Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
89. Bunuh Diri?


__ADS_3

Ingin menangis itu rasanya sudah lelah. Terlalu banyak hal yang aku tangisi, sekarang waktunya untuk diam dan merenung saja. Lagi pula menangis pada manusia itu hal biasa dan yang paling luar biasa adalah menangis pada Tuhannya.


"Key, key tolong ayo turun jangan gini key" Ari dan Yuri datang menghampiri. Wajah mereka panik dan mengatakan bahwa aku ingin bunuh diri.


"Kalian apaan sih, aku hanya ingin sendiri" Sahut ku sambil menatap mereka berdua sebentar lalu memalingkan wajah kembali menatap pusaran kota.


"Aku tau masalahmu Key, tapi jangan mengakhiri hidup seperti ini. Soalnya kalau kamu mati gak ada yang belain aku sama Ari lagi saat ada yang bully" Ucap Yuri dengan nada yang sedih.


Emang kocak mereka berdua bukan memikirkanku malah memikirkan takut dibully.


Sepertinya aku harus melakukan akting dan pura-pura loncat untuk membuat mereka takut. Pasti mereka akan takut dan sedih. Biar saja aku tipu mereka berdua. Sepertinya asik jailin mereka berdua nih.


"Aku bosan hidup, lebih baik aku menghilang saja dari dunia ini" Ucapku sambil tersenyum bersembunyi dan berdiri di pinggiran.


Saat ku lihat kebawah rasanya ciut juga nyaliku karena tinggi sekali gedung 3 tingkat ini. Mungkin karena baru kali ini aku kesini jadi tidak biasa dengan ketinggian yang ada.


"Jangan key jangan, kalau kamu mati siapa lagi yang aku temani ke gudang, ke kantin dan kemanapun" Teriak Yuri yang memelas. Terlihat sekali rasa ketakutan dari wajahnya.


"Iya key, nanti kalau kamu mati Yuri bakalan bodoh sendirian" Sambung Ari.


Sejenak aku tersenyum dan menatap mereka berdua. Bukan memikirkan hal penting tapi memikirkan hal konyol tentang kebodohan diriku dan Yuri.


"Lebih baik kalian berdua saja jalan ke kantin atau kemanapun. Karena aku sudah capek" Sepertinya aktingki kali ini berhasil membohongi merekavberdua hingga wajahnya merasa ketakutan untuk kehilanganku.


"Key, aku gak mau bodoh sendirian. Aku maunya sama kamu" Kocak banget Yuri, ingin bodoh malah ngajak-ngajak. Seharusnya kalau pinter baru ngajak-ngajak bukan malah ngajak bodoh.


"Key aku tau masalahmu banyak, tapi tolong jangan loncat. Kamu harus tenang Key semua bisa diselesaikan dengan baik" Kak Dika tiba-tiba datang membuatku semakin kesal saat mengingat perkataannya pada malam itu.


"Ini semua gak ada urusan dengan anda. Ini hidup saya" Mendadak bahasuku menjadi baku.


Aku tidak ingin lagi bertemu kak Dika yang sudah menyakiti hatiku bahkan melukainya sampai sekarang. Ucapan manusia lebih menusuk daripada perlakuannya.


"Oke, oke, aku minta maaf saat malam itu. Aku terkejut saat mengetahuinya bahwa kamu adalah adikku Key"


"Hah adik" Ucap Yuri dan Ari secara bersamaan


"Kan kalian sudah tau" Ucapku pada mereka berdua. Padahal sudah tau bahwa aku satu bapak dengan kak Dika eh malah ikut-ikutan kaget.


"Eh iya lupa" Lagi-lagi Ari dan Yuri menyaut secara bersamaan.


"Sudahlah lupakan" Bentak ku pada mereka.


Sesekali mataku melihat ke bawah dan memperhatikan pijakan. Aku takut bener -bener terpeleset dan jatuh ke bawah. Hancur otakku, takutnya berserakan. Lagipula otak ini gak ada isinya sih, cuman harapan semua.


