
Aku terus menjerit dan berusaha membangunkan ayah. Beberapa orang hanya menatap dalam kerumunan namun tidak ada yang membantuku. Tiba-tiba kak Dika datang menghampiriku yang bersimpuh dalam tangis.
"Key, keyla papah kenapa key" Kak Dika datang dengan panik saat melihat ayah sudah lemas dipenuhi dengan darah.
"Ayo kak bawa ayah ke rumah sakit" Air mataku terus saja menangisi ayah dengan keras. Kak Dika langsung mencari kunci mobil di saku ayah dan bergegas membawa mobil ayah untuk mendekat.
Setelah mobil itu mendekat, Orang-orang membantu untuk mengangkat ayah ke dalam mobil. Aku di belakang menemani ayah sambil menangis tanpa henti. Kepala ayah aku letakkan di atas pangkuan ku. Ku pandangi wajahnya sambil menangisi penyesalan.
Aku takut kehilangan ayah, aku sungguh sangat takut ya Allah. Aku mengusap lembut wajahnya membersihkan darah yang terus mengalir. Menciumi wajah ayah dengan kasih sayang sambil mengatakan kata maaf. Karena selama ini benci yang ada di dalam hatiku sangat dalam pada ayah.
"Ayah bangun yah, Key gak mau kehilangan ayah" Aku terus menangis melihat ayah yang tidak membuka mata.
Tubuhku lemas melihat keadaan ini. Aku benar-benar menyesal dan aku berjanji tidak akan membiarkan ayah terluka lagi. aku berjanji akan berbakti pada ayah.
"Key, kamu yang tenang ya. Aku akan ngebut dan tolong pegangin ayah" Ucap kak Dika sambil fokus menyerir mobil di depan.
Kak dika menambah kecepatan agar cepat sampai ke rumah sakit. Sedangkan aku di belakang fokus untuk memeluk ayah agar tidak terjatuh. Air mataku juga terus menetes membasahi wajah ayah.
Di Rumah sakit
"Dokter tolong cepat dok" Kami segera membawa ayah untuk ditangani oleh dokter.
Kak Dika menggendong ayah dibantu oleh beberapa perawat yang siap tanggap. Ayah segera ditangani oleh dokter sedangkan kami menunggu diluar karena dilarang masuk.
Aku bersimpuh lemas duduk di bawah. Menyandarkan kepala dengan semua penyesalan dan rasa bersalah. Kedua tanganku memeluk lutut dengan rasa tangis yang terpendam agar tidak diketahui banyak orang.
Kalau mobil itu tidak menabrak ku maka ayah tidak akan membantuku. Kalau saja aku hati-hati maka ayah tidak akan seperti ini. Banyak rasa sesal menggeluti pikiranku saat ini.
"Key, apa yang sebenarnya terjadi pada papah? " Tanya kak Dika padaku.
Aku menjelaskan bahwa ada sebuah mobil yang ngebut dari arah kanan dan ingin menabrak ku. Tapi ayah mendorong ku untuk minggir dan akhirnya ayah yang tertabrak oleh mobil itu.
"Maafin key kak, ini semua salah key" Aku terus menyalahkan diriku di depan kak Dika.
Tapi kak dika terus memelukku dengan kasih sayang untuk menenangkan hati yang patah saat ini. Kak Dika terus saja berkata bahwa ini bukan salahku melainkan sudah jalannya takdir.
"Sudah, sudah. Kamu harus tenang dan intinya papah selamat. Sebentar aku telpon mama dulu" Kak Dika langsung menelpon mamanya untuk memberi tahu kejadian ini.
Saat aku menunggu, tiba-tiba dokter keluar dari ruangan. Katanya ayah kehilangan banyak darah dan saat ini darah B kosong di rumah sakit ini.
"Apakah dari kalian ada yang memiliki darah B? "
"Saya dok, ambil saja darah saya. Saya memiliki darah B dan saya juga anaknya" Tanpa berkata pada kak Dika, aku langsung masuk ke dalam ruangan untuk mendonorkan darahku untuk ayah.
