
Kami memperhatikan langkah mereka yang sedang bermesraan dan lewat tepat di depan kami bersembunyi. Tidak ada yang berani berbicara atau menampakkan wajah karena takut ketahuan.
"Mereka sudah lewat. Ayo kita pergi" Bisikku dengan pelan.
Perlahan kami melangkah ke tempat parkiran mobil. Mengendap-ngendap seperti pencuri dengan hati-hati. Setelah mereka berdua masuk ke mobil, kami ikut masuk.
"Eh bentar, sepertinya mereka menuju ke arah pulang" Ucap Yuri panik saat ia melihat GPS dari mobil tersebut akan menuju ke jalan rumahnya.
"Bagaimana ini? " Ucapnya semakin panik karena takut mamanya pulang dan menemukan Yuri tidak ada di rumah melainkan ada di luar.
"Jalan pintas" Sahut Ari dengan cepat, kami melewati jalan pintas untuk cepat sampai ke rumah Yuri.
Kecepatan juga ditambahkan oleh pak supir. Benar saja saat Yuri baru turun dan masuk ke dalam rumah, mobil mereka datang. Untung saja kami parkir jauh dari rumah Yuri.
"Yuri, mamamu sudah datang. Cepat masuk jangan sampai ketahuan" Ucapku melewati telepon. Yuri bergegas menuju kamarnya dan pura-pura belajar. Untung saja pak satpam sedang tidur dan tidak tau jika Yuri sudah masuk.
Aku dan ari bergegas untuk pulang dan menyusun rencana selanjutnya agar mamanya Yuri tidak terjebak dengan lelaki penggila harta tersebut.
Ari mengantarkanku seperti biasa ke depan rumah ibu. Setelah itu dia pulang bersama supirnya. Aku masuk hanya sekedar memberitahu ibu bahwa aku sudah pulang lalu bergegas kembali ke rumahku untuk membersihkan diri dan istirahat. Berharap besok pagi ada kabar baik.
"Kenapa David memblokir pesanku. Apakah sebenci itu dia denganku" Gumamku sambil rebahan dan melihat pesan David. Rencana ingin mengirimkan pesan ternyata nomorku telah dia blokir.
Aku tidak mengerti apa salahku hingga dia menjadi seperti ini. Membenciku, menjauhiku bahkan tidak ingin bicara padaku. Cinta memang menyakitkan. Dan yang paling benar adalah menjalani kehidupan dengan cinta keluarga saja. Eh, maksudku keluarga angkat ku.
"Keyla, keyla"
\*tok, tok, tok\* pagi-pagi sudah ada yang mengetuk pintu. Padahal sekarang hari minggu dan aku ingin memasak serta bersantai terlebih dahulu. Suara yang tidak asing di telingaku. Aku bergegas untuk bangkit dan membuka pintu.
"Mbak Yeni, pagi sekali mbak" Ternyata mbak Yeni sudah berdiri di depan pintu dan menungguku keluar.
"Iya, ayo ke rumah. Ibu memanggilmu untuk makan" Aduhh, padahal aku sudah memasak tapi mau gimana lagi daripada ibu marah lebih baik aku ikut saja ke rumah ibu.
"Bentar, bentar" Aku mengganti pakaian dan mengambil makanan yang sudah aku masak. Walaupun sedikit setidaknya bisa dimakan dan di cicipi bersama-sama.
"Itu kamu yang masak key? Tanya mbak Yeni saat melihat aku memegang 2 piring masakan yang sudah aku siapkan.
" Iya mbak, biar kita cicipi makanan kita bersama-sama. Kan enak kalau makan bersama daripada makan sendirian" Ujarku padanya.
"Makanan mu gak beracun kan? " Lagi-lagi pertanyaan konyolnya yng menjengkelkan. Tapi selalu membuatku tertawa.
