Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
53. Menikmati Senja


__ADS_3

Kedua orang tua Ari sibuk diluar, entah apa yang mereka lakukan. Sepertinya perkemahan kali ini akan dibatalkan dan kita akan segera pulang. Di dalam ruangan hanya ada kak Dika, Ari dan Rena. Mereka duduk di samping ranjang ku dan Yuri.


"Key, kamu kenapa" Ari mendekatiku, dan bertanya kenapa. Apakah mereka tidak merasa apa yang telah mereka lakukan padaku.


"Kalian masih tanya kenapa? kalian tidak pernah percaya dengan penjelasanku jadi buat apa aku berbicara lagi" Aku masih kesal dengan mereka yang menghiraukan penjelasanku tentang kejadian jatuhnya Yuri ke jurang dan juga aku yang membawa pisau.


"Key, kami tidak menyalahkanmu yang mencelakai Yuri" Jelas Kak Dika sembari berjalan mendekat di samping ranjang ku. Aku masih kesal dengan mereka. Rasanya sangat malas berbicara dengannya.


"Sudahlah, aku ingin istirahat" Mataku terpejam walaupun itu pura-pura. Untuk menghindari pertanyaan yang mereka berikan. Sebenarnya aku ingin bercerita, tapi sepertinya ini bukan situasi yang baik untuk menceritakan kejadian yang aku alami.


Saat ini aku tidak ingin berbicara dengan mereka. Aku hanya ingin meredam hatiku dulu agar tidak emosi. Sesekali aku menatap Yuri yang terlelap dengan selang infus di tangan.


"Yuri makasih" Gumamku dalam hati padanya sambil memalingkan walah menatap Yuri.


"Kalian semua bisa ikut om Roky untuk ke vila, dan nanti tante yang akan mengurus Key dan Yuri" Tante Maya menyuruh mereka pergi dan beristirahat di vila. Sedangkan dia yang akan menjaga kami berdua disini.


"Tapi aku ingin disini bersama mama" Sahur Ari yang tidak ingin pergi.


"Aku juga tante" Kak Dika juga ikut-ikutan untuk tetap disini.


"Tidak-tidak, semuanya harus kembali ke vila. Karena tante akan mengurusi obat mereka berdua. Sebentar lagi tante, Key dan Yuri akan menyusul kalian" Jelasnya. Akhirnya semuanya pergi ke vila dan hanya ada kami bertiga di dalam.


"Tante"


"Yuri, kamu sudah bangun nak" Yuri sudah bangun dari tidurnya. Mataku langsung terbuka untuk menatap Yuri.


"Yuri bagaimana keadaanmu" Aku berbicara padanya berharap Yuri tidak marah denganmu. Kekhawatiran dalam diriku masih tidka bisa diam jika belum mengetahui pasti keadaan sahabatku itu.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, karena keadaanmu sangat kritis karena dibawa arus sungai" Yuri membentak ku, wajahnya terlihat khawatir dengan keadaanku.


Yuri terbangun dari ranjang dan berjalan menuju arahku dengan bantuan tante Maya. Dia duduk disampingku lalu menangis sekencang- kencangnya. Air matanya menetes deras tapi aku tidak tau apa yang dia lakukan.


"Maafin aku key, karena aku kamu bisa seperti ini, hikksss.. . .Hiksssss"


"Apa maksudmu, aku seharusnya berterima kasih karena kamu telah membantuku" Aku menggenggam tangannya agar bisa menghilangkan rasa sedih yuri.


"Tidak key, awalnya aku kesal karena tidak memepecayaimu tentang penjelasan pisau itu. Dan sekarang aku tau bahwa kamu membawa pisau untuk menjaga diri setelah aku membuka tasmu tkdak ada pisau disana begitu juga dirimu yang tidak ada ditenda. hal itu menuntunku untuk mencarimu dengan menggenggam kekhawatiran yang dalam" Yuri menjelaskan semuanya dan dia sangat menyesal karena tidak mempercayaiku.


"Sudahlah, lupakan saja hal itu. Yang penting kamu selamat" Sahutku untuk menenangkan susasan. Begitu juga dengan tante Maya yang menggenggam erat tanganku dan juga tangan Yuri seperti anaknya sendiri. Selalu saja kehangatan ia berikan pada kami. Tante Maya sudah seperti orang tua kami sendiri.


"Tante, Yuri, key mau cerita"


"Tentang apa? " Tante Maya mendekat dan bersiap diri untuk mendengarkan semuanya. Begitu juga Yuri yang antusias mendengarkan ceritaku sambil menyeka sisa air matanya yang menetes.


Aku bercerita pada mereka berdua bahwa ada seseorang yang mengintai kami semua di perkemahan. Sepertinya orang itu bukan warga desa disni. Orang itu juga yang mendorong ku ke air terjun saat aku sedang menyendiri menghilangkan resah dalam hati.


Saat aku tercebur, dirinya tersenyum diatas sana. aku melihatnya walau sedikit, tapi sayang wajahnya tertutup topi. Ban seseorang itu Bukannya menolong tapi dia malah tersenyum bahagia melihatku tenggelam.


