Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
43. Pertengkaran Sengit


__ADS_3

Meskipun aku sudah menasehati nya, dia tetap saja masih berbicara dan tidak fokus dengan mobil yang dia bawa saat ini. Aku menatapnya dengan kesal karena dia terus saja mengoceh tidak jelas.


"Kalau aku masih suka sama kamu bagaimana key? " pertanyaan apa lagi yang keluar dari kak Dika.


"Kak Dika mau putus pertemanan lagi denganku? Tanyaku dan menatap wajahnya.


"Eh, tidak, tidak aku hanya bertanya key"


"Nah lebih baik kak Dika bahagiakan Yuri" Sahut ku singkat, jelas dan padat.


Perjalanan kami sudha hampir sampai ke rumah Yuri selanjutnya ke rumah Ari. Aku menyuruh Yuri duduk di bangku depan, tapi dia memarahiku katanya biar aku saja di depan agar mudah turunnya nanti. Di dalam mobil aku diam saja tidak mau berbicara dengan Ari. Walaupun dia terus bertanya tapi aku memilih diam, karena kemarin dia tidak datang di hari yang spesial karena kemengan.


Sesampainya di gerbang sekolah aku melihat ucapan selamat untuk para tim sepak bola putri. Terpampang wajah para pemain, salah satunya aku yang ada di dalam foto tersebut. Aku tersenyum bahagia disambut dengan indah. Saat ingin turun dari mobil, Teman-teman menyambut dan merayakannya. Disana juga sudah ada beberapa pemain yang bergabung.


"Ayo turun" Ucap kak Dika setelah memarkirkan mobil.


"Tunggu key, biar aku bantu" Ucap Ari dan aku masih diam.


Kepala sekolah mengumumkan untuk berkumpul di tengah lapangan melakukan apel pagi untuk pemberian penghargaan. Apel dilaksanakan dan aku hanya bisa duduk di bangku untuk mengikutinya. Semua pemain sudah berkumpul di depan untuk menerima penghargaan. Begitu juga aku yang dibantu dengan teman-teman lainnya untuk menerima penghargaan.


"Saya mengucapkan terimakasih untuk para pemain yang mengukir sejarah bisa masuk ke semifinal final dan keluar sebagai juara 3" Ucap kepala sekolah di depan yang di sambut dengan tepuk tangan. Diiringi pemberian kalungan bunga sebagai tanda penghargaan. Dan masing-masing pemain menerima piagam penghargaan.


"Penghargaan selanjutnya kami berikan kepada pemain terbaik kita, yaitu Keyla Adara"


"Keyla, keyla, keyla, keyla" Teriakan demi teriakan meramaikan apel pagi ini.


Aku yang menerima penghargaan harus dibantu oleh beberapa teman disana. Mengayunkan tongkat dan berjalan satu per satu ke arah kepala sekolah. Dan bahkan kepala sekolah yang menghampiriku agar langkahku tidak terlalu jauh.


"Keyla, keyla"


*prok. Prok. Prok* tepuk tangan bersautan beriringan dengan teriakan. Aku sangat senang melihat semua ini. Setelah itu aku duduk kembali di kursi yang sudah disediakan. Begitu juga dengan teman-teman satu tim kembali ke barisan mereka yang sudah tersedia.


"Dan penghargaan terakhir kami juga berikan pada coach Alam yang sudah membawa para punggawa keluar sebagai juara 3"


*prok, prok, prok* aku sangat senang karena coach Alam pantas mendapatkan penghargaan ini. Meskipun masih ada beberapa siswa yang tidak suka dengan coach Alam, tapi dia sudah membuktikan bahwa beliau adalah pelatih terbaik.


"Coach Alam, coach Alam, coach Alam" Aku memimpin teriakan itu hingga semua siswa ikut juga meneriakkan nama coach Alam.


