Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
159. Bertanding Di Luar Negeri


__ADS_3

Hari-hari berlalu dan aku sudah mulai berlatih bersama timnas. Saat malam di waktu yang senggang, aku akan menghubungi keluarga dan sahabatku. Jelas kerinduan selalu mengalir saat diwaktu kosong, karena saat itulah aku mengingat mereka.


Kehidupan ibu saat ini sudah nyaman karena lelaki itu mendapatkan hukuman penjara selama 15 tahun karena melakukan KDRT serta melakukan percobaan pembunuhan.


Ternyata bukan hanya dia yang melakukan hal itu, tapi salah satu rekannya adalah ayah David. Namun ayah David terbebas karena tidak ada bukti yang menyatakan bahwa dia ikut terlibat.


Aku juga ingin marah dengan ayah David, namun ternyata tidak ada bukti yang kuat untuk menjadikannya tersangka. Dalam persidangan dikatakan bahwa ayah David hanya sebagai rekan bisnis, bukan sebagai pembunuh.


*drettt* Dering telepon.


"Halo Key assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


"Kamu lagi apa? "


"Lagi bersantai malam ini"


Perbincangan kembali dalam sebuah telepon daengan jarak yang cukup jauh. Aku tidak pernah dendam pada David atas kesalahan ayahnya, karena dia tidak tau apapun tentang hal itu.


Lagipula biar Tuhan saja yang menghukumnya, kami manusia hanya bisa berdoa. Dan aku juga berharap jikalau ayah David bersalah, dia lekas bertaubat sebelum alam menghukumnya lebih parah.


"Key apakah kamu baik-baik saja? "


"Iya baik"


"Tolong jangan menjawab singkat, aku minta maaf jika punya salah padamu" Ucapnya dengan lugu.


Dia selalu merasa bersalah setelah mengetahui ayahnya ikut terlibat dalam hal itu. Tapi aku selalu menenangkan dirinya walaupun aku tau bahwa ayahnya David memang salah satu orang yang hampir menabrak ku.


Ari memiliki semua rekaman dan jejak kejahatannya. Namun aku mencegah hal tersebut karena aku tidak ingin David membenci ayahnya hanya karena dia memiliki pikiran jahat padaku.


"ihh, kamu ini. Aku baik-baik saja hanya kecapean karena selesai berlatih" Jelasku untuk memberitahu hal tersebut.


"Hmm baiklah, aku tidak ingin kamu membenciku Key. Aku hanya ingin bersamamu" Dia selalu berkata bahwa mencintaiku. Namun antara kami masih belum ada ikatan yang disebut dengan pacaran.


"Jika kamu mencintaiku terus lalu siapa lagi yang mencintai Adel? " Aku sangat suka menggodanya.


"Adel? Dia sudah menghilang dari kehidupanku" Sahutnya dengan tegas.


Semenjak pamannya masuk penjara karena telah melukai ibuku, Adel menghilang. Dia pindah tanpa suara dari sekolah kami. Bahkan tanda-tanda tempat tinggal Adel juga tidak tercium.


Dia juga memutuskan hubungan dengan David. Dan sekarang kata Ari dan Yuri sekolah kita sangat aman dan tenang. Karena tidak ada orang licik sepertinya yang sering mengadu mulut.


"Berkali-kali aku mengingatkan jangan bicara tentang Adel lagi padaku" Dia mulai marah dan terlihat merajuk.


"Baiklah tuan David tersayang, aku tidak akan berbicara lagi. Dan sepertinya hari sudah malam maka aku akan tertidur"


"Baiklah, tidurlah yang lelap karena kamu membutuhkan energi yang sangat banyak untuk persiapan timnas"


"Siap"


Dia tidak pernah lupa mengingatkan dan memberikan arahan tentang apa yang akan dilakukan di timnas serta apa yang akan dibutuhkan.


Saat ini David guru bolaku dan dialah tempat yang nyaman saat aku mengadukan tentang bola atau hal baru yang dipelajari saat disini. Aku sangat senang mendengar nasehatnya tentang pola hidup sehat untuk menjaga stamina


Di timnas terdapat aturan yang tertulis dan sudah tertera jadwal yang jelas mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Aku sudah 2 bulan disini dan sebentar lagi turnamen internasional akan dimulai.


