Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
69. Mulut Beracun


__ADS_3

Perkembangan timnas putra Indonesia sudah terbentuk dari dulu. Bahkan fasilitas serta sekolah bola sangat di dukung oleh jajaran pengelola bola di negeri ini. Jadi kita tidak kaget jika melihat banyak pemain-pemain bagus yang tercipta di tangan pelatih yang berbakat.


"Lalu bagaimana dengan perkembangan bola timnas putri key? "


"Hmmm, masih belum ada kemajuan"


Perkembangan timnas putri berbanding terbalik dengan timnas putra. Karena tidak terlalu baik sangat sulit untuk berkembang sehingga tidak mudah bersaing dnegan negara lain. Saat ini belum ada turnamen seperti liga satu yang diadakan setiap musimnya. Hal tersebut membuat perkembangan timnas wanita semakin kecil.


"Tapi menurutku itu tidak masalah, karena banyak masih kesempatan apabila kita bermain dengan hati yang baik"


"Betul katamu key, jangan pernah mudah menyerah" Aku mengangguk dengan ucapan Yuri.


Apapun alasannya tekadku sudah kuat dan harus berjuang untuk sampai ke titik tujuan untuk menjadi pemain timnas. Karena tujuan utama ku adalah bermain di timnas, dan menjadi orang hebat bersama bola.


Menonton vidio sepak bola dengan Yuri hingga bel pulang sekolah sudah berbunyi. Asik rasanya karena banyak bercerita tentang bola bersamanya. Meskipun dia hanya pendengar, setidaknya dia juga menjadi tempat untuk mendengarkanku yang berbicara tentang bola.


Aku membereskan semuanya, sayang sekali harus berakhir menonton bola bersama Yuri. Karena hal ini tidak pernah aku lakukan, kecuali menonton pertandingan di sekolah ataupun di luar sekolah bersamanya.


"Yuk Key, " Yuri sudah membereskan semuanya dan mengajakku untuk pulang.


"Iya tunggu bentar, aku agak kesusahan. Hehehe" Sambil menunjukkan tanganku yang kesusahan menutup resleting tas.


"Eh iya lupa, sini aku bantu"


"Nah gitu dong, hehehehe"


"Tunggu key"


"Ari" Baru saja ingin beranjak pergi, Ari tiba-tiba datang bersama Rena dan pasukannya. Aku sudah tau apa yang akan dia lakukan pasti Rena akan mengadu domba kami lagi.


"Kamu kenapa sih key selalu berbuat ulah"


"Berbuat ulah? " Aku heran dengan pernyataan dari ari, sudah jelas-jelas yang biang onar adalah Rena. Sedangkan aku hanya ingin melindungi dirinya dari mulut Rena yang sangat beracun.


"Kamu lihat ini, lengan Rena bengkak gara-gara kamu. Kamu selalu saja mengganggu kehidupan Rena dan mengancamnya. Kamu mau jadi psikopat? " Bentakan Ari yang membuat hatiku semakin hancur. Dia terus berbicara dengan menyudutkanku.


"Iya nih ri, sakit banget tau. Dia memukulbhingga seperti ini ri" Rena memainkan perannya agar suasana menjadi lebih panas.


"Lihat key, kamu keterlaluan dan kamu sangat jahat. Aku masih gak nyangka kamu berbuat hal sekejam itu. Aku pikir kemarin kamu tidak salah karena menyakiti Rena, tapi sekarang aku melihat buktinya kamu menyakiti Rena" Bentakan dan amarah Ari terus saja dilontarkan padaku. Aku hanya diam dan mendengarkannya.


"Ri, kamu kenapa menyudutkan Key" Sahut Yuri yang tidak Terima dengan perlakuan Ari padaku.


"Kamu juga yur, mengapa mendukung key berbuat jahat. Padahal Rena sudah baik dengan kalian"


"Baik apa ri? justru dia jahat Ari. Tolong sadarlah" Teriak Yuri yang mencoba menyadarkan Ari yang sudah dipengaruhi hal buruk.


