
Kami saja yang berjalan-jalan sebentar sudah capek dan memilih istirahat di kamar. Bagaimana dengan mereka yang asik liburan dan bermain-main dengan wahana disana, pasti sangat melelahkan.
"Aduhh, capek banget" Aku melemparkan diri ke atas kasur.
Rasanya benar-benar capek dan remuk sekali. Tapi rasa lelah sudah dibayar dengan beberapa oleh-oleh yang aku belikan untuk keluargaku dan sahabatku.
"Iya bener capek banget" Ira juga melemparkan diri di sampingku.
"Mana ada, aku gak capek kok"
"Karena kamu naik kursi roda" Ketusku dengan Ira yang menjawab bersama.
Jelas sekali Ani tidak capek. Karena daritadi kami keliling pakai kaki sedangkan dia keliling menaiki kursi roda. Emang kocak sekali, salah satu teman yang tidak korsa karena naik kursi roda sendirian. Kan seharusnya kita tumpangi bertiga untuk memikul beban bersama.
"Eh bentar-bentar. Sepertinya ada yang baru nih" Ucap Ani seperti melihat sesuatu yang akan menjadi obrolannya dan lebih tepatnya aku menciun bau-bau gosip.
"Apaan" Tanyaku sambil tetap merebahkan diri.
"Tuuu" Mereka berdua menatapku dengan tatapan menyelidik.
Aku bingung dengan tatapan mereka. Aku intropeksi diri takut ada kesalahan dalam berpakaian. Melihat seluruh tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tapi sepertinya tidak ada yang aneh, mungkin mata mereka yang aneh.
"Kalung dari siapa tuh" akhirnya kepo mereka meronta-ronta saat melihat kalung yang mengikat di leherku.
"Ini, dari temanku" aku menceritakan sedikit bahwa ini kalung dari David sebagai tanda persahabatan.
Tapi mereka tidak percaya dan mengejekku, katanya kalau lelaki sudah memberikan sebuah tanda seperti kalung atau cincin maka dia akan menyatakan cintanya dengan serius.
Memang sih David menyatakan cinta tapi hanya lewat surat. Aku tidak tau itu cinta benar ataukah kebohongan. Takutnya setelah kembali ke sekolah, David akan menjauhiku lagi dan mendekat kembali bersama Adel.
"Dia memberikan ini sebagai kenangan saja. Krena dia akan melakukan seleksi timnas" ucapku.
"Akhirnya ada yang menyukaimu juga. Ku pikir kau tidak laku" mulut harimau mereka kini terbuka kembali.
"Enak saja, masalah laku atau tidak urusan belakang. Daripada kalian terus diucapkan kata-kata gombal dan ujung-ujungnya diputusin" pertempuran dimulai. Perang bantal kembali diadakan. Untung saja Ani kakinya cidera, kalau tidak dia pasti sudah memukulku terlebih dahulu.
*Buk, buk*
"hahahah" Terikaan di kamar kami yang terdengar jelas hingga ke luar.
Inilah yang aku suka, tidak ada rasa marah saat satu sama lain melakukan perkataan yang konyol. Masing-masing dari kami akan memasukkan kata itu sebagai candaan. Kata baper itu menghilang karena mereka yang bersamaku akan ketularan konyol.
Malam ini kami harus tidur lebih awal untuk mempersiapkan stamina besok pagi. Melakukan latihan untuk persiapan lusa yang akan datang melakukan pertandingan semi final.
Apapun yang terjadi kamu harus menemukan satu tempat untuk duduk di bangku final dan merebutkan juara. Suatu kebanggaan yang diidamkan oleh seluruh pemain mendapatkan piala kemenangan.
Di Lapangan latihan
"Ayo semangat, lihat itu perhatikan" teriakan yang khas di telinga kami saat melakukan latihan. Teriakan itu tidak membuat kami sakit hati melainkan membuat kami semakin bersemangat untuk berlatih.
