
Ibu menyuruhku untuk menginap disini. Katanya kalo aku sedang terluka tidak boleh tidur sendirian karena tidak ada yang merawatnya. Aku terdiam dan sangat terharu mendengarkan perkataan ibu. Dia benar-benar menyayangiku seperti anaknya sendiri.
"Bu, maafin Key ya. Selalu buat ibu panik, cemas, kecewa, sedih dan banyak lagi. Apalagi Key belum bisa bahagiakan ibu sama bapak" Aku memeluk ibu dengan erat tak terasa air mataku menetes satu per satu.
"Kamu ini sudah ibu anggap anak sendiri. Jadi kesalahan seperti ini sudah ibu maafkan sebelum kamu meminta maaf. Ibu tidak pernah marah padamu nak, ibu sangat menyayangimu" Penjelasan ibu yang sangat detail.
Lagi-lagi membuat air mataku terjatuh sangat deras aku benar-benar menangis dalam pelukannya. Mbak Yeni dan mbak Nike ikut terharu dan memeluk aku dari belakang.
"Key, kepalamu juga terluka" Ucap mbak Nike saat tidak sengaja memegang kepalaku yang terbalut dengan kapas dan aku tutupi dengan rambut.
"Iya mbak" Sahut ku sambil tersenyum.
Ibu dengan sigap memeriksa kepalaku dan melihat ternyata benar terluka. Ibu semakin memelukku dengan erat dan ber hati-hati agar tidak mengenai lukaku. Ternyata ibu juga menangis dalam pelukan ini.
"Kamu hebat tidak pernah mengeluh apapun nak, ibu beruntung bertemu denganmu" Ibu semakin menangis dengan apa yang telah aku alami.
"Iya Key, aku saja tidak kuat menahan sakit. apalagi terluka seperti ini" Ucap mbak Nike yang ikut memelukku kembali. Begitu juga dengan mbak Yeni yang ikut berkata seperti itu.
Mbak Yeni dan mbak Nike ikut menangisi ku. Padahal aku baik-baik saja. Dan luka ini adalah makananku. Tapi kalau sering-sering makan tubuhku akan sakit juga karena aku bukan gatot kaca.
Malam yang penuh haru. Aku tertidur di kasur mbak Yeni seperti biasa. Kali ini ibu membelai rambutku dengan lembut. Bernyanyi seperti menidurkan seorang bayi. Katanya saat kecil mbak Yeni dan mbak Nike di tidurkan lewat lagu dan belaian. Hingga mereka berdua tertidur pulas.
"Bagaimana kabar ayah hari ini ya, aku rindu padanya" gumamku yang duduk sendiri. kerinduan ini tidak bisa terbendung lagi, aku selalu bertanya-tanya kapan bisa bertemu ayah karena rasa itu sangat sulit untuk menemuinya.
Sudah 4 hari berlalu, sedangkan aku masih belum bisa menjenguk ayah. Setiap kali aku datang kesana, selalu kena marah oleh mamanya kak Dika yaitu tante Susi. Dia selalu melarang ku untuk bertemu ayah.
Akan tetapi Yuri selau berhasil membujuk kak Dika dengan baik. Dia menjelaskan pada kak Dika tentang kesalah pahaman kemarin dan pada akhirnya Yuri baikan dengan kak Dika dan begitu juga hubunganku bersama kak Dika.
Setiap saat kak Dika memberiku waktu untuk menghubungi ayah. Walaupun hanya lewat vidio call, tapi aku bisa bertemu dengan ayah. Kadang juga kak Dika memberiku kabar melalui pesan tentang perkembangan ayah.
"Mereka lagi" mataku kembali melihat David dan adel yang bergandengan tangan, terlihat sangat mesra namun membuat mataku malas menatapnya.
Hubunganku dan David juga tidak begitu baik karena ada hal yang membuat David takut yaitu ancaman nama ayahnya yang dilakukan oleh Adel. Tapi yang sekarang aku pedulikan adalah hidupku, aku tidak mau mengurusi orang lain lagi.
