Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
93. Ayah Tiri Yuri?


__ADS_3

Ketenangan dan kebersamaan tercipta diantara tiga sahabat yang selalu menyemangati satu sama lain. Tidak ingin lagi berpisah seperti dulu hanya karena hal kecil walaupun itu rekayasa Ari tapi benar sangat menyakitkan.


"Eh bentar, tapi aku tidak ingin siapapun yang tau. Aku hanya memberitahu kalian saja. Dan jangan sampai mama dan papa juga tau tentang ini" Ari menyuruh kami untuk tutup mulut, walaupun tidak tau alasan yang pasti, tapi kami akan diam dan melakukan apa yang Ari katakan.


"Oke siap" Sahutku dan Yuri secara bersamaan.


"Kalian ngapain ribut-ribut" Mata kami langsung terkejut saat melihat tante Maya masuk dan membuka pintu.


"Ti.. Tidak ma. Kami hanya membahas tentang pelajaran tadi" Sahut Ari dengan agak gugup. Dia takut mamanya mengetahui apa yang disembunyikan.


"Iya tante" Sambung ku secara bersamaan dengan Yuri.


"Ya sudah, ayo turun dulu karena tante masak kue buat kalian" Syukurlah tante Maya tidak mendengar apa yang kita bicarakan.


"Baik tante, tapi ini sudah malam dan Keyla sama yuri akan pamit pulang" Yuri mengangguk setuju dengan pernyatan ku. Dia juga takut mamanya marah jika Yuri ketahuan pulang malam.


"Iya tapi makan kue dulu baru pulang yah" Kami menyetujuinya dan langsung turun ke bawah untuk makan kue yang enak buatan tante Maya.


Saat kami sendag makan, tiba-tiba ayah Ari datang. Om Roki duduk dan ikut makan bersama kami. Setelah makan dia bertanya tentang SSB yang aku tinggalkan. Aku berkata bahwa sudah ada klub yang mau merekrut ku menjadi pemain tarkamnya. Jadi aku latihan disana dan juga di sekolah.


"Tapi kamu baik-baik saja kan? "


"Alhamdulillah baik om, Dan Key juga sudah beradaptasi di sana"


"Syukurlah kalau begitu. Om juga ikut senang" Sahutnya.


Untung saja om Roki percaya dan memberikan aku semangat yang lebih. Begitu juga dengan tante Maya yang selalu mensupport aku, Yuri dan Ari dalam segala hal apapun yang terepenting tidak melebihi batasan. Setelah itu kami pulang seperti biasa diantarkan oleh supir Ari hingga selamat sampai di rumah.


*Dreeeetttt* suara sering ponsel Yuri berbunyi daritadi. Yuri menatapnya sekilas lalu mengabaikannya.


"Kenapa tidak di angkat? " Tanyaku penasaran dengan orang yang menelpon Yuri.


"Ahh, biasa key. Mama" Jawabnya dengan santai. Dia mengabaikan telpon dari mamanya, entah ada apa Yuri dengan mamanya.


"Angkat saja dulu, takutnya ada yang penting" Aku mecoba menyuruhnya untuk mengangkat telepon tapi Yuri masih tidak bergerak.


"Pasti dia akan berkata, mama pergi dulu dan jaga adikmu" Ucap Yuri menirukan suara mamanya.


"Iya angkat dulu"


"Biarlah" Yuri tetap dengan pendiriannya dan tidak mau mengangkat telepon dari mamanya walaupun sudha aku bujuk dia. Hingga sampai ke depan gerbang rumah Yuri, aku tidak langsung pulang. Aku menatap yuri masuk dengan bahagia dia melambaikan tangan padaku.


Aku meminta kepada supir Ari dengan sopan untuk menungguku sebentar. Aku ingin melihat apa yang sbenarnya sedang terjadi pada Yuri. Aku mengintip lewat sela-sela pintu depan. Melihat sekilas tapi hanya batang kayu, lalu aku mencoba mengintip lagi dan akhirnya aku hanya mendengar suara saja.