"Tendangan kalian jangan terlalu melambung, usahakan tepat sasaran di kaki teman kalian" teriaknya di pinggir lapangan. Kami belajar dari kesalahan kemarin yang terlalu banyak melakukan tendangan langit.
Tendangan yang tidak terarah dapat merugikan tim dan akan menguntungkan bagi lawan. Apalagi lawan yang dihadapi memiliki postur tubuh tinggi, mereka akan mudah mendapatkan bola.
"Kalian harus berani berlari tanpa bola. Bukan hanya di lini depan, tapi lini belakang juga saat menerima bola dan melakukan tusukan lebih tajam" arahan yang diberikan setiap selesai melakukan latihan sore.
"Siap coach" kami terus mendengarkan arahan yang diberikan. Pemain yang hebat adalah mereka yang mendengarkan pelatih dengan baik bukan malah menentangnya. Kecuali pelatih itu melakukan kesalahan buruk.
Hanya beberapa pelatih yang melakukan kesalahan buruk. Selebihnya mereka adalah ayah yang baik dalam lapangan atau luar lapangan. Tidak ada seorang ayah yang ingin membunuh anaknya sendiri, walaupun masih ada 1 diantara 1000.
__ADS_1
"Latihan hari ini selesai. Semoga besok di pertandingan kalian bisa bermain lebih baik"
"Siap coach" latihan hari ini sudah selesai. Tadi pagi kami belajar dengan cara bermain lawan yang akan dihadapi, sore hari ini kami berlatih taktik.
Jadi tidak ada alasan jika kami belum siap menghadapi pertandingan besok. Apapun jalannya harus kami tempuh dengan semangat dan doa. Semoga besok menjadi hari yang membuat senyum merekah kembali.
Malam hari
"Hmmm, sepertinya angin malam tidak baik untukmu. Ayo kita masuk" aku melihat Ani yang sedang memandangi rembulan. Aku takut angin malam meresap di tubuhnya yang akan membuat dia sakit.
"Aku butuh ketenangan" Ani menolak untuk masuk. Aku paham kondisinya saat ini, dia pasti sangat sedih karena tidak bisa membela timnya.
"Kamu tau bola kan?" Ani mengangguk saat aku mencoba menghiburnya.
"Dia akan terus menggelinding, tidak selamanya dia akan berada di bawah ataupun di atas. Begitu juga denganku, tidak selamanya kaki itu berdiam diri atau menendang. Dia akan berputar di saat waktu yang tepat"
Ani tersenyum menatapku, aku senang melihat senyumnya kembali lalu aku menambahkan beberapa perumpamaan untuk menghiburnya. Memang hatinya kacau karena tidak bisa membela tim kesayangannya di pertandingan akhir.
"Cobalah tatap bulan, dia tidak selamanya bersinar. Kadang redup jika badai datang. Kemudian dia akan bersinar kembali disambut oleh para bintang yang menyembur di langit" ucapku kembali.
"Benar, bulan tidak selamanya utuh. Setidaknya bulan masih ada dan tidak menghilang sepenuhnya bukan?" Ani kembali mengangguk dengan ucapanku.
Aku memeluknya erat untuk memberikan semangat, bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Dan untuk hal hari ini tidak selamanya menjadi hari ini. Karena masih ada hari esok, lusa dan seterunya.
Maka jangan pernah beranggapan dunia akan berhenti saat dirimu sedang tidak baik-baik saja. Karena dunia sebenarnya tidak sekejam yang kalian kira. Dunia akan berputar sesuai dengan perintah yang maha kuasa.
"Ayo masuk" aku membawa Ani masuk ke dalam kamar dan membantunya untuk tidur di atas kasur. Kali ini giliran ku terlelap di bawah. Rasanya sangat tenang disini, karena saat aku menangis tidak ada yang mendengarnya.
Aku hebat bila memberikan semangat pada orang lain. Tapi yang menjadi misteri adalah aku orang bodoh yang kadang tidak mampu menyemangati diri sendiri saat hati sedang kacau balau.
