
Dalam suasana rumah yang sebagai ramai karena kegaduhan yang dibuat olehku dan kedua mbakku yang selalu usil.
"Oh iya key tunggu bentar" Mbak Nike masuk kedalam kamar sepertinya dia ingin mengambil sesuatu.
"Ini ada lampu senter buat nerangi hati kamu"
"Hahahha" Mbak Yeni langusng tertawa mendengar perkataan mbak Nike yang datang dengan membawa senter. Jahil sekali mereka berdua awas saja aku balas nanti.
"Bener juga untuk nerangin hatiku, soalnya hati ini udah gelap gara-gara mbak Nike dan mbak Yeni hahahhaha" Aku tertawa sendiri sambil mengembalikan ejekan mereka berdua.
*bluk* bantal mendarat tepat di wajahku. Semua tertawa terbahak-bahak, begitu juga dengan ibu dan bapak.
"Ini senter juga berguna kalau key lagi ada di tengah hutan" Ucapku sambil memegang senter dan bergegas ingin pulang.
"Eh tunggu nak, ini obat-obatan takut kamu sakit disana" Ibu memberikan sekotak obat-obatan lengkap.
"Ini nih, pemberian ibu sangat berguna" Ucapku sambil menatap mbak Nike dan mbak Yeni dengan sinis"
"Eh punya aku berguna juga biar darah kamu gak habis dimakan nyamuk" Mbak Yeni tidak mau kalah dengan pernyataanku
"Punyaku juga, biar bisa nenangin kalau kamu tersesat di hutan" Sahut mbak Nike
"Husss, kamu mau adikmu tersesat? " Bentak ibu pada mereka berdua. Sedangkan aku tersenyum kecil menatapnya.
"Ya tidak sih buk" Jawab mereka sambil memelukku hingga terjatuh kembali ke kursi karena tekanan yang sengaja mereka buat.
Rasanya seperti anak paling bungsu yang dimana kakak-kakaknya. Selalu saja dibuat kesal, marah tapi pada akhirnya mereka menampakkan kasih sayang yang sangat nyata. Perbedaan pendapat dalam setiap Saudara pasti ada. Tapi pendapat itu yang akan membuat rindu karena debat akan berkurang bila salah stau menghilang.
Minggu pagi
Seperti biasa aku bangun di pagi hari menyiapkan segalanya. Barang-barang sudah penuh dengan di dalam tas. Ada baju dan berbagai macam barang yang aku butuhkan. Tidak lupa juga aku membawa mukenah yang bisa dibawa kemana-mana tanpa berat dan juga sajadah kecil yang bisa dilipat sangat kecil. Mudah dan praktis yang penting tidak meninggalkan kewajiban beribadah.
"Sepertinya ini sudah beres" gumamku sambil tersenyum menatap berbagai macam barang-barang yang sudah rapi.
Ari bilang akan melakukan penjelajahan di tengah hutan, sebagai pemicu adrenalin. Katanya papa ari sudah menyiapkan semuanya agar kami terasa nyaman. Yang penting harus berjalan bersamaan melewati rintangan yang dibuat. Dan bisa kembali bersama dengan selamat.
Aku harus segera ke rumah ibu takutnya kak Dika sudah jemput. Membawa barang-barang yang cukup berat dengn tas kecil yang aku gendong berisi pisau, tali, dan senter. Semua sudah selesai, waktunya bersantai di teras untuk menunggu kak Dika.
"Nanti di sana hati-hati ya, jangan macam-macam dan jaga diri baik-baik" Pesan ibu di pagi hari saat aku ingin berangkat.
"Siap bu laksanakan"
\*tinn, tinn\* mobil kak dDikasudah datang. Aku bergegas berpamitan pada ibu, bapak dan mbak.
"Assalamu'alaikum bu"
"Waalaikumsalam nak, mau jemput key ya? "
"Iya bu, apakah key sudah siap bu? "
"Dia lagi pamit sama mbaknya di dalam, kamu masuk dan tunggu dulu ya"
"Baik bu" Kak Dika masuk dan duduk di ruang tamu.
Sedangkan aku masih berpamitan pada mbak Nike dan mbak Yeni yang pemalas tidak bangun pagi-pagi. Padahal sudah jam 06.10 tapi masih molor. Memtang-mentang yang satu kerja masuk pukul 8 dan yang satu lagi kuliah nanti siang. Pasti mereka habis sholat subuh lalu tidur lagi. Kebiasaan!.
"Mbak, mbak, mbak bangun key mau berangkat" Aku memukul-mukul kecil kakinya agar mereka bangun.
"Hmmm, key iya" Meskipun mereka belum sadar sepenuhnya, aku tetap bersalaman untuk berpamitan pergi. Lalu aku memberikan sedikit kejutan pada mereka agar bangun. Alarm sebentar lagi berbunyi, salah satu tangan mereka aku beri bedak bayi. Agar mereka terkejut dan wajahnya menjadi putih bersih hahahah.
