Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
6. Mengajak Riki menonton bola


__ADS_3

Dengan kesal aku berjalan menuju kelas. ingin sekali aku hantam wajah mereka semua. gara-gara mereka aku tidak bisa makan pagi ini.


"Pagi key, kamu dari mana kok mukanya murung sih? " Tanya ari saat aku sudah sampai ke ruang kelas. Dikelas sudah ada ari yang sibuk dengan kacamata minus serta buku-buku yang dia baca. Seperti biasa kutu buku yang tidak pernah bosan berinteraksi dengan buku apapun.


"Hmm, pagi ri" Jawabku pelan karena menahan lapar. Aku juga menahan berbicara agar tenagaku tidak terkuras.


"Oh iya key, ini mamaku nitip bekal buat kamu" Tangan ari memberikan sebuah kotak makan berwarna hijau. Sedikit membuat semangatku kembali dan senyumku merekah walaupun tidak seutuhnya.


"Beneran ri? " Pertanyaan yang konyol serta heran dengan rasa yang tidak percaya. Karena pagi ini benar-benar rasanya menahan lapar serta ditambah menahan amarah.


"Iya bener" Ucapnya dan kembali menatap buku di tangannya. Tanpa basa-basi lagi aku langsung melahap makanan itu. Benar saja, sekali lagi aku bersyukur karena Allah itu baik bahkan sangat baik. Disaat aku kelaparan dan uangku tinggal sedikit, Allah memneriku bekal melalui ari dan mamanya. Jadi hari ini aku sudah tidak kelaparan lagi.


"Key, pelan-pelan makannya nanti tersedak loh"


"Iya-iya ri, ini sudah hampir habis kok" Sambil memasukkan sesendok demi sesendok makanan ke dalam mulutku. Ari juga memeberiku sebotol air minum agar aku tidak tersedak.


Benar-benar sahabat untuk masa depan yang selalu pengertian padaku. Hanya butuh waktu 5 menit aku melahap makanan dan kotak itu sudah bersih tidak tersisa apapun walau hanya sebutir nasi.


"Wah, wah, wah sudah jadi preman malah minta makan juga" Suara yang tidak asing tiba-tiba datang padahal tidak diundang seperti jelangkung saja. Yang sudah jelas ada yuri dan kawan-kawan nya berdiri di depan pintu kelas.


Bosan rasanya terus saja dia menggangguku dan selalu saja wajahnya muncul dihadapanku karena kami satu kelas. Semoga saja di kelas berikutnya kami terpisah dan tidak dalam satu kelas lagi.


"Kenapa? Memangnya kamu mau juga? Tapi sayang tinggal kotak makannya saja sama sendok nih" Sambil mengangkat kotak nasi kosong dan sendok yang masih melekat di tanganku.


"Ihhh jorok, nih rotimu sama kayak orangnya jorok" 2 roti yang terjatuh tadi mereka bawa dan diletakkan di depanku. Pikirnya seakan memaksaku untuk memakan roti kotor yang mereka beri. Sedangkan mereka langsung duduk kembali ke tempat masing-masing.


*brakkkk* beberapa siswa di dalam kelas terkejut termasuk yuri serta gengnya dan bahkan ari juga sama terkejut.


"Ini roti tadi aku kembalikan, kamu mau makan?" Tatapanku semakin tajam menatap yuri dan kawan-kawan nya saling bergantian. Kali ini aku benar-benar marah, harga diri diinjak-injak hanya karena sebuah roti.


"Itu kan rotimu, makan saja sendiri" Sahutnya dengan tatapan menjengkelkan padaku.


"Aaaaa sakit key, sakit" Hilang sudah kesabaranku, tangan ini langsung menjambak rambutnya. Senyum kejam kembali terlintas dalam bibirku. Tatapan ini menjadi-jadi bagaikan prikopat ingin memangsa korbannya.


"Sakit ya, apa mau rambut ini lepas dari kepalamu" Tangan ini masih mencengkeram rambut yuri. Bibirnya meringis kesakitan tapi aku tidak peduli.


