
Hari ini kami melakukan hal biasa, senam pagi, makan pagi, latihan istirahat lalu latihan Kembali di sore hari. Latihan yang asik karena dalam latihan diselingi dengan tawa. Kata coach Jaka ini membuat mental kami santai agar tidak tegang.
Saat pulang, aku sengaja pulang belakangan. Melihat pemandangan sebentar lalu berlari ke bus untuk pulang. Tapi tiba-tiba ada orang yang mendekat dan mengikuti ku. Aku mempercepat langkah, sedangkan teman-teman sudah berada jauh di depan.
"Emm, lepasin tolo....." Aku tidak tau siapa mereka. Yang datang tiba-tiba dan langsung membekap mulutku.
Untuk mengucap tolong aku tidak bisa. Dia adalah orang yang sengaja menculik ku dan memasukkan ke dalam mobil berwarna hitam. Aku terus melakukan perlawanan, tapi mereka terlalu besar untuk di lawan.
*Plak* pukulan keras pada kepala membuat semuanya menjadi hitam.
POV ANI
"Semuanya sudah lengkap?" Tanya coach Jaka saat kami sudah memasuki bus untuk pulang setelah latihan sore ini.
"Siap sudah coach" aku bingung dengan perkataan mereka, padahal Key masih belum duduk di sampingku. Mungkin dia duduk di bangku belakang.
Bus kami sudah berangkat pergi ke tempat penginapan. Bernyanyi seperti biasa di dalam bus. Saat semuanya turun, aku kembali berjalan ke dalam kamar. Tapi hanya Ira yang aku lihat sedangkan Keyla belum ada di dalam kamar.
"Ira, apakah kamu melihat Keyla?" Tanyaku padanya.
"Tidak, bukankah dia duduk denganmu di dalam bus?" Tanya ira kembali.
"Tidak, aku pikir dia duduk bersama yang lain di bangku belakang" aku panik mendengar pernyataan dari Ira. Ternyata Key tidak ada di bangku belakang.
Aku segera berlari untuk melaporkan hal tersebut pada coach, karena Keyla hilang. Aku takut dia tertinggal di tempat latihan tadi. Jadi aku bergegas untuk mencari coach Jaka.
"Kamu mau kemana Ani?" Rani datang dari belakang dan menegurku.
"Aku mau bilang kalau key tidak ada di kamar, aku takut dia ketinggalan" ucapku dengan panik sambil menjelaskan padanya.
"Tadi aku lihat Key kok, dia duduk di bangku belakang" Jelasnya.
"Benarkah?" Sedikit jantungku lega saat mendengar pernyataan darinya.
"Iya, sepertinya dia keluar sebentar" ucapnya dengan santai.
"Syukurlah kalau begitu" aku segera kembali ke dalam kamar untuk memberitahu Ira.
Saat kembali ke kamar, Ira mengatakan bahwa Keyla sama sekali tidak ada di belakang bus. Bahkan dia sudah memperhatikan jika di belakang bus sudah penuh. Dan dia berkata tidak ada Keyla, saat turun juga tidak menemukan Key.
"Lalu bagaimana ini? " Tanya ira padaku yang saat ini benar-benar panik.
"Ikut aku, ke coach Jaka"
Kami berdua panik, aku segera menelpon ke nomor Key tapi tidak ada jawaban. Nomor yang dihubungi sedang tidak aktif dan di luar jangkauan. Pikirku tidak tenang saat tidak melihat Key secara langsung. Aku dan ira segera bergegas untuk bertemu dengan coach Jaka.
Kami berdua berlari melewati lorong kamar dan segera menuju kamar coach Jaka untuk memberi tahu informasi tersebut.
*Tok,tok,tok* Ketukan keras dan gemetar.
"Coach, coach Jaka" teriakku memanggil pelatih yang ada di dalam kamar.
"Ani, Ira, kalian kenapa panik?" Tanya coach Jaka saat melihat aku dan Ira berlari dengan wajah panik.
