
Melangkah dan mengendap-ngendap seperti maling. Masuk ke kamar mereka secara perlahan agar tidak ada yang mengetahui kehadiran diriku.
"Aduhh, susah sekali memutar alarmnya" Batinku berseru, karena tangan kiriku masih sakit.
Dengan hari-hati aku melakukannya. Memutar dua alarm dengan bunyi yang sangat berisik. Dan sebentar lagi mereka akan terbangun dalam hitungan detik langkahku keluar dari rumah ini.
"Bu, key berangkat dulu ya"
"Iya hari-hati nak"
*kringggggg, kringgg, keinggg*
"Keylaaaaaa" Teriakan secara bersamaan dari dalam rumah. Ibu dan bapak tersenyum mendengar suara mereka.
Kelakuanku sudah terbiasa karena mereka berdua selalu molor dan tidak pernah bangun sangat pagi. Padahal satu bulan lagi pernikahan mbak Nike tapi dia masih tertidur molor terus.
"Selamat bangun mbakku tersayang" Ucapku sambil berlari kecil menuju ke halte pemberhentian.
Aku sengaja pergi sekolah sepagi ini karena ingin nongkrong bersama Riki dan pak Abi. Aku rindu mereka dan tidak lupa aku membawakan oleh-oleh dari Singapura.
"Pak Abii, Rikiii" Teriakku dengan kencang.
"Keyla" Senyum Riki dan pak Abi sangatlah indah dan menyejukkan hatiku. Mereka adalah tempat awal kisahku dimulai.
"Keyyy" Riki berlari memelukku. dan dia juga berhati-hati takut mengenai luka yang ada di lenganku ini.
"Keyla anakku" Ucap pak Abi yang selalu tersenyum dengan tulus.
Setelah itu mereka bertanya tentang keadaan dari lenganku saat ini. Mereka berdua mengetahui luka ini karena selalu menonton pertandingan ku. Bahkan selalu menonton bersama-sama melalui TV kecil di warung ini.
"Tenang saja, tangan ini baik-baik saja kok pak, rik. Oh iya ini ada oleh-oleh untuk kalian"
Aku memberikan baju untuk pak Abi, lalu baju untuk ibu dan adik-adik Riki yang aku beli di Singapura.
"Dan ini untukmu ki"
"Bola? "
"Bola dan jersey ku, disini sudah ada tanda tangan semua timnas putri. Walaupun mimpimu terkubur jauh, setidaknya aku bisa mengingatkan dengan bola bahwa kamu pernah bermimpi menjadi pemain bola" Ujarku dengan senyum.
"Terima kasih banyak key" Tangisan harus keluar dari mata seorang lelaki.
Itulah tangis kejujuran, aku tau di hatinya paling dalam dia masih ingin menggapai cita-cita itu namun nyatanya takdir berkata lain. Dan sekarang aku ingin mewujudkannya walau hanya dengan sebuah bola dan jersey ini.
Dia adalah anak yang hebat, tidak pernah mengeluh sedikitpun. Yang ada dipikirannya adalah kehidupan yang baik untuk ibu dan adik-adiknya. Aku harap Tuhan adil memberikan kebahagiaan yang sangat banyak untuk Riki nikmati dimasa depan.
"Oh iya, ini ada rejeki untuk sekolah adikmu"
"Tidak Key aku ingin mandri"
"Benar, kamu sudah mandiri. Dan aku ingin uang ini kamu gunakan untuk membuka usaha dengan berjualan gorengan atau apapun. Agar tubuhmu tidak kepanasan lagi"
Riki kembali terdiam dan bibirnya membeku. Tatapan matanya menyorot dengan pilu serta menahan air mata agar tidak terjatuh.
Namun pada akhirnya terjatuh juga. Dia menangis dengan tersedu-sedu karena uang ini. Aku berkata padanya bahwa ini adalah rejeki yang Tuhan kirimkan melalui aku. Karena aku telah berjanji akan selamanya berteman dengan Riki walaupun namaku sudah dikenal banyak orang.
