Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
97. Ayah Tertabrak


__ADS_3

Langkah Adel pergi meninggalkanku, untung saja dia menghilang secepat itu dari hadapanku ini. Jika tidak, mungkin amarahku akan kembali berbuat ulah.


"Dasar orang gila" ketusku melihat kelakuan Adel yang seperti itu. Sebenarnya aku tidak peduli dengannya. Tapi dirinyalah yang selalu menyulutkan api emosi padaku. Untung saja ada Ari dan Yuri yang selalu menahan agar emosiku tidak membakar.




3 hari berlalu, aku mendengar kabar bahwa besok adalah pertandingan persahabatan tim SMA kami dengan SMA lain. Tapi pertandingan untuk sepakbola putra dan aku akan menonton pertandingan tersebut bersama Yuri dan Ari.



Walaupun aku dan David saat ini masih diam-diam saja tidak ada interaksi apapun tapi aku tetap mendukung dari belakang. Karena aku tau bahwa David berbuat seperti itu karena Adel.



Selama 3 hari ini aku, Yuri dan Ari memberhentikan penelusuran tentang lelaki hidung belang tersebut. Perasaan kami tidak enak karena sempat dia mengetahui bahwa ada hal yang janggal dari mobilnya. Untungnya dia tidak tau jika mobil tersebut sudah dipasangi oleh GPS jadi kita masih aman. Untung sementara waktu kita bertiga memilih istirahat terlebih dahulu.



"Kalian ikut ya nonton pertandingan" ucapku pada mereka berdua


"Iya pasti, aku akan menemani kamu key" sahut Yuri dengan bersemangat.



"Aku juga" sambung Ari dalam sebuah percakapan di kantin saat ini.



Sebenarnya Yuri ingin berangkat dengan kak Dika, tapi dia terlalu sibuk untuk terus belajar. Kak Dika pernah bilang bahwa mamanya selalu memarahi kak Dika tidak boleh keluar malam dan harus terus belajar.



Dan hal itu juga salah satu alasan kak Dika tidak membawaku ke rumahnya. Karena mamanya tidak suka denganku yang menjadi anak ayah karena hubungan gelapnya dengan ibu.



Kak Dika selalu menyembunyikan jika ayah bertemu denganku walaupun aku tidak pernah mau. Selama ini aku dan ayah hanya bertemu 2 kali saja, selebihnya aku menolak.



Dalam sebuah pertemuan aku juga tidak pernah berbicara dengan ayah. Karena sampai sekarang hatiku sangat kesal bila mengingat masa lalu. Rasanya hatiku tidak bisa lepas dari masa lalu. Hatiku dibungkam kebencian pada ayah. Dan suatu saat pasti hatiku terbuka tapi entah sampai kapan tertutupnya.



"Kasihan kamu Yuri, punya pacar tapi sendiri terus" ejekku padanya yang membuat Ari tersenyum begitu juga dengan aku.



"Lagian kak Dika selalu menjadi anak mama. Malas sekali rasanya" ketusnya dengan kesal. Karena Yuri pernah bertemu dengan mamanya kak Dika jadi dia merasa mamanya kak Dika tidak menerimanya.



"Sudahlah ayo kita ke kelas" ajakku dan kami bertiga pergi dari kantin ke kelas. Saat melewati lorong kelas, aku melihat Rena yang naik dengan cepat melalui tangga. Tanpa banyak bicara aku mengikutinya karena takut Rena berbuat hal-hal buruk seperti kemarin.



"Kau tunggu" Aku sampai tidak mendnegarkan panggilan Ari dan Yuri. Langkahku terus mengikuti rena naik ke atas.



"Rena, Rena tunggu" dia terus saja berlari menyusuri anak tangga tanpa menghiraukan aku yang mengikuti dan memanggilnya dari belakang.


"Rena tunggu" sekilas dia berhenti dan menoleh lalu kembali berlari ke atas sekolah.