Saat mendonorkan darah, aku melihat ayah terbaring lemah. Air mataku kembali menetes tak bisa di bendung lagi. Sesekali aku menyeka air mata sambil memandangi ayah yang lemah. Beberapa menit kemudian dokter sudah selesai mengambil darahku dan aku diperbolehkan untuk keluar.
"Key kamu kemana? " Tanya kak Dika padaku.
"Aku habis mendonorkan darah untuk ayah kak"
"Memangnya golongan darah papah sama denganmu key? "
"Iya kak, golongan darah B" Kak Dika terdiam mendengarkan pernyataanku.
Ternyata golongan darah kak Dika berbeda dengan ayah. Golongan darah kak Dika sama dengan ibunya yaitu golongan darah O.
Tidak lama kemudian Ari dan Yuri datang ke rumah sakit. Mereka berdua menghampiri aku dan kak Dika. Katanya kak Dika yang menghubungi Ari dan Yuri untuk menbawaku pulang dan istirahat.
"Key, kamu tidak apa-apa kan? " Aku hanya menggeleng saat Yuri bertanya padaku.
"Lebih baik kita pulang ya, biar ayahmu kak Dika saja yang jaga" Sambung Ari sambil membujukku untuk pulang dari rumah sakit. Tapi aku menolaknya karena ingin menunggu ayah.
"Kamu pulang ya, biar kakak saja yang jaga" Walaupun kak Dika yang membujukku, aku tetap saja tidak ingin pulang karena aku takut kegilangan ayah.
Aku berdiri sambil. menempelkan wajah yang termenung di depan kaca pintu ruangan ayah. Berharap aku melihat ayah yang terbaik dengan keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Tolong kak biarkan aku disini menemani ayah" Aku mencoba memohon padanya. Akhirnya kak Dika memperbolehkan aku untuk menemani ayah. Yuri dan Ari ikut menemaniku disini.
"Papah, papah, papah" Teriak seorang wanita yang sedang berjalan menuju arah kami.
"Dika, dimana Papan? " Ternyata itu mamanya kak Dika. Dia berteriak histeris mencari ayah.
"Ma tolong tenang, papah lagi ditangani oleh dokter" Ucap kak Dika untuk menenangkan mamanya yang sudah terlihat menangis tersedu-sedu.
Kak Dika mencoba menenangkan mamanya. Lalu mama kak dika mengintip di depan pintu berharap terlihat keadaan ayah. Tapi sayang dokter menutup rapat pintu tersebut sehingga tidak ada yang melihatnya dari luar.
" Ini pasti gara-gara kamu kan" Bentaknya menghampiriku yang sedang duduk bersama Ari dan Yuri.
"Sakit tante" Tubuhku yang lemah memikirkan ayah, Tiba-tiba tangannya menjambak rambutku dengan keras untuk meluapkan kekesalan.
"Kamu itu pembawa sial"
"Ma cukup ma, ini semua bukan salah Key. Ini semua sudah takdir" Kak Dika mencoba untuk melerai mamanya yang terus menjambak rambutku dengan keras. Begitu juga Ari dan y,uri mencoba melepaskan tangan itu dari rambutku.
Aku berteriak kesakitan namun tidak ada ampun dalam pikiran wanita itu dan dia tetau menjambak rambutku hingga aku hampir terjatuh.
"Ma cukup ma"
*brak*
"Diam kamu Dika" Kak Dika terjatuh karena dorongannya. Aku juga tidak bisa melawan karena itu orang tua apalagi keadaanku saat ini sedang lemah karena menangisi ayah yang berjuang di dalam sana.
"Dulu ibumu yang merebut suamiku, sekarang kamu yang mencoba merebut nyawa suamiku. Apa kalian tidak puas hah" Bentaknya dengan kejam mencaciku. Aku hanya bisa menangis bila mengingat masa itu.