"Oh iya Pak Abi, ini ada juga untuk bapak. Walaupun sedikit tapi setidaknya bisa membuat usaha di rumah bapak, agar tidak perlu menjaga warung koran di sini lagi"
"Ahh tidak, tidak aku tidak mau menerimanya"
"Pak Abi, selama ini bapak telah membuat hidup Key penuh tawa dan berwarna setiap pagi atau bahkan setiap hari. Dan bapak telah menjaga key saat berjualan koran di jalanan. Kali ini ijinkan key untuk berterima kasih" Aku mengenggam tangan pak Abi dengan senyuman.
"Iya tapi bapak tidak ingin menerima uangmu" Sahutnya dengan lembut.
"Key sudah berjanji ingin mentraktir pak Abi dan Riki, namun waktu Key termakan oleh waktu karena harus bermain dengan timnas" Wajahku mendadak sedih.
Pak Abi tetap saja tidak ingin mengambil uang itu. Sedangkan aku hanya ingin membagi rejeki dan juga berterima kasih padanya karena selama ini telah menjagaku.
Pak abi adalah bapak yang baik di jalanan. Untukku dan Riki, dia selalu ada dalam suka dan duka. Menjaga kami berdua hingga sebesar ini. Maka inilah waktu yang tepat untuk aku membalas kebaikan dirinya.
"Baiklah, jika pak Abi tidak ingin mengambilnya. Maka aku tidak akan kesini lagi" Ucapku sambil tertunduk.
"Tapi nak"
"Key khawatir dengan keadaan pak Abi yang setiap hari berjaga disini, kadang sakit dan tetap saja masih berjaga. Lalu bertaruh antara waktu dan jalanan. Key tidak ingin melihat pak Abi sakit"
Tangisan dari mataku kembali meluncur bebas. Aku benar-benar bersedih, dan rasanya aku tidak ingin melihat hari tua pak Abi dihabiskan di jalanan ini.
"Baiklah, bapak akan terima ini. Dan akan membuka warung di rumah" Tangisan haru tanpa suara terlihat dari mataku.
Aku memeluk pak Abi dengan erat. Karena selama ini aku sudah menganggapnya orang tuaku sendiri. Pak Abi juga menangis dan mengelus lembut kepalaku. Tidak terasa air matanya juga menetes, dan aku merasakan itu.
Kehangatan yang luar biasa, antara aku, Riki dan pak Abi. Mereka adalah keluargaku karena selalu menghibur dan memberikan nasehat saat aku sedih di pinggiran jalan.
Ucapan terima kasih saja tidak akan cukup untuk mereka. Karena mereka adalah kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1
Sekolah
"Kok sepi sekali sih sekolah ini. Apakah hari ini libur? " Aku terheran saat turun dari angkot, sekolah ini tidak ada tanda-tanda kehidupan. Padahal sudah pukul 06.35.
"Ih kalian kemana sih, di telpon tidak diangkat" Tutur ku kesal saat menghubungi Ari dan Yuri namun mereka tidak mengangkat telepon ku.
Dengan rasa kebingungan aku tetap masuk ke dalam sekolah. Dan masih saja terlihat di lorong ini kosong tidak ada siapaun. Berkali-kali aku melihat tanggal namun ternyata warna hitam. Karena aku takut jika hari ini adalah tanggal merah, ternyata bukan.
Padahal kemarin lusa aku kembali dari seleksi dan di intruksikan untuk masuk sekarang namun tidak ada kehidupan manusia disini.
*pyarrr, pyarrr*
*dorrr, dorrrr*
Aku terkejut saat ledakan kejutan itu datang. Sebuah baner terpampang jelas dan meriah di tengah lapangan. Gambarku yang disambut bagai pahlawan.
"Selamat datang Keyla adara, Terima kasih sudah bermain untuk negara dengan hati yang luar biasa"
Aku tersenyum namun mataku menolak diam. Air mata kembali mengalir dengan deras antara kebahagiaan dan kesedihan bercampur menjadi satu.
Tubuhku lemas dan bersimpuh, menangis sendirian di tengah lapangan. Aku bangga menjadi siswa sekolah ini. Mereka menyambut ku dengan sangat meriah.
"Keyla, keyla, keyla"
"Keyla, keyla" Teriakan dari para siswa dan guru.
