
Dia terus saja salah paham padaku. Padahal aku dan Doni hanya sebagai teman saja. Sedangkan dia dan Adel sudah menjalin hubungan sebagai tunangan.
"Kalian kenapa? Kok bertengkar sih kayak orang pacaran saja" Ucap Doni yang tiba-tiba datang menghampiri kami berdua yang sibuk beradu argumen. Mungkin Doni risih melihat aku dan David beradu.
"Diam" Bentak ku sama David secara bersamaan membuat Doni diam seketika.
Aku dan David saling emosi. Aku diam begitu juga dengannya. Wajah kami saling memalingkan ke sembarang arah. Tidak mau menatap satu sama lainnya.
"Lebih baik kamu tidak usah kesini" Bentak ku membuat tatapan David kembali menatapku dengan kesal.
" Iya biar aku tidak melihatmu berpelukan dengan Doni kan" Kembali membahas hal yang tidak penting.
"Aku sudah menjelaskan bahwa Doni dan aku hanya merayakan kemenangan, lalu mengapa kau cemburu"
"Tapi tidak perlu berpelukan juga kan key" Sahutnya.
Mungkin dia cemburu padaku sehingga berkata demikian. Padahal kami tidak ada ikatan hanya saja memendam rasa di dalam hati masing-masing.
"Memangnya kalian pacaran? " Tanya Doni yang penasaran
"Tidak" Lagi-lagi David dan aku menjawabnya secara bersamaan membuat Doni semakin bingung.
"Kenapa bertengkar seperti orang pacaran? "
"Diam" Sepertinya Doni serba salah.
"Aku pergi meninggalkan David dan bergegas menyuruh Doni untuk mengambil motornya lalu pergi dari pertandingan ini. Sebenarnya sangat aneh, aku dan David tidak pacaran tapi seakan-akan seperti orang pacaran yang posesif dengan pasangannya.
Hal ini sangat lucu karena dalam hati kami memiliki rasa yang sama tapi sangat susah untuk mengungkapkan semuanya. Memilih diam dalam rasa masing-masing di dalam hati.
"Key, maaf ya gara-gara aku kalian bertengkar" Doni merasa bersalah atas pertengkaran ku dan David.
"Enggak kok, tenang aja. Oh iya Don kita ke rumah sakit ya"
"Kenapa kesana? "
"Bapakku lagi sakit" Aku menjelaskan bahwa bapak sedang dirawat di rumah sakit. Jadi aku harus ke sana untuk menjaga bapak.
Tidak lama kemudian kami sampai ke rumah sakit. Masuk keruangan bapak dan disana sudah ada ibu sendirian. Katanya mbak Yeni pulang karena ada kuliah mendadak dari dosennya. Jadi hanya ibu yang jaga.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, kamu sudah pulang nak" Ibu beranjak dari tempat duduk dan menyambutku yang baru datang dengan pelukan.
"Iya bu"
"Gimana pertandingannya? " Pertanyaan yang sama akan diberikan jika aku pulang saat bertanding.
"Alhamdulillah bu, pak, Key menang" Aku menceritakan pada bapak dan ibu tentang kemenangan dengan singkat hingga aku lupa mengenalkan Doni pada mereka berdua.
"Ini teman kamu key" Kata ibu saat melihat Doni yang berdiri di belakangku.
"Astaga, aku lupa bu. Kenalin ini Doni dan doni ini ibu dan bapak aku"
"Saya Doni bu, pak teman sekolah Keyla" Doni bersalaman dengan ibu dan bapak sebagai rasa hormat. Ibu dan bapak tersenyum melihat tingkah laku Doni.
Sepertinya Doni merasakan kenyaman dengan keluargaku. Karena semenjak dia datang, bapak selalu tersenyum mendengarkan ceritaku dan Doni tentang pertandingan. Sebenarnya tidak ada yang lucu tapi aku yang membuat cerita itu menjadi lucu untuk melihat senyum ibu dan bapak.