Aku menyikmak semua cacian-cacianmu ri. Tapi hatiku masih ingin melindungi dirimu dari kejamnya fitnah Rena. Bahkan aku selalu memantaumu agar kamu tidak terluka sedikitpun karena ulah Rena. Aku ingin kamu sadar bahwa Rena adalah orang jahat ri.


Sakit hatiku dengan bentakanmu padaku ri. Aku bisa menerima jika Rena yang terus membentak dan mencaci kita, tapi kali ini aku tidak menerima bentakanmu yang sudah dicuci otaknya oleh Rena.


"Apakah sudah selesai kamu berbicara ri? sekarang lihat aku ri. Lihat pada diriku saja kamu sudah tidak mau. Apalagi peduli lagi padaku. Sudah hampir 1 bulan kita tidak bicara ri hanya karena dia" Bentak ku penuh emosi sambil menunjuk ke arah Rena yang menjadi biang masalah dalam hal ini.

__ADS_1


"Ari sudahlah, dia pasti akan mencari segala cara lagi agar kamu percaya kembali padanya" Bibir Rena kembali meracuni dan memaksakan suasana dengan kejam.


*brakk* semua yang ada di ruangan mulai terkejut dengan hentakan tanganku.


"Key, tenanglah" Yuri mulai khawatir saat melihat tanganku kembali berdarah. Aku tau luka ini sudah terbuka berkali-kali, dan yang paling sakit adalah hatiku bukan lukaku saat ini.


"Sekarang aku mau tanya padamu ri, apa kamu tau keadaanku saat ini? Aku yakin kamu tidak bakal tau sedangkan keadaanmu selalu aku pantau agar hatiku tenang saat melihatmu baik-baik saja" Ari masih terdiam saat mendengarkan perkataanku. Bahkan suasana menjadi sunyi saat ini.


"Apakah kamu tau luka di tanganku disebabkan oleh apa, lalu mengapa aku masuk ke UKS 2 kali hanya untuk mengobati lukaku" Bibir Ari masih membisu sedangkan Rena terus berbisik-bisik kecil tanpa mendengarkan apa yang aku katakan.


"Apa kamu tau lukaku kembali sobek karena benturan apa. Dan sekali lagi aku kasih tau bahwa benturan ini karena dorongan Rena dan membuat luka di tanganku menjadi parah" Aku mengangkat kedua tanganku dan menunjukkan padanya.


"Aku yakin kamu tidak akan bisa menjawab serta bertanya bagaimana keadaan tanganku setelah Rena mendorong dan memukulku bukan?. Jika kamu tidak percaya maka tanyakan pada Dewi dan Puja, benarkah Rena melakukan hal itu di toilet? " Tatapan mereka tertuju pada Dewi dan Puja. Sedangkan mereka berdua ragu untuk menjawabnya.


Aku mencoba bermain mata agar mereka menjawab jujur pada semuanya untuk membuka kebenaran. Puja yang ketakutan dengan tatapan ku mulai menggerakkan bibirnya.


"I... Iya ri, Rena mendorong key hingga terjatuh ke lantai" Sekali lagi kejujuran Puja mengungkap kebenaran. Aku tidak peduli apa tanggapan Ari dengan semua ini.


"Karena kamu yang memulainya dulu key" Ari masih saja membela Rena yang jelas-jelas berbuat hal yang salah padaku. Dia terus saja berkata bahwa Rena yang benar dan aku yang salah.


"Cukup ri, aku sudah kehilangan jati diri sahabatku yang dulu. Yang aku kenal culun dan pandai tapi dia baik, sedangkan sekarang dia sudah tampan tapi pemberontak dan egois" Aku menatapnya dengan tatapan sangat kecewa pada Ari. Aku tidak menyangka Ari sudah berubah 100% dalam waktu yang singkat.


"Aku juga kecewa denganmu ri, mana Ari yang dulu. Sepertinya Ari yang aku kenal dulu, kini telah mati" Yuri juga meluapkan rasa kekecewaannya di depan mata Ari.