" Apa? Baru saja mama cerai sama papah dan sekarang ingin menikah lagi. Dengan orang ini? " Bentak Yuri dengan keras hingga suaranya terdengar keluar. Aku masih mendengarkan dengan seksama apa yang sedang mereka bicarakan.


"Ini akan menjadi ayah barumu, lagipula dia akan menggantikan ayah kamu Yuri. Adikmu butuh seorang ayah" Ucap mamanya yang menjelaskan pada Yuri.


"Tidak, aku tidak ingin memiliki ayah sepertinya. Hatiku cuman milik ayah, cinta pertama ku bukan dia ma" Bentak Yuri yang membuat susana semakin gaduh.


Lalu langkah Yuri sepertinya pergi dari tempat itu, mungkin dia pergi ke kamar untuk menenangkan diri. Aku ingin mengirimkan pesan tapi takut hatinya masih dalam keadaan kacau. aku bingung dan takut, aku berharap Yuri baik-baik saja.


"Pak maaf ya saya lama, ayo kita pulang saja ya pak" Aku masuk mobil dan segera bergegas untuk pulang. Baru saja sopir Ari menyalakan mobil, seorang lelaki keluar dari rumah Yuri. Wajahnya kesal dan seperti sedang marah.


Aku mencoba memperhatikannya dan meminta tolong pada pak supir untuk menahan mobil terlebih dahulu. Aku memotret wajah dari lelaki itu yang terlihat sangat kesal dan emosi.


"Kurang ajar, anak kurang ajar. Aku akan melakukan apapun agar bisa menikahi janda kaya ini" Mataku melotot dan mulutku menganga saat mendengarkan apa yang dia bicarakan. Aku menyembunyikan wajah di dalam mobil agar tidak terlihat olehnya.


"Lihat saja, janda kaya itu pasti akan luluh padaku. Begitu juga dengan anaknya" Setelah ia berguman sendiri, lalu langkahnya pergi ke dalam mobil yang terparkir di depan gerbang rumah Yuri. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.


"Kurang ajar, sepertinya dia bukan lelaki yang baik. Sepertinya dia ingin memeras keluarga Yuri. Aku akan memberi tahu Yuri besok" Ucapku sambil berlalu dengan mobil Ari untuk pulang. Sesampainya di rumah aku tidak lupa mengucapkan terima kasih.


Kali ini aku pulang ke rumah sendiri. Disana aku menyiapkan beberapa informasi tentang pelatihan yang ada di timnas. Agar aku bisa bersiap-siap untuk masuk ke timnas sehingga tidak ada beban saat dilatih disana.


Bayanganku, anganku, dan harapanku masih sama. Menjadi pemain bola terkenal, mengumpulkan uang banyak agar aku bisa mengembalikan uang ibu dan juga aku bisa bawa ibu serta bapak keliling kota atau dunia. Bahkan ingin membawa ibu dan bapak ke kota Mekkah.


Banyak poster tentang bola aku tenpelkan. Mulai dari poster wajah mesut ozil, makan konate, asnawi mangkualam, dan boassalosa. Kalau ditanya pemain timnas perempuan yang aku sukai saat ini, mungkin belum ada. Atau mungkin aku membanggakan diriku sendiri hehehhe.




Pagi yang cerah, menyambutnya dengan senyuman adalah caraku untuk bahagia. Tidak ada hal indah lagi yang bisa membandingkan ciptaan Tuhan di dunia ini. Menghirup udara pagi membuat otakku menjadi damai.



Tidak lupa berpamitan dengan ibu untuk berangkat sekolah. Semenjak bapak ke luar dari rumah sakit, aku tidak lagi diantar olehnya. Aku masih takut bapak kambuh lagi. Jadi aku memilih untuk berangkat mandiri.



"Keyyyy" Riki berteriak saat melihat batang hidungku muncul di pinggiran jalan.



"Riki" Pertemuan yang tidak membosankan adalah antara aku, Riki dan pak Abi. Membicarakan hal yang selalu ada saja untuk dibicarakan.


