
Jika masih ada aku, maka tidak akan aku biarkan mereka bebas berdiri dan menendang bola ke dalam gawang. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menahannya. Jatuh bangun aku mencegah dan terus berlari untuk mendapatkan bola dan mengopernya ke depan. Jersey yang bersih kini sudah kotor bercampur dengan lumpur karena lapangan habis diguyur hujan.
"Terus naik key, naik" teriakan coach Alam di pinggir lapangan menambah semangatku. Aku semakin mempercepat lari untuk mendekati pertahanan lawan.
Perjuangan kami tidak sia-sia, di menit ke 31 kami berhasil mencetak gol dan skor sementara 1-0 kemenangan untuk tim kami. Gol dihasilkan dari tendangan yang dilesatkan sempurna ke gawang oleh Mega. Dan akulah yang memberikan assist untuk Mega. Kami melakukan selebrasi sujud syukur laku teriak semangat di bangku cadangan.
"Gol, gol, gol horeeee" Teriakan penonton juga dapat memenuhi lapangan pertandingan kalo ini. rasanya sangat menyenangkan dan merinding.
Saat merayakan kemenangan coach Alam sibuk menerima telpon, lalu wajahnya berubah menjadi muram padahal kami membuat gol dan merubah skor sementara. Entah siapa yang menelpon dan entah apa yang dibicarakan hingga wajah itu semakin kusut.
Tidak berselang lama dari gol yang diciptakan sebelumnya. Tiba-tiba di menit ke 35 aku digantikan oleh Ana. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, aku merasa heran padahal permainan yang aku berikan sudah sepenuhnya baik sesuai intruksinya. Aku tidak mengerti kenapa bisa diganti, padahal menurutku permainanku tidak begitu buruk selama dilapangan.
"Woyyyy,,,, huhuhuhuuuu" Sorakan semakin ramai saat penonton tau bahwa aku keluar dan digantikan oleh Ana.
Aku tidak bisa apa-apa hanya menunduk dan sedikit kesal. Melirik ke Ana dan dia seakan menandakan bahwa aku kalah. Senyum licik dari bibirnya mengatakan semuanya. Bahkan dia tidak mau bersalaman denganku saat ingin masuk ke lapangan. Bersalaman dengan Coach Alam, tapi matanya menarapku tajam dalam tatapan sendu. Ada isyarat yang ingin dia katakan tapi tak sampai.
"Key, semangat kamu hebat" sambutan baik dari teman satu tim yang duduk di bangku cadangan.
Aku mencoba tenang duduk di bangku cadangan dan melihat permainan yang ada. Baru saja aku keluar, permainan menjadi kacau hingga tim lawan terus menyerang dan mereka menghasilkan gol balasan ke gawang kami di menit ke 38.
"Aduhhh, mengapa bisa" kesalku sambil. mencambak rambutku sendiri.
Semua pendukung kami bersorak kesal atas kebobolan di gawang kami. Aku hanya diam mencoba tenang dan terus tenang. Wajah yang tegang aku ulur agar terlihat senyum untuk menyemangati rekan di tengah lapangan hijau.
"Semangat woyyy, kalian terbaik. kalian pasti bisa" Apapun yang terjadi, konsentrasi tidak boleh kendor.
Permainan terus diperlihatkan dari masing-masing tim kesebelasan. Sedikit mataku menatap ke coach Alam. Perubahan diperlihatkan saat aku bermain dan menjadi cadangan saat ini. Coach Alam menjadi banyak diam tidak memberikan instruksi saat aku duduk di bangku cadangan.
Raut wajah bercampur kesal, sedih dan sendu yang diperlihatkan menjadi satu. Aku tidak tau darimana aku membaca raut wajahnya terlebih dahulu. Karena menurutku semua berbaur dalam tatapannya yang kini mulai meredup dan bibirnya sedikit membisu.
Hingga peluit babak pertama berakhir, skor masih sama imbang yaitu 1-1. Raut wajah sedikit agak muram dari seluruh pemain. Bahkan wajah coach Alam juga sedikit muram dan tidak seperti biasanya.
"Saya minta pada kalian untuk fokus, saya harap kalian bermain dengan baik sesuai tanggung jawab dari masing-masing punggawa. Kemenangan adalah kehormatan tapi kalah dengan hormat adalah junjungan dari rasa hormat. Saya harap kalian bermain dengan hati"
"Siap coach"
Tidak seperti biasanya nasehat atau arahan dari coach Alam seperti ini. Tentang kemenangan, kekalahan atau kehormatan. Aku masih tidak mengerti apa yang dia maksudkan. Biasanya dia selalu berkata bahwa kita harus bermain keras dan kita harus bisa menang. Apapaun alasannya berjuang mati-matian untuk kemenangan. Tapi berbeda dengan arahan kali ini, benar-benar sangat berbeda.
15 menit istirahat telah usai. Kami semua bergegas masuk kedalam lapangan untuk pertandingan. Beberapa pemain inti juga ada yang dicadangkan. Aku berfikir mungkin saat ini dicadangakan agar bisa melakukan permainan menuju final.
