
Aku mengikuti pengajian dan tidak banyak juga aku berbicara dengan Adit, hanya saja aku lebih akrab dengannya. Setelah itu keluargaku bergegas pulang di malam yang dingin. Tidak apa-apa yang penting ibu mendapatkan rejeki hari ini.
Pagi
"Bu key berangkat dulu ya"
"Iya hati-hati nak"
Perjalanan ke sekolah dan mengambil ancang-ancang untuk latihan nanti sore di sekolah untuk persiapan pertandingan melawan tim SMA yang berada di luar kota. Katanya untuk menambah pengalaman kami dalam bermain bola.
"Tumben sekali datang terlambat"
Tidak terlambat, hanya saja macet di jalan" Sahutku saat diberikan pertanyaan oleh Ari.
Dia sudah berada di dalam kelas bersama Yuri. Ari asik membaca buku pelajaran dan Yuri asik membaca novel yang sangat dia sukai yaitu dengan memiliki genre cinta.
"Key"
"Hemmm"
"Kak Dika nitip ini padaku, katanya ini dari ayahnya"
Aku mengambil sebuah surat yang Yuri berikan. Membukanya perlahan dan itu surat dari ayah. Aku membacanya dengan seksama, dan menelaah apa isi yang terkandung dalam surat tersebut. Dan tumben sekali kak Dika tidak mengirimnya sendiri.
\*\*\*\*
Dear keyla,
Anakku tersayang, ayah akan pergi ke luar negeri bersama keluarga ayah besok. Sementara waktu ada hal yang tidak bisa di jelaskan padamu dan ada hal juga yang harus ayah kerjakan di luar negeri. Kamu jaga diri baik-baik disini ya, ayah akan pulang jika waktunya sudah tiba.
Ayah sayang Key, kamu harus jadi anak hebat dan kuat ya nak.
\*\*\*\*
"Kak Dika kemana? " Tanyaku pada Yuri.
"Dia tidak masuk sekolah sekarang" Ucapnya dengan pelan.
\*bruk\*
"Key, Key mau kemana? " Aku pergi mengenggam surat itu. Aku tidak ingin mereka berdua tau bahwa aku sedang dilanda perih.
"Aaaaaaa, kenapa sih yah tega sekali. Key baru menemukan ayah dan mencoba menerima keadaan untuk menjadi anak baik. Tapi mengapa ayah kembali meninggalkan Key"
Mulutku meracau tidak jelas di taman belakang. Butiran bening kembali menetes membasahi pipi. Aku masih tidak mengerti mengapa ayah pindah ke luar negeri besok di waktu yang sangat singkat ini. Bahkan dia tidak menemuiku.
"Aku menemukan kak Dika yang selalu melindungiku. Tapi sekarang ayah membawa semua rasa bahagia ini, sekaan itu semuanya adalah sebuah mimpi" Bergumam sendiri dengan rasa sepi dan sedih yang menghampiri secara bersamaan.
Aku menadahkan seluruh wajah menatap kelangit. Berharap ada keajaiban agar kak Dika dan ayah tidak pergi dari sini. Pantas saja jam segini aku tidak melihat motor kak Dika yang biasanya parkir disana.
"Key, maafin aku ya karena sudah tidak jujur padamu" Yuri dan ari datang menghampiriku.
Yuri merasa bersalah karena dia tidak berkata hal yang sebenarnya. Yuri duduk dan mengatakan bahwa kak Dika sudah membicarakan hal ini pada Yuri 1 minggu sebelumnya. Tapi dia tidak berani berkata langsung padaku.
"Kenapa yur, kenapa? " emosuku penuh tanda tanya. Yuri hanya diam dan tertunduk.
"Key, karena ini semua perintah kak Dika" Jelas Ari yang mencoba menentukan situasi ini.
Kak Dika takut jika aku akan merasakan sedih yang teramat dalam. Apalagi ayahnya juga tidak bisa berpamitan secara langsung. Bahkan semenjak kejadian saat itu, ayah jarang menemuiku lagi. Aku tidak memahami semua keadaan saat ini.
"Maafin aku ya Key"
"Kamu yang tenang ya, disini ada aku dan Yuri key"
Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Karena saat ini keadaan hatiku sangat kacau. Aku tidak menyalahkan Yuri karena dia tidak mengetahui ku tentang pindahnya kak Dika ke luar negeri. Tapi hatiku benar-benar kecewa padanya.
__ADS_1
Aku beranjak dari tempat duduk dan masuk ke dalam kelas untuk menenangkan diri dan mengikuti pelajaran. Ari dan juga Yuri ikut menyusul karena bel masuk sudah dimulai.
Pelajaran saat ini tidak dapat aku cerna karena otakku kacau balau. Tidak tau harus berbicara apa, karena hatiku terbungkam oleh kebingungan yang menyelimuti hari ini. Bahkan di hatiku penuh dengan tanda tanya.