"Apa, bagaimana bisa kamu tidak berbicara pada tante key? "


"Tidak tante, aku takut dia membahayakan kalian" Sahutku


"Tapi key, dia sudah membahayakan nyawamu. Untung saja aku cepat menemukanmu kalau tidak maka kamu........." Aku menutup mulut Yuri untuk tidak melanjutkan hal buruk yang akan terjadi jika Yuri tidak menolongku.

__ADS_1


"Tolong jangan beri tau siapapun, aku tidak ingin kalian terlibat dengan semua ini. Aku yakin orang ini sudah mengintaiku di jauh-jauh hari" Tante Maya dan Yuri mengerti apa yang aku ucapkan. Mereka berjanji akan menyimpan semua ini dan tidak akan memberi tau siapapun.


Tidak lama kemudian dokter memberitahu bahwa aku dan Yuri bisa boleh pulang. Keadaan yang semakin membaik dan harus meminum obat yang diberikan dokter. Om Roky juga sudah menunggu di depan pukesmas. Kami segera kembali pulang menuju vila.


Om Roky mengatakan bahwa kami akan pulang besok, sedangkan aku tidak ingin kesenangan ini berakhir begitu saja hanya karena masalahku. Aku memohon agar liburan ini dilakukan dengan rencana awal untuk menghilangkan penat yang ada.


Pada akhirnya om Roky merubah keputusan kembali dan kami akan pulang lusa. Liburan kali ini akan diadakan di sekitar vila atau bahkan membantu para warga desa yang sedang memetik di kebun teh. Bahkan ada juga kebun strawbery yang bisa kami kunjungi.


"Key, kamu masih marah ya" Aku terdiam saat Ari melemparkan pertanyaan padaku. Aku duduk di kursi sambil menikmati pemandangan di sekitar vila.


"Tidak" Jawabku singkat


"Baiklah, baiklah, aku salah karena tidak mempercayai sahabatku sendiri" Aku masih terdiam dan pura-pura tidak mendengarkan.


"Oh sahabatku, maafkanlah diriku yang buta ini. Buta atas penjelasan yang Engkau berikan padaku. Biarkan kesalahan ini mengalir jauh. Dan biarkan kata maaf ini menghilangkan jenuh dalam pikirmu" Ari bersyair sesuai hatinya. Entah sejak kapan dia pandai bersyair, karena aku baru pertama kali mendengar dia membacakan puisi.


"Hahahahhaha" Tertawa ku pecah saat mendegarkannnya.


"Nah kan pasti ketawa" Ucap Ari. Dan inilah cara memperbaiki hubungan kami. Hal kecil akan menjadi besar dan yang besar belum tentu menjadi kecil.


"Gitu dong key, lain kali jangan loncat ke sungai ya" Aku menatap dengan sinis saat Ari mengeluarkan kata-kata itu.


"Eh maaf, maaf, maksudku lain kali harus bisa berenang" Senyum kecil dari bibirku terlintas saat mendengar penjelasan Ari.


"Eh kalian, sebentar lagi matahari akan terbenam apa kalian tidak ingin masuk? " Rena datang dan menghampiri kami berdua.


"Eh Rena, iya juga sih ini aku ingin masuk" Ucap Ari yang bergegas ingin masuk ke dalam Dan melemparkan senyum pada Rena.


"Ayo key masuk, badanmu belum sehat loh" Ari memegang tanganku dan menyuruhnya untuk segera masuk.


"Baiklah, aku masuk dulu ya dan kamu Hati-hati disini"


"Oke siap ri" Dia masuk bersama Rena. Hanya ada aku yang sendirian menatap senja.


Memandangi senja yang perlahan mulai menghilang. Aku senang berlibur disini, tapi gelisah juga memaksa masuk dalam pikiran. Aku menatap langit-langit yang mulai gelap. Bertanya padanya meski aku tau tidak akan pernah ada jawaban darinya.


"Mengapa ada orang yang benci padaku? Apa salahku pada mereka. Bisakah kau bergumam, pasti kau hanya diam membisu. Benarkan, kau saja tak tau apalagi aku" Menyandarkan tubuh yang lelah. Banyak sekali kejadian yang menimpaku disini. Tapi pemandangan merubah luka menjadi tawa.


"Kamu gak masuk? " Aku menggeleng. Kak Dika berjalan menghampiri dan duduk di kursi mendampingiku.


"Udaranya segar, aku ingin bermalam menunggu bintang dan rembulan" Ucapku. Sambil menikmati suasana malam ini.


"Masuklah, udara malam tidak baik. Apalagi tubuhmu masih kurang baik" Aku diam dan duduk mencari rembulan serta bintang. Apakah mereka sudah datang atau ditutup kegelapan.


Sepertinya aku lebih baik masuk ke dalam rumah. Desiran angin berhembus kencang, apalagi udara pegunungan yang dingin menusuk tajam kulitku. Rasanya tidak tahan, akan tetapi aku menikmatinya.