Bohong bila dibilang aku tidak menyukai David. Karena David aku bisa dipertemukan dengan erat bersama bola. Bahkan karena David dan catatan bukunya, aku bisa bermain bola dengan baik hingga saat ini.
"Besok aku akan berangkat ke luar kota, lalu siapa yang menjaga ayah" Gumamku sendirian di bangku taman.
Aku menyandarkan kepala dengan lelah. Sekarang yang aku pikirkan keadaan ayah karna kondisinya pasti belum sembuh total.
"Terus yang bantu ibu sama bapak jualan siapa, mbak Yeni dan mbak Nike punya kegiatan masing-masing" Berbicara sendiri tanpa ada solusi rasanya sepi sekali. Dan kepala rasanya sangat penuh.
"Keyyy, " Yuri dan Ari datang menghampiriku yang termenung sendirian.
Kedatangan mereka mengundang senyum serta tawa dalam bibirku. Karena mereka berdua adalah pengobat hati saat aku sedang galau.
"Kamu ngapain semdirian" Tanya Ari yang duduk berdampingan.
"Iya, nih sudah kita belikan minum untukmu" Yuri memberikan segelaa es jeruk padaku. Baguslah, siapa tau bisa mendinginkan kepalaku yang hangat ini.
"Aku besok berangkat, kalian jaga diri baik-baik ya. Karena aku berangkat selama 2 minggu" Pesanku pada mereka.
Di lain sisi aku juga khawatir dengan Ari dan Yuri. Karena di sini masih ada Adel yang akan selalu usil pada mereka berdua. Aku takut Yuri dan Ari menjadi bulan-bulanan Adel dan kawan-kawan nya.
"Tenang saja, kita bisa jaga diri kok" Sahut Ari dengan percaya diri yang tinggi.
Banyak pikiran sebelum aku pergi keluar kota. Tapi pikiran itu harus hilang agar tidak mengganggu konsentrasiku saat bermain nanti.
Aku akan menganggap semua pikiranku harus normal dan harus tenang. Jangan sampai pikiran ini membawaku ke lubang neraka yang bisa menyebabkan permainan yang buruk. Apalagi permainan ini adalah hal yang sangat baik untuk pengalamanku.
"Baiklah, kalian jaga diri baik-baik. dan ingat jika nanti geng Adel mengganggu kalian, bilang saja padaku"
"Siap bos" Sahut mereka berdua secara bersamaan.
Kami menikmati pemandangan di taman dengan bersama-sama. Tertawa untuk menghilangkan rasa sumpek yang menggeluti pikiranku hingga saat ini. Aku harus tenang dan yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja saat aku pergi ke luar kota.
__ADS_1
"Oh iya key, akhir-akhir ini aku tidak melihat Rena bersama adel" Tanya Ari padaku.
"Aku juga tidak tau ri, semoga saja Adel terlepas dari nenek sihir itu" sahutku yang membuat Ari dan Yuri tertawa keras.
Memang benar Rena tidak pernah terlihat bersama Adel lagi. Aku harap Rena terlepas dari belenggu Adel yang tidak baik. Dan harapan terebesarku adalah Rena sembuh dari pikirannya yang buruk.
"Dah yuk ke kelas, bentar lagi belajar" Ajak ku pada mereka berdua.
Padahal aku ke kelas bukan karena bel berbunyi melainkan mataku sangat malas melihat adel yang bermesraan di sekolah bersama david.
"Sepertinya bukan karena bel ri" Sindir Yuri yang berbicara pada Ari di belakangku.
"Iya Yuri, hatinya panas kali"
"Hahahah" Mereka berdua asik menertawai ku dengan keras.
"Brisik" Bentak ku dan langsung meninggalkan mereka berdua. Sudah malas melihat David dan Adel, eh Yuri sama Ari makin membuatku bosan gara-gara ejekan mereka berdua.
Tapi ada benarnya juga sih karena hatiku benar-benar kesal melihat mereka. Kapan sih Adel sama David itu tidak bermesraan dimataku, aku harap mereka kena teguran dari guru-guru yang ada di sini.