*plak*
"Dasar anak kurang ajar" Tamparan keras mengenai pipiku hingga merah. Aku hanya bisa diam tidak dapat berbicara sepatah katapun untuk menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Jika nanti suamiku kenapa-kenaoa, maka kamu harus bertanggung jawab" Tangannya kembali ingin menamparku, untung saja kak Dika sigap dan menahan tamparan itu.
Dengan sekuat tenaga kak Dika menahan mamanya agar tidak menyakitiku lagi. Tangannya memberikan isyarat agar aku segera pulang dari sini untuk mencegah keributan. Dengan terpaksa aku harus angkat kaki dari rumah sakit dan meninggalkan ayah bersama mereka.
"Kamu tenang dulu ya, nih minum" Ari memberikan sebotok air untuk menenangkan hariku yang sedang kacau. Baru kali ini aku benar-benar hancur, karena kecelakaan ayah tepat di depan mataku sendiri.
"Ayo kota pulang" Aku masuk kedalam mobil Ari bersama Yuri dan Ari.
"Kalian tau, ayah begini karena mobil yang sengaja menabrak ku. Akan aku cari mobil itu hingga ketemu" Ucapku dengan lantang. Amarahku benar-benar membara dengan semua ini.
Aku menceritakan pada mereka berdua bahwa mobil itu sudah dua kali ingin mencelakai ku. Pertama ingin menabrak ku dengan yu,ri dan kedua ingin menabrak ku tapi ayah yang menolongku hingga dia celaka seperti saat ini.
Aku berjanji pada diriku sendiri akan melakukan apapun untuk menemukan bukti dari mobil yang sudah menabrak ayah. Untung saja Ari yang cerdas mengingatkanku bahwa di depan sekolah terdapat CCTV jadi kita bisa menyelidiki nomor mobil yang sudah mencelakai ayah.
Dengan rasa cemas dan khawatir aku pulang. Memikirkan keadaan ayah dengan segala rasa sakit yang kuoendam sendiri. Ari dan Yuri menemaniku serta mengantarkan hingga sampai ke rumah ibu.
"Makasih ya, sudah mengantarkan ku"
"Tenang saja, kita itu sakit satu sakit semua" Aku tersenyum mendengar jawaban Ari.
"Iya key, sekarng kamu istirahat dan besok kita pergi ke sekolah" Suara Yuri dan ar,i membuatku tersenyum kembali dengan sumringah.
Di dalam mobil aku mencoba menghapus air mata dan berkaca agar tidak ketahuan oleh ibu bahwa aku habis menangis. Tidak lama kemudian saat aku masih di dalam mobil, Yuri mendapatkan pesan dari kak Dika bahwa ayah baik-baik saja.
Katanya ayah sudah melewati masa kritisnya dan sekarang tinggal masa pemulihan ayah. Aku sangat bersyukur mendengarkan pernyataan tersebut. Aku tau kenapa kak Dika tidak menghubungiku secara langsung, mungkin dia masih takut mamanya mengetahuinya.
"Sekarang kamu tenang ya, ayah kamu sudah aman" Aku tersenyum dan keluar dari mobil ar,i. Mencoba untuk terlihat baik-baik saja di depan ibu walaupun hatiku masih dalam keadaan duka.
" Kalian hati-hati di jalan ya, dahh" Teriakku saat mobil itu berlalu pergi.
"Assalamualaikum, bu key pulang"
"Waalaikumsalam, alhamdulillah kamu pulang. Daritadi ibu bingung karena kamu tidak menghubungi mbakmu" Aku tau ibu pasti bingung karena aku telah pulang terlambat.
__ADS_1
"Maaf Bu, ponsel Key kehabisan baterai" Sambil mencium tangan ibu aku mencari-cari alasan agar ibu tidak bertanya terlalu panjang.
"Sana makan dulu, setelah itu istirahat" Aku segera pergi makan di dapur seperti biasa. Menikmati makanan dengan tidak semangat karena memikirkan ayah. Berharap ayah baik-baik saja.