\*tetttt\*
Hingga jam pulang sekolah tiba, aku masih terdiam dan membisu. Pembicaraan Ari dan Yuri seakan tuli masuk ke dalam telingaku. aku lelah dengan semua ini, aku akan pergi ke rumah kak Dika setelah latihan sore selesai.
"Aku pulang dulu ya Key" Aku hanya mengangguk mendengar suara Ari.
"Key, maafin aku"
"Kamu tidak salah Yur, pulanglah" Tanpa ada kata lagi yang terucap dari bibir Yuri. Ia langsung pergi meninggalkanku dengan wajah yang merasa sangat bersalah.
Aku segera berganti baju dan mengikuti latihan sore seperti biasa. Apapun yang terjadi dalam kehidupanku, jangan sampai terbawa dalam suasana bola. Aku harus menahan diri dan selalu bersikap profesional. Karena orang hebat akan terlahir dari seseorang yang rajin dan tekun serta bersikap profesional dalam menjalankannya.
"Key"
"Iya coach, ada yang bisa saya bantu"
Aku menghampiri coach Alam saat latihan telah selesai. Dia memanggilku seakan ada hal penting yang ingin dibicarakan.
"Bacalah" Sebuah surat yang masih tertutup rapi diberikan padaku.
Tanganku sibuk membukanya lalu membaca setiap kalimat yang ada sambil mencerna isi surat tersebut. Mataku terbelalak dan terkejut bukan main karena ada sebuah tawaran dari klub kota untuk pemain bola perempuan.
"Apakah isi surat ini benar coach? " Coach Alam mengangguk.
Dia menceritakan padaku bahwa klub ini menginginkan aku bermain untuknya. Setelah melihat pertandingan ku di luar kota kemarin, mereka tertarik untuk merekrut ku masuk ke dalam klub perempuan kota ini.
"Apakah kamu mau"
Aku tidak tau bagaimana caranya untuk keluar dari klub tarkam, karena jika aku masuk ke klub kota maka akan banyak peluang yang di dapat untuk bisa bermain ke timnas Indonesia putri.
"Kenapa Key, apakah kamu ingin menolaknya? "
"Saya bingung Coach, bagaimana dengan klub tarkam saat ini. Saya masih tercatat sebagai pemain disana dan kontrak saya akan habis selama 3 bulan kedepan"
Aku menceritakan semuanya pada Coach Alam. Pikirku dalam keadaan bimbang, karena di satu sisi aku senang mendapatkan undangan untuk bergabung di klub tersebut. Tapi di satu sisi aku bingung karena masih terikat kontrak dan tinggal 3 bulan lagi aku terbebas.
"Oh masalah itu yang membuat kamu tidak bisa menjawab surat ini? " Aku mengangguk mendengar ucapannya.
"Tenang saja, saya akan mengurusi itu semua. Saya yakin satu bulan lagi kontrakan akan usai. Karena undangan ini resmi dari klub kota untuk kamu bermain dan berjuang membawa nama baik kota di turnamen resmi selanjutnya"
"Benarkah Coach? " Tatapan ku yang sendu berubah menjadi senang. Rasa tidak percaya dalam hati masih terlukis.
Coach Alam mengangguk dengan tatapan kejujuran. Aku sangat senang dan berdiri hingga meloncat kecil mendengarkan ucapan yang keluar tadi.
Aku sangat senang bisa memiliki kesempatan bermain di klub kota dan menjadi salah satu punggawa yang mampu membawa nama baik kota untuk menang di turnamen tersebut.
"Makasih banyak Coach, terima kasih banyak" Aku memeluknya dengan erat memberikan tatapan tentang kebahagiaan yang sedang aku rasakan.
Jauh di lubuk hati paling dalam aku sangat bergembira dan sejenak melupakan kesedihan walau hanya sekejap saja.
"Iya, saya harap kamu bermain dengan baik disana. Karena kamu sudah memiliki potensi yng sangat besar untuk bersaing dengan beberapa pemain terbaik di setiap kota"
Tidak lupa sebuah nasehat yang selalu diberikan olehnya padaku. Di dalam lapangan sebagai pelatih yang baik sedangkan di luar lapangan akan menjadi seorang ayah bagi para anak didiknya.
Saat ini hanya ada beberapa pemain yang mampu bersaing di permainan bola wanita. Tapi masih belum ada yang bisa menembus klub kota ini. Beberapa dari mereka banyak yang gagal seleksi, maka dari itu aku harus belajar lebih keras lagi untuk mendapatkan tempat di klub bola kota.
__ADS_1
"Sekarang pulanglah, dan jangan merasa puas dalam permainan dan skil yang kamu miliki. Teruslah belajar dengan giat"
"Baik Coach"
Aku pulang saat senja berjalan dan segera tenggelam. Karena sebentar lagi hari mulai petang. Pikirku kembali mengingat karena ingin menemui kak Dika dan ayah secara langsung. Karena daritadi ponselnya tidak aktif saat aku mencoba menghubungi mereka.