Mereka keluar dari setiap sudut sekolah, ada yang berteriak dari lantai atas dan ada juga yang berteriak mendekatiku.
"Bangunlah"
"Ari, Yuri" Kedua sahabatku, mereka ikut dalam perjuanganku untuk meraih mimpi.
Terlihat juga coach Alam yang mendekat lalu memelukku dengan erat. Dia berbisik bahwa salah satu anak asuhnya berhasil masuk ke dalam timnas dan bermain hingga tangannya terluka.
Bahkan beberapa guru juga memberikan pelukan dan ucapan selamat. Tidak lupa kepala sekolah memeberiku penghargaan sebagai siswa terbaik pada tahun ini.
Karena sebentar lagi aku akan melangkah ke kelas 3. Aku harus mengikuti ujian susulan, karena waktuku habis untuk ikut seleksi dan masuk timnas.
"Selamat keyla, kamu kembali berhasil membawa nama baik sekolah ini" Aku tersenyum dengan ucapan hangat itu.
Sambutan juga diberikan oleh beberapa siswa. Mungkin inilah suasana saat penyambutan dengan ucapan yang sangat menghargai. Senyuman diantara mereka adalah senyuman bahagia dari lubuk hatiku.
Lagi dan lagi, meraka berebut untuk ikut berfoto bersamaku. Pertama aku berfoto dengan semua guru, lalu dengan para siswa yang ada disini
"Tunggu ya, kalian harus antri karena sahabatku sedang lelah setelah pulang dari timnas" Aku tertawa dengan kelakuan Ari dan Yuri.
Mereka mengatur teman-teman yang meminta tanda tanganku. Aku tidak menolaknya walaupun seluruh sekolah yang meminta tanda tangan ini. Karena aku merasa bukanlah siapa-siaap, dan ingatlah bahwa di atas langit masih ada langit jadi jangan pernah sombong atas keberhasilan yang sedang kalian capai.
Hari ini adalah hari bebas di sekolah. Pelajaran ditiaadakan, karena sekolah mengadakan pesta penyambutan diriku. Aku merasa sangat bahagia karena disambut secara terhormat.
"Key, tandatangan di jersey bolaku" Aku tertawa dengan keras saat Doni juga datang membawa jerseynya.
Dia ingin aku tandatangan di jersey sebagai kenangannya nanti. Padahal dia juga pemain hebat, tapi memintaku untuk tanda tangan seperti ini.
"Nah, sekarang aku sudah memiliki 2 tanda tangan pemain timnas. Yaitu dirimu dan David" Ucapnya dengan penuh senyuman.
Saat mendengar nama David, wajahku seketika terdiam. Aku mengingatnya, dan sudah dari kemarin setelah kedatangan ku ke Indonesia tidak sempat aku menghubungi David.
"Key kenapa? Apakah kamu capek untuk tandatangan? " Tanya Ari yang cemas dengan wajah diamku.
"Ah tidak, aku baik-baik saja" Ucapku sambil tersenyum.
Setelah semuanya usai, aku berbicara pada Ari dan Yuri untuk mengajak mereka makan malam. Di rumahku besok. Dan kali ini aku yang akan menjamu mereka di rumah sekalian memberikan hadiah dari Singapura.
"Baiklah, aku akan datang"
"Aku juga" Ari dan Yuri menyetujuinya. Lagipula kami sudah lama tidak kumpul begini.
Jadi aku ingin mereka datang dan berkumpul bersama dalam acara syukuran yang ibu adakan.
Sepulang sekolah aku masih saja tetap memilih untuk naik angkot. Menunggu di sebuah halte yang menjadi teman dalam panas dan hujan. Rindu sekali aku dengan kenangan itu yang telah lama tidak aku lakukan.
Katanya atlet terkenal tidak boleh naik angkot, harusnya naik taksi. Tapi menurutku kehidupan sederhana lebih indah dibandingkan kemewahan tapi ujungnya tidak bahagia.
"Hey" Suara lembut memanggil saat aku berdiri untuk menunggu angkot.
"David, kapan kamu pulang? "
"Hari ini" Aku tersenyum.
