Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
133. Ani Menghilang


__ADS_3

Selama 45 menit kami berdiam diri menatap permainan Indonesia. Dari penampilan David yang aku lihat, sepertinya dia masih belum bisa beradaptasi dengan baik walau permainannya sudah cukup bagus.


Umpan yang dia berikan dan oenyerang sudah baik, namun masih ada beberapa sentuhan akhir belum sepenuhnya memuaskan.


"Oh, gol, aduhhh"


"Yahhh, sedikit lagi weee" Setiap melihat pertandingan bola pasti ada geregetan para penonton. Apalagi aku dan bapak yang selalu saja heboh sendiri.


"Yah, gollllllll" Akhirnya percobaan yang diberikan berkali-kali dapat menghasilkan gol. Kemenangan sementara 1-0 untuk timnas Indonesia.


Aku terus menontonnya hingga akhir dan tetap memantau permainan David. Di babak kedua dia diganti, mungkin ini salah satu strategi pelatih agar David bisa berkembang lebih baik lagi dan tenang saat memegang bola.


"Kenapa David di ganti key? " tanya bapak dengan heran.


"Mungkin David perlu adaptasi pak"


"Sayang sekali, padahal permainannya sudah baik"


Dari segi penyerangan sudah terlihat jelas Indonesia unggul, aku senang melihatnya walau ada koreksi sedikit yang tidak mengenalkan mata yaitu beberapa salah umpan.


Pertandingan malam ini dimenangkan oleh timnas Indonesia dengan skor 3-0. Dengan senang hati aku merayakan bersama keluarga.


Teriakan yang sangat heboh saat Indonesia mencetak gol. Begitu juga dengan kemenangan Indonesia menjadi penutup teriakan meriah di dalam rumah.


"Sepertinya aku harus menghubungi David untuk memberikan semangat" Ucapku dalam hati sambil mengambil ponsel dan segera mengirimkan pesan pada David.


"Hai David, selamat ya atas kemenangan Indonesia. Permainan kamu sudah baik hanya sja kamu belum percaya diri. Semoga pertandingan yang akan datang kamu bisa memperbaiki lagi mentalmu agar bisa bermain di waktu yang penuh"


*ting* (pesan terkirim)


"Keyla"


"Iya bu"


"Tidurlah nak karena sudah malam, dan besok kamu harus sekolah kan? "


"Baik bu"


Setelah aku berdiri dan berbalik, rupanya mbak Yeni sudah ngorok terlebih dahulu di atas sofa. Sedangkan mbak Nike juga sudah tidur di kamar. Aku menatap mbak Yeni dengan penuh arti lewat senyuman licik.


"Bangunnnnn" Teriakku membuat mbak Yeni langsung berdiri.


Aku dan bapak tertawa terbahak-bahak melihatnya. Akhirnya pembalasanku selesai juga. Suatu kebahagiaan di saat bisa menjaili salah satu saudaraku ini. Karena dia orang yang sangat jahil.


"Keylaaaaa" Aku segera berlari ke kamar dan tidur di dekat mbak Nike.


Jika mbak Yeni marah maka dia tidak bisa membalasnya karena aku tidur di dekat mbak Nike. Jika tidak maka dia akan kena marah oleh harimau yang tidur.


Aku membalik jempol saat melihat mbak Yeni mengejar ke kamar. Dia tidak berani berisik karena takut dengan amarah mbak Nike. Hingga pada akhirnya aku tertidur lelap di samping mbak Nike.




"Bu, pak, Key berangkat sekolah dulu" Aku kembali pergi ke halte untuk menunggu angkot.



Mencoba melupakan semuanya yang telah terjadi di hari kemarin dan mencoba menyambut pagi ini dengan senyuman bahagia.



Doaku di hari ulang tahun kemarin adalah ingin menjadi pemain timnas putri dan di saksikan oleh orang-orang yang aku sayang. Dan juga semoga sahabat, keluarga dan orang-orang yang aku sayang selalu dalam lindungan Allah dimanapun kakinya berpijak.