__ADS_1


"Key tau nggak, kemarin aku menonton bola katanya pemain timnas yang baik bisa keluar negeri key" Ucap Riki yang sangat antusias memberikan berita tersebut padaku.



Walaupun dia tidak memiliki televisi tapi dirinya tidak pernah meninggalkan hal penting tentang timnas di radio atau di TV orang.



"Wahh beneran ki, enak dong aku bakalan ke luar negeri nih"


"Hahahhaha" Percakapan yang amat panjang hingga aku lupa waktu dan ketinggalan angkot.



"Duhh, sudah jam segini gila. Bakalan telat nih" Saat aku menunggu angkot, aku melihat David.


Dia menatapku tapi tidak berhenti dan tidak menawarkan tumpangan. Ada apa dengannya, biasanya dia akan menawari ku tumpangan tapi kali ini tidak.



"Keyyy, ayo naik" Untung saja ada kak Dika yang tiba-tiba datang dengan motornya.



Tanpa basa-basi lagi aku ikut dengannya. Di dalam perjalanan aku dan kak Dika banyak bicara seperti adik dan kakak pada umumnya.



"Key, bentar lagi aku akan kuliah ke luar negeri. Kamu mau tidak tinggal dirumah buat jagain mama sama papah tidak? " Aku terdiam dan sekaligus tersentuh dengan apa yang dibicarakan.



Bagaiaman mungkin aku satu rumah dengan ayah, sedangkan aku sudah memiliki keluarga yang sangat sayang padaku hingga saat ini. Aku jelas tidak akan meninggalkannya.



"Key" Teriak kak Dika dengan keras membangunkan aku dalam lamunan.


"Eh iya kak, maaf tadi agak ngeblur" Jawabku sambil tersenyum.



"Apanya yang ngeblur, aku tidak sedang melakukan sesi foto key"


"Maksudnya otak Key yang ngeblur, hehehhe" Tawa kecilku untuk menutupi pikiran yang ada di otak.




Kak Dika diam mendengarkan perkataanku. Lalu dia melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi karena takut telat. Tidak lama kemudian kita sampai di tempat parkir sekolah.



"Kak, kak, kak" Panggil ku pada kak Dika yang daritadi diam saja.



\*plak\* aku memukul keras punggungnya agar dia sadar.



"Aduh, apa key"


"Dari tadi di panggil gak jawab"


"Maaf, lagi konsentrasi. Ayo turun"


"Eh iya lupa" Aku masih asik di atas motor dan tidak mau turun hingga kak dika menyuruhku turun, dasar pikun.



"Haiii key, Hai kak" Doni yang berboncengan dengan Puja menyapa kami berdua.



"Makin lengket aja don" Ejek kak Dika padanya. Semenjak saat itu, Doni benar-benar menjaga Puja dari lelaki mantan pacarnya yang kejam. Dan Puja juga sudah keluar dari geng Adel.



"Iya kak, sudah menjadi kebiasaan kita untuk mencari cara biar lengket. Kalo perlu bukan sekedar teman saja sih kak" Ucap Doni yang memberikan kode pada Puja. Tapi sayang sekali karena Puja terlalu lemot untuk diberikan kode seperti itu.



"Udah kak, kita tinggal aja. Lagian mereka pingin berdua kok" Ucapanku membuat Doni dan Puja tersenyum malu. Aku dan kak Dika melanjutkan untuk pergi ke kelas masing-masing. Di persimpangan lorong kami berpisah.


__ADS_1


"Belajar yang bener"


"Iyaaa, weeekk" Entah kenapa aku dan kak Dika semakin dekat dan nyaman.



Aku merasa ada seorang kakak yang mau melindungiku. Aku sangat senang bersamanya, mungkin karena aku masih membutuhkan kasih sayang saudara kandung.