Pagi 06.00


"Bagaimana keadaan kalian? "


"Siap baik coach"


"Bagus, saya harap semua dalam keadaan sehat dan stamina terjaga"


"Kalian sudah tau jadwal sekarang apa? "


"Siap tau coach"


Sekarang adalah jadwal persiapan untuk melakukan uji coba yang akan dilakukan besok dengan tim sepak bola perempuan yang ada di beberapa kota.


Walaupun mereka terbentuk dari tim kota, namun kami harus tetap bermain dengan baik. Mengatur emosi, fokus dan skil lainnya untuk diasah agar tidak terkejut setelah berhadapan dengan pertandingan yang akan datang.


"Key apa yang akan kita lakukan sekarang? "


"Melatih otot Tara, biar kita bisa mempersiapkan diri untuk uji coba besok"


"Hmmm, baiklah"


Sekarang aku memiliki teman yang dekat yaitu Tara. Tara disini sendirian karena beberapa temannya tidak ada yang lolos masuk ke dalam tim. Dia juga sangat dekat denganku karena kami satu kamar.


Pagi ini kami melatih pergerakan otot dan olahraga lainnya agar tidak mudah lelah saat berlari di lapangan. Bahkan pelatih juga menyuruhku untuk tetap menjaga skil lariku lebih cepat lagi dari kemarin.


"Key, Zahra, Sasa kemarilah"


"Iya coach"


Pemilik lari tercepat saat ini sedang dilatih pelatih untuk menyeimbangkan diri dan berlari dengan baik. Namun tujuannya bukan hanya untuk berlari melainkan mengatur kontrol bola, umpan bola serta mengantisipasi serangan balik.


Dan melatih pernafasan dengan baik, serta melatih tekanan cukup besar yang memungkinkan saat ada penyerangan dari lawan di saat pertandingan dimulai.


"Setelah peluit dibunyikan maka kalian harus fokus"


"Siap coach"


*pritttt*


Ini bukan sebuah pertandingan lari atau bersaing menempati posisi karena kami bertiga memiliki lari khusus yang cukup cepat dengan posisi yang berbeda.


Zahra sebagai gelandang bertahan, Sasa sebagai penyerang dan aku sebagai bek sayap yang siap menahan serangan balik dari lawan serta menjaga lini pertahanan belakang.


Beberapa dari kami dikumpulkan dengan keahlian masing-masing. Namun tetap saja kami akan menjadi satu dan seakan bisa dibilang menyatukan kekuatan untuk menjaga gawang agar tidak kebobolan.


*pritt*


"Lakukan lebih tepat lagi"


"Siap coach" Tidak ada kemenangan diraih dari tanpa usaha, melainkan kemenangan akan datang dari usaha dan kerja keras serta pantang menyerah.

__ADS_1


Beberapa dari mereka melakukan tendangan pojok, lalu tendangan langsung, pemberian umpan dan selanjutnya penyelamatan gawang dari bola yang ingin bersarang.


Dan itu hanya permulaan, namun skil paling utama yang diajarkan adalah mereka mampu menguasi semua dan tidak ada yang bertumpu hanya pada satu orang saja.


*Pritt*


"Latihan telah usai, kalian silahkan kembali beristirahat dan nanti sore kita akan melakukan beberapa latihan lagi"


"Siap coach"


Kami melakukan latihan sesuai instruksi dan tidak ada yang melanggar apapun. Aku juga tidak menemukan orang jahat seperti pada permainan bola di kelas bawah saat itu.


Aku yakin bahwa mereka semua murni dan bersih. Sikap kekeluargaan kami telah tercipta saat awal kami dipersatukan. Tidak ada persaingan untuk menjunjung tinggi nama masing-masing, melainkan nama bangsa Indonesia.



Hari yang ditunggu telah tiba, kami melakukan uji coba dan syukur alhamdulillah kami berhasil menang dengan menggunakan taktik yang sudah diajarkan pelatih.



