
Aku dan Ira memeluk Ani dengan erat, Tiba-tiba semua pemain juga menghampiri dan kembali memeluk Ani. Kumpulan sahabat yang senang dan berpelukan secara bersamaan. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih pada Coach Jaka.
"Coach, semua ini berkat dari perjuangan Coach Jaka dan para staf pelatih yang melatih kami dengan sabar" Ucapku saat kami sudah berada di ruang ganti.
"Iya Coach, tanpa kalian mungkin kami akan kalah"
"Benar Coach, terima kasih atas semuanya" Ucap kami saling bersautan.
"Tidak, ini semua berkat kalian. Kalian sendiri yang bermain dari hati, kalian yang membangun kekeluargaan. Selebihnya saya yang menjadi pelapis saja. Semua kemenangan berasal dari jiwa dan hati kalian" Didikan seorang ayah dalam lapangan tidak akan pernah berhenti.
Coach Jaka adalah ayah bagi kami, tidak ada yang tidak mungkin kami lewati jika bukan karenanya dan kerja keras tim mungkin kami semua akan kalah dan semakin terpuruk.
Kami kembali berpelukan dengan sorak-sorak kebahagiaan, dan kami yakin di saat ada mendung bersama dengan petir pasti akan muncul pelangi.
"Ani, maafin aku ya karena tidak bisa mencetak gol untukmu" Ucapku di saat semuanya sudah bersiap diri berganti baju untuk pergi.
"Tidak apa-apa Key, yang penting kemenangan ini milik kita semua" Ani memelukku dan persahabatan ini benar-benar sangat erat.
Kami pulang ke penginapan dengan suasana hati penuh senyum. Bergembira tiada henti di atas bus. Kami bernyanyi mengikuti alunan lagu yang ada di dalam bus. Terlihat senyum yang menghiasi di bibir masing-masing pemain.
"Ani meskipun kamu tidak bermain, tapi kamu harus menyemangati aku ya di final nanti" Ucapku sambil menggenggam tangannya.
"Siap boss, aku akan selalu mendukungmu Key. Dimanapun itu yang penting kita membawa pulang piala kemenangan" sahut Ani padaku.
Aku memeluknya dengan erat, aku sangat menyayanginya seperti saudaraku sendiri. Sekarang Ani salah satu keluarga yang dekat denganku di tim ini. Begitu juga lainnya, tapi Ani tempat yang selalu mengerti keadaanku.
Kami turun dari bus sambil bersorak gembira. Di sepanjang perjalanan menuju kamar, kami tetap bernyanyi dengan senang. Katanya baru kali ini berhasil masuk final setelah tim ini kalah dan gagal di beberapa tahun yang lalu.
"Key tunggu" Bela memanggil saat aku sedang memapah Ani secara perlahan untuk berjalan.
"Iya Bel, ada apa?" Aku membalikkan badan menatap Bela yang ada di belakang.
"Aku ingin berbicara denganmu"
"Tentang apa?" Aku penasaran, hal apa yang ingin bela bicarakan.
"Tentang kesalahanku kemarin Key" aku mengerti hal apa yang ingin Bela bicarakan padaku. Aku menyuruhnya untuk ikut denganku dan masuk ke kamar.
Disana sudah ada Ira yang sedang bersantai dan bersiap-siap untuk membersihkan diri. Ira terkejut melihat kami membawa Bela masuk ke dalam kamar. Karena tidak seperti biasanya Bela bermain dengan kita bertiga.
"Duduklah, dan bicaralah dengan tenang" ucapku padanya. Aku menutup pintu rapat-rapat agar tidak ada yang mendengar tentang percakapan ini.
"Mereka?" Ucap Bela yang bertanya seakan memberikan syarat agar Ira dan Ani keluar.
"Tenang, mereka akan tutup mulut kok" sahutku. Aku yakin mereka akan mengerti tentang apa yang ingin aku lakukan.
"Sudahlah, cerita saja. Kami tidak akan membocorkan kok" ketus Ani yang sudah tidak sabar mendengar cerita dari Bela.