Ternyata benar dugaanku, dia berteriak kencang katanya ingin mati saja. Lalu mengambil ancang-ancang untuk siap terjun dari bawah. Aku mencoba membujuknya untuk turun tapi dia masih saja menutup telinga. Sedangkan di bawah sudah terlanjur ramai dengan teman-teman yang melihat aksi Rena.



"Rena kamu tenang ya Rena tolong tenang" aku mencoba bicara dari hati ke hati dengannya.



"Kalau kamu butuh tempat, aku siap menjadi tempatmu untuk bercerita. Kalau kamu butuh rumah aku siap menjadi rumah buatmu singgah" aku mencoba menenangkan dengan kata-kata berharap Rena mau mendengarkan perkataan ku.



"Apa kamu tau key, hidupku penuh tekanan. Hidupku hancur semuanya key. Aku benci kehidupanku. Itu karena siapa? Karena kamu Keyla" dia masih saja menyalahkan ku tentang Vidio yang tersebar.



Dia selalu menjadikan ku tempat untuk rasa bersalah. Aku tidak mengerti, bagaimana bisa dia selalu meluapkan kata-kata itu setiap bertemu denganku



"Oke Rena, aku memang salah. Jadi aku minta maaf padamu. Dan aku mohon untuk turun dari sana. Aku tidak ingin kamu mati konyol Ren".



Mengalah bukan berarti kalah, meminta maaf juga bukan karena aku salah. Mencoba menurunkan ego dan mengaku salah agar seorang teman tidak loncat adalah hal benar menurutku.



"Kali ini aku mengaku salah, dan sekarang kamu turun serta pukul aku sebisamu karena aku siap" teriakku dengan keras padanya.



Sedikit hati Rena sepertinya menjadi lunak. Dia menoleh dan menatapku. Perlahan dia mendengarkan apa yang aku katakan. Sedangkan di belakangku sudah ada Yuri dan Ari yang mengejar kami. Bahkan ada Bu Tri yang menghampiri kami.


__ADS_1


"Nak Rena, ayo turun nak" suara lembut Bu Tri mampu membuat pandangan Rena beralih pada kami yang ada di belakang.



"Ren, turun yuk. Aku tau masalahmu banyak tapi aku tau kamu kuat" aku mendekatinya dan mencoba menarik tangan Rena dengan keras.



\*Brak\* akhirnya aku berhasil menangkapnya hingga kami lagi-lagi tersungkur berdua.



"Keyy,, hidupku gila key hidupku gila hiksss, hikssss" dia menangis dalam pelukanku. Aku memeluknya dengan erat untuk memberikan kehangatan. Aku tau semua orang memiliki masalah tapi tidak semua orang kuat dengan masalah yang dihadapinya.



"Menangislah dan jangan ragu untuk mengungkapkan keluh kesah mu Rena" Rena terus menangis dalam pelukanku.



Sepertinya luka itu terlalu dalam dan terlalu lama dia simpan. Sampai bibirnya tidak bisa berkata-kata lagi karena hanya tangisan yang menguasai dirinya.



"Heyyy, pergi key pergi" Adel tiba-tiba datang dan membentak ku untuk tidak memeluk Rena.



Terpaksa aku lepaskan pelukannya walaupun Rena masih ingin meluapkan rasa pedihnya padaku. Tangannya sedikit menyentuh tanganku seperti berkata untuk tidka melepaskan genggaman Rena.



"Jangan peluk Rena, kamu tidak level dengan kami" di waktu genting seperti ini bibir Adel masih saja mengucapkan hal seperti itu.



Yuri dan Ari langsung menarik dan membantuku untuk berdiri. Aku berdiri bersama mereka dan juga Bu tri ikut menenangkan Rena. Kami bertiga ingin pergi meninggalkan Rena karena ku pikir dia sudah baik-baik saja bersama Adel dan Dewi sahabatnya.



"Keyyy" teriaknya memanggilku saat aku ingin balik turun dari atas sini.



"Iya Rena"


"Terima kasih" ucapnya tulus sambil melambaikan tangannya dengan lembut saat dia dalam pelukan Adel. Aku tersenyum menatapnya dan berharap Rena baik-baik saja. Sedangkan Adel terkejut mendengar ucapan terima kasih dari bibir Rena.