Memang mbak satu ini selalu membuatku kesal, tertawa, jengkel dan banyak lagi. Dia selalu mengibarkan bendera kerang pagi-pagi. awas saja nanti akan aku racuni dengan garam jika membuatkan mie instan untuknya.
"Ada mbak, khusus mbak Yeni racun tikus" Sahutku dengan semangat.
"Hahahahah, enak dong biar aku klepek-klepek terus berbusa"
"Hahahhahah" Masih saja pagi sudah membuat tertawa terus. Kelakuan mbak Yeni denganku memang 11/12.
Kami makan bersama di meja makan, tidak ada lauk yang mewah seperti ayam goreng, daging sapi dan makanan mewah lainnya. Walaupun hanya ikan laut, tempe dan tahu dengan sayur asam dan lainnya yang penting makan bersama.
Aku tersenyum bahagia karena hidupku tidak kesepian lagi semenjak ada mereka yang menyayangiku tanpa batasan apapun. Apa yang mereka lakukan murni dari hati masing-masing yang sangat menyayangiku yang hidup sendirian.
Setelah makan kami duduk bersama di depan teras. Tertawa dan bercerita apapun yang penting membuat senang. Hingga aku lupa bahwa pagi ini sudah berjanji untuk keluar bersama Ari dan Yuri.
\*tinnnn\* mobil ari sampai di depan rumah membuatku terkejut.
"Astaghfirullah, aku lupa" Tanganku memukul jidat karena terlupa akan janji bersama mereka hingga aku hanya bersantai saat ini.
"Mau kemana nak?" Tanya ibu padaku saat melihat mereka berdua turun dari mobil dan menghampiriku.
"Mau jalan-jalan bu" Sahutku dan tersenyum pada ibu. Lalu aku berpamit untuk mengganti baju dan membawa perlengkapan bola agar sekalian langsung ke tempat club untuk latihan.
__ADS_1
Sedangkan Yuri dan Ari duduk menemui ibu, bapak dan kedua kakakku. Mereka berbincang-bincang disana dengan asik. Karena keluarga ibu sudah menganggap Yuri dan Ari seperti ibu menganggapku anaknya sendiri.
"Ayo kita berangkat" Aku sudah siap dengan pakaian seperti biasa dan membawa tas yang berisi sepatu serta baju untuk latihan.
"Bu key ijin mau berangkat, dan sekalian latihan nanti sore di klub" Aku berpamitan pada ibu dan bapak untuk agar mereka tidak bingung mencariku jika nanti pulang terlambat.
Jadi begini mereka sangat sayang padaku. Kalau aku pulang telak saja saat sekolah pasti ibu akan bertanya terus pada mbak Yeni atau mbak Nike untuk segera menghubungiku. Takutnya aku diculik katanya, hehehehe.
"Iya, hati-hati dan jangan berbuat yang aneh-aneh " Pesan ibu pada kami bertiga.
"Siap bu" Ucap kami bertiga secara bersamaan.
"Nak, ada uang saku? " Tanya bapak padaku
"Alhamdulillah Key masih ada uang pak" Sahutku sambil menyalami bapak dan ibu.
"Ingat, jangan aneh-aneh" Ucap mbak Nike dengan tatapan sinisnya seperti menyelidiki.
"Iya mbakku tersayang" Aku menciunnya dengan melekatkan bibir begitu erat di pipinya hingga mbak Nike marah.
Karena mbak Nike paling tidak suka jika aku melakukan hal itu. Setelah aku berpamitan pada mereka semua begitu juga Ari dan Yuri ikut berpamitan. Lalu kami berangkat ke tempat yang sudah direncanakan. Yaitu mengikuti arah GPS mobil pacar mamanya Yuri.
Kami mengikutinya dengan teliti dan jangan sampai kelewatan. Kali ini mobil itu berhenti di sebuah kafe. Ternyata dia berangkat bukan dengan mamanya Yuri melainkan dengan seorang cewek dan beda lagi. Cewek itu bukan yang menemuinya kemarin. Tapi ini cewek baru.