Sedangkan Ira masih kebingungan dengan semua ini. Dia yang bersantai dan ingin mandi tiba-tiba kami bertiga masuk dan ingin melakukan pembahasan yang rahasia.
Jiwa keponya meronta-ronta dan dia iku turun serta duduk bersama kami. Dia sangat suka untuk bergosip tapi dia juga hati-hati dalam berbicara dan pintar menyembunyikan rahasia.
"Benar katamu Key, aku salah karena sudah mengikuti alur dari mereka yang ingin menghancurkan tim" wajahnya tertunduk meratapi kesalahannya yang lalu.
"Apa? Kamu ingin menghancurkan tim ini?" Bentak Ani yang sudah muak mengetahui cerita Bela.
"Sttt, jangan berisik" aku segera memegang bibir Ani agar tidak berbicara keras.
"Tanganmu asin Key" ketusnya
"Eh maaf, maaf, soalnya aku belum mandi habis pertandingan. Hehehe" ucapanku membuat Ira tertawa sedangkan wajah Ani mengkerut kesal.
Lalu Bela melanjutkan cerita bahwa semua itu dia lakukan untuk mendapatkan uang lebih. Begitu juga ayahnya yang mengetahui kecurangan ini tapi memilih untuk diam dan mengikuti alur panitia yang menyelenggarakan turnamen ini.
"Sudahlah, itu telah berlalu. Dan sekarang kamu harus ingat jangan sampai uang kotor itu membeli kemampuan bola yang kamu miliki" ucapku sambil memegangi pundaknya dengan tatapan bersahabat.
Terbukti kali ini coach Jaka jarang menurunkan Bela dalam pertandingan setelah hal itu diketahui. ternyata awal kami datang, coach Jaka juga terlibat.
Aku memberanikan diri menemui coach Jaka dan mengatakan tentang perjuangan kami sampai di titik ini dan bertanding keluar kota itu tidak mudah. Aku berbicara sebagai anak dan ayah bukan sebagai pelatih dan pemain.
Pada akhirnya coach Jaka keluar dan mengembalikan uang haram pemberian mereka. Sampai saat ini coach Jaka akan menjadi ayah untuk kami semua tanpa ada uang kotor dalam sakunya.
"Jadi kamu sengaja bermain jelek, dasar kamu Bel" amarah Ira dan Ani meluap.
Mereka ingin menampar Bela karena tim sudah berjuang keras saat itu juga. Sedangkan Bela ingin menghancurkan semuanya dengan kebohongan skil jeleknya.
"Hey sudah, yang penting tim kita menang. Masalah kemarin biarlah kita lupakan, dan kita harus memberikan yang terbaik di pertandingan selanjutnya" aku mencegah tangan mereka dan menghadangnya. Takut tangan mereka sampai ke kepala Bela.
__ADS_1
Bela terdiam lalu dia tertunduk lesu. Dirinya sangat merasa bersalah karena sudah berbuat curang yang menyebabkan perjuangan teman-temannya sangat tinggi untuk menang akan berbuah sia-sia.
"Tapi ada satu hal yang tidak kalian tau" ucap Bela kembali membekukan suasana yang ganas.
"Apa, cepat katakan. Kalau tidak aku pukul wajahmu" Ani kembali emosi padanya. Dia ingin sekali mendengar hal apa lagi yang sedang Bela sembunyikan.
Benar-benar di luar dugaan, seharusnya aku yang emosi mengapa mereka berdua yang lebih ganas daripada emosiku. Aku terdiam dan menatap heran kelakuan Ani dan juga Ira. Aku mencoba menjauhkan Bela dari dua macan ini.
"Ani diamlah, kakimu" aku menunjuk pada kakinya yang sedang sakit.
"Aduhhh, iya Key sakit" akhirnya dia ingat juga jika kakinya sedang keseleo.
"Makanya tidak usah banyak gerak, biar Bela yang menceritakan semuanya" ucapku sedikit tertawa melihatnya.