"Ampun key, tolong lepaskan" Kali ini aku mendengarkan jeritan mohon ampun yang keras. Puas rasanya dan ingin melakukan lebih pada yuri.


"Yur, mendingan kamu minta maaf daripada key terus seperti itu" Bisik bela yang duduk di samping yuri. Bela juga menatap dengan ketakutan karena mereka baru kali ini melihat aku marah.


"Ihhh, mana sudi aku"


"Aahhh sakit key" Tanganku mengancam kembali setelah mendengar ucapan yuri yang tidak sudi meminta maaf padaku.


"I... .. Iya key, aku minta maaf key" Lucu sekali wajahnya memelas tidak seperti biasanya yang sok menjadi tukang merundung orang.


"Nah gitu dong, kan enak" Aku langsung kembali ke tempat duduk dan bersiap untuk melakukan pembelajaran jam pertama setelah bel berbunyi.


"Key, itu tadi kamu?" Tanya ari yang masih tercengang dan tidak percaya tentang apa yang aku lakukan tadi.


"Bukan, tapi power rangers pink" Jawabku pada ari yang menatap dengan keseriusan tapi aku jawab dengan candaan.


"Ih.., gila garang sekali seperti kucing" Lanjut ari.

__ADS_1


"Ini bukan kucing, tapi macan"


"Hahahaha" Kami berdua tertawa bersama-sama dan tidak lama kemudian bel masuk sudah berbunyi. Waktunya untuk bersiap diri menimba ilmu dan belajar.


Pelajaran dilakukan seperti biasa. Waktu demi waktu diselingi dengan buku-buku yang menyibukkan kepala untuk berfikir. Tetapi tidak dengan ari yang merasa santai menyerap ilmu dari buku manapun.


Sahabat si kutu buku yang sangat baik, tapi anehnya mengapa ari tidak memasuki sekolah yang paling bagus di kota ini. Padahal masih ada sekolah yang memiliki predikat prestasi yang lebih baik, tapi ari malah nyasar kesini dan bertemu aku. Ingin rasanya bertanya, tapi sepertinya itu masalah pribadi yang tidak baik aku tanyakan.


*kringgggg* bel pulang sudah bergema di setiap sudut sekolah. Waktu pulang telah tiba, membuat semua siswa bersorak bergembira. Aku juga merasakan yang sama senang dengan mereka, tapi di lain sisi aku bimbang karena tidak ingin pulang menemui ibu dan lelaki itu. Aku takut mereka masih ada di sana dan belum pergi.


"Key kenapa bengong" Sambil menepuk bahuku untuk menyadarkan dalam lamunan.


"Hmmm, tidak ri cuman berfikir saja" Sahut ku spontan.


"Tumben berfikir, biasanya malas berfikir hahaha"


"Iya juga ya, hahaha" Lagi-lagi kami berbicara dan bercanda saat berjalan di lorong-lorong sekolah. Padahal ada sesuatu yanga ku pikirkan, tapi sepertinya ari tidak perlu mengetahui apapun yang melayang dalam benakku.


"Sudahlah, ayo kita pulang ri"


"Yaudah ayo" Kami berdua berjalan menuju gerbang sekolah di depan. Mobil jemputan ari sudah menunggu disana. Setelah ari masuk kedalam mobil, aku juga bergegas pergi untuk pulang.


Melewati perjalanan yang ramai dan panas tapi yang paling aku sukai adalah persawahan yang menyejukkan. Langkahku bergegas untuk berlari, tapi saat ini tidak untuk pulang ke rumah karena takut masih ada mereka di dalam rumah.


Langkah selanjutnya adalah jalanan, tempat dimana aku mengadu nasib kembali. Mengganti pakaian sekolah dengan pakaian biasa yang aku gunakan saat berjualan.


"Untung saja tadi bawa baju ganti, jadi kan enak bisa jualan sekalian nanti ke lapangan bola" Gumamku yang baru keluar dari wc umum.