"Kami seluruh jajaran sekolah sudah sepakat untuk menanggung semua biaya pengobatan keyla hingga sembuh" lanjut kepala sekolah saat berpidato.


*prok, prok, prok*


"Alhamdulillah" Pikirku lega dan sangat berterima kasih. Spontan aku menundukkan kepala pada bapak kepala sekolah sebagai ucapan Terima kasih. Aku sangat bersyukur karena sekolah sudah membantu membiayai pengobatan ku. Karena aku yakin biaya untuk pengobatan tidak murah.


"Dan satu lagi pengumuman dari saya, yaitu coach Alam tetap akan melanjutkan sebagai pelatih sepak bola putri di sekolah ini"


"Yes" aku tersenyum puas karena Coach Alam masih bertahan melatih kami.


*prok, prok, prok* ada yang menyambutnya dengan senang ada juga yang menyambutnya terpaksa karena bimbang.


Sekali lagi aku bersyukur karena coach Alam tidak di pecat dari sekolah ini. Karena coach Alam adalah pelatih yang sangat baik bisa membangun semangat dari tim kami hingga berhasil membawa kemenangan.


Semua pengumuman dan arahan sudah selesai. Penutupan apel dilaksanakan dan selanjutnya apel selesai. Semua siswa dan guru dibubarkan untuk lanjut melakukan pembelajaran seperti biasa. Ari dan Yuri membantuku untuk berjalan ke kelas. Tadinya sih ada kak Dika juga yang ingin membantu, tapi aku menolaknya dengan alasan bahwa kelas kita berbeda.

__ADS_1


"Key, bicaralah jangan diam saja" Ari mencoba membuka pembicaraan saat kami dalam perjalanan menuju kelas.


"Key malas ngomong sama kamu, kenapa kamu tidak datang kemarin katanya" Yuri langsung menyauti perkataan dari Ari.


"Aku kan sudah bilang kalau mau ke rumah nenek" Jawab Ari sambil menatapku, sedangkan aku memalingkan wajah.


"Tolong bilang kan ke Ari, kenapa tidak pernah datang di saat pertandinganku" Bisikku pada Yuri, lalu dia menyampaiaknnya ke Ari


"Karena aku ke rumah paman, ke rumah nenek jadi tidak ada waktu" Jawabnya dengan wajah yang ditekuk.


"Lalu kenapa setiap hari, dan kenapa tidak mengajak kami kalau neneknya sakit" Lagi-lagi aku membisikkan pada Yuri dan dia menyampaikannya.


"Ya karena..... A..belum waktunya"


"Bilangin sama Ari........ "


"Aduh, kalian kan bisa bicara sendiri" Yuri geram dan marah akibat ulah aku dan Ari. Kami bertiga langsung bertatap-tatapan.


"Hahahhahahha" Tertawa kembali pada bibirku, bibir Ari dan juga Yuri. Begitulah cara kami baikan dan kembali berbicara seperti semula. Ari dan aku juga berpelukan sebagai tanda persahabatan kami sudah membaik Lalu Yuri juga ikut berpelukan.


"Aduh, aduh aduh, kakiku sakit we" Rengekku pada mereka saat salah satu kaki Yuri menyenggol sedikit.


"Eh iya maaf, maaf key hehehhe" Sahut Yuri sambil tertawa kecil dan Ari juga ikut tertawa. Lalu kami berjalan seperti biasa seakan tidak pernah terjadi apapun.


"Keyla, keyla, keyla" Baru masuk ke dalam kelas sudah banyak sambutan dari teman-teman sekelas. Mereka menyambut ku dengan sangat meriah dan sangat baik. Aku senang sekali, senyumku melebar.


"Terima kasih banyak teman-teman, ini semua juga berkat dukungan dari kalian" Ucapku lalu semua teman yang ada di kelas satu per satu bersalaman memberikan selamat padaku.


