Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
154. Berpamitan


__ADS_3

Mereka semua antusias mendengar pelatih, sedangkan pikiranku kabur entah kemana. Karena aku sudah putus asa terlebih dahulu sebelum mendengarkan keputusan.


"Pemain tersebut adalah, Keyla Adara" Tepuk tangan bersorak gembira.


"Key, key selamat ya" Teriak teman-tsman disampingku.


"Ada apa?" Tanyaku dengan heran, karena sudah jelas bukan namaku yang tertulis disana.


"Apa kamu tidak mendengarkan isi surat itu? "


"Memangnya apa? "


"Hanya nama kamu yang masuk dalam undangan itu" Aku benar-benar terkejut mendengarnya.


"Benarkah? " Sonya mengangguk dengan pertanyaanku.


"Keyla, apakah kamu menolak undangan ini? "


"Tidak coach" Aku segera berdiri dan menghampiri pelatih yang berdiri di depan sambil memegang surat tersebut.


Wajahku tercengang dan masih belum percaya apakah ini mimpi ataukah kenyataan. Dan sekali lagi pelatih meneriakkan bahwa surat itu tercantum jelas namaku.


"Kamu lihat sendiri key"


"Alhamdulillah ya Allah" Aku bersujud syukur dan menangis tersedu-sedu. Sunggu keajaiban yang sangat aku banggakan saat ini.


Aku tidak percaya bila Allah meninggalkan makhluknya dalam keadaan hina. Yang aku percaya adalah Allah akan memberikan keajaiban bagi mahkluknya yang selalu bersabar.


"Selamat ya atas panggilan itu" Pelatih memelukku dngan erat. Beberapa nasehat dia selipkan dan bisikkan padaku.


Katanya aku harus melakukan seleksi dengan baik dan menunjukkan beberapa skli yang aku miliki. Serta melakukannya dengan sungguh-sungguh agar bisa mwnembua skuad garuda muda.


"Terima kasih coach, ini mimpi saya agar bisa mengumpulkan kedua orang tua saya dan dunia bersorak bahwa saya bukan anak sial" Teriakku sambil membalas pelukan pelatih yanga udah menganggap kami seperti anaknya sendiri.


Jika mengingat sebutan anak haram, mungkin aku akan naik pitam. Tapi ibu pernah berkata bahwa tetangga akan memandang aku sebagai sampah dan bila sudah berhasil maka aku akan dipandang dengan hormat seperti berlian.


"Kalian hanya berdiam diri saja? Apakah tidak ada yang menebrikan selamat untuk keyla? " Tanya pelatih pada teman-teman yang ikut terharu atas keberhasilanku mendapatkan undangan ini.


"Selamat keyla"


"Selamat key" Ucapan selamat serta pelukan yang hangat, seperti keluarga sendiri.


Mereka semua sangat mendukungku saat mendengar pengumuman tentang undangan itu. Terlihat senang di wajah mereka masing-masing walaupun keinginan mereka juga sama yaitu diundang dalam seleksi timnas putri.


Aku diijinkan pulang untuk mempersiapkan keberangkatan ku yang akan jalan pada dua hari. Ke depan. Dan sekarang adalah latihan terakhir yang akan aku jalani sebelum ikut seleksi timnas.


"Baiklah, sekarang kita akan lanjutkan latihan lagi. Dan untuk key, kamu boleh ikut latihan atau menyiapkan barang-barangmu untuk pulang nanti malam"


"Siap coach, saya ikut latihan saja"


Aku memilih ikut latihan bersama teman-teman. Lagipula barang-barangku tidak terlalu banyak, palingan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja lalu selesai.


Latihan dimulai seperti biasa, aku fokus kembali dalam latihan yang diberikan oleh pelatih. Memang saat ini hatiku senang, namun kesenangan itu tidak boleh terus larut disaat konsentrasi dimulai untuk kembali fokus berlatih.