"Apa yang kamu ketahui saat ini Bel?" Aku kembali mengingatkan pada Bela yang ingin berbicara suatu hal yang belum kami ketahui.
"Kalian harus hati-hati " ucapnya membuat kami penasaran. Ani dan Ira yang tadinya marah kini semakin mendekat.
Pernyataannya tentang hati-hati membuat pikiran kami penuh tanda tanya. Entah hati-hati dengan apa, kami belum mengetahuinya.
"Hati-hati apa?, cepat jelaskan" Ani sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari Bela.
Wajahnya mulai geram saat Bela berbicara bertele-tele dan tidak langsung pada intinya. Bela juga mengulur-ulur waktu untuk memberi tau kenyataan.
"Cepatlah Bel, aku belum mandi nih" Aku juga semakin kesal karena belum membersihkan diri setelah bertanding.
"Jadi kemenganan kalian hari ini adalah disengaja" Aku terkejut mendengar apa yang dia bicakan.
Bela berkata bahwa kemenganan ini adalah murni settingan dari panitia. Dan pemain lawan juga sengaja untuk mengalah agar kemenganan berada di pihak kami.
"Apa yang kamu bicarakan, kami sudah berjuang keras untuk kemenangan ini" Ucapku sedikit tidak setuju di awal ucapannya.
"Aku akan menjelaskannya" Sahutnya.
Aku merasa aneh dengan ucapan Bela, karena yang aku tau kami benar-benar berjuang sekuat tenaga untuk mengalahkan tim lawan. Tidak ada sedikitpun dari mereka bermain menjadi pengecut dengan menampilkan permainan yang buruk.
"Lalu apa yang mereka lakukan selanjutnya di final nanti? " Aku kembali penasaran dengan perkataan yang Bela berikan.
Bela mengatakan bahwa nanti kita akan dicurangi kembali. Maka harus hati-hati menghadapi final yang akan datang. Mereka akan melakukan rencana dengan menambahkan obat di dalam minuman kalian.
"Aku tidak tau, intinya mereka akan membuat kalian dipermalukan nanti di final" Sambungnya kembali menjelaskan.
Bela juga menambahkan bahwa rencana mereka semua sudah matang agar kami gugur sebelum pertandingan dan harus benar hati-hati. Tidak menutup kemungkinan makanan juga akan diberi obat.
"Benarkah begitu?" Ani mencoba mendekat dan memastikan bahwa Bela berkata dengan benar.
"Iya, benar" ucapnya sayu
"Kalau kau bohong?"
"Sudah, sudah. Dia pasti berkata benar" aku mencoba menenangkan Ani bahwa Bela saat ini berkata benar.
Apapun yang dikatakan oleh Bela, aku mempercayainya. Sepertinya dia berkata benar dan aku harus mewaspadainya. Tidak ada yang tidak mungkin, pasti akan banyak kecurangan.
Apalagi yang kita hadapi di pertandingan yang akan datang adalah perwakilan satu-satunya dari tim kota ini. Aku akan selalu mengingat kata coach Alam dan juga kakek waktu itu.
"Ada baiknya aku meniruti ucapanmu, karena aku yakin bahwa kemenangan akan diinginkan oleh kedua tim" Lanjutku menjelaskan pada mereka.
Coach Alam pernah mengatakan bahwa harus hati-hati dengan permainan licik dalam turnamen. Dan kakek bilang harus hati-hati terhadap teman dan orang-orang disekitar. Aku tau terdapat banyak pesan yang tidak dibicarakan secara langsung oleh mereka.
"Terima kasih ya Bel karena sudah memberitahu kita tentang semua ini" Ucapku padanya.
"Iya Key sama-sama, aku pamit dulu ya" Bela berpamitan pergi dari kamar ini. Aku, Ani dan Ira mengadakan rapat kecil-kecilan.
Ani menyatakan bahwa makanan yang dimaksud adalah makan malam ataupun siang. Sedangkan Ira mengatakan bisa jadi makanan camilan sebelum pertandingan.
