
Dengan sabar aku menjelaskan sedikit padanya untuk menberikan pengertian bahwa bukan angin sebenarnya yang membuat panas melainkan angin dengan suasana.
"Beda sekali Yuri, disana angin ****** beliung dan disini angin sepoy-sepoy" Ari langsung menjawabnya dengan keras. Sepertinya Ari juga gregetan dengan pertanyaan Yuri.
"Hahahahhaha" Jawabannya lagi-lagi membuat kami bertiga tertawa dan heboh sendiri di bangku belakang.
"Sudahlah, ayo kita bersiap sebentar lagi pelajaran akan dimulai" Ucapku agar mereka tidak gaduh lagi. Kami bersiap. Menerima pelajaran dan memperhatikannya hingga selesai.
Saat jam istirahat tiba, kami bertiga bergegas ingin pergi ke kantin. Sesekali aku melirik David, dan dia juga menatapku dengan tatapan yang sama. Lalu aku memalingkan muka dan berjalan kembali.
*brakkk*
"Astaghfirullah" Aku menabrak meja di depan gara-gara melirik David.
"Kamu tidak apa-apa key" Yuri dan Ari mencoba membantuku yang sedang melamun saat berjalan.
"Tidak apa-apa hanya saja menabrak meja, memangnya siapa yang meletakkan meja disini. Bikin kesal saja" ketusku yang membuat mereka berdua tertawa dengan kelakuan ini.
*bruk* aku memukulnya, sebenarnya bukan kesal ke meja tetapi kesal pada david.
Aku tau dia mengenaliku tapi entah kenapa dia tidak ingin berbicara. Tadi saja saat aku menabrak meja wajahnya terkejut dan seakan ingin membantuku. Tapi saat aku menatapnya dia kembali duduk dan pura-pura menulis sesuatu.
"Key kamu mau pesen apa? " Tanya Yuri yang sudah bersiap untuk ke depan kantin untuk memesan makanan.
"Aku pesan seperti biasa saja Yur, jangan banyak-banyak"
"Oke, kalau kamu ri"
"Biasa, bakso kuahnya sedikit"
"Siap" Kebiasaan ari makan bakso tapi kuahnya sedikit, katanya biar tidak banyak msg masuk perut. Terserah Ari yang penting dia suka makannya.
"Key kamu tau gak, kalau aku sering chatan sama Rena" Ucap Ari dengan tatapan bahagia
"Bagus dong, gimana kalau kamu tembak aja Rena"
"Gak bisa key, aku takut"
"Aduhhh, cupu hahhaha" Aku menertawainya karena dia tidak pernah punya keberanian untuk mengatakan bahwa hatinya menyukai Rena.
Aku ingin membantunya, tapi Ari melarang ku. Dia ingin membuat Rena nyaman terlebih dahulu melalui chat dan disitulah Ari akan mengatakan langsung pada Rena. Ari tidak mau mengungkapkan rasa melalui seseorang tapi aku dan yuri selalu punya cara untuk membuat Ari dan Rena semakin dekat.
"Hey, boleh gabung gak" Ari mengangguk saat Doni datang dengan tiba-tiba lalu ingin bergabung di meja kami.
"Ini pesanan kalian"
"Bentar-bentar aku bantu" Yuri terlihat kualahn membawa makanan kami. aku membantunya untuk meletakkan di meja.
"Kamu anak kelas ips ya? " Yuri mengenali Doni tapi dia tidak tau namanya, begitu juga dengan Ari dia mengenalinya tapi tidak akrab.
"Kenalin, aku Doni anak kelas IPS" Dia menyalami Yuri dan Ari secara bergantian. Aku hanya diam melihat tingkahnya yang SKSD. Kalian pasti taulah SKSD yaitu sok kenal sok dekat.