"Kalian tau gak, yang paling kejam didunia ini itu apa? " Aku kembali duduk karena saat berdiri aku sangat takut terjatuh beneran.


"Apa? " Sahut mereka.


"Fitnah lebih kejam dari pembunuhan" Jelasku


"Ohhh"


"Ihhh, jawaban kalian oh saja?. Bicara kek jangan hanya oh saja" Kesal ku kembali muncul karena tidak ada respon dari mereka.


"Au ah, " Ucapku semakin kesal


"Keyla, dengerin bapak jangan loncat nanti tubuhmu berantakan" Teriak kepala sekolah mengunakan sound system yang sangat besar hingga suaranya nyaring.


Di bawah semakin ramai banyak yang nonton. Lebih baik aku turun saja, lagipula ketenangan ku sudah mereka usik. Tapi turunnya bingung, ingin terjun ataukah turun kesana. Dasar bodoh!


"Key dengerin aku, aku sudah menerima kamu sebagai adikku walaupun itu sangat sulit tapi aku mencobanya" Ucapan kak Dika itu asli ataukah hanya membujuk ku untuk turun.


Padahal aku hanya duduk disini saja hingga membuat mereka panik. Dasar orang-orang aneh yang tidak ada pekerjaan saja.


"Iya aku mau turun, lagian siapa sih yang mau bunuh diri. Aku hanya butuh ketenangan disini gak mau bunuh diri malah heboh saja" Jelasku pada mereka yang masih menganggap aku putus asa dengan kehidupan.

__ADS_1


"Iya key bagus, akhirnya aku tidak bodoh sendirian"


"Iya key, akhirnya sahabatku yang bodoh tidak menjadi bodoh" Ucapan Ari dan Yuri sangat tidak jelas dan terasa ambigu.


Aku mencoba untuk turun dari sana dengan hati-hati. Kenapa tangan dan kakiku malah bergetar padahal tadi biasa saja. Apalagi angin saat ini malah semakin kencang tidak seperti tadi yang sepoi-sepoi.


"Aaaaaaaaa"


"Aaaaaa keyyyyy"


"Keyyyyy" Aku teriak karena terpeleset, untung saja tanganku menahan dan memegang pinggiran tembok tersebut. Jantungku berdebar hebat saat semuanya berteriak dan melihat aku ingin terjatuh ke bawah.


"Keyla bertahanlah, aku akan membantumu" Yuri dan Ari bergegss mencari cara. Sedangkan kak Dika mencoba untuk membantu menarik tubuhku dari sana.


"Ya Allah habislah riwayatku saat ini, mana gedungnya tinggi sekali lagi" Gumamku dalam hati yang sangatt ketakutan.


Tanganku terus mencengkeram dan menahan tubuhku agar tidak terjatuh. Jiwa ini terasa ingin melayang terbang. Jantungku berdetak sangat kencang seperti genderang perang.


"Keyla bertahanlah, jangan dilepaskan" Teriakan bapak ibu guru dari bawah serta teriakan teman-teman yang terus berkata agar aku tetap bertahan. Wajahku sudah putus asa karena


timpuan tanganku sudah sangat sakit.


"Kak tolong kak" Teriakku pada kak Dika yang mencoba menarik ku. Tapi sepertinya dia tidak kuat karena tubuhku mungkin terlalu berat.


"Sabar key, kamu tenang jangan bergerak tubuh kamu sangat berat" Sahutnya sambil menahan tubuhku yang ingin tejatuh.


"Tapi aku tidak banyak makan kak" Berargumen di saat-saat seperti ini, bukannya panik malah debat.


"Sini kak biar aku bantu" David datang menghampiri kak Dika.


Dia mencoba menyelamatkan aku dari ketinggian. Kakiku rasanya sudah membeku karena ketakutan. Rasanya ingin pingsan tapi aku malu.


"Kamu jangan lepasin tangan kita ya" Intruksi dari David membuatku mengangguk.


"Alhamdulillah" Ucapku sambil duduk bersimpuh karena masih gemetar.


"Kalian sudah selesai, padahal talinya baru sampai" Yuri dan ari datang dengan membawa tapi. Tapi aku sudah terselamatkan.