Dia langsung memeluk Rena dengan erat lagi agar tidak melihatku yang akan pergi. Lalu aku pergi meninggalkan mereka dan turun bersama Ari serta Yuri. Saat anak-anak dibawah bertanya pada kami bertiga, aku menjelaskan bahwa Rena sedang bermain bukan bunuh diri. Aku ingin menghapus hal buruk tentang Rena dipikiran para siswa dan guru-guru, walaupun itu tidak mudah setidaknya sedikit demi sedikit bisa.



"Heh kalian darimana aja?" Kak Dika tiba-tiba datang dan menghampiri.


"Rena?"


"Baik, dah yuk pergi" Percakapan singkat lalu kami pergi ke kelas sambil bercakap-cakap di sepanjang lorong kelas.



Kak Dika juga berkata takut saat mendengar berita ada anak kelas 11 yang ingin bunuh diri. Dia pikir kalau aku yang akan melakukan bunuh diri lagi padahal itu adalah Rena.



Pantas saja wajahnya panik saat menemui ku. Ternyata begini ya rasanya di sayangi oleh saudara kandung, kenapa gak dari dulu saja aku tau jika kak Dika adalah saudara kandungku walaupun beda ibu. Sudahlah, mungkin ini adalah jalan takdirku.



"Tenang bukan aku kok kak, lagipula kemarin aku hanya becanda" Ucapku pada kak Dika sambil berjalan ke dalam kelas.



\*plak\* sekali lagi kamu melakukan itu, aku akan memukulnya lagi.



"Ihhh kak Dika, sakit tau" gumamku dengan murung.



Aku lega akhirnya Rena tidak melakukan bunuh diri lagi dan hati kecilku berharap bahwa Rena baik-baik saja setelah kejadian ini. Dan semoga saja hidupnya menjadi baik serta dia bisa menemukan tempat untuk berlindung dan dijadikan rumah olehnya.



Di Kelas



Pelajaran yang membosankan. Tidak asik karena semua tulisan baik di buku dan di papan tulis semuanya adalah angka. Kenapa tidak belajar olahraga saja. Bermain bola, futsal dan mainan apapun yang penting bukan matematika.



\*Tettttt\*



"Yeeeyyy" teriakku paling keras di dalam kelas hingga semuanya menatapku begitu juga dengan ibu guru yang sedang mengajar kami.



"Ssstt, duduk" Ari memberikan kode agar aku duduk karena ibu guru belum memperbolehkan untuk pulang.

__ADS_1



"Maaf Bu, saya terlalu semangat" ucapku malu sambil tersenyum kecil.


"Hahahaha" semua kelas tertawa melihat ku.



Untung saja guru itu tidak marah, dan segera menyelesaikan penjelasannya lalu mengizinkan semua siswa untuk pulang. Saat bersalaman untuk pulang beliau menegurku katanya suaranya yang keras menggelegar membuat hatinya bergerak untuk memulangkan para siswa. Ternyata aku ikut andil dalam waktu pulang haru ini, hehehe.



"Hati-hati di jalan ya" seperti biasa aku, Yuri dan Ari berpisah di depan gerbang. Mereka pulang dengan mobil keluarganya dan aku pulang menunggu mobil pak supir yang sedang bekerja. Baru saja keluar dari gerbang seseorang memanggilku.



"Keyla, tunggu"


"Ayah" ayah menghampiriku padahal aku tidak ingin menemuinya. Aku selalu menghindar saat ayah ingin berbicara padaku.



"Tunggu, ayah ingin bicara padamu" dengan cepat ayah menarik tanganku. Hatinya sudah tau jika aku akan pergi dan menguraikannya. Makanya ayah dengan sigap menghampiriku.



"Apalagi yah, lebih baik ayah jangan mikirin key. Dan jangan ajak key tinggal sama ayah. Karena Key sudah nyaman sama keluarga Key saat ini" Jelasku pada ayah.