"Oh iya aku kesini mau bilang sama key, nanti kalo latihan bola kita pulang bareng ya" Ucapnya padaku membuat Ari dan Yuri tersenyum
"Tapi kita kan beda lapangan dan pelatih" Sahutku, diri ini hera sekali dengannya. baru saja kenal sudah mengajak untuk mengajakku pulang bareng.
"Iya tapi kan masih satu sekolah, oke gak ada penolakan key sampai jumpa nanti" Tanpa aku jawab dia langsung pergi begitu saja. Kesal sekali melihatnya yang tiba-tiba datang terus bilang untuk bareng pulang dan terus hilang. Makhluk apakah itu Tuhan yang mengangguk lagi.
"Cieeee, akhirnya ada yang suka sama kamu key" Yuri mencoba menggodaku karena selama ini yang mereka tau jika tidak ada laki-laki yang mendekatiku. Padahal dulu pernah ada kak Dika tapi aku menolaknya karena harus menjaga hati Yuri.
"Sudah, sudah ayo makan. Keburu dingin nih" Ucapku untuk mengalihkan obrolan mereka.
"Memangnya kamu mengenal dia key? " Tanya Yuri membuka keheningan antara kami.
"Aku gak tau dia, tapi dia yang memperkenalkan diri katanya sih anak sepak bola juga" Sahut ku menjelaskan sedikit pada Yuri dan Ari lalu kembali menikmati bakso.
"Tapi gapapa sih key, Doni ganteng juga" Ucap Yuri sambil senyum-senyum. Memang aku akui doni tidak kalah ganteng dengan David dan kak Dika, tapi aku tidak tau mengapa dia datang tiba-tiba.
Saat kita asik makan, kak Dika datang dan ngobrol bersama kami walaupun hanya sedikit. Katanya dia sekarang harus rajin belajar agar nanti bisa sekolah di luar negeri, jika tidak ayahnya akan marah.
Akhir-akhir ini kak Dika semakin akrab dengan kami. Bahkan dia suka bercerita tentang masalahnya tapi tidak terlalu dalam. Hanya beberapa hal saja yang dia ceritakan, dan selebihnya mungkin disimpan sendiri.
__ADS_1
"Kalian liat nggak, setiap hari si David di kejar-kejar cewek-cewek terus. Bosen liatnya tau gak sih" Ucap Yuri yang kesal melihat cewek-cewek di sekolah selalu mengikuti David.
Sekagum itukah mereka dengan David. Wajahnya yang tampan menjadi salah satu alasan mereka mengejarnya. Apalagi dia sudah menjadi terkenal karena pernah bermain di luar negeri.
"Enak banget jadi dia, aku bayangin kalau aku yang dikejar-kejar sama mereka" Ari menghayal dalam pikirannya.
"Hahahhaha, kamu di kejar-kejar mungkin karena nyolong sepatu" Aku mengejeknya dengan hayalan yang dia ciptakan sendiri.
"Memangnya dia sehebat apa sih, sampai dikejar kayak gitu. Paling kalo suruh main basket gak bakalan bisa" Kak Dika mulai iri melihat David yang sibuk dengan cewek disnaa. Tapi tatapan David sangat risih dengan mereka semua. Bagaiaman tidak, setiap hari selalu diikuti bahkan ke kamar mandi di tungguin oleh mereka.
Mereka bertiga terus membicarakan David. Sedangkan aku lebih baik memilih diam saja daripada terus mengungkit namanya yang membuatku kesal. Padahal aku ingin berterimakasih padanya karena memberikan buku ini padaku. Tapi dia selalu menghiraukan aku.
"Kamu kenapa key, kok diam aja. Apakah kamu sakit? "
"Ah tidak kak, aku lagi pingin bersantai saja"
"Ini kan sudah santai key, mau santai bagaimana lagi" Sahut Yuri dengan tatapan gemas saat melihat aku termenung lagi. bahkan aku sendiri tidak tau pikiran apa yang sedang merasukinya.