"Bu, mbak gak mau bangun. Key berangkat saja sama kak Dika ya buk"
"Iya kamu hati-hati dan jaga diri baik-baik disana ya nak" Nasehat yang sangat banyak dan diupang-ulang. Akan tetapi aku tidak pernah bosan karena aku sudah menganggap ibu sebagai orang tuaku sendiri.
"Pak key berangkat ya" Aku juga berpamitan pada bapak, meskipun bapak jarang bicara tapi perhatian dan kasih sayangnya juga sama dengan ibu.
"Iya hati-hati, ingat pesan ibu ya nak"
"Siap bosku" Aku membawa semua barang untuk dimasukkan dalam mobil. Sebelum masuk mobil aku melambaikan tangan pada bapak dan ibu.
__ADS_1
\*kringgghhh\*
"Keyyyyyy" Teriak mereka berdua secara bersamaan dari dalam kamar. Sepertinya aksiku sudah dilancarkan untuk mbak Yeni dan mbak Nike. Aku tertawa terbahak-bahak lalu segera masuk ke dalam mobil takutnya mbak Yeni dan mbak Nike mengejar.
"Kak ayo masuk, cepat kita harus berangkat""
"Kenapa key" Tanya kak Dika heran karena aku terburu-buru.
"Ayo masuk, sebelum terlambat" Dan benar saja setelah kak Dika masuk, mbak Yeni dan mbak Nike keluar dengan walah putih karena bedak bayi. Ampuh sekali rencanaku untuk membuat mereka terbangun dari tidur paginya yang indah, hahahah.
"Dadahhhh" ejek ku sambil tertawa bahagia melihat mereka berdua dengan wajah donat yang diberi gula.
"Kok kakak kamu seperti itu key"
"Sudahlah, itu sudah biasa. Suruh sendiri bangunnya molor ya sudah aku kerjain"
"Hahhaha, kocak sekali kalian ya. Andai aku punya adik pasti bakalan seru seperti ini juga" Ucap kak Dika sambil tertawa.
"Memangnya kak Dika tidak punya adik? "
"Tidak, aku anak tunggal" Aku mengangguk dan mengerti ucapan yang kak dika sampaikan.
Pantas saja dia selalu sendirian kemanapun. Ternyata dia anak tunggal. Andai saja dia tau, aku juga anak tunggal tapi untung ada mbak Nike dan mbak Yeni jadi tidak kesepian deh.
Perjalanan menuju ke rumah Yuri untuk menjemputnya. Selanjutnya berkumpul di rumah Ari dan kami pergi menjemput Rena. Aku sengaja duduk di bangku belakang dengan Rena, agar kak Dika semakin dekat dengan Yuri.
Menikmati perjalanan yang seharusnya sejuk di pagi hari tapi ternodai dengan polusi udara yang sangat padat dari kendaran. Jalanan berdebu tidak baik untuk kesehatan. Lebih baik menutup jendela agar polusi tidak masuk ke dalam.
"Udara yang merusak pernafasan ku" gumamku sambil menutup hidung.
"tutup saja pakai bantal key" ejek kak Dika yang membuat seisi mobil tertawa bahagia.
Tidak lama kemudian kami tiba di vila milik Ari. Vila yang besar dan suasananya yang sangat sejuk. Kami beristirahat sejenak disana sebelum berangkat ke tempat perkemahan yang sudah disiapkan. Beristirahat sejenak dan makan makanan yang sudah disiapkan di meja.
"Gimana masakannya" Tanya tante Maya
"Enak banget tante, apalagi dengan suasana yang indah gini" Ucapku pada mereka.
"Jelaslah enak, yang masak kan tante Maya gituloh" Sambung yur,i yang juga memujinya
"Sudah ayo makan, nambah lagi biar kenyang. Atau kalau perlu kita bungkus ke tempat perkemahan" Sahut tante Maya
"Ide bagus tante, banyak makanan semakin enak" Biasalah aku yang suka makan apabila mataku di suguhkan oleh pemandangan makanan enak yang banyak. Daripada dibuang sisanya mendingan di bungkus untuk ke perkemahan.
"Oh iya om, perkemahan nya masih jauh dari vila ini" Tanya kak Dika pada papanya Ari.
"Agak sedikit jauh di dalam hutan sana. Om sudah menemukan tempat yang paling enak. Ada air terjun, dan tempatnya cocok untuk kita menjelajah di sana" Om Roky menjelaskan semuanya. Sepertinya perkemahan saat ini sangat asik karena menjelajahi hutan.
"Ren kamu kok diam saja sih dari tadi" Bibirku tidak bisa bila tidak menegur seseorang yang terdiam tanpa suara.
"Hmm tidak, aku lagi menikmati makanan ini" Jawabnya sambil menunduk kembali sembari menikmati makanan yang tersedia
"Oh, yasudah lanjutkan makan"
Makan-makan dan bersantai sudah selesai, kami bersiap untuk melanjutkan ke tempat perkemahan. Kata om Roky kita harus menggunakan sepeda untuk melanjutkan ke tempat itu. Di villa ini juga sudah tersedia sepeda berjumlah 5 buah. 2 untuk orang tua ari dan 3 untuk kita pakai.