"Mungkin ini kehidupan, namun aku yakin bahwa kehidupan tak selamanya menentang keinginanku" gumamku sambil menatap langit-langit kamar.
Aku lemah saat hatiku hancur, kehilangan arah yang dulu pernah membuatku menjadi tidak bisa mengontrol emosi. Bahkan rasanya tidak dapat keluar dari gerbang kekejaman dunia.
Tapi ketahuilah bahwa tempat yang nyaman untuk bersandar adalah menadahkan tangan memohon pada sang pemilik alam. Meminta disertai mengadu padanya yang bisa memberikan semua jalan keluar.
Pertandingan
__ADS_1
"Mari kita berdoa semoga pertandingan hari ini berjalan dengan baik" doa wajib dilakukan saat kami berada di ruang ganti dan akan keluar untuk melakukan pertandingan pada hari ini.
"Selesai"
"Alhamdulillah "
"Yeeyyyy" teriakan semangat selalu keluar sebagai tanda bahwa kami siap menghadapi apapun kali ini.
Tim kami bersiap diri untuk memasuki lapangan dan bertanding. Awalnya pertandingan ini biasa saja, tapi keraguanku kali ini terjawab tentang pemain yang sepertinya aku kenal saat menonton pertandingan mereka kemarin karena wajahnya yang kurang jelas dalam tontonan monitor.
"Ana" gumamku saat kami melakukan salaman persahabatan sebelum pertandingan dimulai. Dia melakukan senyum licik padaku.
Benar, dia adalah Ana yang pernah menjadi senior dalam satu sekolah. Ternyata setelah pindah dari sekolah kami, dia berada di sekolah luar kota dengan kembali masuk ke tim bola.
"Ternyata dia benar anak. Mataku tidak salah, dan sekarang terjawab semua pertanyaan dalam otakku" gumamku dalam hati saat melihat Ana yang akan menjadi lawanku sata ini.
Sepertinya setelah keluar dari sekolah, dia pindah bermain di luar kota. Atau mungkin dia sekolah di luar kota dan pindah disini untuk menutupi kejahatannya.
Kali ini aku harus bermain hati-hati. Karena aku tau bahwa anak akan bermain dengan keras. Apalagi dia menatapku dengan tajam seakan matanya berbicara bahwa dia akan membalaskan dendam.
*prittt* peluit panjang dibunyikan sebagai tanda permainan babak pertama telah dimulai. Kali ini yang menjadi tim kapten adalah Rika. Coach Jaka juga melakukan rombakan kecil di lini tengah. Karna Ani yang menjadi pemain andalan kami saat ini cidera.
"Heyyy" Teriakan coach Jaka selalu terdengar lantang dengan gaya intruksi melalui isyarat tangan.
Aku harus bisa berlari cepat melakukan naik turun untuk membantu pertahanan dan penyerangan tim. Tidak ada kata lelah karena kami tidak akan meremehkan lawan manapun.
Pertandingan sangat sengit, kali ini Ana menempati posisi penyerang. Posisinya berbeda dari dulu. Saat kami masih bersama di tim sekolah, dia berposisi sebagai bek sama sepertiku. Tapi kali ini dia merubah segalanya.
"Fokus, kejar nomor 3 key" Teriak Coach Jaka dari samping lapangan.
Nomor 3 yang dimaksud adalah Ana. Aku terus mengejarnya dan tidak akan membiarkan dia masuk ke daerah pertahananku dan meloloskan diri dengan mudah.
"Kamu pikir bisa mengejarku, tidak semudah itu ferguso" Kesombongan Ana kembali keluar dan terus mengejrk dengan gaya yang tidak pernah berubah.
Lebih baik aku terdiam dan akan ku tunjukkan bahwa tidak ada kata menyerah atau susah. Yang ada hanyalah mengejar dan mengatakan bola.