"Mungkin di pantai"
"Hahahhahahah" Mereka malah tertawa dengan jawabanku. Padahal aku berbicara benar karena ingin bersantai di pantai bernyanyi dan menari.
"Memangnya kamu mau pakai bikini disana" Sepertinya Ari membalaskan dendamnya dengan mengejekku.
"Iya kamu penari yang pakai daun-daun" Jawabku
"Hahahahha" Lagi-lagi membuat mereka tertawa dan meja kami paling gaduh sendiri di kantin.
Setelah selesai makan kami berlajut pergi ke kelas. Ari dan Yuri bergegas ke kelas terlebih dahulu sedangkan aku mampir ke toilet. Ingin mencuci muka agar terlihat lebih segar dan tidak lesu.
"Sebentar lagi aku bakalan menang, sebenarnya aku tidak menyukai si culun itu. Aku hanya ingin memanfaatkannya untuk menjalankan rencanaku" Aku mengenal suara itu yang berbicara sendiri di dalam toilet. Aku segera bersembunyi di toilet sebelah agar tidak ketahuan. Aku mengendap-ngendap seperti detektif saja, agar tidak menimbulkan suara.
"Lihat saja tanggal mainnya" Suara yang licik.
*klek* sepertinya dia sudah keluar dari toilet ini. Setelah aku cek lagi ternyata toilet sudah kosong.
"Rena, apa yang sedang dia inginkan. Mengapa nada bicaranya sangat licik seperti itu. Lalu siapa yang dia maksud, apakah Ari? " Aku berbicara sendiri di depan cermin. Bertanya-tanya rencana apa yang sedang dia lakukan.
Aku tidak akan membicarakan semua ini dengan Ari, aku tidak ingin membuatnya kecewa. Secepatnya akan aku selidiki semuanya. Apakah benar Rena selicik itu, aku tidak menyangka padahal baru saja kita berpisah kelas tapi dia ingin menunjukkan wajah aslinya.
"Key, lama banget ke toiletnya" Ari dan Yuri sudah menungguku di dalam kelas. Disana juga ada David yang duduk sambil menulis sesuatu di dalam kertas. Aku melewatinya tanpa menoleh sedikitpun padanya.
"Aku lagi meditasi, membutuhkan ketenangan" Sambil memperagakan gaya meditasi untuk diperlihatkan pada Ari dan yutri.
"Pantesan tenang lah, karena di toilet sepi yang ramai itu di kuburan" Krik, krik, krik, selalu saja candaan Yuri garing.
"Hahahhahahah" Meskipun garing tapi mampu membuat aku dan Ari tertawa.
"Oh iya, kalian nanti pulang dulu ya soalnya aku mau latihan bola"
"Iya key, besok latihan pertamamu setelah cidera. Aku jadi kangen lihat permainan skil kakimu yang bagus" Ucap Ari dengan tatapan sedih.
Kepala David juga menoleh sedikit ke belakang saat mendengarkan aku pernah mengalami cidera. Aku tau bahwa David masih peduli dan sangat terlihat dari tatapannya, tapi yang tidak aku tau mengapa dia selalu diam jika bertemu denganku.
"Iya key, aku juga ingin melihatmu bertanding lagi tau" Sambung Yuri padaku.
"Doakan saja biar aku bisa bermain lagi untuk sekolah ini dan bisa masuk timnas"
"Aamiin" Ari dan Yuri menjawabnya secara bersamaan.
Pelajaran dimulai, guru menyuruhku untuk maju dan mengerjakan soal di depan. Syukur alhamdulillah aku bisa mengerjakannya, ini semua karena Ari yang mengajariku. Kalau tidak mungkin otakku tetap saja kosong dan hanya berisi tentang bola dan bola.
Aku dan Yuri merasa tenang selama ada Ari yang siap siaga membantu kami semua. Ari yang sabar dan telaten walaupun sering sekali otak kami ngebleng. Tapi yang sku salutkan pada Ari yaitu, dia terus saja megajariku tanpa sedikit marah pada dirinya.