"Ucapan kalian benar, biar aku saja yang mengatasi hal ini agar tidak mengacaukan rencana kami di final nanti"
"Benar Key, aku menyetujuimu"
"Iya, aku juga" Sahut Ani dan Ira secara bersamaan.
Mereka berdua ada benarnya juga, tapi aku harus benar-benar menyelidiki secara bertahap dan teliti. Untuk mengetahui apa yanga kan terjadi selanjutnya.
"Sudahlah, ayo kita selesaikan hari ini. Karena aku ingin mandi dan badanku sudah lengket semua" Ucapku yang beranjak dari tempat duduk.
"Tidak aku, aku dulu yang mandi" Ira langsung berdiri dan berebut kamar mandi denganku.
__ADS_1
Tapi dia kalah start karena aku sudah mendahului masuk ke dalam kamar mandi dengan mengandalkan kecepatan lari ku. Aku berhasil membuat Ira kembali menunggu.
*brak, brak brak*
"Ahhh Key" Kesalnya sambil memgedor-ngedor pintu dengan keras.
"Makanya jangan gosip terus" Ejek ku sambil teriak di dalam kamar mandi. Sedangkan Ani tertawa keras melihat kelakuan kami.
Pagi
"Woyyyy bangunnnnn, waktunya senam pagi" Teriakku yang melihat Ani dan Ira masih molor setelah melaksanakan sholat subuh. Mereka kembali tidur katanya sangat capek sekali hari ini.
"Astaga Key, masih pagi teriak-teriak" Kesal Ani yang masih nyaman dengan bantalnya. Ira juga dengan santai memeluk kembali bantal di tangannya.
"Yaudah kalau kalian tidak mau bangun, aku sendiri saja yang ke lapangan. Biar kalian berdua yang akan dihukum oleh coach Jaka" Aku berdiri dan bergegas untuk pergi melaksanakan senam pagi.
Meskipun kaki Ani sendang sakit, coach Jaka tetap menyuruhnya untuk mengikuti kegiatan biasa yang dilakukan. Walau dia hanya duduk saja, setidaknya bisa memperhatikan latihan yang dilakukan.
"Iya, iya ini bangun"
"Nah gitu dong" Aku kembali menghampiri mereka yang sudah terbangun.
Akhirnya pagi ini kami kembali melaksanakan kegiatan pagi, mungkin ini hari terakhir untuk berolahraga.
Karena besok kami akan melangsungkan pertandingan lalu besoknya lagi akan kembali pulang ke kota kelahiran. Semoga besok adalah hari yang bisa membuat kami tersenyum indah.
"Kita akhiri kegiatan pagi ini, dan sekarang silahkan untuk melakukan sarapan pagi"
"Siap coach"
Setelah melakukan senam pagi, kami melakuakn makan pagi bersama-sama di meja makan. Saat aku yang datang terlambat karena ke toilet, tidak sengaja aku melihat seseorang yang ingin mencampurkan sesuatu ke dalam makanan kami.
"Apa yang dia lakukan, spertinya itu sesuatu asing yang akan dimasukkan ke makanan kita" Gumamku dan bersembunyi. Sudah jelas sekali gerak-geriknya untuk menambahkan bahan tersebut.
Untung saja otakku lancar dan melakukan sesuatu yang konyol agar dia tidak melakukan kejahatan. sebelumnya aku memotret wajahnya. Lalu aku menyiapkan sesuatu seolah-olah ada orang di dapur ini.
\*kompyanggg\* wajan terlempar keras saat aku menghantamnya dengan batu besar. Dia langsung terkejut dan melihat ke arah wajan itu.
"Siapa" Bentaknya dengan wajah ketakutan.
"Aaakuuu adalah penunggu dapur ini. Sedang apa kau di sini" Aku mengubah suara menjadi lebih besar untuk meyakinkan bahwa aku penunggu.
Senyum diwajahnya terlihat jelas saat melihat dia ketakutan bukan main. Entah dia mengira orang atau hantu tapi yang jelas dia ketakutan sekarang.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1