"Kok tumben kamu pulang sekolah langsung kesini" Tanya pak Abu selaku penjual koran yang aku jajakan. Saat tanganku sibuk mengambil dan menata koran ia bertanya padaku.


"Akhir-akhir ini aku tidak pernah melihat ibumu key saat melintas di rumahmu"


"Hmmmm, ibu sedang kerja pak" Jawabku singkat.


"Dimana kerjanya key" Pertanyaan pak abi bertubu-tubi. Orangnya jarang bicara tapi sekali bicara dia akan melakukan pertanyaan hampir menghabiskan lembaran jawaban bagiku.


"Aku kurang tau pak"


"Hmmm, ya sudah kamu jadi anak berbakti ya" Tangannya mengelus kepalaku dengan kasih sayang. Membuat bibirku tersenyum padanya


Pak Abi sangat mengenal ibuku, karena pertama kali aku terjun di jalanan adalah dengan ibu. Dan pak abi yang selalu membantu kami. Memang orangnya jarang berbicara tapi dia sangat baik dan perhatian padaku. Terkadang dia pula yang memberiku makan pada saat aku kelaparan di tengah-tengah berjualan koran.


Tangannya lembut bagaikan permata yang dikirim Tuhan. Umurnya memang sangatlah tua dan katanya sudah memasuki kepala 5. Tapi semangatnya masih membara berjualan koran di tepian trotoar. Pak abi menyayangi kami anak jalanan, dirinya selalu menghibur kami saat sedih ataupun gundah. Rasanya senang saja bila bersama pak Abi. Apalagi bersama riki teman jalanan ku satu-satunya yang siap membantu kapanpun yang aku butuhkan.


"Halo ki" Sapaku saat melihat riki sedang duduk di taman pembatas jalan.


"Iya key" Sahutnya yang agak lesu.


"Kamu kenapa ki, lagi sepi ya? " Riki mengangguk karena dagangannya masih banyak dan belum habis. Riki selalu berjualan dari pagi hingga petang. Karena dia sudah tidak sekolah, setidaknya mencari uang adalah jalan satu-satunya yang dia lakukan demi menghidupkan keluarga.


"Yaudah ayo semangat, kita jualan lagi" Semangat dalam diriku tersalurkan pada Riki yang murung. Meski hanya sedikit semangat, bibir Riki mulai melemparkan senyum untuk tetap berjuang.


Lampu merah telah menyala, aku dan Riki kembali menjajakan dagangan yang ada. Bertanya dari mobil satu ke mobil lainnya. Syukur alhamdulillah beberapa koran ku terjual. Begitu juga dengan Riki, beberapa tisu dan minumannya sudah ada yang beli. Senang rasanya apabila dagangan kita ada yang beli.

__ADS_1


Terkadang pembeli ku banyak yang bilang, sebenarnya mereka tidak membutuhkan koran tapi saat melihat aku yang sibuk menjajakan koran mereka langsung merubah pikiran. Membeli koran dari seorang anak kecil yang berjuang untuk mendapatkan uang tanpa gengsi sedikitpun. Anak yang masih kecil rela bergelut dengan terik panas ataupun hujan. Aku dan Riki tidak pernah memikirkan itu karena hal yang terbaik adalah mendapatkan uang.


Berselang berapa lama kami jualan, tubuh mulai lelah dan memilih untuk beristirahat di tempat halte sepeti biasa. Hanya membeli 2 gelas minuman air mineral di warung pak abu sudah bisa melegakan tenggorokan yang kering.


"Oh iya key aku mau tanya, kenapa kamu jarang berjualan sampai sore lagi?" Matanya menatapku dengan penuh rasa penasaran yang ada.


"Hmmm, anu ki" Pikirku masih bimbang apakah boleh memberitahu Riki tentang bola dan masih saja bertanya-tanya sendiri dalam benak ini.