Beberapa menit kemudian aku telah sampai di rumah mewah yang sangat megah. Rumah yang ditinggalkan oleh ayah dan anaknya. Aku berusaha masuk tapi tidak ada tanda-tanda adanya orang yang beraktivitas di dalam sana.
"Permisi pak, apakah kak Dika ada? "
"Maaf, mbak ini siapa ya? "
"Saya teman satu kelas kak Dika pak"
Aku sengaja menyakan kak Dika karena jika aku menyakan ayah, aku takut istrinya akan keluar dan menghalangiku dengan tutur kata kasarnya untuk menemui keluarga mereka.
"Oh temannya den Dika"
"Maaf mbak, den Dika, tuan dan nyonya sedang keluar. Katanya ada urusan sebentar"
Sayang sekali mereka tidak ada di rumah ini. Padahal aku ingin sekali bertemu sebelum mereka pergi dari negara ini. sudah pasti aku tidak akan bertemu dengan ayah dan saudaraku lagi.
"Bukankah mereka besok akan ke luar negeri pak? "
"Iya mbak, pukul 7 mereka akan pergi ke bandara. Lebih baik mbak kembali besok pagi saja jika ada hal yang sangat perlu. Karena mereka mungkin akan kembali nanti malam"
Benar juga kata pak satpam, jika aku menunggu di depan gerbang ini maka aku akan pulang sangat larut. Lebih baik aku kembali lagi besok untuk menemui kak dika dan ayah.
"Baik Pak, terima kasih banyak atas informasinya"
"Iya mbak, Sama-sama" Aku kembali pergi meninggalkan rumah itu.
Memesan ojek online seperti biasa untuk mengantarku pulang ke rumah. Malam ini terasa sangat dingin bersama hatiku yang hancur karena pecahan hati yang pernah aku susun kini akan terpecah lagi.
"Apakah aku berbuat salah, sehingga ayah pergi dan meninggalkan aku lagi" pikirku bertanya-tanya dan temenung di depan teras rumah dengan lampu remang-remang.
Kenapa harus ayah lagi yang pergi. Baru saja bertemu dan sekarang dia akan pergi meninggalkanku ke luar negeri. Apakah ada yang salah dengan kehidupanku sehingga dia tida mau lagi bertemu denganku.
Apalagi kak dika, padahal baru kemarin menolong dan melindungiki tapi kenapa sekarang secara tiba-tiba pergi tanpa isyarat yang jelas. Benar-benar kejutan yang menyakitkan.
"Key, Key, malang sekali perjalanan hidupmu" Memprihatinkan diri sendiri dan mengejeknya tentang perjalanan hidup yang sudah aku alami.
Mungkin kali ini aku bukan orang yang beruntung. Tapi aku pastikan bahwa di masa depan aku harus menjadi orang yang paling beruntung dengan sepenggalan cerita yang menjadi bekal untukku agar bisa meraih bintang.
"Aku harus bisa menggagapai mimpiku di timnas. Agar orang yang aku cintai kembali pulang"
Desiran angin berhembus kencang, hampir menyelimuti tubuhku dengan kedinginan. Suara burung seakan terkekeh di atas ranting-ranting sambil memandangiku yang sedang galau. Redup bintang dan rembulan mengambarkan redupnya hatiku saat ini.
"Mungkin aku harus tidur untuk melupakan semuanya. Dan besok aku harus datang ke rumah kak Dika untuk bertemu dengannya dan juga ayah"
Langkahku pergi masuk ke dalam rumah dan merebahkan tubuh serta pikiran yang lelah di atas ranjang. Mencoba memejamkan mata tapi sesekali mata itu terbuka karena terus memikirkan ayah.
"Ayolah tidur, hari sudah semakin larut" Kesalku pada mata ini yang terus saja terbuka dan tidak mau terpejam menikmati bunga mimpi.
"Bobo, belailah kepalaku biar bisa tidur dengan nyenyak"
Bobo masuk dalam lingkaran tangan dengan pelukan yang sangat erat. Aku meluknya dan berkata pada bobo untuk membuatku tenang agar bisa terlelap di malam yang larut ini. Karena besok pagi aku harus segera pergi ke rumah ayah.
"Ayolah cepat tidur, agar besok tidka tertinggal oleh ayah" Aku menepuk-nepuk kepala agar bisa terlelap dan menyuruh otak ini untuk istirahat.
Aku tidak ingin jika ditinggal ayah untuk kedua kalinya tanpa pamit. Aku ingin memeluknya dengan erat dan merasakan menjadi seorang anak yang paling bahagia dalam pelukan seorang ayah dan saudaranya.
Akhirnya setelah beberapa lama mata ini menatap dinding tembok lalu langit-langit kamar menuliskan catatan harapan serta rangkaian hayalan. Aku terlelap dengan pulas hingga masuk ke alam mimpi yang menurutku sangat indah.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~