"Keyyy"


"Riki, tumben sekali baru datang. Biasanya pagi ini sudah ada di jalanan" Dengan wajah yang sehat dia datang menghampiriku yang sedang menunggu angkot.



"Sebenarnya hari kemarin adalah hari yang spesial tapi aku merayakannya hari ini" Aku tidak tau apa yang sedang Riki bicarakan. Aku mencoba memahaminya tapi masih belum mengerti.



"Nih buat kamu, tidak seberapa sih. Tapi aku harap kamu menyukainya" Sekotak kecil kado dari Riki. Isinya memang tidak mewah tapi caranya memebrikan kado itu padaku sangat mewah.



"Terima kasih banyak Riki" Aku memeluknya dengan erat. Lalu berpamitan pergi meninggalkan Riki karena angkot sudha datang.



\*ting\* (pesan masuk)



"Ani hilang? " Aku terkejut saat melihat berita di grup klib. Coach jaka memberikan berita tersebut, sedangkan aku tidak tau hal itu.



"Coba aku telpon dulu, siapa tau si Ani kutu kupret itu becanda" Gumamku kembali menelpon.



\*derttt,,, dertttt,, \* (suara telepon)


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau..."



"Kok gak aktif ya" Berulang-ulang aku menghubunginya tapi tidak ada jawaban juga.



Pikirku menjadi bimbang di dalam angkot, padahal kemarin dia sudah pulang saat aku kembali lagi ke tempat latihan.



"Kamu kemana sih an? " Hatiku benar-benar tidak tenang, aku sudah menghubungi Ira dan teman-teman lainnya tapi mereka tidak ada yang tau.



Beberapa dari teman-teman ku berkata bahwa Ani pulang paling belakang bersamaku. Aku juga sudah menjelaskan bahwa Ani sudah pulang saat aku kembali lagi untuk menemui Ani di tempat latihan.



"Kemana dia pergi" Kecemasan terus berputar di otakku.



Aku tidak tau lagi kemana dia pergi dan aku juga tidak mengerti kemana Ani pulang. Mana mungkin dia lari bersama mantan pacarnya, sedangkan dia anak baik-baik.

__ADS_1



"Pak kiri" Aku turun dari ngkot dan masuk ke dalam sekolah.



"Key" Yuri memanggil dengan keras saat kami berjalan di lorong kelas.


"Yuri"



"Key tau gak tadi malam Indonesia menang melawan singapura dan David juga bermain di tim inti kan? "



"Iya benar" Aku mencoba tersenyum untuk menutupi kecemasan tentang Ani.



"Dia bermain bagus tapi diganti pada babak kedua" Ocehnya tentang bola. Tiba-tiba ponselku berdering dan terlihat coach jakarta menelpon ku.



"Yuri kamu duluan ya, nanti biar aku susul dulu"


"Oke siap"



Coach Jaka mencoba menanyakan tentang keberadaan Ani padaku. Aku hanya bisa menjelaskan terakhir kita bertemu kemarin. Dan kita hanya berpisah saat aku pulang di jemput oleh sahabat ku. Sedangkan Ani masih duduk menunggu ayahnya namun setelah aku kembali lagi untuk mengatakan sesuatu, Ani sudah tidak ada di tempat itu.



"Lalu apakah kamu tidak tau lagi kemana Ani pergi Key? "


"Tidak coach, karena pada saat itulah terakhir kami bertemu " jelasku yang membuat coach Jaka mengerti.



Aku tidak tau lagi kemana Ani pergi, padahal kemarin dia masih baik-baik saja. Tidak cerita tentang masalah keluarga dan masalah percintaannya. Dia juga selalu tersenyum tanpa ada wajah murung.



"Kamu kemana sih Ani" Tubuhku mondar-mandir sambil mengoceh sendiri. Hatiku semakin khawatir mendengar kabarnya.