"Tarik nafas dulu baru ngomong, tenang dan tenang" ucap coach Jaka pada kami berdua.
"Keyla hilang coach" perkataan ku membuat coach Jaka terkejut.
"Bagaimana bisa " coach Jaka tidak percaya. Karena saat pengecekan tadi pata pemain bilang bahwa semuanya sudah masuk di bus.
Aku dan Ira mencoba menjelaskan dari awal hingga akhir. Hal ini terjadi karena kesalahpahaman antara aku dan para pemain di belakang. Aku juga mengakui bahwa Key tidak ada di sini karena kesalahanku yang ceroboh dan tidak mengecek kembali keberadaan Key.
Coach Jaka serta para pelatih lainnya membagi tugas. Beberapa pelatih ada yang pergi keluar untuk mencari Key dan beberapa lainnya mengumpulkan kami semua untuk melakukan pengecekan ulang.
"Cepat kumpulkan pemain"
"Baik coach"
Semua pemain di Instruksikan untuk tetap berada di lingkungan penginapan dan tidak boleh ada yang keluar agar tidak terjadi hal yang sama. Semua masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Semua juga merasakan kecemasan, begitu juga aku.
"Aduh, kamu dari tadi mondar-mandir saja seperti setrika" ketus Ira yang menegurku.
Pikirku tidak nyaman saat belum melihat Key, aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena tidak biasanya anak itu menghilang seperti ini.
"Aku takut Key kenapa-kenapa" ucapku dengan wajah yang sangat cemas.
"Lebih baik kita sholat dan berdoa pada Sang pencipta, siapa tau Keyla masih ada di sana atau berbelanja" ucapan Ira menumbuhkan sedikit harapan pada dirimu.
__ADS_1
Aku dan Ira segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat isya'. Sekaligus membuat hati yang gelisah dan khawatir menjadi ketenangan.
"Ya Allah, bantulah hambamu ini untuk mencari Keyla, dan lindungilah Key dimanapun dia berada" baru kali ini aku berdoa dengan hati yang sangat dalam.
Aku takut rekanku di klub ini kenapa-kenapa. Mungkin karena aku sangat dekat dengannya. Apalagi Key salah satu orang yang membuatku nyaman.
Ira di sampingku juga berdoa dan sambil menangis. Dia yang baru saja mengenal Key sudah merasakan kehilangan, padahal kita belum ada kabar apakah Key hilang ataukah hanya tertinggal di lapangan tadi.
Aku juga tidak bisa membendung air mata yang sangat deras ini. hatiku sakit karena rasa takut kehilangan seorang teman. Hanya Key yang mampu mengerti tentang apa yang aku lalui di klub ini.
"Key kemana alami, kembalilah" air mata ini masih membasahi pipi saat mengingat keadaan Key yang belum ditemukan.
Selesai sholat, aku dan Ira tidak bisa tidur sebelum mendengar kabar dari coach Jaka. Kami terus saja keluar masuk dari kamar untuk melihat apakah coach Jaka dan pelatih lainnya sudah pulang ataukah masih belum.
*pritttt*
"Kumpul semua di taman" Intruksi untuk kami semua.
Tidak lama kemudian coach Jaka mengumpulkan kami semua di tengah taman penginapan. Ia membawa kabar yang sangat buruk untuk kami. Coach Jaka mencari di setiap sudut tempat kami berlatih. Keyla tidak ada dan dia benar-benar menghilang.
"Tidak, Keyla tidak menghilang. Hikss.... hiks... " Tangisku kembali pecah.
Kabar yang membuat hatiku hancur dan menangis, bahkan semua pemain ikut menangis. Di satu sisi merasakan kesedihan karena kehilangan sosok Keyla. Dan di satu sisi kami kehilangan sosok tembok belakang di tim yang benar-benar tangguh.