Setelah itu aku dan Doni keluar karena ada dokter yang akan memeriksa perkembangan kesehatan bapak. Kami berdua berjalan-jalan dia skitar taman yang ada di rumah sakit ini sambil menikmati tanaman bunga yang sangat indah.
"Key, keluargamu sangat hangat ya. Aku senang sekali berinteraksi dngan keluarga ini" Ternyata bukan hanya aku saja yang merasakan kehangatan di antara keluarga ibu, tapi Doni juga merasakan kehangatan yang sama.
"Iya don, kamu harus sering-sering main kesini biar bisa kenal baik dengan keluargaku. Ari dan Yuri saja sangat senang bila bermain kerumah" Ucapku antusias, seakan-akan aku mengajak Doni bermain dengan keluargaku sendiri. Padahal mereka adalah keluarga angkat yang aku sayangi seperti orang tua kandungku sendiri.
Aku tau Doni merasakan kesepian yang dalam. Karena hidupnya hampir mirip dengan perjalanan hidupku. Maka di hatinya pasti menginginkan keutuhan dalam keluarganya. Dan juga kehangatan yang memeluknya.
"Lain kali aku akan mengunjungi rumah-Mu key"
"Boleh, aku sangat senang apalagi bermain dengan Ari dan Yuri" Kebersamaan ku tidak akan lepas dengan kedua orang itu. Karena mereka adalah sahabat terbaik yang aku miliki di sekolah.
"Astaga, aku lupa key" Doni mengambil ponsel dan menyalakan pesan. Dia menepok jidatnya seperti melupakan sesuatu.
"Kenapa Don? " Ucapku padanya karena Doni terlihat sangat bingung.
"Aku harus pulang, soalnya mamaku akan datang dari luar negeri. Aku harus membereskan rumah yang agak berantakan" Wajahnya terlihat cemas dan ketakutan.
"Iya don, Hati-hati ya Jangan ngebut. Oh iya terima kasih juga atas pertolongannya".
"Iya sama-sama key" Doni segera menuju parkiran dan mengambil motornya lalu bergegas untuk pulang.
Aku bingung apakah di rumah Doni tidak ada pembantu sehingga dia harus membersihkan rumah itu sendiri. Padahal dia adalah orang kaya bukan orang sederhana sepertiku.
"Ahh, sudahlah. Lebih baik aku masuk" Aku masuk kembali ke dalam rumah sakit.
Dan ternyata dokter sudah selesai memeriksa bapak. Katanya bapak sudah menjadi lebih baik dan harus menurut tentang aturan yang dokter berikan agar cepat pulang ke rumah.
Aku bersyukur mendengarkan penjelasan dari ibu. Karena keadaan bapak sedikit lebih baik dari kemarin. Beribu-ribu syukur aku ucapkan, ternyata Tuhan mengabulkan doaku.
"Ya Allah, Terima kasih banyak atas nikmat dan karuniamu yang mengabulkan hamba. Engkaulah pemilik hidup dan bisa merubah segalanya." Batinku berseru pada Yang Maha Kuasa.
__ADS_1
Doa dari sang pendosa yang sering membutuhkan Tuhannya di waktu genting saja. Aku hanya manusia pendosa yang banyak salah. Hanya ingin menjadi lebih baik walaupun terkadang masih saja ada keburukan yang menghampiri.
Seperti biasa yang menjaga hingga pagi adalah aku dan mbak Yeni. Sedangkan ibu pulang bersama mbak Nike untuk istirahat. Aku dan mbak Yeni yang merawat bapak di rumah sakit saat ibu pulang ke rumah.
Pagi
Di pagi yang cerah ini aku tetap berangkat ke sekolah. Karena tidak mungkin aku harus absen terus. Kemarin absen menjaga bapak dan bermain bola. Jadi ibu menyuruhku untuk tidak absen lagi karena permainan bola sudah selesai.
