
Mataku membidik teliti dengan fokus yang tinggi. melihat ke lini depan untuk memberikan umpan silang yang baik agar bisa dimanfaatkan menjadi gol. Tendangan keras aku lemparkan pada mereka.
*blukkk*
"Yess tepat sasaran" Gumamku, bola itu jatuh di kaki Doni
"Goll" Teriak gemuruh kelas kami berbunyi kembali setelah terdiam di pertandingan babak pertama. Doni memanfaatkan umpan yang aku berikan dengan sangat baik. Sehingga assit ini kembali menghasilkan gol dari tendangan kaki kiri Doni yang begitu cantik.
Sangat tipis bisa ditepis oleh penjaga gawang tapi keberuntungan kali ini ada di pihak kita. Lebih tepatnya lagi adalah hasil kerjasama antara taktik yang dilakukan semua tim. Kedudukan sementara adalah 1-1 yang membuat semangat kami semakin berkobar lagi untuk terus mencetak gol dan gol.
Lagi dan lagi tim kami mencetak gol hingga membuat tim kakak kelas menjadi frustasi dan kemenangan ada di pihak kami hingga berakhirnya oertandingan dengan skor 1-4.
Aku dan teman-teman 1 tim semakin akrab. Dan sedikit aku melupakan Ari sahabatku. Pada saat itu Dendi mengajakku ke kantin untuk mentraktir semua para pemain sebagai tanda kemenangan hari ini. Aku juga ikut kesana, tapi suasana yang lain tidak nyaman bagiku.
Suasananya sangat berbeda , tidak sama pada saat aku berkumpul dengan Ari. Iya Ari, aku melupakan Ari lalu aku kembali ke kelas untuk mencari Ari. Aku berpamitan pada Dendi dan juga tidak memakan apapun disana.
Setelah sampai di dalam kelas ternyata tidak ada ari. Lalu aku mencari ke lapangan tapi Ari juga tidak ada. Tempat satu-satunya yang ari suka adalah perpustakaan. Aku langsung bergegas ke perpustakaan. Benar saja disana ada ari yang sedang asik membaca buku, tapi sendirian.
"Ari" Aku mencolek punggungnya
"Hm" Jawabnya tanpa menoleh padaku
"Kamu marah ya? Aku minta maaf ya ri" Ari hanya diam dan fokus membaca buku. Lalu aku menutupi bukunya dengan paksa agar dia tidak membaca lagi. Tapi dia menyingkirkan tanganku.
"Kamu tau gak, kalo gak bareng kamu itu rasanya gak enak banget ri" Ucapku berbicara sendiri di samping ari. ari masih tetap terdiam.
"Oh iya, tadi di kantin bareng sama mereka gak enak. Soalnya mereka orang-orang kaya lalu mereka mengeluarkan kesombongannya masing-masing. Sedangkan kamu orang kaya tapi tidak sama dengan mereka dan mau menerimaku apa adanya sebagai sahabat"
"Jadi?" Sahut ari singkat
"Aku gak mau kalo diajak mereka lagi, maaf ya ri karena sudah meninggalkan kamu"
"Makanya key, teman baru itu memang asik tapi teman lama yang menjadikan semua lebih asik" Ucap ari sambil menghadap ku dengan senyuman.
Aku dan Ari pun berbaikan dengan menyatukan jari kelingking sebagai tanda maaf dalam persahabatan kami.
Benar kata Ari, memang teman baru itu asik karena bisa membuat suasana baru. Tapi teman lama lebih yang membuat semuanya lebih asik karena mereka sudah mengerti apa yang ada dalam diri kita. Bahkan teman lama lah yang menjadikan tempat terasa nyaman. Lalu akupun pergi bersamaku ari kemana-mana, karena aku merasa nyaman bersahabat dengannya.
"Oh iya besok aku harus tanding lagi dan jika pertamdingan besok dan lusa kita lolos makan akan langsung melakukan pertandingan final" Sambil berjalan menuju taman sekolah.
"Berarti kelas kita bisa menang dong? " Tanya ari
"Iya"
__ADS_1
"Kamu sebenarnya sejak kapan mencintai bola key" Aku diam lalu menatap pada Ari. Mungkin ini waktu yang tepat untuk menceritakan pada Ari awal mulai aku mencintai bola.
Aku berceritra bahwa pertemuan ku dan bola tidaklah bagus. Saat itu terdapat pertandingan yang ada di lapangan belakang sekolah dan bola itu menghantam kepalaku karena tenanan seseorang. Semua tertawa kegirangan serta ada kesalahan yang membuatku mendapat kartu merah tanpa bertanding karena masuk sembarangan ke lapangan untuk memberikan bola.
Ketidaktahuan atas pertandingan bola membuat hal yang memalukan di tengah lapangan itu terjadi. Sehingga ucapan untuk menjadi pemain bola ke luar dari sebuah bubur seorang.