"Ayo Key kita pergi" Yuri menarik tanganku dan bergegas pergi meninggalkan mereka semua disini.


Kami berdua berjalan keluar dari kelas. Tepat saat keluar dari pintu, David datang dan menghampiriku dengan tatapan khawatir saat melihat perban yang melilit kedua tanganku. Tapi aku menolaknya karena sudah terlanjur sakit hati.


Luka ditangan ini karena David, bahkan luka dihati juga sama. Aku tidak tau bagaimana caranya aku mengobati semua ini. Perjalanan yang panjang penuh dengan kesulitan hidup. Tapi aku harus bangkit dan melupakan duri-duri tajam yang mengelilingi di sekitar.


Kali ini Yuri yang mengantarku pulang, katanya dia tidak tega melihat keadaanku yang kacau seperti ini. Tangan terluka, hati terluka, bahkan yang melukainya adalah orang yang sangat dicintai. Walaupun hati Yuri juga terluka tapi dia berkata bahwa luka yang aku alami lebih banyak darinya.


Sesampai dirumah aku langsung membersihkan diri dan merebahakn diri ke tempat tidur. Sengaja tidak ke rumah ibu dan bapak takut mereka khawatir karena keadanku yang seperti ini.


*tok, tok, tok* baru saja merebahkan diri setelah mandi, eh sudah ada yang mengetuk pintu. Tapi aku takut itu ibu, bagaiaman ini jika dia tau keadaan tanganku buruk seperti ini.


"Permisi, keyla" Setelah mendengarkan suara panggilan dari luar, hatiku lega ternyata bukan ibu.


Aku segera mengintip dari jendela. Membuka perlahan tirainya, tapi aku tidak mengenali siapa orang tersebut. Dan satunya lagi aku mengenalinya yaitu bang Jojo, yang mengurusi tarkam saat ada tim yang membutuhkan pemain bayaran. Bang jojolah yang membantuku sebagai pemain tarkam bayaran yang dibutuhkan .


*jlek*


"Bang Jo? "


"Eh key, bang Jo ada perlu denganmu sebentar"


"Baiklah, ayo. Masuk dulu bang" Aku mempersilahkan mereka berdua masuk tapi banga Jo memilih di luar takutnya ada fitnah yang menyebar karena aku adalah satu-satunya wanita di rumah ini.


" Di teras saja lebih sejuk"


"Baiklah, key buatin minum dulu ya bang"

__ADS_1


"Tidak usah repot-repit key lebih baik kamu duduk, kami ingin berbicara bahwa........ " Dengan siap dan menyimak apa yang akan diomongkan oleh bang Jo.


Ternyata dia membawa salah satu asisten dari klub tarkam yang tertarik dengan permainanku saat aku menjadi pemain bayaran. Katanya mereka tertarik sudah sangat lama tapi ada beberapa pertimbangan yang harus dirundingkan untuk memasukan ku ke tarkam perempuan yang bertanding. Sehingga membutuhkan proses yang cukup lama.


"Benarkah bang? " Terasa masih tidak percaya dengan tawaran yang diberikan.


"Benar key, kamu akan bermain di tarkam perempuan dengan kontrak yang akan ditentukan" Aku terkejut mendengar pernyataan tersebut.


Hati ini terasa senang mendengar semuanya. Aku masih tidak percaya bahwa aku benar-benar bermain di tarkam perempuan, bukan tarkam campuran seperti biasanya. Bahkan aku akan memiliki klub tertentu dengan kontrak yang disepakati serta bayaran yang sudah ditentukan.


"Bang makasih banyak bang" Aku mencium tangan bang Jo, karena dia sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri. Dia selalu baik padaku dan dialah yang membuatku terkenal karena memperkenalkan pada klub tarkam lainnya.


"Iya key sama-sama, besok lusa kamu ikut abang untuk mendatangi klub tarkam tersebut. Dan di sana kamu berlatih serta bermain dengan baik" Sedikit demi sedikit aku mulai bangkit untuk menduduki kasta permainan bola tertinggi. Tidak menutup kemungkinan bahwa aku bisa bersaing di timnas Indonesia masa depan. Yang terpenting adalah bermain dengan konsisten.