"Anu apa key, soalnya kamu jualan hanya 2 jam saja. Apakah kamu sudah banyak uang key"


"Bukan ki, aku sedang bermain bola"


"Apa bola?" Aku hanya mengangguk dan mengiyakan kembali tentang pernyataan Riki.


"Bagus key" Aku langsung memalingkan wajah dan menatap Riki dengan tajam. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Perkataan bagus yang masih belum aku pahami.


"Maksudnya ki? " Tanyaku yang bingung, apakah Riki mendukungku hingga dia berkata bagus.


"Gini ya, aku dari dulu ingin main bola tapi karena keadaan cita-citaku tidak tercapai, jadi saat aku mendengar kamu bermain bola aku ikut senang key" Ucap Riki saat mencoba menjelaskan apa yang dia katakan tadi.


Riki menceritakan semuanya, pada saat duduk di bangku kelas 1 ayahnya selalu mengajak dia menonton pertandingan bola. Walaupun hanya tarkam, tetapi dia sangat senang hingga ia memiliki cita-cita untuk menjadi pemain timnas Indonesia.


Ayahnya selalu melatih Riki dengan latihan selayaknya pemain bola yang profesional. Bila tidak ada bola yang bagus setidaknya masih ada bola plastik yang digunakan untuk melatih tendangan. Dukungan ayahnya sangat besar pada Riki, kakinya sudah terbiasa dilatih oleh ayahnya.


Karena cita-cita ayahnya belum tersampaikan dari dahulu untuk menjadi pemain bola yang profesional. Dan ayahnya hanya menjadi kuli bangunan. Tapi saat itu impian Riki dan ayahnya benar-benar terkubur dalam-dalam bersama Wafatnya ayah Riki. Ayahnya meninggal saat Riki duduk di bangku kelas 5.


Bibirnya mencekam duka yang terdalam. Mimpinya terkubur tanpa ampun bersama tanah. Tidak ada lagi yang bisa dikatakan karena bermain bola sudah tidak lagi menjadi tujuan utama. Karena tujuan utamanya adalah meraih rupiah demi bertahan hidup.


Dilain sisi aku senang dengan cerita Riki karena menemukan teman yang juga sama mencintai bola. Tapi di sisi lain aku bersedih karena cita-cita Riki dikubur dengan paksa secara perlahan hingga tidak tersisa lagi ujungnya untuk diungkapkan.


"Oh iya ki, kamu mau gak nanti sore ikut aku ke lapangan bola"


"Dimana key? "


"Di dekat rumahku, disana banyak anak-anak yang berlatih bahkan aku juga berlatih"


"Serius kamu key, memangnya kamu ikut klub bola? " Tanya Riki sambil memajukan wajahnya dengan tatapan bertanya-tanya.


"Ya nggak lah, aku lihatnya sembunyi"


"Hahahahahhaha" Tertawa Riki dan aku menjadi satu karena mendengar kata bersembunyi. Akhirnya aku kembali melanjutkan jualan bersama Riki.


Menit per menit kami lalui berdua, berjalan dari tepi ke tepi jalanan menjajakan dagangan. Syukur alhamdulillah dagangan Riki tinggal sedikit, begitu pula dengan koran ku. Biasanya Riki akan mengambil lagi untuk kembali berdagang. Tapi kali ini Riki menitipkan tempat dagangnya ke warung pak Abi. Karena kami akan berlanjut ke lapangan tempat dimana anak-anak berlatih bola.


"Yuk ki, ini sudah waktunya mereka berlatih" Ucapku sambil menarik Riki ke warung pak Abi.


"Kalian mau kemana? " Tanya pak abi pada kami yang jarang pergi bersama.


"Pak abi kami mau pergi sebentar, aku titip dagangan dulu ya" Ucap Riki yang menghampiri pak abi di dalam warung.


"Yaudah hati-hati ya"


"Siap pak" Ibu jari sudah diacungkan oleh aku dan Riki untuk menandakan bahwa kami mengerti.

__ADS_1



__ADS_2