"Gila, dia ganti cewek berapa kali? " Tanyaku berbisik saat kami ingin turun dari mobil.
"Dasar hidung belang" Tegas Yuri dengan kesal.
"Sudah, sudah. Ayo kita turun" Ujar Ari menyuruh kita agar cepat turun dari mobil dan mengendap kembali untuk menggali informasi.
Kali ini Ari yang akan berpura-pura masuk ke cafe tersebut dan menyamar sebagai pelanggan yang ingin memesan minuman. Ia sengaja duduk di dekat kedua pandangan itu untuk merekam percakapan dari mereka.
Biarlah Ari melakukan tugasnya dengan baik disana. Sedangkan aku dan Yuri ingin ber jalan-jalan sebentar karena sangat tidak asik duduk di depan cafe dan mengendap-ngendap. Seperti gelandangan saja katanya.
"Yur, kita jalan-jalan di samping jembatan sana yuk" Ucapku memegang tangan Yuri setelah kita membeli es krim di pinggiran jalan.
"Iya Key, sepertinya disana asik juga pemandangannya. Kita foto-foto saja" Sahut Yuri dengan semangat.
Kami berdua memang sahabat kurang ajar. Saat salah satu sahabatnya berjuang menggali informasi, sedangkan kami malah pergi untuk mengumpulkan informasi tapi bukan tentang mereka melainkan tentang pemandangan.
Maaf ya Ari tersayang, kali ini kita jalan-jalan karena sumpek dan dikira gelandangan yang ada di luar untuk meminta-minta. Lagian Ari sudah senang di dalam kan ada AC dan juga minum serta makan di cafe tersebut.
"Key, fotoin aku" Teriak Yuri yang sudah siap dengan pemandangan langit biru dan jembatan yang indah.
"Oke, pakai ponselku saja. Kamu berpose yang bagus dong" Perintah ku pada Yuri agar mendapatkan foto yang indah.
Aku dan Yuri secara bergantian foto di samping jembatan besar itu. Walaupun ramai dengan kendaraan yang lalu lalang tapi kami masih asik untuk berfoto. Bahkan aku dan Yuri selfie berdua untuk dijadikan sebagai kenangan.
"Waahhh bagus banget tau Key, nanti kirim ke aku ya" Dia sangat senang saat melihat hasil karya fotoku dan juga foto kita berdua.
"Iya dong siapa dulu, keyla" Ucapku dengan sombong.
"Oh iya nanti kita foto lagi ya sama Ari. Foto bertiga" Ucapan Yuri memang benar. Kalau tidak bertiga rasanya tidak lengkap.
Saat aku sedang asik berfoto-foto bersama Yuri. Tiba-tiba di ujung jembatan sangat ramai. Entah apa yang terjadi hingga hampir semua pengendara berhenti dan ada juga yang melanjutkan perjalanan karena hanya sekedar menoleh saja.
__ADS_1
Awalnya aku dan Yuri tidak peduli dengan keramaian tersebut. Tapi rasa kepo ku dan Yuri menghantui hingga memaksa kita berdua segera kesana dan masuk dalam kerumunan serta bertanya-tanya.
"Pak, ada apa pak? Kenapa ramai sekalian? " Tanyaku pada salah satu bapak-bapak yang berdiri menyaksikan hal tersebut.
"Disana ada orang mau bunuh diri neng. Mana masih muda lagi" Ucapnya dengan rasa ibah.
Banyak teriakan dari mereka untuk menghentikan seseorang tersebut karena ingin loncat dari jembatan yang dibawahnya sungai besar. Aku dan Yuri rela berdesakan untuk masuk dan melihat orang tersebut. Siapa tau kita berdua kenal.
"Permisi, permisi" Ucapku dan Yuri agar mendapatkan tempat.