Tapi sepertinya ada yang aneh, karena beberapa pemain inti diganti karena ada yang menyimpan energi untuk pertandingan selanjutnya. Itupun mereka diganti di babak kedua. Tapi aku? Mengapa harus diganti di babak pertama dan di menit setelah tercetaknya gol dari assist yang aku berikan. Semua hanya bisa berkeliaran di pikiranku yang bimbang. Hanya bisa diam dan melihat pertandingan di babak kedua.
*pritttt* babak kedua telah dimulai. Pikiranku tidak lagi fokus pada pertandingan. Pikiranku terbang dan masih bertanya-tanya tentang keputusan yang diambil oleh coach Alam. Aku tidak mengerti lagi harus berbuat apa. Tapi yang pasti hanya duduk di bangku cadangan dan berdiam diri menikmati pertandingan saat ini.
Permainan sudah dimulai, serangan demi serangan yang dilakukan oleh lawan membuat tim kami sangat kerepotan dengan serangan tersebut. Beberapa tendangan dari tim lawan masih bisa di tepis oleh penjaga gawang. Tapi serangan demi serangan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Tim lawan melakukan tendangan yang on target hingga menghasilkan gol.
"Heyy.... fokus jaga jangan kendor" Teriakan itu bercampur dengan kekesalan. Kali ini coach alam tidak bisa tinggal diam karena kesalahan berulang kali dari tim kami.
Gol demi gol yang mereka lakukan membuat skor menjadi 4-1. Tim kami kalah telak hingga peluit babak kedua berakhir. Semua pemain menangis karena gagal masuk kedalam final. Sedangkan beberapa pendukung kami ada yang bersorak memberikan semangat ada yang bersorak kejam pada pemain atau coach alam.
__ADS_1
"Coach alam out"
"Coach alam gak mikir"
"Beknya kampungan"
"Key tetap stay"
"Ana out"
Aku tidak mengerti dengan kericuhan ini. Mereka semakin gaduh hingga kami terpaksa harus segera menuju ruang ganti. Aku mencoba menenangkan para pemain yang menangis karena gagal masuk ke dalam final.
"Tenang semuanya, kita masih memiliki kesempatan untuk merebutkan juara tiga. Kekalahan ini bukan akhir dari segalanya jadi ayo angkat kepala kalian. Tunjukkan pada dunia bahwa kalian bisa"
Aku terus teriak memberikan semangat pada mereka semua. Tidak ada lelah menghampiri satu per satu para pemain yang bersedih. Ada yang merasa gagal dan berbuat kesalahan hingga kebobolan gol dari lawan.
Ada yang menyalahkan satu sama lain yaitu Ana. Dia selalu menyalahkan orang lain tanpa berkaca dulu tentang apa yang dia perbuat tadi di lapangan. Karena dia pertahanan semakin hancur saat passing yang dia berikan salah umpan dan memberikan bola percuma pada lawan hingga menghasilkan tendangan yang sangat bebas tanpa pengawalan dari siapapun.
"Ana bisakah kau dian, kita semua berjuang sama-sama. kesalahn itu terjadi dari diri sendiri maka koreksi lah dirimu sendiri dan jangan mengalahkan" Ucapku dengan kesal membuat Ana yang daritadi mengoceh tidak jelas seketika terdiam.
Dalam pertandingan kita semua tim. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang hebat. Karena semua dibangun dalam satu atap, yaitu atap sepak bola.
Biasanya ruang ganti di penuhi dengan bahagia dan tawa. Tapi kali ini semuanya menangis. Aku juga sedih, tapi tidak baik harus berlarut-larut karena masih ada waktu 3 hari lagi berlatih dengan baik dan melakukan pertandingan untuk merebut juara 3.
Para pemain bersiap diri untuk pulang menaiki bus yang sudah disediakan. Dan aku masih sama menunggu coach Alam keluar dari ruang ganti. Aku ingin bertanya mengapa dia harus menggantiku padahal aku sangat ingin menunjukkan permainan yang baik agar bisa mendapatkan kemenangan.
"Coach, maaf saya ingin bertanya" Ucapku yang menghentikan langkah coach Alam. Dia membelakangiku dan menghadap kedepan. Tiba-tiba tubuhnya membalik dan menatapku.
"Maafkan saya, kamu masih yang terbaik key"
"Tapi coach, apa maksdunya. Saya ingin penjelasan yang panjang coach"
"Tidak Key, kamu harus terus berjuang ya"
Aku tidak mengerti dengan perkataan coach Alam. Tanpa sepatah kata lagi dia pergi meninggalkanku. Aku juga bergegas agar tidak ketinggalan bis.
Sesampainya di sekolah, dia sana sudah banyak siswa yang melakukan aksi demo atas keputusan yang diambil coach Alam karena dia telah menggantiku saat performa yang aku berikan cukup baik, lalu aku keluar dan semuanya berubah.
