir jalanan. Aku hanya tersenyum dan mencoba untuk menahan tangis meskipun rasanya sangat sakit ditinggalkan kedua orang tua tanpa sepatah katapun.
Bahkan untuk berpamit pergi saja mereka tidak bisa. Sudah berapa waktu yang mereka buang dan meninggalkan aku sendiri. Bahkan menjenguk sampai sekarang saja tidak pernah. Dan bila bertemu saja tidak ingin menyapa.
"Sudahlah, ayo kita pergi dan jangan terlalu larut dalam kepedihan" Kami kembali ke mobil Ari untuk melanjutkan perjalanan.
Di dalam mobil Ari dan Yuri merasa heran padaku karena tidak menangis saat melihat kelakuan kedua orang tua yang rela meninggalkan anaknya sebarang kara. Aku berkata pada mereka bahwa menangis saja itu tidak akan mampu membendung rasa sedihku. Air mata ini akan keluar sia-sia. Lebih baik aku menyimpannya saja. Lagipula jika aku menangisi mereka, belum tentu mereka juga menangisi ku. Hatiku sudah sakit dan air mata juga sudah kering untuk terjatuh lagi.
Bukan aku yang menangis, malah mereka berdua yang semakin menjadi-jadi bahkan Yuri menangias hingga sesegukan saat mendengar ceritaku. Dia juga teringat pada mamanya yang selalu dia bantah dulu.
Tapi sekarang Yuri sudah berubah menjadi anak yang lebih baik dari hari kemarin. Biarlah masa lalu dikenang buruknya untuk berkaca sebagai kunci menjadi lebih baik dimasa depan. Biarlah rasa pahit masa lalu terpendam seiring waktu, asalkan kita mampu menyambut masa depan yang cerah.
"Sudahlah jangan menangis, air matamu simpan saja untuk menangisi kebahagiaan yang akan datang" aku mencoba menyeka air mata Yuri dan menghiburnya agar tidak menangis lagi. Dan seketika tangisan Yuri juga telah berhenti.
Perjalanan cukup jauh ke rumah Ari, aku tertidur dalam mobil. Begitu juga Yuri yang tadinya menangis malah juga tertidur. Matanya menjadi bengkak karena tangisannya. Sampai kami tidak sadar bahwa sudah sampai di rumah Ari.
__ADS_1
Rumah yang megah dan mewah bagaikan istana. Pagar besi terbuka sendiri dan ada satpam dalam rumahnya. Seperti bank-bank yang dijaga ketat. Rumah dua tingkat yang dihiasi oleh taman dan pohon yang sangat indah. Suasana sejuk dan menggoda mataku yang belum pernah melihat pemandangan seperti ini.
"Wahhhh, bagus sekali rumahmu ri" Rasa takjub muncul dari wajahku. Meskipun kami sudah bersahabat mulai dari SMP, tapi tidak pernah sama sekali aku datang ke rumah Ari. Kemewahan membuat bibirku menganga. Bahkan Yuri juga melotot melihat keindahannya.
"Gila, suasana disini adem banget ri" Sambung Yuri sambil turun dari mobil yang berhenti dan melihat sekelilingnya.
Langkahku dan Yuri terpanah dan berjalan perlahan menuju pintu. Lihat kiri kanan pemandangan taman dan bunga-bunga terawat indah dan bersih. Kolam ikan disisi dengan berbagai ikan hias yang harganya jutaan.
Saat masuk kedalam ruang tamu, wah indahnya bukan main. Bangunan yang dibuat dengan batu marmer yang indah. Banguannnya sepeti istana.
"Hey ayo masuk" Ari menyuruh kami masuk dan duduk di sofa. Ternyata sofa nya besar seperti milik raja-raja. Ruangan sejuk ber-AC dan membuat pikiran menjadi tenang.
"Halo Anak-anak ku"
"Halo tante" Dengan raut wajah yang sangat gembira, mama Ari menyambut kami. Aku memanggil dengan terbiasa yaitu tante Maya. Aku langsung memeluknya seperti ibu sendiri.
" Key sayang, akhirnya kamu kesini juga"
"Iya tante, alhamdulillah bisa main ke rumah Ari untuk pertama kalinya. Suasana nyaman banget tante"
"Iya kamu nikmati saja seperti rumahmu sendiri" Rasanya sangat nyaman saat tante Maya memelukku. Apalagi kita sudah seperti keluarga sendiri.
"Kamu Yuri ya?" Yuri mengangguk
"Ari cerita tentang kalian loh, katanya kalian sahabat terbaik Ari. Terus tante punya ide untuk berkumpul bersama dan tante suruh Ari mengundang kalian makan di sini"
"Iya tante makasih banyak" Sahut Yuri
"Eh iya, sini peluk dulu dong anggap saja rumah sendiri" Yuri langsung memeluk tante Maya seperti mamanya sendiri.
Kami bertiga langsung disuguhkan banyak makanan mewah di atas meja. Aku sangat senang sekali di sini. Bukan kerena makananya yang mewah tapi kehangatan dan keharmonisan yang ada. Makan malam dengan lauk yang berbagai macam. Itu semua adalah masakan dari tante Maya. Rasanya sangat enak, aku dan Yuri sangat lahap memakannya. Setelah makan selesai, kami masih duduk dan berdiam diri di meja makan.
"Enak ya, makanan dan suasananya sama-sama nyaman" Ucap Yuri memecahkan keheningan. Aku tau maksud Yuri, mungkin dia merasakan kehangatan di keluarga Ari dan sama seperti yang aku rasakan.
"Kalian sering-sering kesini saja, kan lebih enak tuh" Jawab tante Maya yang mengajak kami untuk datang lebih sering lagi kesini. Sambutan tante Maya sangatlah ramah pada kami.
Kami bertiga juga bermain di kamar ari. Disana banyak barang-barang mahal dan mewah. Seperti komputer, tempat game, laptop, permainan modern yang tidak dimiliki oleh kami tapi Ari sudah memilikinya. Saat masuk kamar Ari rasanya kita masuk di taman bermain.
Selain pintar Ari juga suka bermain game. Di kamar Ari juga banyak buku-buku yang ditata rapih, ada novel ,cerpen, puisi dan buku pelajaran baik nasional ataupun internasional. Kamar yang sangat luas dan dekorasi yang menarik. Sepertinya kamar ini juga bisa di buat bermain bola, hehehhe.
Saat kami asik dengan kesibukan masing-masing, Ari yang bermain game aku dan Yuri sibuk mencari buku. Tiba-tiba kakiku tidak sengaja menginjak sesuatu. Saat aku mengambilnya ternyata itu surat pemeriksaan dari rumah sakit. Aku mencoba membukanya, tapi saat Ari melihat dia langsung merebutnya dan menyembunyikan dariku.
"Itu apa ri? " Tanyaku yang penasaran dengan usia di dalam surat tersebut.
"Hmmm, itu surat dari rumah sakit pada saat aku tergigit ular key"
__ADS_1
"Ohhhhh, aku kira surat apa" Tapi wajah Ari terlihat berbeda, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku juga tidak mengerti apa yang sedang dia sembunyikan dalam wajah anehnya. Tapi aku pura-pura mengerti dan lanjut bermain lagi di bersama Yuri dan Ari. Mungkin aku juga yang terlalu curiga padanya.