"Ini sepedanya, kalian ada yang berboncengan karena seoeda yang tersedia terbatas" Ucap om Roki saat menuju gudang dan memperlihatkan sepeda gunung yang sangat bagus. Sepertinya harganya tudak murah.
"Oke siap om" Sahutku dan yang lainnya.
__ADS_1
"Berarti ini berboncengan ya? " Tanya Ari
"Iya, kamu sama Rena saja ri. Dan kak Dika sama Yuri biar aku sendiri saja" Aku sengaja membagi seperti itu agar kak Dika semakin dekat dengan Yuri dan Ari juga akan dekat dengan Rena.
"Tapi kan" Bantah kak Dika
"Sudahlah, biar Rena dan yur,i kalian jaga"
"Lalu kamu" Tanya ari,
"Aku sudah bisa mandiri, lagian aku sendiri kan tidak ada beban" Sahutku
Papa dan mama Ari sudah berangkat terlebih dahulu. Mereka mengatakan bahwa kita harus bisa menemukan tempatnya dengan mandiri, sekalian menguji konsentrasi. Mereka hanya memberikan arahan bahwa kita harus berjalan terus mengikuti jalan. Aku mengerti dengan ucapan mereka, sepertinya sebuah teka-taki menuju ke tempat perkemahan.
Menggendong tas masing-masing yang berisi baju dengan perlengkapan yang sudah tersedia. Aku membawa baju 3 setel saja, dan di dalamnya berisi bola. Lagian kita hanya berkemah kurang lebih 2 hari saja.
"Ayo jalan" Melihat semuanya sudah lengkap, Ari dengan Rena dan kak Dika dengan yur,i. Mereka berboncengan tapi berdiri di belakang. Aku senang melihatnya, bahkan melihat Yuri dan Ari tersenyum semangat menikmati setiap perjalanan.
Ari yang memimpin di depan karena dia sangat pandai memahami teka-teki yang diberikan. Ari melihat setiap roda sepeda yang membekas di atas jalan. Bahkan dia mengingat sedetail mungkin arah pohon yang menjadi tanda untuk mempermudah menuju perkemahan.
"Hati-hati, sebentar lagi ada turunan dan jangan ngebut" Teriak Ari dari depan. Sedangkan aku berada di bagian belakang mereka semua. Aku mengayunkan dengan santai dan mendengarkan teriakan Ari. Tanganku sudah ancang-ancang untuk menarik rem.
"Hahhh?? Blongg" Gumamku panik karena rem sepedaku blong. Aku melihat mereka sudah turun dengan baik dibawah sana. Aku bingung karena tidak tau apa yang harus dilakukan, sedangkan ini sudah melewati turunan.
"Minggir, rem ku blong. Minggir cepat minggir" Teriakku panik. Kak Dika dan Ari langsung mengayuh sepeda dan menepi. Aku tidak tau apa yang dilakukan. Sepertinya tamat kali ini.
"Key hati-hati"
"Key awas hati-hati"
"Key rem pakai kaki"
"Keyyyy" Aku tidak mendengarkan semua intruksi mereka karena otakku sudah panik.
\*brukkkk\* aku mendaratkan sepeda di semak-semak. Tubuhku terlempar jauh dan tanganku tergores oleh ranting-ranting liar yang ada disana. Tergelatak jauh dari sepeda yang jatuh di semak-semak.
"Key kamu gapapa? " Mereka semua panik dan turun dari sepeda
"Gapapa kok kak" Sahutku saat kak Dika bertanya. Dia dan Yuri langsung membantuku untuk berdiri.
"Kenapa bisa blong key, apakah tadi tidak diperiksa? " Tanya Yuri sambil membantuku berdiri.
"Sudah, aku sudah cek tapi kenapa tiba-tiba blong" Aku heran karena semua sepeda mereka sudah aku cek tapi kenapa ada yang bolong. Ini sungguh aneh, padahal tadi aku tinggal sebentar ke kamar mandi tapi mengapa bisa blong.
"Key, rem sepedamu ada yang terputus" Ari memeriksa sepeda yang aku gunakan. Dan benar saja remnya ada yang terputus. Aku hanya terdiam saat melihat bahwa sepeda itu sengaja di putus bukan terputus sendri.
"Mungkin rem sepeda ini sudah rapuh karena lama tidak dipakai" Logika kak Dika masuk akal, tapi yang aku lihat putusan dari sepeda itu sangat rapi.
"Sudah, sudah, yang penting aku baik-baik saja" Aku mencoba berdiri tegak dan ingin melanjutkan perjalanan kembali.
\*tlak\*
"Aduh" Kak Dika menjitak kepalaku, lalu dia mengangkat tanganku ternyata darah segar sudah tercecer
"Ini kamu bilang baik-baik saja" Aku terdiam saat darah terus mengalir dari lenganku. Sepertinya ranting sudah melukainya dengan kejam.
\*wreeeeekkkk\*
"Biar tidak infeksi, nanti kita obati disana" Kak dikya menyobek bajunya dan membalutkan kain itu untuk menutupi lukaku. Aku hanya menurut saja, karena sakit yang awalnya tidak terasa akan tetapi terasa saat ditemukan jika tangan itu terluka.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~