Aku juga menceritakan David pada Ari. Seorang pemain sepak bola yang selalu menemaniku untuk melakukan pemanasan dan memberikan ilmu tentang bola dengan percuma. David juga memberikan sepatu dan bola padaku.
Aku juga bercerita bahwa semua skill yang aku keluarkan dalam pertandingan adalah ilmu yang David ajarkan. Aku berjanji pada ari suatu saat nanti akan aku kenalkan dia dengan David. Lalu kami terus saja berbincang-bincang diatas taman sekola yang indh hingga lupa waktu.
*kringg* bel sekolah sudah berbunyi. Semua berkemas diri untuk pulang. Begitu juga aku dan Ari. Saat Ari sudah masuk ke dalam mobil, aku bergegas ingin pulang.
"Tunggu nak" Aku langsung membalikkan badan dimana suara itu berasal. Ternyata yang memanggil adalah pak pur selaku guru olahraga.
"Iya Pak" Aku langsung jalan ke arah pak pur.
"Kamu masuk klub bola mana? " Tanyanya, kali ini bukan tentang pelajaran olahraga tapi tentang bola.
"Hmm, saya tidak masuk klub manapun pak"
"Tapi mainnya sangat bagus loh"
" Anu pak, saya belajar sendiri di rumah dibantu teman saya pak" Jawabku
"Hmmm, oke tapi kamu gak mau masuk klub apa? " Tanyanya padaku sepertinya ini sudah cukup seriuss tentang bola dan benar-benar tentang bola.
"Yasudah, kamu bermain dengan bagus ya. Suatu saat nanti jika kamu ingin menjadi pemain bola, kamu harus konsisten dengan penampipanmu. Tingkatkan performa yang kamu teliti bersama bola di tengah lapangan. Suatu saat buka kamu yang mencari klub atau tim tapi klub atau tim tersebut yang mencari kamu karena permainan yang baik dan bagus. Saya tidak bisa menolong, hanya saja bisa memberikan masukan buat kamu" ucapnya.
Aku mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan pak pur. Meskipun dia hanya memberikan aku dengan kata-kata yang seperti ini, setidaknya aku memiliki semangat untuk meningkatkan permainan bola agar bisa menjadi yang terbaik. Mungkin suatu saat ilmu itu akan berguna.
"Terima kasih atas masukannya pak" Ucapku sambil mencium tangan pak pur sebagai seorang guru. Meskipun orangnya sudah tua, tapi semangatnya mengajar sangat baik tentang olahraga. Dia tidak pernah marah-marah pada seorang siswa. Karena pak pur selalu membimbing siswanya dengan baik.
"Ya sudah, kamu hati-hati pulangnya ya"
"Siap pak" Aku langsung bergegas pulang dan pak pur juga melakukan sepeda motornya untuk pulang.
Seperti biasa aku akan melakukan persiapan di sore hari untuk menuju lapangan. Aku selalu berlatih bola dengan David. Meskipun saat ini aku menguasai skil yang David ajarkan, tapi tidak semua skil yang menjadi sempurna tanpa latihan. Semua kemampuan harus diasah dan jangan dikasih kendor.
Pemain hebat seperti Ronaldo dan messi saja akan terus berlatih meskipun dia sudah dinobatkan pemain terbaik dunia. Tidak ada kata santai untuk mencapai keinginan yang tinggi. Semua dilakukan karena kerja keras dan doa.
Semenjak ibu pergi, aku selalu mendekatkan diri pada Tuhanku. menjalani kewajiban sebagai seseorang yang taat pada agama dan Tuhannya, aku lakukan meski awalnya susah tapi lama kelamaan menjadi terbiasa.
Karena percuma berjuang sendiri tapi tidak ada doa yang dipanjatkan pada sang Maha pencipta yang memiliki segalanya. Berharap Allah mendengarkan doaku untuk mempermudah menjalani hidup yang penuh lika-liku.
__ADS_1
Pertandingan 2 hari terakhir membuat tim dari kelas kami menang dan masuk ke dalam final. Begitupun di dalam final terjadi begitu drama-drama dalam lapangan. Pada saat itu tim kami sudha memimpin 1-0 tapi tim lawan dari kelas 8D melakukan banyak pelanggaran yang merugikan tim kami.
Tapi tidak ada kata patah semangat dan terus saja berjuang untuk mencapai kemenangan. Meskipun ini hanya pertandingan sekolah, bola mengajarkan persahabatan, tapi mengajarkan juga kecurangan. Setelah babak satu dan babak ke dua selesai, akhirnya kami memenangkan pertandingan dengan skor tipis yaitu 2-1.
Baru kali ini dalam sejarah sekolah kelas 7 memenagkan pertandingan bola di clas meeting kata semua guru-guru disana. memang bukan main, karena hal ini adalah pertandingan pertama dan kemenangan pertama untukku saat melakukan permainan sepak bola.