Selanjutnya suasana kelas menjadi tentang seperti biasa saat guru sudah masuk untuk memberikan pelajaran. Seperti biasa kami melakukannya dengan baik walaupun otak aku dan Yuri tidak sebaik Ari tapi kami mengikutinya hingga selesai.


Diantara kami bertiga, Yuri yang paling lemot untuk berfikir. Dia berfikir paling belakang, tapi setidaknya dia sudah memiliki banyak perubahan semenjak bersahabat dengan kami. Nilainya yang dulu mengoleksi angka nol kini sudah berubah saat dia masuk SMA. Tidak ada lagi angka nol yang didapat.


Jam istirahat aku memaksakan diri ikut Yuri dan Ari untuk makan ke kantin. Karena aku sangat malas sendirian didalam kelas. Sebernarnya Yuri dan Ari melarangku untuk kesana. Mereka menyuruhku untuk beristirahat, tapi keras kepalaku tidak bisa mereka lawan jadi mau tidak mau mereka mengajakku.


"Waduh, waduh, si pincang lewat" Lagi-lagi Ana dan kedua gengnya mengejekku. Selalu saja dia menampakan wajah benci padaku.


"Waduh, waduh, ada yang iri nih karena gak dapat jadi pemain terbaik" Celetuk Yuri yang membuat wajah Ana menjadi geram.


"Kamu tu harus di beri pelajaran"


"Aduhhh" Tangan Yuri langsung menjambak Ana. Aku terus melerainya dan amarahku memuncak karena Ana.


*plak* aku melepas tongkat dan langsung menampar Ana. Dengan keras tanganku mendarat di pipinya hingga membekas. Seketika Ana terdiam menatapku dengan tajam.


"Aaaaa, kurang ajar" Ucap Ana meluapkan amarahnya.


"Kamu tau gak sih, kalau bukan karena aku gak bakalan bisa kamu jadi pemain hebat" Dengan kejam bentaknya memaki ku lalu dia pergi mengambil sesuatu. Ternyata mengambil tong sampah kecil yang ada di dalam kelas.


*prak* dia melemparkan ke kepalaku. Satu hal terulang lagi. Kepalaku dipenuhi dengan sampah, kini Ana keterlaluan. Dengan dibantu tongkat yang ada aku melawan Ana. Membuang tong sampah yang masih melekat di kepala lalu kembali memukulnya. Kali ini bibirnya berdarah karena ku.


"Kurang ajar kamu key"


"Kamu yang kurang ajar, selalu buat ulah dan kamu pikir aku takut. Lebih baik kamu pergi dari sini daripada membuat amarahku semakin menjadi-jadi"

__ADS_1


Amarahku semakin memuncak. Sedangkan Yuri dan Ari membantuku untuk membersihkan sampah yang masih ada di rambutku.


"Aaaaaa" Jerit nya ingin kembali menamparku, lalu tangan Ari dengan segap menahannya hingga tangan Ana membentur di kepala Ari.


Hal tersebut membuat hidung Ari berdarah. Aku semakin marah karena dia sudah melukai sahabatku. Aku tidak peduli lagi kakiku sakit. Dengan brutal aku memukulinya, hingga semua siswa keluar untuk melihat kejadian ini.


"Key, key, key, berhenti" Ari dan Yuri mencoba untuk memberhentikan ku tapi tidak bisa. Begitu juga kedua sahabat Ana yaitu Dewi dan Puja bahkan keduanya ikut mengeroyokku. Sampai kesadaranku kembali saat keduanya menginjak kakiku yang terluka.


"Aaaaaa" Aku mengerang kesakitan. Tapi mereka berdua malah tertawa melihatku. Ari dan yuri langsung segera menolongku untuk bangun.


"Hey berhenti, berhenti" Kak Dika datang dan melerai perkelahian kami. Tiba-tiba guru yang ada disana juga melerainya dan membawa kami yang terlibat ke dalam ruangan kepala sekolah.