Bukan hanya penonton yang kecewa, tapi aku juga yang kecewa dengan semuanya. Seperti demo saja, banyak spanduk yang mengatakan bahwa coach Alam out. Jika coach alam out, lalu siapa yang akan menggantikannya. Menurutku dia masih yang terbaik, jika saja coach Alam keluar dari tekanan seseorang itu. Mungkin hidupnya akan tenang tanpa harus bercampur tangan dengan hal kotor dari lelaki itu.
Terlalu banyak yang mengeluarkan pendapat di dalam sekolah. kami para tim dan coach Alam hanya bisa berdiam diri di dalam aula yang dikunci. Beberapa pemain terdiam karena rasa terpuruk yang dialami karena menelan kekalahan..
"Kalian kenapa sedih, kami masih memiliki kesempatan untuk merebut juara 3. Kalian adalah pemain terbaik, ayo angkat kepala kalian dan tunjukkan bahwa coach Alam bisa membawa kita meraih kemenangan" Aku berteriak tidak karuan di dalam aula.
Semua mengangkat kepala secara bersama. Matanya tajam menatapku yang terus saja berteriak dengan kata semangat. Bahkan coach Alam juga berdiri untuk memberikan smangat pada mereka.
"Saya berjanji akan membawa kalian untuk juara, dan saya juga akan berjanji jika kalah nanti saya adalah penanggung jawab yang pertama dan harus keluar. Jadi saya yakin bahwa kalian yang akan menunjukkan kehebatan untuk menjaga nama baik tim ini" Coach alam semakin membakar semangat kami.
Aku senang karena semua sudah berani mengangkat kepalanya dan tidak baik sang punggawa harus menunduk lesu hanya karena kekalahan. Kekalahan hari ini adalah kekalahan yang terhormat karena dijunjung rasa kemanusiaan antar lawan.
__ADS_1
"Bagaimana ini, apa yang harus saya lakukan? " Ucap kepala sekolah yang juga ikut panik karena kericuhan yang ada.
"Maaf Pak, ini tanggung jawab saya jadi saya yang akan meyelesaikan ini semua. Mohon agar tenang pak" Ucap coach Alam pada kepala sekolah yang mulai mondar-mandir memikirkan kericuhan yang ada.
Coach Alam mencoba mengatakan pada semua siswa yang ricuh di luar sekolah. Dengan rasa berani dan tanggung jawab yang besar jiwanya membuka suara. Dia mengakui bahwa keputusan yang dia ambil dan semuanya terjadi karena salahnya.
Dia akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Jika di pertandingan terakhir kita bisa merebut juara 3 maka dia berhasil tapi jika kalah maka dia akan mengundurkan diri dengan lapang dada. Apapun yang terjadi dia akan berjuang sekali lagi hingga titik darah penghabisan.
Karena perkataannya, semua siswa menjadi tenang. Mereka kembali ke tempat masing-masing dan meninggalkan kerumunan. Para pemain siap bergegas untuk pulang ke rumahnya. Bahkan kali ini aku pulang dengan naik bus yang ada.
Besoknya di sekolah kembali ricuh di pagi hari. Banyak poster yang ditempel dengan menyatakan bahwa coach Alam harus keluar sebagai pelatih tim sekolah. Aku geram melihat poster ini dan mencoba membersihkan nama coach Alam.
Wajahku sudah geram pagi-pagi. Mereka telah membuat hal yang kejam pada coach Alam aku tidak akan membiarkannya. Saat ingin pergi ke dalam kelas, aku melewati ruang kepala sekolah dan melihat coach Alam yang berbincang dengan kepala sekolah.
"Saya berjanji pak, jika di pertandingan terakhir saya kalah maka saya akan angkat kaki dari sini"
"Baguslah jika begitu, saya akan Terima keputusanmu asalkan sekolah kami menjadi kondusif kembali"
\*tok, tok, tok\*
"Ijin masuk pak"
"Iya key, ada apa?" Aku mencoba mengumpulkan semua niatan dan mencoba berbicara pada kepala sekolah.
"Ijin pak, coach Alam tidak pantas untuk angkat kaki dari sekolah ini. Karena dia sudah memberikan pelatihan yang terbaik hingga kami mampu masuk ke semi final. Hal ini adalah sejarah yang paling utama dari tim kami. Karena tidak pernah kami melangkah ke pertandingan yang lebih jauh sebelumnya" Aku mencoba menjelaskan sedikit yang aku bisa.
"Kamu benar key, tapi ini sudah keputusan dia. Dan karena dia semuanya menjadi kacau" Sahut kepala sekolah padaku.
Aku berfikir sejenak, entah apa lagi yang akan aku lakukan untuk meyakinian kepala sekolah bahwa coach Alam adalah pelatih terbaik yang dimiliki selama ini. Ingin rasanya aku berkata bahwa coach Alam memiliki tekanan tapi bibirku terbungka karena tidak bisa berucap.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1