
Sedikit ada rasa lega dalam hatiku saat kak dika memberikan rekaman vidio itu. Aku berharap ini menjadi langkah untuk pertimbangan kepala sekolah agar menjndak lanjuti orang tersebut yang terlibat hingga mnyebabkan demo ini.
"Syukurlah coach Alam masih dipertahankan"
"Iya benar kak, eh iya ngomong-ngomong kak Dika dapat darimana rekaman itu"
"Aku..... Aku.... " Tatapan yang membuatku kesal dan tidak sabar ingin mendengarnya.
*plak* pukulan keras mendarat di punggungnya. Dari tadi tidak berbicara pada intinya dan mencoba main-main akhirnya aku mengeluarkan jurus andalanku.
"Aduh, sakit key"
"Makanya cepat jawab"
"Iya, iya, aku dapat dari CCTV lah"
"Kok bisa?" Tanyaku heran saat mendengar pernyataan kak Dika.
"Aku sebagai ketua OSIS dan memegang CCTV di sekolah ini"
"Iya tau, tapi kenapa bisa mengarah ke CCTV yang ada di ruangan kosong itu
" Jadi gini key....... " Kak Dika mencoba menjelaskan semuanya kepadaku. Aku menyimak penjelasan yang kak Dika tuturkan.
Kak Dika berkata bahwa siang itu dia melihat aku dan Yuri ke gudang sekolah. Lalu Yuri pergi ke arah kantin dan melihat aku sendirian ke arah gudang. Tapi dia melihat aku yang berhenti dan sepertinya mengintip sesuatu. Jadi karena penasaran apa yang sedang terjadi, dia mencoba membuka dan mengecek CCTV yang ada.
Dan ternyata benar saja ada sesuatu yang janggal. Disana ada coach Alam dengan orang tersebut yang sedang berbincang-bincang. Tapi sayang wajahnya tidak tersorot kamera. Karena hal tersebut, kak Dika juga mengecek CCTV di sore itu. Dia ingin tau orang yang mengejar Key, ternyata coach Alam juga. Tapi orang itu masih membelakangi CCTV hingga wajahnya tidak kelihatan.
"Ohh, jadi begitu ceritanya" mulutku membulat setelah mendengar cerita kak Dika.
Aku mengangguk mengerti saat kak Dika menjelaskan semuanya. Dan sekarang hatiku sangat lega meskipun masih banyak coretan yang mengatakan untuk mengeluarkan coach Alam. Aku tidak bisa berdiam sendiri dan harus bergegas membersihkan sedikit demi sedikit. Langkahku menuju lorong-lorong sekolah yang dipenuhi gambar-gambar kekecewaan terhadap coach Alam setelah tim kami tidak masuk ke final.
*wrekkkk*
Merobek semua kertas yang ada dan membuang ke tempat sampah. Kak Dika juga ikut melakukan hal yang sama. Berselang beberapa menit kemudian, Ari dan Yuri menyusul dan ikut membantuku melakukan hal tersebut.
"Hey" Sapa Yuri dan Ari, aku ikut tersenyum dan kami berempat membersihkan bersama.
Bahkan ada beberapa anak yang hatinya ikut bergerak untuk membersihkannya juga. Coretan demi coretan dan kertas-kertas suara tertempel di lorong-lorong kelas. Ternyata tidak perlu kata ucapan untuk menggerakkan hati semuanya, cukup dengan tindakan saja sudah bisa menggerakkan hati yang diam.
Membuang lalu membakar di tempat sampah. Bahkan guru-guru juga bergerak untuk membersihkan sekolah. Sedikit suasana menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku tau hari mereka masih bersih tapi sedikit ternodai karena kekecewaan dalam diri masing-masing yang ingin diungkapkan dengan tindakan.
"Uuhhh..... Akhirnya selesai juga" Gumamku dan mencoba menatap keseluruhan sambil berkacak pinggang yang sudah mulai bersih. Dari dinding utara hingga selatan semuanya bersih kembali. Sampah yang tidak perlu sudah terbakar dan membuang semuanya.