Aku masuk ke dalam kelas dengan kesal. Duduk dan diam tanpa suara. Lalu Ari dan Yuri datang menyusul. Bukannya mereka diam, tetapi malah membuatku kesal dengan ejekan saat pelajaran berlangsung.
"Lihatlah si pemurung ini. Melihat pujaan hatinya bersama wanita lain"
"Benar sekali Yuri, dia sepertinya sedang cemburu" sambung Ari yang asik berbicara dan tertawa riang menatap wajahku sedang murung.
Awas saja nanti aku akan membalas Yuri dan Ari. Kalian pikir aku tidak bisa membalasnya juga. Jahil ku lebih bagus daripada Ari dan Yuri.
Tidak lama kemudian pelajaran dimulai, aku sudah memiliki ide yang lebih baik. Dan sebentar lagi akan aku lakukan itu. Aku mengambil tali dari dalam tas. Mengaitkan ke bangku dan juga celana Ari. Lalu mengaitkan juga ke rok Yuri.
"Beres" Ucapku berbisik sendiri sambil tersenyum. Sebentar lagi aku membalaskan dendam kecil karena ejekan mereka berdua. Dan sebentar lagi aku akan tertawa keras.
"Ari, silahkan kamu maju ke depan untuk menyelesaikan tugas ini" Ucap bu guru yang mengajar.
"Baik buk"
\*brakkkkkk\* Ari berdiri dan menarik kursi serta menarik Yuri sekaligus.
"Hahhahaha" Aku tertawa paling keras saat mereka terjatuh seperti ini.
Aku memang selalu tertawa keras saat Yuri ataupun Ari terjatuh karena ulah kejahilan ku. Tapi jika mereka terluka karena ulah orang lain maka aku akan maju terlebih dahulu untuk menjadi tameng bagi mereka berdua.
"Key" Teriak Yuri dan Ari secara bersamaan. sedangkan kelas sudah ramai bergemuruh menertawai mereka berdua yang sama-sama terjatuh.
"Maaf, sengaja" Jawabku padanya sambil tertawa.
"Keyla, maju kedepan"
"Diam semuanya" Perintah ibu guru yang membuat semuanya terdiam dan aku maju ke depan kelas.
Sebelumnya aku melepaskan ikatan Ari dan Yuri sambil tertawa walaupun tau bahwa aku akan menerima hukuman.
"Rasain tuh" Ketus Ari dan juga Yuri sambil tertawa bahagia saat aku di panggil kedepan.
"Kamu keluar dan berdiri hingga bel pulang" Perintah bu guru yang memberikan hukuman padaku.
"Dimana bu? " Tanya ku yang masih belum jelas dengan ucapannya.
"Di tiang bendera" Jawabnya
"Hahahahah" Semua tertawa keras.
__ADS_1
"Jauh amat bu" Sahut ku santai.
"Di depan kelas keyla"
"Bilang dong bu, kan saya jadi bingung" Ucapku sambil tersenyum
Aku menerima hukuman karena ulahku sendiri. Berdiri di depan kelas sambil memegang telinga dan mengangkat kaki. Tapi hukuman ku menjadi ringan karena ditemani oleh ejekan dan tawa dari Yuri dan juga Ari dari tempat duduknya.
Bahkan David sesekali menatapku sambil tersenyum dan juga sempat tertawa karena kelakuan jahil dan konyolku pada saat ini. Jadi hukuman ku terasa ringan. Lagian aku juga pusing mikirin penjelasan ibu guru di depan.
Menurutku penjelasannya tidak baik bagi otakku yang seperti ini. Lebih baik aku meminta penjelasan pada Ari, yang lebih simpel dan mudah dipahami.
\*tettttt\*
"Alhamdulillah" Aku lega melepaskan semua hukuman saat mendengar bel berbunyi. Rasanya kakiku kesemutan.
"Siapa yang menyuruh kamu melepas hukuman itu Keyla? " Bentak ibu guru padaku.