"Telat" Teriak kami bertiga secara bersamaan. Karena sangat telat sekali, mengapa tidak dari tadi datang membawa tali. Kalau sudah selesai baru mereka datang seperti pahlawan kesiangan


Aku mencoba berdiri untuk pergi. Tapi tangan kak Dika menahanku untuk pergi. Tiba-tiba dia memelukku dengan erat. Bahkan pelukannya tidak ingin lepas dariku.


"Maafin aku key, atas kesalahan yang kemarin. Sebenarnya bukan mauku seperti ini. Mungkin Tuhan sudah memberikan jalan sampai saat ini" Kak Dika memelukku dengan erat.


Dia bilang bahwa sebenarnya bukan aku yang salah melainkan ayah ibuku yang telah berbuat hal yang tidak baik.


Kak Dika juga berkata bahwa dia sangat menginginkan seorang adik. Karena sampai saat ini di rumahnya sangat sepi tidak ada saudara. Karena dia adalah anak tunggal.


"Aku sudah memaafkannya kak, walau rasanya sakit sih" Sahutku sambil membalas pelukan kak Dika.


Secepat itu kedua saudara diaatukan antara aku dan kak Dika walau beda ibu tapi kami tetap satu ayah.


"Kamu ikut denganku, kita ketemu ayah ya" Matanya menatap harapan. Menjadikanku seorang adiknya dan dia ingin menjadi kakak yang terbaik walaupun kita beda ibu tapi masih satu ayah.


"Tidak kak, aku tidak mau" Sahutku


"Tenang saja, ayah pasti akan senang melihatmu"


"Tapi aku tidak senang melihat ayah. Rasa benci ku pada ayah masih melekat kak" Hatiku terluka bila mengingat masa lalu.


Aku menceritakan tentang kehidupanku yang benar-benar dibawah saat ditinggal ayah. Rasanya aku tidak ingin bertemu dengan ayah. Sosok ayah yang seharusnya datang memeluk putrinya tapi dia malah menghilang hingga beberapa tahun lamanya.


Jika bukan Tuhan yang menemukan kami berdua, mungkin keadaan seperti ini tidak akan merusak hatiku kembali bila mengingat luka dari masa lalu.


"Aku kagum pada kamu, jika memang kamu tidak ingin bertemu dengan ayah. Maka ijinkan aku menjadi kakak yang akan menjagamu sampai kapanpun" Hatiku kembali tersenruh dengan tatapan tulis dari kak dika.

__ADS_1


Tangannya yang kekar kembali merangkulku dengan kehangatan. Kali ini bukan karena cinta seorang kekasih melainkan cinta dari seorang saudara kandung dalam satu ayah.


"Key juga ingin memiliki seorang kakak" Aku menangis dalam pelukannya. Sudah lama aku hidup sendiri, hanya ada kawan yang sanggup mengerti. Aku merindukan kehangatan dari seorang saudara.


Keadaan panik menjadi haru. Yuri juga menagis keras melihatku yang mengisahkan dalam pelukan kak Dika. Bahkan Ari dan Yuri juga saling memelukku seperti biasa.


"Udah, udah, aku udah selesai menangis kok" Aku melepaskan pelukan itu dan mengusap air mata yang membasahi pipi dengan deras. Bahkan bahu kak Dika juga basah karena air mataku.


"Ayo kita turun“ ajak kak Dika padaku


" Bentar kak" Aku berbalik dan menatap David.


"Makasih banyak ya sudah bantuin aku" Ucaoku padanya sambil tersenyum.


"Iya Sama-sama, dan untuk hal kemarin aku minta maaf ya key" Sahut David sambil mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya dengan senyum.


"Berarti kita baikan nih" Ucapku sambil mengangkat jari kelingking sebagai tanda bahwa kita melupakan salah paham kemarin.


"Iya" David menyambutnya dengan tersenyum indah. Kalau begini ganteng banget dan manis, sekarang kulkas 2 pintunya menghilang.


"Peluk, peluk, peluk" Teriak yuri menjadi provokator agar aku memeluk David.