Bang Jo juga menjelaskan bahwa nanti klub ini tidak hanya bertanding di tarkam kampung saja melainkan bisa tanding di luar kota. Hatiku benar-benar merasa senang, aku harus berterima kasih pada sang pencipta yang memberikan kesempatan ini. Karena setiap ada masalah pasti ada kebahagian yang tersimpan.


Hal ini bisa menjadi tangga untukku dengan terus bermain dan mengadu skil serta memetik pelajaran untuk membuat gaya permainanku menjadi lebih baik. Dengan senang hati aku menerima tawaran dari bang Jo.


Setelah semua pengertian serta pemahaman diberikan padaku, aku mengerti dan setuju tentang perjanjian yang ada. Aku mengikuti semua alur yang sudah dijelaskan. Tinggal tunggu kedatangan ku ke tempat klub ini dan bertanda tangan.


Malam ini adalah malam yang sangat bergembira. Setelah bang Jo dan rekannya pergi, aku bergegas menuju rumah ibu dan bapak. Aku segera memberitahu mereka bahwa aku akan bermain di klub tarkam wanita. Aku mengumumkan pada seluruh rumah dengan sangat gembira.


"Hah benarkah key?? "


"Benar bu, pak, bang Jo yang nenyambangi rumahku bersama asisten klub tersebut" Sahutku dengan bahagia untuk meyakinkan ibu dan bapak.


"Baguslah nak, semoga kamu menjadi pemain terhebat kelak" Bapak dan ibu langsung memelukku.


"Beneran key, yeayyy aku ikut senang" Mbak Yeni datang dari dalam rumah dan ikut berpelukan begitu juga dengan mbak Nike yang ikut berpelukan bersama-sama semacam film teletabis, heheheh.


"Aduh, aduh sakit" Tidak sengaja tanganku terjepit oleh pelukan meraka dan pada akhirnya teriakan itu membuat mereka sadar bahwa tanganku terluka.


"Tanganmu kenapa? " Tanya ibu dengan nada yang sangat khawatir. Sepertinya aku harus berbohong lagi agar ibu tidak khawatir padaku.


"Tadi key terjatuh di sekolah bu"


"Astaghfirullah, kenapa sampai separah ini" Dengan sigap ibu langsung menyuruh mbak Yeni untuk memasak air hangat yang digunakan untuk membersihkan lukaku.


Mbak Nike juga mengambil kotak obat untuk mengganti perban ku yang sudah mulai Kotor. Sedangkan bapak juga membantu ibu untuk membuka perban di tanganku yang sebelah kiri. Lagi-lagi kehangatan tercipta antara satu dan yang lainnya. Rasanya akulah anak terakhir yang selalu dimanja di keluarga ini.


"Aduh sakit bu, hehehe" Sebenarnya tidak sakit, hanya saja aku ingin ibu mengusapnya dengan lembut penuh kasih sayang. Jadinya aku teriak dengan mengatakan hal tersebut.


"Astaghfirullah, kenapa sampai bengkak dan terluka seperti ini sih nak. Memangnya kamu jatuh bagaimana" Perlahan ibu mengusapnya dengan air hangat yaug sudah disiapkan oleh mbak Yeni.


"Jungkir balik kali bu, key kan memang suka akrobatik" Sahut mbak Nike yang duduk di kursi sambil melihat ibu dan bapak membersihkan tanganku.


"Enak saja, aku tersandung tau mbak" Sahutku tidak setuju dengan tuduhan dari mbak Nike.


"Tersandungnya di batu besar mungkin mbak" Sambung mbak Yeni yang ikut menggodaku.


"Hahahahhaha" Mereka berdua malah asik tertawa keras

__ADS_1


"Husss, jangan tertawa seperti itu. Adikmu dalam musibah saat ini" Ucapan ibu menegur mereka dan seketika langsung berhenti tertawa. Aku tersenyum sambil mengeluarkan lidah sekaligus mengejek mereka berdua.



__ADS_2