Kak Dika pernah menawarkan untuk menjemput dan mengantarkan ku setiap hari. Tapi aku takut ibu mengetahui tentang apa yang aku lakukan. Yaitu menemui ayah dan ternyata ayah memiliki anak lain kecuali aku. aku takut membuat ibu kepikiran tentang kehidupanku. Lebih baik aku memilih untuk menjadi seorang putri yang mandiri.



"Davidd" Aku berlari saat melihat David di depan. Dia berhenti dan menoleh padaku.



"David, loh wajah kamu kenapa bonyok begini. Siapa yang memukulimu. Bilang padaku vid, biar kita pukul bareng-bareng" Aku kesal saat melihat luka lebam di wajah David.



"Key, mulai saat ini hapus nomorku dari kontakmu. Dan tolong jangan ganggu kehidupanku lagi" Aku masih bengong mendengarkan apa yang David bicarakan. Aku masih tidak mengerti, mengapa dia berkata demikian.



"Maksudmu? "


"Hapus semua tentangku, anggap saja kita tidak pernah kenal key" David pergi meningalkanku.



Aku tidak tau apa yang ada dipikirannya saat ini. Tiba-tiba dia datang dan berkata aku harus melupakannya, bagaimana bisa sedangkan aku sangan menyukainya.



"David tunggu" Aku memegang tangan David dengan erat. Terlihat ada luka lebam yang tergambar di lengannya.


"Kamu kenapa? " Tanyaku padanya sambil melepaskan lengan David.



"Sudah Key, jangan urusi aku lagi. Anggaplah kita sudah memiliki jalan masing-masing" Sesak sekali rasanya mendengarkan apa yang David ucapkan. Aku berharap hubungan kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tapi mengapa kau memberiku luka lagi vid.



Sepertinya aku harus melupakan masalah dalam hidup. Tujuanku sekarang adalah untuk bermain bola dengan bagus, masuk ke timnas dan bisa menjuarai pertandingan timnas. Aku tidak boleh memikirkan tentang rasa sakit lagi, aku harus mencari apa penyebab David seperti itu.



"Aku harus cari tau, kenapa David seperti ini" Gumamku sambil berjalan ke dalam kelas dan mataku memandang David yang terlihat seperti kulkas kembali. Wajahnya tidak menoleh sedikitpun padaku.



Aku pura-pura diam dan tidak terjadi apapun. Duduk di samping Ari dan berbincang-bincang seperti biasa. Lalu bersiap diri menerima pelajaran dan mendengarkan apa yang ibu guru ucapkan, walau pikiranku masih belum fokus.



Saat jam istirahat, aku mencoba memberikan sesuatu yang didapatkan tadi malam. Aku menyuruh Ari dan Yuri untuk tetap diam didalam kelas. Setelah semua siswa keluar, barulah aku membicarakan hal tersebut.



"Ada apa key? " Tanya Ari dengan tetapan rasa ingin tahunya.



"Oke, sekarang aku ingin tanya padamu Yuri. Kamu ada masalah apa sih, kadang kamu melamun dan kadang kamu bahagia walaupun itu pura-pura" Ari menatap tajam pada Yuri begitu juga denganku.



"Aku, aku tidak apa-apa" Yuri masih berbohong padaku dan ari. Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto pria yang keluar dari rumah yuri tersebut.



"Dia? Bagaimna kamu punya foto itu key"


"Itu tidak penting, yang paling penting adalah kamu jujur pada kita. Tidak ada hal kecil atau besar yang menjadi rahasia dalam persahabatan ini Yur" Yuri terdiam sejenak dan mengumpulkan sesuatu dalam otaknya.



"Dia......." Yuri menceritakan bahwa dia adalah calon ayah tirinya. Mama Yuri ingin menikah lagi dengan alasan untuk menjaga hari tuanya. Dan Yuri tidak setuju dengan keputusan mamanya tersebut. Menurutnya Yuri lebih senang dengan keadaan begini, dan tidak perlu ayah tiri.



Aku dan Ari menyimak penjelasan Yuri dengan baik tanpa menoleh kemanapun. Mata, telinga wajah dan semua terarah pada Yuri.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2