Hingga pada saatnya sebuah hari besar akan tiba dalam waktu yang singkat yaitu 5 hari lagi. Setelah usai melakukan uji coba, kami semua akan berangkat ke Singapura untuk melakukan pertandingan tersebut.



"Key, key, key"


"Ada apa Tara? "


"Apakah kamu sudah menghubungi keluargamu? "Sudah tadi malam, dan aku bilang bahwa kami akan berangkat ke Singapura" Sahutku dengan ramah.



Aku sudah berbicara pada keluargaku bahwa akan bertanding ke Singapura. Namun sayang mereka tidak bisa datang karena biaya dan kesehatan yang tidak memungkinkan.



Katanya ibu akan menonton saat kami bertanding di kandang sendiri yaitu di stadion GBK ( Gelora Bung Karno ) hal itu yang membuatku semangat untuk menang di pertandingan melawan Singapura kali ini.



"Apakah mereka datang? "


"Tidak, mereka hanya nonton di rumah saja"


"Mengapa kamu tidak bersedih? " Aku tertawa mendengarkan pertanyaan dari Tara.



Bagaimana aku bisa bersedih sedangkan dukungan yang mereka berikan sangat penuh hanya untukku. Dan bahkan teman terdekat dan juga sahabatku mendukungku dari jauh.



"Jangan pernah bersedih untuk berangkat perang, percayalah bahwa kita akan pulang membawa kebahagiaan" Tara hanya mengangguk.




Selama perjalanan aku tidak tidur. Melihat pemandangan Indonesia yang indah, dan tidak lama kami tiba di bandara dan berangkat ke negara Singapura.



"Lihatlah, sebentar lagi garuda akan terbang ke negeri orang" Gunamku dengan bangga pada Tara yang duduk disampingku.



"Benar Key, garuda akan mendarat di Singapura" Sambungnya sambil tersenyum.



Melihat ke arah jendela yang dipenuhi dengan awan-awan yang terlukis indah. Burung-burung tidak nampak, hanya percikan sinar mentari saja yang menghiasi.



Indahnya pemandangan ini yang diciptakan oleh Tuhan. Sungguh menakjubkan, saking terpesonanya aku menghabiskan waktu penerbangan dengan menatap kekaguman pada langit-langit.



"Keyla, kamu tidak istirahat? " Ucap pelatih saat melakukan pengecekan pada anak asuhnya.



"Hmm, tidak coach. Pandangan saya tidak bisa teralihkan antara kekaguman dan kebanggaan"


"Maksudnya? "



"Saya kagum menatap langit coach, dan saya juga bangga karena sebentar lagi akan bermain di negeri orang. Pertandingan di luar negeri untuk pertama kalinya bagi saya" Jelasku pada pelatih.



Pelatih tersenyum saat mendengarkan ceritaku dengan tenang. Dia melanjutkan memandangi satu per satu pemain dan rupanya hanya aku saja yang tidak tertidur.



"Lebih baik kamu istirahat, karena perjalanan sangat menguras energi" Perintahnya padaku.


"Baik coach"



Aku segera menjalankannya dan mencoba memejamkan mata dengan tenang agar bisa menambah energi walau tertidur hanya sebentar saja.



Hotel Singapura


__ADS_1


Tidak lama kemudian kami telah mendarat di bandara Singapura. Lalu dibawa oleh bus ke tempat penginapan hotel yang cukup indah.



Benar kata mereka bahwa negeri orang sangatlah indah, namun jangan pernah lupa untuk pulang karena ibu pertiwi tetap menanti dengan ketegaran agar anak bangsanya sampai di tanah kelahiran.



"Subhanallah, indah sekali bangunan disini. Apalagi banyak gedung-gedung pencakar langit" Aku memang orang desa yang selalu kagum menatap hal baru.



"Benar key, rasanya aku ingin menetap di sini" Aku terkejut dengan ucapan Tara yang mengekoriku dari belakang.



"Nak sebaiknya kita hanya berpijak dan jangan menetap" Ucapku sambil mengelus rambut Tara.