*plak* tangan mbak Yeni memukul kepalaku.
"Kalau pergi itu hubungi mbak, biar ibu gak bingung nyariin" Ketusnya
"Maaf, ponsel key mati" Sahut ku santai sambil melanjutkan makan.
"Matamu? " Aku melotot saat mendengarkan perkataan mbak Yeni. Jangan sampai dia tau bahwa aku habis mengais.
"Mataku indah kan, cantik dan gak ada yang punya mata sperti ini" Aku mengalihkan pembicaraan agar mbak Yeni tidak merambat pertanyaan tentang mataku yang bengkak.
"Heleh, matamu itu ingin ku congkel karena terlalu ngeselin"
"Hahahhaha" Kami berdua tertawa keras. Menertawakan hal yang tidak jelas tapi yang penting adalah bahagia.
Setelah makan aku berpamitan untuk pulang. Tidak lupa berpamitan sama ibu dan bapak. sesampainya di rumah, aku membersihkan diri dan beribadah meminta pada sang Pencipta untuk kesembuhan ayah.
"Ya Allah ya tuhanku, berikanlah kesembuhan pada ayah. Biarkan ayah tersenyum kembali dan menemuiku seperti dulu. Maaf ya Allah, maafkan hambamu ini yang angkuh. Durhaka pada ayah yang baik sepertinya" Mengis tanpa suara di atas sajdah.
Hanya tuhanku yang mampu menampung tangisan doa dari hambanya. Aku yakin bahwa doa itu akan kembali ke bumi tanpa tangan kosong. Aku sangat percaya pada tuhanku yang maha Esa. Tiada Tuhan yang patut di sembah kecuali Allah SWT.
Selepas itu aku merebahkan diri di atas ranjang kecilku. Memeluk bobo dan menceritakan tentang sakitnya hari ini. Ditemani malam yang helap, aku terlelap dengan banyaknya pikiran tentang ayah.
Pagi ini aku berangkat sekolah dan menunggu di halte. Kali ini aku hanya melambaikan tangan pada pak Abi dan Riki karena waktunya mepet dan aku takut terlambat. Aku langsung naik ke dalam angkot yang sudah datang.
Di tengah perjalanan aku kembali melihat lelaki hidung belang pacar dari mamanya Yuri. Aku turun di tengah perjalanan dan mengikutinya. Ternyata dia pergi ke sebuah hotel dengan seorang cewek, aku mengambil foto dan vidio sebanyak mungkin.
"Aku akan menunjukkan pada Yuri dan Ari, gila masih pagi saja sudah berjalan dengan wanita lain. Dasar lelaki penggila harta" Ketua ku sambil mengambil vidio.
Sayang sekali aku hanya bisa mengikutinya sampai pintu karena anak sekolah dilarang masuk ke sebuah hotel dengan baju seragam. Tapi tidak apa-apa, karena yang paling penting aku sudah medapatkan foto dan vidio dari mereka berdua. Nanti akan aku telusuri buku tamu hotel mereka.
"Astaghfirullah, jamnya" Aku segera berlari mencari angkot tapi belum menemukan juga.
Dan akhirnya setelah beberapa lama berlari, angkot lewat dan aku bergegas masuk untuk berangkat menuju sekolah. Sepertinya aku sudah telat untuk masuk.
Aku bergegas untuk segera turun dari angkot dan berlari ke gerbang sekolah. Benar dugaanku ternyata gerbang sudah di tutup. Sedangkan siswa yang telat diperbolehkan masuk akan tetapi mendapatkan hukuman.
"Keyla, keyla, baru kali ini saya lihat kamu telat. Biasanya saat latihan bola kamu sangat disiplin" Ucap pak Toni sebagai guru piket hari ini yang bertugas untuk menghukum murid yang telat.
"Maaf Pak, ban mobilnya bocor" Alasanku kembali berulah agar mendapatkan hukuman ringan darinya.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~