Keyla sangat berpengaruh dalam tim, jika dia hilang maka tim akan hancur. Tidak akan ada yang bisa menghiburku saat sedih, tidak ada yang bisa menenangkan kami di lapangan saat emosi, bahkan tidak ada yang membuat kami tertawa saat pikiran sangat penuh dengan masalah.
"Coach, mengapa tidak menelpon polisi" ucap salah satu rekan kami.
"Mereka menerima laporan jika Key sudah hilang selama 1x24 jam" jawaban yang sangat menyakitkan. Bagaimana kabar Key di luar sana, aku takut dia terluka.
Aku bingung dengan keadaan seperti ini, bahkan diriku ini tidak bisa melakukan apapun. Untuk keluar saja tidak boleh karena kami diharuskan untuk istirahat karena akan melaksanakan pertandingan besok.
"Kalian semua harus tidur dan tolong istirahatlah dengan cukup untuk persiapan besok"
"Baik coach"
Pelatih memberikan perintah untuk semua pemain agar segera tidur dan tidak memikirkan hal ini. Katanya semua ini akan ditanggung oleh pelatih. Mereka yang akan bertanggung jawab untuk mencari keberadaan Key.
Ucapan itu masih belum menenangkan hatiku. Aku dan Ira terus saja menatap dinding-dinding yang putih, mengingat biasanya kami becanda terlebih dahulu sebelum tidur. Melihat kamar mandi yang terkadang berebut untuk masuk, kadang juga Key selalu mengalah.
"Key, aku harap kamu baik-baik saja. Aku yakin kamu pasti kembali" banyak harapan dalam hatiku, aku yakin Key pasti kembali dan akan bermain besok. Aku yakin itu karena Key adalah anak yang kuat.
POV ANI SELESAI
"Aduh, ini dimana ya" gumamku dalam hati sambil membuka mata.
Ternyata tangan dan kakiku sudah terikat. Bahkan mulutku sudah tertutup oleh sebuah kain. Aku tidak tau ini di tempat mana, yang jelas ini adalah sebuah gudang besar.
Mataku melihat sekeliling, banyak kayu yang di tata rapi. Tapi tidak mengerti tempat apa ini, jika memang tempat pengolahan kayu lalu mengapa aku berada di disini.
Aku mengingatnya bahwa tadi sore setelah latihan ada orang yang berusaha menculik ku. Dan sekarang hanya aku sendiri tidak ada siapapun disini.
"Bosss, dia sudah bangun" teriakan yang membuat pandanganku menatap ke arahnya.
Dia orang dengan badan yang berbeda, satunya memiliki badan kekar tapi satunya lagi kurus seperti kurang gizi.
"Wah, wah wah akhirnya bangun juga. Enak sekali tidur kamu ya" mereka berdua mendekat padaku. Mana lagi nafasnya bau. Mereka mendekat sambil membuka kain penutup mulutku.
"Kalian ini siapa?" Tanyaku.
"Aku coki, dan ini bosku blackcoy" jawabnya dengan ramah seperti bukan seorang penjahat.
*Plak* tamparan keras di kepala dari temannya pada si kurus.
"Mengapa kamu kasih tau nama kita"
"Kan biar dia kenal dengan kita bos" mereka asik berdebat sendiri dengan pendapatnya masing-masing.
Sepertinya si kurus adalah anak buahnya dan si kekar adalah bosnya. Jika di lihat-lihat si kurus sepertinya lebih bodoh dariku. Menumbuhkan rasa harapan untung berunding dengannya.
"Aduh, kalian kenapa berisik sih. Benar juga tau kata si kurus, kalau kita saling kenalan" ucapku mencoba mengikuti perkataan mereka berdua.
"Tuh kan bos benar kata dia, eh bentar. Mengapa kamu memanggilku kurus" dia mendekat tepat di wajahku. Lagi-lagi nafasnya berbau lambung.