Dan nanti sore aku akan mengambil uang di ATM. Uang tersebut adalah gaji pertamaku selama satu musim pertandingan kemarin. Dan juga kami mendapatkan bonus dari tim serta bonus hadiah kemengan tim kemarin.
"Uang itu akan aku berikan pada ibu. Hitung-hitung sebagai balas budi atas kebaikan mereka padaku" Gumamku dalam perjalanan ke sekolah.
Aku berencana akan memberikan uang itu ke ibu untuk membantu membayar biaya pengobatan bapak. Sisanya akan aku tabung sebagai uang pengganti yang nanti akan aku kembalikan ke ibu kandungku aku ingin hidup mandiri tanpa belas kasih mereka yang sudah tidak peduli padaku.
Saat turun dari angkot, hatiku sangat senang. Kemarin sudah aku ceritakan singkat pada Ari dan Yuri tentang kenangan ku. Tapi kali ini akan aku ceritakan semuanya pada mereka berdua. Agar mereka sama-sama senang dengan apa yang aku raih.
"Disana ada apa ya? Kok ramai sekali" Di depan mading terlihat beberapa siswa yang sedang bergerombol.
Entah apa yang mereka lihat disana tapi sepertinya asik. Mungkin ada puisi atau cerpen baru yang diterbitkan seperti biasa. Tapi ini sangat ramai tidak seperti biasanya.
"Permisi, permisi" Aku masuk dalam gerombolan mereka dan melihat di depan mading entah apa yang mereka lihat.
"Nah ini orangnya" Teriak salah stau siswa. Baru saja aku ingin melihat di mading tapi mereka sudah berteriak.
"Iya ini, huuu dasar"
"Kelihatannya polos ternyata suka ke klub malam" Teriak salah satu dari mereka yang membuatku kesal.
"Minggir, minggir, minggir semua" Aku mencabut semua foto itu dan menggenggamnya.
Banyak sekali foto yang ditempel di mading. Sambil berjalan aku juga melihat ada yang ditempel di tembok. Yuri dan Ari yang baru datang juga membantuku untuk mencabut semua foto tersebut.
"Key kenapa fotomu seperti ini sih key" Ucap Ari sambil membersihkan semua foto yang tertempel.
"Gak tau ri, aku gak paham" Sahut ku yang juga bingung dengan semua ini.
"Iya key, siapa yang ngelakuin ini semua" Tanya Yuri dan tangannya juga sibuk membersihkan foto itu.
"Sudahlah, ayo kita bakar saja" Aku bergegas meminjam korek api kepada tukang kebun dan membakarnya di tempat pembuangan akhir di belakang sekolah. Aku tidak tau siapa lagi yang menyebarkan fitnah ini.
"Key kamu yang tenang ya, aku bakalan cari tau tentang semua ini" Ucap Ari yang ikut prihatin dengan fitnah yang menyebar.
Tulisan yang tidak senonoh yang menyebut bahwa aku wanita malam yang suka menggandeng om-om. Aku tidak tau foto itu diambil kapan dan siapa yang melakukan hal buruk ini.
"Yuk kita masuk" Ajakku pada Ari dan Yuri. Kami bertiga jalan menuju kelas. Suasana yang sangat rumit, semua memanggilku wanita malam karena foto tersebut. Aku tidak bisa berkata apapun, karena semua sudah menyebar gosip di seluruh sekolah.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan menuju kelas, aku teringat bahwa foto itu benar-benar aku. Saat mencari ibu ke tempat haram tersebut dan bertemu dengan orang jahat pada malam itu.
Tanpa pikir panjang aku menjgajak Yuri dan Ari untuk berbicara bertiga saja. Aku menceritakan semuanya bahwa itu benar fotoku pada saat mencari ibu. Aku juga berani bersumpah bahwa aku bukan wanita malam yang mereka bicarakan.