"Kalian tidak masuk? Ayo makan dulu, jangan lama-lama disini tidak baik" Aku mengikuti perkataan tante Maya yang harus saja keluar dan menegur kami yang menatap langit-langit di depan rumah. Kami berdua masuk ke dalam rumah untuk makan malam. Menikmati makanan malam ini dan sejenak melupakan kejadian tadi.


Semua makan dengan lahap, begitu juga aku. Setelah itu mereka bersiap untuk tidur di kamar yang sudah disediakan. Aku, Yuri dan Rena berada dalam satu kamar. Semua barang-barangku juga sudah ada di dalam kamar. Yuri bilang pak Gilang yang membawa barang-barang ini ke vila.


"Yuri, apa kamu bisa tertidur"


"Tidak" Benar dugaanku, Yuri juga tidak bisa tidur. Aku dan Yuri tertidur bersebelahan, kami beradu punggung. Ternyata Yuri belum tertidur juga.

__ADS_1


"Aku tidak, mengantuk" Ucap Yuri


"Sama, aku juga tidak mengantuk" Kamin berdua terbangun dan duduk di kursi yang berada di samping jendela. Saat kami melihat Rena, ternyata dia sudah tertidur pulas.


"Apa yang meracau di pikiranmu?" Tanya Yuri


" Entahlah, aku masih tidak habis pikir pada mereka yang ingin melukai ku. Aku juga tidak tau salahku" Mencoba memberikan isi pikiranku padanya.


"Sudahlah, yang harus kamu pikirkan adalah bagaimana kamu bisa bermain bola dengan penampilan terbaik kamu seperti dulu lagi" Yuri memberikan saran padaku.


Karena dia tau penampilan bermain ku saat ini cukup buruk, jadi aku harus berlatih lebih keras lagi untuk mendapatkan penampilan terbaik yang pernah aku miliki.


"Yuri, malamku sama seperti ini. Kesepian yang ditemani suara jangkrik bersautan. Sunyi dan senyap dalam kesendirian"


"Benarkah? Bolehkan aku mengikutimu"


"Mengikuti apa? "


"Menatap malam" Sahutnya yang lucu.


"Boleh, asalkan kamu tidak merepotkan ku"


"Hahahahhaha" Kesedihan yang ada dalam diri masing-masing. Aku dan Yuri sama memiliki rasa sepi dalam hidup. Dia yang sepi karena kasih sayang orang tua terpecah menjadi dua. Dan aku yang sepi karena kedua orang tua terpecah dan bahkan tidak tau keberadaannya.


"Lukamu masih belum kering? " Tanya Yuri sambil melihat lenganku yang terbalut perban baru dari pukesmas tadi.


"Sepertinya belum, karena tadi aku tidak menjemur nya di bawah sinar mentari agar menjadi ikan asin"


"Hahahahhaha" Lagi-lagi tertawa membuat kami berdua bahagia walaupun perbincangan yang sederhana.


*sssssttttt*


"Rena sedang tidur, jangan menganggu nya karena dia sudah pulas" Aku menghentikan pembicaraan dan mulai berbicara pelan karena tidak ingin mengganggu tidur Rena.


"Ayo kita tidur, agar besok bisa bermain-main menikmati hari" Kami berdua bergegas menuju ranjang. Melemparkan lelah lalu tertidur pulas.


Tertidur pulas dalam kasur yang empuk. Dan dalam lelap ku, kakek itu datang lagi. Muncul dalam genggaman mimpi. Dia kembali memeberikan pesan bahwa aku harus Hati-hati dengan orang-orang disekitar. Kata kakek semua orang memiliki kebaikan tapi tidak semuanya menggunakan kebaikan dalam hidupnya.


Tepat tengah malam aku terbangun karena pesan kakek. Aku membuka mata dan melihat Rena. Dia sedang menelpon seseorang dengan sesekali pandangannya menatap kami. Aku pura-pura terlelap untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh Rena. Tapi sayang suaranya sanagt kecil sehingga telingaku tidak sampai memdengarkan perkataannya.


Dia bersembunyi sambil menelpon. Hal ini sangat aneh, mengapa tidak menelpon tadi saja sebelum tidur. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan Rena. Di depan kami dia selalu diam dan jarang berbicara, tapi di belakang kami sepertinya dia anak yang aktif berbicara.


Agak lama dia menelpon, entah siapa yang menjadi teman teleponnya. Aku hanya bisa melihatnya sambil sesekali berpura-pura tidur saat tatapan Rena mengarah ke kami. Setelah itu Rena kembali tertidur pulas, begitu juga dengan aku.




Di pagi hari aku bangun lebih cepat, melakukan ibadah seperti biasa lalu mengambil bola dalam tas. Mencoba keluar dari vila dan bermain di halaman depan. Melakukan pemanasan terlebih dahulu agar tidak terjadi kram. Sedangkan mereka masih belum ada yang keluar dari kamarnya.



Ternyata asik juga bermain bola di sekitar bukit tinggi. Suasana yang damai, suara burung berseru di paginya hari. Udara sejuk menemaniku bermain berlatih bola. Lagi-lagi bola ditangan ini mengingatkanku dengan david. Tapi sudahlah, aku harus bisa terbiasa hidup tanpa David.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2