"Bibirmu kebiasaan" Aku membungkam bibirnya sehingga membuat Yuri diam seketika. Dan membuat mereka semua tertawa.


"Sebentar, kalian berdua saudara? " Tanya David saat melihat drama tadi. Aku dan kak Dika mengangguk secara bersamaan lalu tersenyum.


Lalu kami turun ke bawah kelas untuk meredam keributan yang ada di bawah. Semua ini karenaku yang duduk di atas dikira ingin bunuh diri. Sepertinya karma juga karena menjahili Ari dan Yuri eh malah kepereset dan hampir saja nyawa melayang.


"Ini nih, biang kerok. Pakai coba-coba bunuh diri aja." Adel dan gengnya datang menghadang perjalanan ku.


"Iya dia tu pasti caper Dek" Sambung Rena yang ikut-ikutan.


"Brisik kalian berdua, bisanya hanya nyinyir saja" Bentak ku di wajah mereka.


Memang tidak ada hari untuk tidak berbicara tentang hal kosong. Dia hanya bisa mengolok-olok orang tanpa berkaca terlebih dahulu. Mungkin hidupnya adek begitu suram sehingga senang mengusik.


"Ihhh, orang miskin jangan dekat-dekat" Tangannya mendorong ku hingga aku hampir terjatuh. Untung saja ada David yang sigap menangkap tubuhku.


"Ihhhh, ayang David jangan sentuh orang miskin itu. Kamu mau aku bilangin ke papa kamu" Seperti biasa ancaman adel dengan menyebut nama ayah David.


"Kamu bisa gak sih Del, sehari gak usah bawa-bawa nama papa. Lama-lama muak aku lihat kamu" Bentak David pada Adel lalu langkahnya pergi dengan kesal meninggalkan kami semua.


"Ayang davidddd, ihhhhh" Adel terlihat kesal karena ditinggalkan oleh David.


"Makanya kalo punya mulut itu di kunci, jangan nyinyir nyenyenye terus" Sekarang gantian mulutku yang mengejeknya.


"Hahahahaha" Adel manjadi bahan tertawa kami berempat.


"Dasar kamu orang miskin" Bentak Adel dengan kesal padaku.


"Aku tonjok wajahmu baru tau rasa" Tanganku hampir sampai ke wajahnya. Namun aku hentikan karena tidak ada gunanya bertengkar dengan jamur seperti dia.


Kami pergi meninggalkan Adel dan gengnya. Berjalan menuju kelas sedangkan kak Dika kembali ke kelasnya. Seketika hubunganku dan kak Dika kembali menjadi baik. Aku juga ikut senang karena selama ini aku tidak punya kakak laki-laki yang menyayangi serta melindungiku. Dan sekarang Tuhan memberikan seseorang itu walaupun kita beda rahim.


Baru saja duduk di kelas, tiba-tiba seorang siswa memanggilku untuk segera datang ke ruangan guru. Aku bergegas berangkat sendiri kesana. Saat mereka bertanya tentang masalahku, aku berkata baik-baik saja dan menjawab semuanya dengan tenang.


Aku tidak berkata tentang hal yang membuatku menjadi lelah. Tentang foto yang tersebar tadi, aku menyimpannya rapat-rapat saja. Aku takut masalah itu tersebar dan akan memperpanjang masalah. Jadi lebih baik diam saja.


Untung saja para guru yang ada disana memaklumi perbuatanku. Mereka memberikan banyak nasehat serta dukungan agar aku tidak melakukan percobaan bunuh diri lagi.


"Mereka percaya dengan bunuh diri bohongan yang aku lakukan, ah sungguh konyol" batinku tertawa mendengar semuanya.


Ternyata mereka semua menganggpaku ingin bunuh diri, padahal tidak. Jiwaku tidak selemah itu hingga harus pergi ke langit tanpa dipanggil oleh Tuhan. Karena aku masih punya tempat untuk mengadu, jadi sebisa mungkin menikmati kehidupan yang saat ini sedang berjalan.


__ADS_1


__ADS_2