"Baiklah, kita akhiri latihan kali ini. Untuk kalian silahkan bergegas istirahat dan kedepannya tetap semangat berlatih untuk persiapan pertandingan selanjutnya"


"Baik coach"


Kami semua bubar dan kembali menuju asrama untuk beristirahat. Sedangkan aku bersiap diri untuk membereskan semua barang-barang untuk segera pulang dan berpamitan pada keluaragku serta mengatakan kabar gembira untuk mereka semua.


"Keyyy, kamar ini akan sepi jika tidak ada kamu" Sonya menangis saat aku memasukkan barangku ke dalam koper.


"Kamu ini, aku hanya melakukan seleksi. Syuku-syukur masuk timnas dan bermain untuk negara, selanjutnya aku akan kembali lagi kok" Uacapku mencoba menjelaskan.


Namun sonya tetap saja mewek, air matanya berjatuhan membasahi lenganku. Tangannya masih tetap mengenggam erat tanganku dan bergelayut pilu. Rasanya tidak ingin melepaskan gengagamn itu.


"Tapi rasanya sepi, tidak ada yang mengangguku saat berlatih. Tidak ada teman curhat sebelum tidur, tidak ada yang jail dan masih banyak lagi" Ujarnya mencoba mengingat beberapa kenangan kami saat ada dalam satu tim.


"Sonya, aku pergi hanya sementara. Jika timnas selesai, aku akan kembali kesini" Aku kembali menjelaskan pada slaah satu sahabat aku yang super duper menyayangiku dan takut akan kehilangan.


"Jaga diri baik-baik, dan harus tetap semangat agar kamu bisa menyusul untuk seleksi bersamaku"


Aku memberikan motivasi agar dia semakin semangat untuk mendapatkan tempat agar bisa mengikuti seleksi timnas.


Tidak tega rasanya meninggalkan tempat ini, namun aku harus semangat dan fokus untuk langkah yang lebih maju lagi. Aku segera berdiri dan mengangkat koper, berpamitan pada para pelatih dan rekan-rekan satu tim.


"Ingat key, saya harus melihat kamu lolos dalam seleksi itu. Karena ini adalah kesempatan untuk kamu yang memiliki skil paling bagus dalam tim" nasehat pelatih saat aku berpamitan.


"Siap coach, Key akan berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan tempat di timnas" sahutku dengan rasa bangga.


Begitu juga beberapa pelatih lainnya yang ikut memberikan wejangan dan semangat dalam keberangkatan ku untuk pulang ke rumah pada malam ini.


"Teman-teman, aku pamit untuk pergi. Aku harap kalian tetap bermain dengan baik, dan jangan lupa selalu petik poin di setiap pertandingan" pesanku pada mereka semua.


"Key"


"Key, hati-hati"


Isak tangis dari mereka dan saling merangkul dalam kepergianku hari ini. Aku terus tersenyum mencoba tegar walaupun juga berat meninggalkan mereka. Sekuat tenaga ku sembunyikan air mata ini.


Mau tidak mau,aku harus tetap melakukannya untuk menggapai mimpiku. Sedangkan Sonya disana, aku melihatnya penuh dengan tangis yang mendalam.


Malam yang tenang dan berubah menjadi haru atas kepergianku. Semoga kalian bisa bermain dengan baik di pertandingan selanjutnya walaupun tanpa aku.




Di Rumah Bu Yanti



\*tok, tok, tok"


"Assalamu'alaikum, ibu" Pagi yang cerah, seharusnya ibu sudah bangun dan mempersiapkan dagangannya.



"Wa'alaikumussalam"



\*cklekk\*



"Keyla....." Teriak ibu dan langsung memelukku dengan erat. Matanya terkejut melihat anak bontotnya pulang tanpa memberinya kabar.

__ADS_1



Ibu memelukku dengan rasa haru yang mendalam. Begitu juga dengan bapak yang keluar dari rumah dan terkejut melihatku berdiri dalam pelukan ibu.



"Keyla? Kamu pulang nak? " Bapak juga langsung memelukku.



Tangis haru sekaligus bangga melihat anaknya ini pulang tanpa memberikan kabar. Mereka pikir aku dikeluarkan dari klub, padahal masih ada satu kejutan yang aku simpan untuk mereka.