"Maaf Bu, kaki saya gatal" Ucapku pura-pura menggaruk kaki.
"Cepat lakukan seperti tadi karena saya belum keluar" Semua kelas kembali menahan tawa. Hilang impianku melepas hukuman. Badan sudah capek semua lagi.
Dan pada akhirnya ibu guru keluar dan begitu juga dengan teman-teman. Mereka melewati ku dengan tertawa. Bahkan Yuri dan Ari tertawa sangat keras dibandingkan dengan yang lainnya. Begitu juga David ikut tertawa melihatku.
Saat ruang kelas sudah sepi aku mengambil tas. Dan ternyata buku milikku sudah dibereskan oleh kedua bocah itu. Dengan senang aku keluar dan bahagia seperti baik-baik saja. Padahal kakiku sangat kesemutan.
"Dahhhhhh"
"Astaghfirullahalazim, kalian" Aku terkejut dengan gertakan Ari dan Yuri yang sengaja menungguku di depan kelas.
Aku pikir mereka sudah pulang ternyata masih menunggu. Ini namanya sahabat yang paling terbaik, selalu menunggu di manapun dan kapanpun.
"Makanya jangan jahil" Ketusnya dan kami berjalan sambil merangkul satu sama lain dan tertawa bersama jika mengingat kejahilan ku tadi pada Ari dan Yuri.
"Salah sendiri mengejekku, ya sudah aku ikat kalian. Hahahah" Jawabku dengan snang dan diikuti tawa dari bibir Ari dan Yuri.
Sepanjang jalan di lorong kelas kami tertawa bahagia. Dan seperti biasa di depan gerbang terpisah dengan jemputan masing-masing.
"Hati-hati di jalan, kalo ada orang jangan di tabrak" Ucapku pada Ari dan Yuri seperti biasa.
"Dadah miskin" Tiba-tiba Adel dan David lewat. Bibir Adel rasanya ingin aku remas. Tidak bisa sekali saja terdiam.
"Apa kamu liat-liat, ingin ku hajar saja" Kesalku sambil mengepalkan tangan melihat Adel yang menjulurkan lidahnya padaku. Untung saja David melajukan motornya jadi aku tidak bisa mengejar mereka berdua.
Kesal ini menghilang dan menunggu angkot di tempat biasa. Rasanya ada yang kurang, biasanya ayah yang menjemputku. Walaupun aku tidak mau tapi ayah tetap selalu menyempatkan untuk datang. Sekarang aku kesepian lagi yah. Ini semua karena ulahku yang durhaka pada ayah.
"Tumben sekali angkot belum datang" Keluhku yang menunggu angkot masih belum datang juga. Sedangkan suasana sore ini sangat panas sekali. Aku sabar menunggu angkot dengan bernyanyi sendirian.
"Mobil siapa nih" Tiba-tiba sebuah mobil mendekat ke arahku. Seorang wanita keluar dengan gaya yang sangat mewah. Aku melihatnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. semua barang yang digunakan sangat berkelas.
"Pasti harganya sangat mahal" Gumamku dalam hari sambil memandangi wanita yang menggunakan kaca mata, masker serta topi yang melindungi kepalanya. Lalu ia membuka kaca mata dan masker tersebut di depanku.
"Ibu? " Bibirku membeku untuk berkata sesuatu. Aku terdiam dan membisu melihat wanita kaya yang datang adalah ibu kandungku.
"Key, ini ibu" Suaranya yang candu dan kelembutan yang aku rindukan.
Bertahun-tahun aku menunggu panggilan kasih sayang itu kembali. Dan pada akhirnya kembali juga hari ini. Tapi bila ku ingat kembali di tempat perbelanjaan, ibu tidak mau mengakuiku. Lalu mengapa sekarang dia datang menemuiku. Dan bagaiamana dia bisa tau alamat sekolahku.
"Key" Ibu ingin memegang tanganku. Tapi aku menghindari sentuhannya. Aku mundur beberapa langakah dari hadapannya agar tidak terlalu dekat dengan ibu.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~