Mulai saat itu aku selalu bermain dan terus berlatih dengan hati bersama bola. Dan juga tanpa lelah melakukan latihan setiap harinya. Hingga pada suatu hari David mengajakku ke tempat pertandingan tarkam di kampung seberang. dimana hari itu kami masih dalam liburan semester.
Awalnya pertandingan yang asik dan seru hingga pada akhirnya ada beberapa pelanggaran dan salah satu tim kekurangan pemain karena banyak yang cidera. Dengan percaya diri yang tinggi, David mempromosikan aku untuk menggantikan pemain yang tidak ada. Awalnya aku tidak mau, tapi mereka berkata ingin memberikan uang untukku bila bersedia mengikuti pertandingan.
"Ayo key, ini adalah awal yang baru dalam tarkam" Ucap David sambil memegang ku dan menunjukan ke pelatih yang sedang kebingungan.
Sebenarnya aku sedikit takut melihat permainan lawan yang begitu keras. Dalam sebuah permainan yang aku lakukan, bukanlah uang menjadi alasan utama dalam bertanding. Melainkan pengalaman skill dan jam terbang untuk melatih skil yang dimiliki.
"Kamu bisa main bola? " Tanya pelatih itu padaku
"E... Anu pak"
"Iya Pak, dia bisa bermain bola" Sahut David dengan semangat.
"Bagus kalau gitu, pemain saya sudah tidak ada karena banyak yang cidera, ini bajumu dan segera ganti" Pelatih itu langsung memberikan baju sepak bola dalam timnya.
Dia juga meminjamkan aku sepatu dari anak didiknya yang sedang cidera. Sepatu yang kebesaran tidak pas di kakiku membuat aku kesusahan untuk melakukan pertandingan. Dengan berbagai akal yang aku terapkan, akhirnya bisa mengamankan sepatu dan bisa bermain dengan sepatu yang pas.
Pertandingan ini adalah sebuah tarkam dengan batas umur U15. Pemain bisa diisi oleh wanita atau laki-laki. Melihat pemain lawan, nyaliku sedikit ciut. Postur tubuh yang tinggi membuatku sedikit gugup. Sedangkan tinggikku berada di dada mereka.
Aku masuk ke lapangan di menit ke 72. Dimana keadaan saat itu dimenangkan oleh tim lawan. Posisiku tepat sekali karena berada di bagian bek. Meskipun bek kanan, itu tidak masalah asalkan bisa melakukan apapun untuk menjaga pertahanan lini belakang.
Pada saat tim lawan menyerang, aku tidak bisa menghalaunya karena tubuhnya yang tinggi membuatku masih belum membernaikan diri. Aku hanya berusaha untuk merebut boal atau membuang boal untuk mengamankan serangan. Tim kami belum bisakeluar dari tekanan yang diberikan lawan.
"Fokus key, fokus"
Teriak David dari pinggir lapangan yang membuatku semakin fokus kembali. Aku memang belum beradaptasi dengan tim karena aku adalah pemain dadakan.
Tapi setidaknya aku bisa melakukan tugasku sebagai bek untuk menjaga lini pertahanan belakang. Aku juga kembali fokus saat tekanan demi tekanan datang di bagian lini belakang. Hingga apad akhirnya tim lawan berhasil mencetak gol.
"Key, jangan jatuhkan mentalmu dan kamu harus tetap fokus. Sekali lagi fokus. Bangun serangan yang kamu bisa lewat bola jauh ke depan. Karena striker tim kamu memiliki lari yang cepat" Ucap David memberikan aku motivasi saat tim lawan melakukan selebraai.
Aku mendengarkan perkataan David, lalu mencoba melakukan taktik yang David ajarkan. Aku mengoper bola jauh ke depan yang di ambil oleh nomor punggung 5 dan larinya pun cukup cepat. Sehingga serangan yang aku bangun bisa mereporkan pertahanna tim lawan berkali-kali. Peluang demi peluang mampu aku berikan.
Bahkan pelatih juga mengarahkan kapten tim untuk melakukan operan jarak jauh ke depan. Tapi harus tepat dan akurat. Meski tertinggal 3-0, aku tidak peduli. Operan demi operan dilakukan oleh semua pemain. Tidak ada yang melakukan operan pendek karena akan dapat kehilangan bola.
Pemain lawan memang tinggi tapi lemah dalam permainan bola atas. Sudulan mereka tidak akurat sehingga dapat mempermudah tim ku untuk melakukan operan bola jauh dengan kontrol bola yang bagus.
__ADS_1
Ketegangan demi ketegangan terlihat dari para pemain dan pelatih. Bahkan penonton juga tegang melihatnya. Sudha memasuki menit ke 80 tapi masih belum ada gol yang tercipta. Hingga akhirnya peluit di bunyikan saya aku mengoper bola ke depan.