"Akhirnya key bersih juga"
"Iya ri, makasih banyak ya buat kalian semua" Ucapku pada Ari, Yuri, kak Dika dan seluruh Teman-teman yang membantuku. Seluruh siswa kembali ke tempatnya masing-masing untuk melanjutkan kegiatan mereka sendiri di sekolah.
"Oh iya aku lupa jika saat ini latihan" Aku bergegas pergi menuju lapangan belakang.
"Tunggu aku ikut" Ucap Yuri yang menyusulku berlari dan dia mengekoriku.
"Aku juga" Sambung Ari mengikuti suara Yuri dan mengekor dibelakangku.
__ADS_1
" Hey aku juga" Semuanya berhenti saat mendengar suara kak Dika yang mengikuti suara Yuri. Rasanya geli mendengar semuanya. Aku, Ari dan Yuri saling menatap.
"Hahahahhah" Kami tertawa bersama lalu kembali lari ke lapangan belakang.
Langkahku kembali dihentikan oleh suasana. Mereka berlatih dengan frustasi. Entah karena kekalahan kemarin atau karena coach Alam yang terancam harus dikeluarkan. Aku tidak bisa tinggal diam melihat semua ini. Aku mencoba memberikan mereka semangat untuk tetap berlatih. Memasuki tempat latihan dan berbaur bersama mereka adalah jalan yang utama agar semangat kembali berkobar.
Teriakanku melenting di udara membuat perhatian mereka kembali padaku. Fokus juga sudah ditingkatkan dan berlatih bersama. Tapi masih ada yang kurang karena aku tau di hati mereka masih ada tekanan. Bahkan coach Alam masih belum kelihatan.
"Ayo semangat, semangat, kalian bisa" Yuri teriak dengan sekuat tenaga untuk memberikan semangat pada kami. Ari juga mengikutinya sedangkan kak Dika pergi entah kemana.
Tapi Ari dan Yuri masih semangat teriak di pinggir lapangan. Beberapa siswa juga memperhatikan kelakuan dari Yuri dan Ari. Banyak yang keluar kelas karena hari ini pelajaran tidak diadakan karena demo yang dilakukan oleh para siswa atas kekalahan yang menyebabkan tidak masuk ke final.
"Cek, cek, cek ayo para tim sepak bola putri. Kami sepenuhnya mendukung kalian. Tidak perlu juara satu yang penting juara tiga dan bisa membawa nama baik sekolah dari pertandingan sebelumnya" Ternyata kak dika pergi mengambil sound dan mic untuk memberikan dukungan pada kami yang sedang berlatih.
Kelakuan kak Dika mengundang beberapa siswa untuk ikut memberikan semangat pada kami. Apalagi kak Dika sangat disukai oleh siswi karena parasnya yang tampan. Jadi tidak salah bila dia cocok sekali sebagai ketua untuk melakukan demo di gedung DPR, heheheh.
Karena semangat yang diberikan, kami berlatih dengan konsentrasi dan semangat. Tiba-tiba coach Alam datang dan mencoba melatih kami kembali. Meskipun ada beberapa yang membencinya tapi mereka tetap mendukung tin kebanggaan untuk merebut juara 3.
"Ayo semangat"
"Coach? " Coach alam mengangguk dan tersenyum. Hatiku lega melihatnya karena dia kembali ke lapangan dan mengembalikan fokus kami.
Baru kali ini aku melihat dukungan yang sangat baik. Aku berharap dukungan ini juga ada untuk para tim sepak bola laki-laki di sekolah ini. Tapi menurutku semua akan mendukung lebih dari ini karena tim sepak bola laki-laki sudah sangat baik dan mereka juga pernah membawa juara satu di Piala yang sama. Bahkan aku masih berharap jika David yang masuk sekolah disini dan beain bola di SMA ini. Pasti aku akan slalu mendukungnya tapi itu hanya harapan yang sangat sulit bisa aku dapatkan.