"Aku punya kejutan untuk ibu dan hapak"


"Lebih baik kita masuk saja ke dalam rumah" Ucap ibu dan kami semua duduk di ruang tamu.



Saat aku melihat sekeliling, sepertinya mbak Nike dan mbak Yeni masih belum bangun juga dari tidur lelapnya. Sepertinya aku harus memberitahukan pada ibu dan bapak saja dahulu.



"Jadi kenapa kamu pulang nak? Apakah kamu dikeluarkan dri klub? " Tanya bapak penasaran dengan jawaban yang belum aku jelaskan.



"Jadi begini pak, buk..." Aku mengeluarkan sebuah surat dan memberikan pada bapak dan ibu.



"Kalian boleh membacanya" Ucapku, lalu bapak membuak dan membaca isi surat itu.



Aku terdiam saat mereka membuka dan membacanya. Sedangkan terlihat jelas dari sorot mata mereka serius menatap setiap kalimat yang tertulis rapi. Beberapa menit kemudian mata itu berhenti membaca lalu menatapku dengan haru.



"Kamu ikut seleksi di timnas? " Aku mengangguk dan tersenyum.



Bapak dan ibu semakin menagis dan mereka berdua memelukku dengan erat. perasaan bangga dan penantian mereka selama ini akhirnya bisa tercapai, melihat aku bermain baik sehingga dipanggil untuk seleksi timnas.



Aku juga terharu karena berkat dukungan mereka, aku bisa sampai di titik perjalanan yang asudah dekat untuk melewati gerbang menuju bintang. Walaupun perjalanan itu masih sangat panjang.



"Selamat nak, bapak bangga sama kamu"


"Ibu juga sangat bangga denganmu nak" Pagi yang cerah disambut dengan berita yang sangat gembira bagi ibu dan bapak.



"Ibu, bapak memangnya ada apa? Kok ramai sekali"




Aku hanya merjngis kecil dengan kebiasaan dirinya, rasanya aku ingin mengerjai mbak Yeni. karena dia akan selalu usil bila melihatku disini.



"Key? " Matanya melotot dan rasanya tidak percaya jika dia melihatku yang duduk dan dalam pelukan bapak serta ibu.



Mbak Yeni langsung berlari dan memelukku dengan erat seperti seseorang yang tidak bertemu lama. Aku membalas pelukannya dengan erat pula, karena rinduku juga besar padanya.



"Kenapa kau datang? " Bapak dan ibu menjelaskan kepada mbak Yeni atas kedatanganku.



Tidak lama kemudian mbak Nike keluar dari kamar dengan penampilan yang sama dan kelakuan yang sama yaitu juga memelukku dengan erat.



Setelah itu ibu dan bapak menjelaskan pada mereka bahwa aku mendapatkan undangan untuk mengikuti seleksi timnas Indonesia dan akan berangkat besok.



Bahagia menghiasi isi rumah yang kecil di pagi hari dengan keluarga yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukan mentalku untuk menggunakannya dalam permainan bola.



Sore hari



Aku terbangun setelah tidur terlalu lelap karena kecapean saat pulang ke rumah. Aku segera bergegas membersihkan diri dan beribadah seperti biasa.



"Ya Allah, Terima kasih telah menjawab doaku. Mohon berikanlah hamba kemudahan dalam melakukan seleksi timnas dan semoga bisa membanggakan kedua orang tua angkat hamba dan juga kedua orang tua kandung hamba"



Rasa syukur selalu aku ucapkan kepada Allah yang maha Esa. Secara bertahap harapan dan keinginanku dikabulkan dengan baik. Keyakinanku yang sangat besar membela timnas. Dan setiap langkah selalu memiliki keyakinan, bahwa dibalik kesusahan akan ada bunga di masa depan.



"Hai ani, aku pulang dari klub dan membawa kabar gembira untukmu. Apakah kita bisa bertemu"



(Ting) bunyi pesan telah terkirim.



Aku mengirimkan pesan pada Ani, lagipupa dia pasti akan merasa bosan saat tinggal di rumah Adit yang ada di luar kota.