"Apa-apaan kalian, bertengkar di dalam sekolah seperti seorang preman. Lalu siapa yang mau bertanggung jawab untuk menjelaskan kejadian ini? " Kami semua terdiam dan menundukkan kepala. Bagaimanapun juga aku bersalah karena terbawa emosi hingga memukul Ana.


Wajah Ana terluka karena pukulanku, kakiku semakin parah karena mereka injak, lalu wajahku juga ada bekas lebam karena dikeroyok Dewi dan Puja. Bahkan wajah Yuri juga sama lebam karena adu pukulan dengan Dewi dan Puja.


Tapi tenang saja, wajah dewi dan Puja juga lebih parah karena terkena pukulan dari tongkat ku. Dan yang paling aneh adalah Ari, mengapa hidungnya yang berdarah sedangkan kepalanya yang kena pukul.


"Maaf Pak, saya yang salah sedangkan Ari dan Yuri tidak bersalah pak" Aku mencoba untuk menutupi kesalahan Ari dan Yuri agar mereka tidak terlibat dengan masalah ini.


"Tidak pak, saya yang salah sedangkan Key dan Ari hanya membela saya" Sahut Yuri yang menyalahkan dirinya sendiri. Aku melotot mendengar perkataanya yang mencoba melindungiku dan Ari.


"Tidak pak, saya yang salah karena ikut campur"


"Tolong diam, kalian membuat saya semakin pusing. Lebih baik kita lihat CCTV. Dika tolong bawakan saya rekaman CCTV di tempat kejadian" Menurutku keputusan ini yang terbaik agar bisa menemukan siapa yang benar-benar bersalah dan membuat onar.


"Baik Pak" Kak Dika langsung bergeas mengambil rekaman CCTV yang ada.


Kami semua menunggu untuk beberapa menit. Lalu kak Dika datang dan membawa rekaman CCTV yang itu. Rekaman itu di putaran dan di tonton oleh semua pihak yanga ada di dalam sana termasuk wakil kepala sekolah dan wali kelas yang bersangkutan


Rekaman yang berdurasi selama 7 menit itu memperlihatkan bahwa yang benar-benar bersalah adalah Ana. Dia yang ingin memukul Yuri terlebih dahulu, lalu Ana juga yang menumpahkan tong sampah ke kepalaku. Bahkan Ana juga yang memukul Ari hingga hidungnya keluar darah.


"Sekarang saya sudah tau siapa saja yang bersalah, Ana, Dewi, Puja, kalian melakukan tindakan yang sangat buruk" bentuknya membuat kami semua terkejut.


"Maksudnya pak, itu kan gara-gara mereka yang memulai dulu"


"Sudah diam Ana, kamu lihat rekaman menjelaskan bahwa kamu yang ingin memukul Yuri dulu" Bentak kepala sekolah pada Ana dan dia terdiam.


"Lalu salah kami berdua apa pak? Sedangkan kami hanya membantu ana saja " Ucap Dewi yang tidak setuju dengan keputusan kepala sekolah karena Dewi dan Puja dinyatakan bersalah.


"Salah kalian karena membantu Ana, lalu kalian juga yang menginjak kaki Keyla secara sengaja. Padahal kalian tau kalau kesembuhan kaki Keyla adalah tanggung jawab sekolah" ungkapnya.


"Tapi pak..... " Bantah puja


"Sudah cukup, saya telah menelpon orang tua kalian dan juga orang tua Key.


Aku hanya diam, dan juga akan menerima sanki yang akan diberikan oleh kepala sekolah asalkan Yuri dan Ari selamat dari hukuman sanki yang diberikan.


" Ana" Seorang lelaki dengan tubuh tinggi tetap dan berisi langsung memasuki ruangan kepala sekolah.


"A... A.. Ayah" Ternyata itu ayah Ana yang datang dengan pakaian rapi berjas. Wajahnya terlihat sangat ketakutan sehingga bibirnya terbata-bata saat berucap.


__ADS_1


__ADS_2