Coach alam tetap fokus melatih kami, dia bilang bahwa kita harus fokus dan meninggalkan semua tekanan yang ada. Bahkan bila ada tuntutan kita harus siap dan jangan dijadikan beban. Apapun yang terjadi kita harus fokus, bila nanti harus kalah setidaknya kita kalah secara terhormat.
Latihan dilakukan hingga pulang sekolah. Seperti biasa aku menaiki angkot untuk sampai ke rumah. Sedangkan Yuri dan kak Dika pulang bersama, sepertinya mereka sudah saling dekat. Dan Ari selalu pulang dengan supir pribadinya, mungkin ayah dan mamanya sedang sibuk jadi tidak menjemputnya.
*klek*
Sesampainya dirumah aku melemparkan tubuh yang lelah dan letih di atas ranjang kasur. Rasanya sangat nyaman sekali bisa melemaskan tubuh yang sangat kaku. Apalagi hatiku yang tegang juga bisa menjadi lemas. Otakku juga sedikit berputar jadi tidak terlalu lelah. Apalagi satu masalah telah selesai walaupun masih belum tuntas. Karena penentuan adalah di pertandingan perebutan juara 3 yang akan datang.
Saat mencoba memejamkan mata, otakku beralih pada pemikiran lain. Bayangan ibu muncul tak terduga dalam pikiran yang lelah. Merasakan sedikit demi sedikit ingatan masa lalu. Bohong bila aku tidak rindu pada ibu. Aku yakin hatiku merindukannya tapi mulutku membungkam sangat erat agar tidak menyebutkan kata rindu.
"Ibu" batinku sambil beranjak dari tempat tidur.
Aku bergegas mencari sesuatu yang ada di dalam laci. Benar sebuah foto ibu bersama laki-laki lain. Tapi bukan itu yang aku butuhkan, melainkan alamat yang ada di belakangnya. Hari ini ingin aku mencari alamat itu, siapa tau aku menemukan ibu. Tapi rasanya tubuh masih lelah dan butuh istirahat. Sejenak aku memejamkan mata dan terlelap untuk menghilangkan penat.
19.10
Aku keluar dengan pakaian serba hitam. Celana jeans, jaket hitam, topi dan masker. Berusaha menutupi diri agar tidak ketahuan jika aku bertemu dengan ibu nanti. Tapi sebenarnya aku ingin bertanya mengapa dia meninggalkanku, tapi sepertinya hati ini masih belum siap.
"aku harus memberanikan diri demi ketemu ibu" sambil memegang kertas foto bersama membangun semangatku untuk bertemu dengannya.
Fokus dengan alamat yang ada. Aku tiba di suatu tempat tapi sepertinya itu tempat club malam. Dan di sana banyak bermacam-macam manusia yang keluar masuk di dalamnya. Semua wanita yang masuk ke dalam sana menggunakan baju yang bahannya sangat minim.
Apa mereka tidak punya uang hingga menggunakan baju yang semacam itu. Ada juga seorang bapak-bapak atau bahkan anak muda yang menjelajah di dalamnya. Entah apa yang ada di dalam itu hingga mereka sangat senang masuk kedalam.
Bahkan banyak yang mabuk sempoyongan juga saat keluar dari sana. Padahal saat ini masih pukul 08.00 malam tapi masih banyak pengunjung. Apa keluarga mereka tidak ada yang mencarinya. Ah entahlah, saat ini aku harus masuk dan mencari tau hal yang ada di sana. Aku juga ingin mencari keberadaan ibu, apa hubungan ibu dengan alamat yang ada disini aku masih belum mengerti.
"Hey ngapain pakaianmu kayak gitu cantik"
"Ihhhh" Aku menepisnya saat tangan itu mencoba merayuku.