Lelaki di depan mataku datang, dan dialah orang yang aku cari di sekolah padahal dia masih bermain di tim kota b dan memiliki rencana untuk pindah ke sana.
"Apa kabar? "
"Baik"
__ADS_1
"Lukamu? "
"Mungkin butuh beberapa bulan untuk sembuh" Berbincang ringan di halte.
Lama kami tidak bertemu, hanya menghubungi dengan menggunakan ponsel saja untuk mengetahui keadaan masing-masing.
Jarak cukup jauh tidak memberikan kesempatan kami untuk duduk bersama dan berbincang-bincang seperti dulu. kami sudah mulai akrab, namun waktu yang tidka pernah berpihak.
"Aku membawakan sesuatu"
"Apa? " Sebuah kotak kecil dia keluarkan. Aku harap dia tidak membeli barang-barang mahal lagi.
"Ini" Aku membukanya, jam tangan yang indah. Dia membeli jam tangan dengan model yang sama. Satu untukku dan satu untuknya.
*plak*
"Aduh, sakit Key"
"Suruh siapa membeli barang mahal lagi, aku tidak butuh ini"
"Lalu? "
"Aku hanya membutuhkanmu datang" Kali ini aku benar-benar melihat senyum David yang lebar. Kulkas dingin kini sudah mencair.
Kami berdua pulang bersama-sama menaiki angkot. Aku ingin mengenalkan David pada ibu. Aku ingin menceritakan padanya bahwa ada lelaki yang selalu sabar mengajariku bermain bola.
Rumah
"Masuklah"
"Iya"
"Assalamu'alaikum, ibu, Kaira"
"Waalaikumsalam, sudah pulang"
"Sudah bu" Ibu dan Kaira keluar dari kamar. Rupanya mereka habis menonton TV
"Kamu? "
"Tante? " Aku bingung saat mereka langsung bertegur sapa.
"Kalian sudah saling mengenal? "
"Iya" Jawabnya secara bersamaan.
Ibu bercerita bahwa David adalah tunangan Adel yang merupakan keponakan dari suami ibu, lebih tepatnya mantan suami. Jadi dia mengenal David.
"Ohhh, sudahlah jangan membicarakan itu lagi. Aku sudah bosan" Mendengar nama mereka adalah suatu kebosanan yang merasuki otakku.
"Bu kenalkan, dia David"
"Ibu kan sudah kenal key"
"Eh iya lupa" Aku meringis saat mengatakan itu.
"Tante, kenapa kaki tante begini? " tanya David dan mematap kaki ibu dengan heran.
Ibu menceritakan bahwa dirinya ditabrak dengan sengaja oleh orang suruhan mantan suaminya. Tujuan utama mereka adalah menabrak ku namun ibu mengorbankan dirinya untuk memberikan aku kesemepatan hidup menjadi anak yang lebih baik.
"Tenang saja, sekarang tante sudha baik-baik saja berkat Keyla"
"Tidak, justru aku yang baik-baik saja karena ada ibu" sahut ku sambil tersenyum dan merapikan ruang tamu.
"Tante, apakah boleh aku menjaga Keyla? " Tersontak aku kaget dan langsung menatap David.
"Apa maksudmu? " Tanyaku pada David dan dia hanya tersenyum.
Ibu mengnggukkan kepalanya dan menyetujui hal tersebut tanpa harus bertanya lagi. Bahkan ibu tersenyum dengan lebar.
Aku tidak tau mengapa mereka satu jalan, dan David juga kenapa harus bertanya dengan hal itu. Apa dia bisa menjagaku dengan baik di saat tempat kami berbeda. Dia di luar kota dan aku berjuang disini. Dasar anak aneh.
"Jagalah anakku dengan baik, aku percaya padamu nak"
"Ibu tidak bertanya apapun pada David? "
"Tidak" Jawabnya singkat.
"Baiklah, tapi aku tidak mau pacaran dengannya" Seketika David dan ibu langsung menoleh padaku.
"Kenapa? Apakah aku pernah membuat salah padamu" Ucap David dengan wajah kecewa.
Aku hanya terdiam dan menatapnya dengan sorotan tajam. Padahal sudah dijelaskan kemarin tapi belum mengerti juga.
__ADS_1