Karena setiap bertemu, ayah akan berkata padaku agar mau tinggal bersamanya di rumah kak Dika. Tapi aku selalu menolak karena hidupku dengan keluarga kecil Bu Yanti sudah sangat nyaman. Dan sangat lebih dari kata nyaman.



"Tidak nak, ayah hanya ingin bertemu dengan Key dan kalau Key mau tinggal sama ayah itu adalah hal yang sangat indah. Tapi kalau Key tidak mau ya tidak apa-apa asalkan ayah bisa bertemu dengan Key" ucap ayah menjelaskan dengan tulus. Aku mencoba mendengarkan walau aku tidak mau.



"Ayah ingin memeluk key, apakah boleh?" Ayah merentangkan tangannya dan siap untuk memeluk.



Bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungku dan tidak pantas bila aku terus memusuhinya. Aku mencoba tenang dan berjalan dalam pelukan ayah. Beberapa kali ayah memelukku, baru kali ini aku merasakan kehangatan. Mungkin aku menerima pelukan ayah dengan hati yang ikhlas.



"Jadilah orang yang sukses suatu saat ya nak, dan maafkan masa lalu ayah yang kejam padamu dan ibu" selalu saja kata maaf tidak berhenti di ucapkan oleh ayah.



Mungkin karena aku terus menolaknya berulang kali untuk dekat dengan ayah. Tanganku ingin membalas pelukannya, tapi aku ragu.



"Ayah janji akan menjagamu walaupun ayah tidak tinggal denganmu" ucapnya kembali sambil mengelus lembut rambutku.



Belaian seorang ayah yang aku rasakan, sudah dari dulu aku menginginkan ini terus terjadi. Tapi hanya baru kali ini engkau memperlakukanku bagaikan ratumu ayah.



"Kamu sekarang pulang ya, jangan kelayapan. Dan ini ada uang saku untukmu nak" ayah melepaskan pelukannya dan memberikan suatu pesan padaku dengan memegang kedua pipiku. Indahnya kasih sayang seorang ayah, akhirnya aku merasakan hal sama seperti teman-temanku yang lain walaupun sebentar.



Ayah juga selalu memberikan uang saku padaku, kadang ia juga titipkan pada kak Dika atau memberikannya sendiri. Tapi lebih sering dititipkan pada kak Dika karena dia tau aku akan menolaknya jika ayah yang memberikannya sendiri.



Jika kak Dika yang memberikan uang saku itu, Maka aku tidak bisa menolaknya. Jika menolak maka kak Dika akan memarahiku. Amarahnya sangat membuatku takut.



"Baiklah, kamu pulang ya. Dan hati-hati di jalan" aku tersenyum walaupun terpaksa tapi tetap menghargai ayah kali ini.



Aku mencium tangannya dan berpamit pulang tanpa banyak bicara. Dan sekali lagi ayah mengelus rambutku dengan lembut. Aku berbalik arah membelakangi Ayah. Berjalan santai seperti biasa.



"Keyla awasss" teriak ayah dengan keras dari arah belakang.



\*Brukk\* belum sempat aku menoleh pada ayah. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi ingin menabrak ku. Tapi ayah mendorongku ke arah samping hingga dia yang tertabrak oleh mobil itu dan terpental di samping trotoar.



"Ayahhhh, ayahhh" teriakku histeris bangkit dari jatuh dan berlari menuju ayah yang sudah terkapar penuh darah.



"Ayahhh, bangun yahhhh. Tolongggh, tolongggh" beberapa orang sudah datang mengerumuni dan ada juga yang berlari mengejar mobil itu.



"Ayah bangun, jangan tinggalin Keyla yah hiksss" teriakku dengan keras yang disertai tangisan. Tanganku terus mengoyak tubuh ayah agar terbangun dan membuka matanya.



Jeritan tangisku terus terdengar saat ayah tidak membuka matanya sama sekali. Apalagi tubuhnya telah dipenuhi oleh beberapa darah yang keluar dari kepala ayah. Teriakan minta tolong terus aku suarakan agar mereka mau membantuku.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2