"Ya iyalah, jika aku memanggilmu si gemuk maka kamu mengambil kekuasaan bosmu yang gemuk ini"
*Plak* tamparan kembali mendarat di kepala si kurus.
__ADS_1
"Iya benar juga kata dia, kamu jangan mengambil namaku yang kekar ini" sahutnya mengikuti. Aku yang melihat hal tersebut berusaha menahan tawa.
Percakapan yang sangat ramah membuat aku memiliki ide yang sangat cemerlang. Karena perutku lapar jadi aku merayu mereka dengan kata-kata indah hingga mereka berdua membelikan aku makan dan membuka ikatanku.
"Kalian itu orang baik, bagaimana bisa membuat gadis kecil yang ligu ini kelaparan?" Gumamku dengan halus.
"Cepat belikan makan" Tanpa basa-basi bos besar menyuruh si. kurus memerlukan makanan untukku.
"Baiklah"
Setelah makan mereka mengikatku lagi, aneh sih tapi tidak apalah yang penting aku tidak kelaparan. Ternyata mereka berdua baik juga padaku dan kami terus saja berbincang-bincang dengan tanganku yang terikat.
"Bang, kalian suka bola gak?"
"Suka dong" jawab mereka berdua secara bersamaan.
"Suka klub apa?"
"Kalau di Indonesia suka klub Persib Bandung" jawab penjahat yang berbadan kekar.
"Kalau aku suka Persebaya" sambung bang cungkring.
Aku terus memancing pertanyaan tentang bola agar mereka bisa membuat otakku tenang dan santai. Apalagi saat ini aku sudah dapat bersantai, untung saja mereka berdua bisa aku ajak untuk berbicara tentang bola.
Setelah berbicara bola di Indonesia, aku dan mereka membicarakan bola di luar negeri. Bercerita tentang kehebatan skill yang dimiliki pemain bintang utama di dunia. Yaitu Ronaldo dan Messi.
Ternyata nyambung juga berbicara dengan mereka Sampai bibirku capek. Tidak terasa waktu telah larut. Mereka berdua tertidur lebih dahulu daripada aku. Kemudian aku menyusulnya untuk terlelap walau dengan cara duduk di kursi dengan keadaan terikat.
Sinar mentari pagi membangunkan aku dengan paksa. Sedangkan mereka masih asik terlelap dalam tidurnya masing-masing. Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan, ingin kabur tapi tidak bisa bergerak sama sekali. Pertandingan akan di lakukan sore ini dan aku harus segera keluar dari tempat ini.
"Aduh, sakit banget" gumamku saat berusaha melepaskan tali. Tapi yang mengikat di tangan sangat kuat dan tidak bisa aku lepaskan. Beberapa kali aku mencoba tapi masih belum bisa.
"Hmmmm". Penjahat kekar bangun sambil meregangkan tubuhnya.
\*Blak\* dengan santai dia menendang si cungkring hingga terguling.
"Aduh bos sakit tau" kesalnya yang membuat aku tertawa dengan kelakuan mereka berdua.
Sekarang aku terdiam lagi karena tidak bisa berlari dari tempat ini. Karena mereka sudah bangun dan pasti akan menjagaku dengan ketat. Aku yakin mereka tidak akan melepaskan aku dengan mudah.
\*Kringgg, kringg\* suara telepon penjahat itu berbunyi.
Segera ia mengangkat telepon tersebut. Nampaknya dia berbicara sangat serius. Wajahnya sepertinya ketakutan, entah apa yang dia bicarakan.
"Coki, kemarilah" bentaknya yang membuat si cungkring ketakutan dan menghampirinya.
"Ada apa bos?"
"Bos besar datang kari, dia akan melihat tawanan kita" ucapnya yang membuat jantungku sedikit berdebar.
Aku bertanya-tanya tentang bos besar yang dia bicarakan. Siapakah bos itu hingga mereka takut menghadapinya dan bahkan bos itu datang untuk melihatku. Apakah dia salah satu otak dari penculikan ini.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1