__ADS_1



Maka dari itu aku menghubunginya agar kita bisa bersenang-senang sebelum aku berangkat seleksi. Sekaligus akan aku beritahu berita yang sangat membanggakan.



"Benarkah key? Aku akan kesana menemuimu"


"Benar Ani, baiklah aku akan menunggumu" (Pesan).



"Sepertinya aku harus menghubungi Ari dan Yuri juga. Pasti mereka akan senang melihatku disini, apalagi kita sudah lama tidak bertemu" Gumamku sambil mencari kontak mereka.



Aku mengirimkan pesan di grup pada Ari dan Yuri, benar kataku karena mereka sangat senang dengan berita ini. Mereka berdua berjanji akan menemuiku nanti sore sepulang sekolah.



"Ahhh, alhamdulillah ya Allah. Kasempatan yang terbuka lebar untuk menggapai mimpiku" Aku melemparkan diri ke atas ranjang.



Memeluk bobo yang sudah lama tidak aku ajak bicara. Aku rindu dengan bobo dan bentuknya masih sama namun dia terlihat kotor. Mungkin karena aku tidak membersihkannya akhir-akhir ini.



"Oh iya, lebih baik aku berkemas saja barang-barang yang akan aku bawa besok"



Baru saja rebahan, tubuh ini bergegas untuk membereskan barang yang akan dibawa untuk melakukan seleksi agar nanti tidak mendadak dan membuat beberapa barang ketinggalan.



"Lihatlah sepatu mbak Nike, sangat indah dan membawa keberuntungan. Aku akan memakainya saat seleksi besok" Sepatu yang selalu aku gunakan saat bertanding.



Memang sepatunya tidak semahal milik teman-teman dan warnanya juga telah usang karena sudah lama mbak nike membelikan. Namun pemberiannya yang benar-benar bermakna dan penuh kasih sayang.



"David, apa kabar dia di klub barunya. Selama ini aku belum lagi mengirimkan pesan untuknya" Melihat bola yang ada di atas lemari, aku mengingat sosok David.



Sekarang kita berjalan dalam mimpi masing-masing. Bahkan hampir tidak pernah mengirimkan pesan setelah kami berdua keluar bersamaan dari sekolah untuk bernaung di klub masing-masing.



13.00 Di sebuah resto



\*ting\* (suar pesan masuk)



"Kamu dimana?" Pesan dari Ani, rupanya dia sudah sampai ke kota ini.



"Aku disini, meja nomor 8" Balas ku.



Ani datang dari arah belakang tempat dudukku. Aku terkejut karena dia masih menggunakan pakaian yang serba hitam untuk menutupi dirinya.



"Hey"


"Astaga, aku pikir kamu itu penculik tau" Gumamku mengejeknya.


"Enak saja" Sahutnya.



Ani memesan makanan dan aku sibuk memandangi wajahnya. Dia terlihat masih sama, namun bedanya sekarang tertutup karena tidak ingin terlihat oleh kelompok Prabu.



Aku kasihan pada Ani, karena kehidupan dirinya tidak tenang. Mungkin setiap keluar rumah dia akan menutupi tubuhnya dengan balutan kain hitam. Itu semua salahku, karena aku yang seharusnya diperlakukan seperti itu oleh Prabu bukannya Ani.



"Kamu kesini dengan siapa? " Tanyaku.


"Hmmm bentar" Kepalanya celingukan seperti mencari sesuatu dari kerumunan pengunjung yang datang.



"Anak ini, aku bertanya kamu datang dengan siapa bukan bertanya berapa banyak pengunjung yang ada disini" Gimamku sambil menepok jidat.



\*plak\*



"Aduh sakit Key"


"Syukurin, makanya kalau orang bicara itu dengarkan jangan cuman bengong"


"Maaf, aku tadi mesan makanan"



Ani kembali melihat menu dan menuliskannya dalam kertas lalu dia berikan pada pelayan tanpa menjawab pertanyaanku yang tadi.



Memang konyol perilakunya, semacam orang misterius saja. Dia pikir hanya dirinya yang misterius, aku juga bisa kalaupun aku mau. Sungguh Ani menyebalkan, untung kali ini kedabaranku tidak setipis tisu.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2