"Lalu siapa yang menyebarkan foto itu key? " Tanya Yuri yang penasaran dengan pelakunya.
"Aku tidak tau, saat aku datang foto itu sudah tertempel di dinding dan menyebabkan keributan" Sahut ku yang tidak tau siapa pelaku di balik semua ini.
"Aku yakin bahwa orang yang menyebar semua ini adalah siswa disini dan dia juga memiliki rahasiamu key" Ucap Ari.
"Itu sudah jelas ri" Sahut Yuri yang setuju dengannya
"Tapi masalahnya aku tidak ada bukti jika aku hanya mencari ibu saja bukan menjual diri" Aku bingung untuk menjelaskan tentang kebenaran dan menghapus nama baikku di sekolah ini.
"Key, itu benar kamu" Doni tiba-tiba datang menghampiri ku. Dia menanyakan tentang gosip yang sudah menyebar.
"Itu benar aku Don, tapi aku bukan wanita malam" Ucapku lesu memikirkan semuanya. Lalu langkahku bergegas pergi meninggalkan mereka.
Rasanya ingin berlari sejauh mungkin dan meninggalkan semua dunia yang penuh rekayasa. Adanya kebahagiaan datang sekejap lalu menghilang dan begitu seterusnya.
"Kamu mau kemana key? " Tanya Yuri padaku.
"Tolong, aku ingin sendiri saat ini. Kalian tunggu saja di kelas" Ucapku pada mereka bertiga.
Sepertinya suasana hatiku sedang kacau. Bibirku terbungkam fitnah karena tidak bisa memberikan bukti penting yang dapat membersihkan namaku. Aku ingin berdiam sendiri menghilangkan sumpek yang berkeliling dengan gila.
"Pemain bola hebat tapi kupu-kupu malam"
"Iya, mana sukanya sama om-om lagi"
"Ihhh, murahan"
"Gak tau malu" Aku tidak bisa membalas mereka satu per satu.
Hanya bisa mendengarkan omong kosong di sepanjang lorong ini. Aku bergegas naik ke atas balkon sekolah dan menyendiri di sana.
Sepertinya menatap langit disini lebih menengakann hati daripada berjalan di lantai bawah yang membuat hatiku hancur, benci rasanya mendengar cacian dari sepanjang jalan yang aku jejaki di setiap sudut. Mereka semua mengatakan hal kotor padaku.
"Tuhan, rumit sekali perjalanku. Mengapa masih banyak orang yang menjahatiku. Apa salahku hingga mereka berbuat seperti ini" Aku mengadu pada Tuhan yang menciptakan seluruh alam. Dialah tempatku mengeluh atas semua yang ada dalam kehidupan ini.
"Aaaaaaaaaaaa" Akun teriak kencang diatas sini sambil merentangkan tangan dan menatap ke langit. Berteriak agar langit menurunkan hujan untuk membuatku tersenyum. Tapi langit membisu karena dibungkam oleh terik mentari pagi.
Aku kembali duduk di tepi-tepi gedung. Melihat pemandangan kota yang sangat indah. Ternyata dunia itu kecil, yang besar hanyalah ego dan kesombongan manusia. Mereka selalu merasa hebat hingga lupa darimana mereka semua berasal.
"Key, key, key turun" Teriakan terdengar dari bawah. Sepertinya ada yang meneriaki diriku.
"Mereka ngapain berkumpul dibawah. Seperti ingin demo saja. Apakah mereka masih belum puas menganggu diriku dengan omongan kotor di lantai bawah sehingga mereka kembali mengatakan hal itu saat aku di atas sini"
Ocehan pada kesepianku saat ini. Aku memilih untuk dudi disini agar tidak melibatkan Yuri dan Ari dalam kesedihan yang aku rasakan. Biarkan aku saja yang menanggung rasa sakit ini dengan pura-pura tegar.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~