__ADS_1
"Halo cantik"
"Ih, tempat macam apa ini" Gumamku dengan keras. Disana banyak lampu warna-warni dan semua pengunjung menari-nari. Ada yang mabuk, ada juga yang asik bermesraan dengan bapak-bapak yang umurnya sudah dibilang cukup tua. Kasihan sekali mereka yang berbuat begini padahal masih muda.
"Hey, ngapain kesini kamu sayang"
"Ih, apaan sih" Aku membentaknya karena dia mencoba melecehkan ku. Aku risih melihat kelakuan minus pengunjung di tempat ini.
"Ini tempat apan sih" Gumamku pada diriku sendiri yang masih bingung.
"Hay, boleh kenalan gak. Ini minum dulu sama om"
*pyarrrr* kau melemparkan gelas yang ia berikan padaku. Aku bergegas keluar tapi mereka menahanku.
"Pegang dia" Teriaknya pada pengawal yang ada di sampingnya. Ada dua pengawal yang memegangi ku dengan erat. Aku mencoba melepaskannya tapi sepertinya tenaga mereka sangat kuat. Tapi ada satu yang membuat mereka lemah.
*brukk, brukk*
"Mampus kau" kerusku dengan kesal.
Tendangan ku tepat sasaran, sepertinya telur-telur mereka akan pecah. Aku segera berlari sekencang mungkin untuk keluar dari tempat itu. Mereka terus mengejarku dan aku terus berlari tanpa menghiraukan apapun.
Tapi tiba-tiba salah satu dari mereka melemparkan batu padaku. Kepalaku terkena batu dan tubuhku terpental karena tidak bisa mengimbangi saat berlari. Dara bercucuran dari kepala bagian belakang. Aku mencoba bangun dan kembali lari tapi mereka menyeret ku dan menarik rambutku seperti koper.
"Lepaskan, tolong, tolong" Teriakku meminta pertolongan tapi mereka tetap saja terus menarik tanpa perasaan.
"Ampun Pak, tolong lepaskan" Darah bercucuran di atas aspal. Rasa sakit dari benturan batu dan juga tarikan mereka membuatku menjerit ampun. Tapi telinga mereka tidak menghiraukan nya.
*brukkk*
*brukk*
Pikulan kayu dari belakang membuat mereka berdua terjatuh. Seseorang nenolongku dan langsung membangunkanku. Kami berlari sejauh mungkin untuk menghindari mereka. Bersembunyi di suatu tempat yang aku rasa sudah aman.
"Terima kasih" Ucapku pada seseorang yang tepat berada di depanku, kami berhadapan satu sama lain. Aku sangat berterima kasih karena telah menolongku.
"Kamu, David? " Tidak sengaja aku menatap matanya. Tatapan itu sama dengan tatapan David pada 2 tahun yang lalu. Dia hanya diam dan mencoba pergi, aku menggenggam tangannya dengan erat.
"Tolong aku" Pusing di kepala tidak lagi dapat ku tahan. Aku memohon pertolongan padanya karena hanya dia yang akan menolongku saat ini. Akibat darah yang terlalu banyak keluar membuat pandanganku menjadi gelap.
*bruk*
Saat aku membuka mata, ternyata aku berada di rumah sakit. Kepalaku sudah di balut dengan perban dan ditangani oleh dokter. Netraku terus membidik ke segala arah, mencari dan memperhatikan ruangan tapi tidak ada siapapun kecuali dokter yang menanganiku.
"Syukurlah, nona sudah sadar" Aku menatap dokter itu yang membagikan senyum indahnya padaku.
"Ih nona, tampan sekali pasanganmu itu"
"Pasangan? " Ucapku kebingungan dengan pernyataan yang diberikan dokter.
"Iya, lelaki tampan yang membawamu kesini bukankah dia pasanganmu"
"Bukan, dia yang menolongku lalu kemana dia sekarang" Aku beranjak untuk turun dari tempat tidur.
__ADS_1