"Rena" Aku dan Yuri saling menatap saya mengetahui bahwa orang itu adalah Rena. Aku terkejut dengan apa yang akan Rena lakukan.
"Hidupku sudah hancur, aku kesepian, aku tertekan dan aku gila. Ngerti kalian" Teriaknya di atas sana dengan keras. Mentalnya benar-benar sudah terganggu. Kasihan aku melihatnya yang sangat tertekan menghardapi kehidupan.
Aku harus mencari cara agar dia tidak nekat melompat ke sungai tersebut. Apapun itu akan aku lakukan agar dia tetap tenang. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Sepertinya aku harus menghubungi seseorang. Tapi siapa? Nomor orang tuanya saja aku tidak tau.
"Rena turun, jangan nekat. Semua masalah ada jalan keluarnya" Teriak Yuri padanya
"Diam, ini semua karnamu" Bentaknya dengan kesal pada Yuri dan aku. Aku tidak tau masalah apa hingga dia seperti ini.
Langkahku mendekati ren,a tanpa sepengetahuannya. Aku mencoba mengambil ancang-ancang agar bisa menarik Rena untuk turun. Aku memberanikan diri agar bisa menggapainya. Tanpa rasa takut aku meloncat dan memeluk tubuhnya.
"Aaaaaaaa" teriakan Rena yang begitu kesal saat aku berhasil menangkapnya dan memeluk Rena.
\*bruk\* aku dan Rena terjatuh di jalanan jembatan. Untung saja banyak orang yanng membantu kami berdua untuk bangun.
" Lepaskan, aku benci kamu key aku benci kalian" Teriak Rena semakin histeris.
Bahkan otaknya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Beberapa orang mencoba memegangi Rena dengan kuat-kuat agar dia tidak berulah lagi. Namnu dia terus berteriak dan memberontak.
"Minggir, minggir" Teriak seorang wanita dari keramaian yang mencoba masuk.
Ternyata itu mana ya rena, dia datang dan menghampiri Rena. aku pikir dia akan memeluk rena dengan kasih sayang karena percobaan bunuh diri tadi.
Ternyata dugaanku salah, karena Rena dimarahi habis-habisan. Mamanya berteriak memaki Rena karena merasa dipermalukan dengan ulahnya. Dia tidak ada habisnya memarahi Rena di depan umum padahal saat ini Rena butuh kehangatan bukan cacian.
"Tante tolong jangan dimarahi, dia butuh pelukan tante" Aku mencoba melerainya dan memberikan pernyataan agar mamanya memeluk Rena dengan kasih sayang.
"Diam kamu, ini urusanku" Tubuhku di dorong dengan keras hingga tersungkur. Yuri membantuku untuk bangkit.
"Minggir kalian" Tangan Rena ditarik dengan keras dan diseret untuk pulang. Padahal Rena masih sangat frustasi menjalani hidupnya tapi malah diperlakukan seperti ini.
Dari tatapannya sudah terlihat ingin memaki Rena dengan bengia. Seakan berkata tidak ingin melepaskan Rena yang sudah mempernalukan dirinya dengan cara ingin melakukan bunuh diri.
"Maaaaaa, aku butuh ketenangan" Teriak rena dengan keras. Tangannya membantah untuk ikut dengan mamanya. Tarik menarik terjadi hingga membuat orang-orang disini merasa heran dengan perlakuan seorang ibu pada anaknya.
Rena terus memberontak dan berusaha untuk lepas dari mamanya. Terlihat sangat jelas bahwa keluarga itu sedang tidak baik-baik saja. Aku. menatapnya penuh hari dan sungguh kasihan padanya
\*plak\* tamparan keras dilemparkan ke pipi Rena hingga dia menjadi terdiam seketika. Saat ini mereka menjadi tontonan orang-orang yang melihat kejadian ini.
"Diam, ikut mama pulang atau kamu mama keluarkan dari rumah" Ancaman yang menakutkan.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~