*bluk* aku berhasil merebut bola dari Ana. Aku terus berlari ke arah depan dan mencoba membidik rekan yang siap menerima bola. Kali ini mereka berani melakukan lari tanpa bola.
*bluk* sepertinya tepat sasaran. Tapi ternyata tendangan penyelesaian tidak bisa di lakukan dengan baik sehingga menyebabkan bola meleset di samping mistar gawang.
"Percuma saja umpanmu manis, tapi rekanmu kecut" Ana selalu memprovokasi ku.
Sepertinya dia sengaja agar aku marah dan diberi ganjaran kartu kuning. Kali ini aku akan menahan emosi agar bisa melakukan pertandingan dengan baik. Tidak akan melakukan kesalahan dengan ganjaran kartu kuning sia-sia.
Aku kembali berlari mundur dan bersiap mendapatkan bola di tempat pertahanan atau mengejar dan membawanya lari ke depan. Tapi ternyata bola jatuh di kaki lawan.
Ana terus meliuk-liuk dan berlari menuju arahku. Aku tidak bisa menghadangnya kali ini karena tipuan dia sangat cantik. Permainan Ana terus berkembang pesat, tapi aku haras tetap fokus agar bisa menghadangnya.
*bluk*
"Gollll" Ana berhasil lolos melewati ku. Dia melakukan eksekusi yang sangat baik sehingga dapat menghasilkan gol. Skor sementara saat ini adalah 1-0. Kekalahan sementara bagi tim kami.
"Ayo Key fokus, kamu pasti bisa" Gumamku untuk menyemangati diri sendiri.
"Ayo semangat, waktu masih panjang" Teriakan Coach Jaka di luar lapangan membuat semangat dalam diriku tumbuh lagi. Biarlah kali ini aku gagal mencegah Ana, tapi lihat nanti aku akan terus mencegangmya.
"Kamu tidak akan bisa mencegahku, kali ini kamu pemain ampas" Ana terus mengejekku dengan kata-kata kotor dari mulutnya. Ternyata dia tidak berubah dri dulu. Mulutnya terus menyinyir kata yang sangat buruk.
Aku menatap Ani yang menonton di bangku cadangan. Aku sudah berjanji padanya bahwa tim ini harus menang dan membuat Ani merasakan kemenangan juga. Aku tidak akan membiarkan Ani menonton dengan rasa kecewa.
Aku akui permainan mereka memang sangat cantik dan bagus, penyerangan mereka juga disiplin dengan taktik yang dimiliki. Pemain belakang juga melakukan tugasnya dengan baik. Tidak ada yang keluar arena terlalu jauh dari titik putih.
"Aku harus bisa membaca gaya permainan mereka, dan jangan sampai aku melakukan kesalahan lagi" Aku mengikuti permainan yang ada, dan juga mengikuti intruksi pelatih dengan baik.
Pertahanan yang sangat ketat membuat kami harus puas dengan hasil pertandingan babak satu dengan skor sementara 1-0. Aku marah pada diriku karena tidak bisa melakukan yang terbaik di babak ini.
"Lihatlah, kamu kalah bukan? Makanya jadi pemain itu yang elit jangan seperti sampah" Ana kembali memprovokasi ku setelah peluit panjang di akhir pertandingan babak satu ditiup.
"Apa maksudnya" Aku mengepalkan tangan dengan kesal. Mataku tajam menatapnya. Hatiku sudah siap untuk menghantam wajahnya dengan keras.
"Key" Ira datang dan merendamkna amarahku yang sudah melonjak karena hinaan Ana tadi. .
Kami masuk dengan wajah tertunduk di dalam ruang ganti. Wajah lesu karena menelan kekalahan. Mereka terlalu larut dalam kesedihan. Begitu juga denganku yang masih memikirkan ocehan Ana.
__ADS_1
Aku tidak boleh menyerah dan ocehan Ana adalah sebuah motivasi agar aku bisa bangkit dari kegagalan yang mengerikan. Ejekannya sebentar lagi akan menjadi tepik tangan.