"Hahaha, iya aku hanya becanda. Ayolah kita masuk" Kami masuk ke dalam hotel yang cukup luas. Baru pertama kalian ya aku disambut dengan baik oleh staf hotel.



Tataan bangunan yang mewah sangat memanjakan mata. Aku mungkin sangat betah ada disini selama turnamen itu berakhir. Dan mungkin rasanya sangat nyaman sekali.



Penyambutan yang sangat baik, atap-atap ditahan dengan mewah. Sungguh kejutan yang sangat nyata pada awal kedatangan kami di negara singapura.



"Apa semua sudah berkumpul? "


"Sudah coach"


"Baiklah ini kunci hotel kalian" Pembagian telah usai.



Setiap kamar dihuni oleh 4 pemain. Dan syukur alhamdulillah aku kembali satu kamar dengan tara. Dan juga beberapa pemain lainnya.



Barang-barang mewah sudah genap dipersiapkan. Kamar mandi moderen tanpa gayung, dan wc pakai tisu. Hal baru yang sangat lucu dan baru aku temui disini.



Walaupun sudah menetap dihotel, kami membiasakan disiplin dengan bangun pagi. Selanjutnya sarapan, serta melakukan pemanasan dan latihan ringan. Dan sorenya kami akan berlatih seperti biasa. Hal itu dilakukan berulang kali serta diberikan beberapa pembelajaran secara lisan hingga pertandingan akan segera dilaksanakan.



Malam hari.



"Apa kabar kalian, aku sangat rindu" Ucapku pada sebuah foto yang terdapat dalam ponselku.



Aku terus memandangi foto-foto mereka yang aku sayangi. Setiap malam aku selalu berdoa lalu meminta agar diberikan kemudahan dalam setiap paginya menjelang malam.



"Kamu belum tidur Key? "


"Belum Tara, kamu sendiri kenapa belum tidur?" "Aku gak bisa tidur karena besok pertandingan pertama" Sahutnya padaku.



Dia cemas pada pertandingan pertama yang akan kita hadapi besok. Aku mencoba menenangkannya walaupun aku juga cemas karena belum pernah disaksikan oleh orang banyak di stadion yang luas.



"Sudahlah jangan dipikirkan, kita sudah berlatih dengan giat dan insyaallah kita akan cepat beradaptasi dengan baik besok"



"Benar sih tapi aku... "


"Sudah ayo tidur, aku sudah mengantuk" Aku tertawa sambil memeluknya agar dia tidak banyak bicara.



Sebenarnya kecemasan itu akan hadir dalam setiap pemain. Apalagi di laga pertama dan disaksikan oleh orang banyak dan bermain di kandang lawan. Sungguh sangat luar biasa.



Aku mencoba tenang dan terlelap dalam malamku. Akan aku pastikan bahwa besok mendapatkan energi yang terbaik untuk mengalahkan lawan.



"Tidurlah nak, kakek akan menjagamu" Aku mengangguk dengan ucapan kakek yang selalu mengelus lembut rambutku hingga terlelap dalam pangkuannya.



Menjelang pertandingan yang akan dilaksanakan, kami melakukan pemanasan sedikit pagi ini lalu beristirahat dan berangkat ke stadion yang benar-benar megah.


Aku kembali terpesona melihat pemandangan yang memanjakan mata. Betapa indahnya negeri orang yang membuatku tersenyum di sepanjang jalan saat masuk ke slama stadion.


"Ini adalah pertandingan pertama bagi kalian, saya hanya ingin kalian bermain dengan tenang dan santai. Jangan tegang dan tetap fokus. Anggaplah kita bermain di rumah sendiri"


"Siap coach"


Kami akan melakukan 3 laga pertandingan. Melawan tim-tim asia Tenggara salah satunya Singapura, thailand dan Filipina.


Mereka adalah tim kuat, namun tidak ada salahnya kita tetap optimis dan pantang menyerah karena keyakinan akan mengalahkan keraguan dari lubuk hati masing-masing.


__ADS_1


__ADS_2