Bel pulang sekolah berbunyi, aku bersiap untuk masuk ke lapangan belakang. Mengganti pakaian untuk berlatih disana. Sudah lama rasanya aku tidak berlatih disini. Apalagi semenjak kejadian cidera yang membuat aku harus sabar menepi dari rumput hijau. Dan hari ini pertama kalinya aku merumput kembali disini untuk latihan bersama-sama.
__ADS_1
"Key, akhirnya kamu sudah sembuh 100% dari cidera mungkin" Rega menyapaku di ruang ganti. Dia mengatakan bahwa sangat rindu untuk berlatih kembali bersamaku. Katanya aku pembawa semangat bagi mereka saat berlatih. Karena setiap latihan aku selalu membawa energi positif yang banyak.
"Iya ga, alhamdulillah dan sekarang aku bisa bermain lagi dengan kalian" Aku memeluknya sebagai ucapan rindu. Walaupun kita bertemu di sekolah tapi jarang sekali akrab seperti latihan. Karena kelas kami berbeda dan kami hanyalah sebatas senior dan junior saat di luar lapangan.
"Oh iya key, kamu tau David anak baru yang di kelasmu itu kan? " Lagi-lagi semua orang membicarakan tentang David. Padahal aku sangat malas mendengarkan namanya.
"Hmm, iya memangnya kenapa ga? "
"Katanya sih dia bakalan memberikan ilmu berlatih bola pada kita" Jawabnya. Aku terdiam sejenak, lalu kembali memikirkan tentang David dan kemudian pikiran itu hilang kembali.
"Ilmu dia? Apa gunanya? "
"Banyak key, dia itu pemain terbaik di luar negeri dan kali ini dia kembali ke tanah lahirnya. Dan kita bisa mendapatkan banyak ilmu darinya" Penjelasan yang masuk akal. Kali ini Rega benar-benar menghilangkan konsentrasi ku saat memasang sepatu di ruang ganti hanya karena membicarakan tentang David.
"Sudahlah, ayo cepat! Pasti coach Alam telah menunggu di lapangan"
"Iya benar juga key" Aku dan Rega bergegas menuju lapangan. Dan di sana sudah ada David yang berada di depan bersama coach Alam. Sedangkan teman-teman berbaris di depannya.
"Selamat sore anak-anak"
"Sore coach" Mataku terus saja menatapnya. Entah tatapan apalagi yang aku berikan padanya.
"Kali ini kita kedatangan pemain hebat dari luar negeri dan menjadi siswa baru di sekolah ini"
\*prok, prok, prok\*
"Yeyyyyyyyy, horeeeee, yuhuuuuu" Sambutan ceria mereka teriakkan. Kecuali aku yang memperhatikannya dan hanya terdiam.
Coach Alam menceritakan bahwa kali ini David akan memberikan ilmu yang sudah dia pelajari dari luar negeri. Ilmu yang David berikan akan sangat bermanfaat bagi kami semua. Dan katanya ilmu ini hanya ada di luar negeri dan pesepak bola di dalam negeri kita jarang melakukannya.
"Oh iya, sebelum kita berlatih. Hmmm sebentar" Mata coach Alam terus mencari sesuatu di barisan kami. Entah apa yang sedang dia cari aku tidak tau.
"Nah itu dia, key kemarilah"
"Saya coach? "
"Iya kamu" Malas sekali maju ke depan dan berdiri di samping David.
"David kenalkan ini key, dia pemain terbaik di tahun kemarin dan skil yang dia miliki sangat bagus"
"Key"
"David" Aku terpaksa bersalaman karena coach Alam. Sebenarnya aku sudah mengenalnya sejak dulu hanya saja David yang tidak mengenalku coach, ingin rasanya berbicara seperti ini. Tapi sudahlah karena telah berlalu waktu ditahun-tahun yang lampau.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~