\*brak\*



"Maaf, maaf key"


"Hahhahaha" Dia berbuat ulah saat hatiku tidak tenang.



Adel sengaja mendorong siswa yang lewat agar menabrak ku. Sekarang dia tertawa bahagia. Karena menyakitiku adalah kebahagiaan dirinya.



"Iya gapapa, pergilah" Dia langsung pergi dan meninggalkan kami. Tatapanku mendekat pada wajah Adel dengan rasa amarah.




"Aaaa, sakit tau" Ketuanya dengan kesal.



"Sekali lagi kamu menggangguku, maka habis riwayatmu" Geram sekali rasanya ingin menampar kembali. Hatiku sedang kacau dan dia datang ingin menambah kekacauan ini.



"Emangnya kamu siapa, mengancamku semaumu. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Woy Keyla, woy" Dia terus berbicara dan teriak tidak jelas saat langkahku telah berlalu dari hadapannya.



Aku mendengarkan jelas ocehan itu tapi tidak ada gunanya untuk terus mendengarkan debu kecil seperti dirinya. Lebih baik aku pergi daripada nanti semakin berbuat masalah karena tidak kuat menahan amarah.



"Key wajahmu kenapa terlihat begitu cemas"


"Ani menghilang Ari, Yur"


"Apa? "



Mereka berdua terkejut mendengarkan berita ini. Pikir mereka sama denganku masih tidak percaya karena kemarin dia sudah pulang bersama ayahnya.



"Mengapa bisa begitu? "


"Aku tidak tau, padahal kemarin masih bersama kita" Pikiranku semakin kacau. Salah satu sahabatku Ani menghilang tanpa jejak dan kabar sedikitpun.



Pelajaran kali ini benar-benar tidak bisa masuk dalam kepalaku. Karena isi otakku sangat penuh dengan nama Ani yang menghilang. Aku tidak bisa berkata apaun lagi karena tidak memiliki jejak tentangnya. Bahkan kedua orang tua Ani sudah melaporkannya ke polisi.



\*tetttt\* bel istirahat berbunyi, rasanya sangat malas untuk pergi ke kantin.



"Ayo kita ke kantin"


"Kalian saja kesana, aku lagi malas"


"Baiklah, aku saja yang pergi ke kantin dan kalian berdua tunggu di sini ya" Yuri memilih pergi sendiri untuk membelikan kami berdua makanan dan minuman.



Sedangkan Ari dia lagi tidak enak badan makanya tidak ingin pergi ke kantin. Wajahnya memang sangat pucat tapi dia masih semangat untuk pergi bersekolah.



"Kenapa kamu tidak istirahat saja, apa aku antarkan ke kantin saja ri?

__ADS_1


" Tidak usah Key, aku baik-baik saja" Kata baik yang dibicarakan semakin membuatku khawatir melihatnya.



"Aku ambilkan obat saja ya? "


"Jangan, aku sudah membawanya kok" Ari mengeluarkan 2 jenis obat dari tasnya. Katanya dia menunggu makanan dari Yuri datang lalu meminum obat tersebut.



Obat itu bukanlah obat biasa. Bungkusnya asing, saat aku ingin membacanya Ari merampas dan melarang ku. Dia hanya berkata bahwa itu hanya obat untuk meriang.



"Oh iya Key, kemarin kamu sempat kembali ke Ani dan ingin berbicara sesuatu kan. Memangnya apa yang ingin kalian bicarakan" Mataku melotot dan mengingat hal tersebut.



Rupanya itu salah satu jawaban untuk kebingungan ku tentang Ani.



"Dengar ri" Aku menceritakan pada Ari. Bahwa sebelumnya Ani ingin membicarakan padaku bahwa ada seseorang yang mengincar ku tapi kata-katanya berhenti saat dia ingin berbicara bahwa orang tersebut ingin berbuat sesuatu. Dia belum menyelesaikan hal itu namun sudah menghilang.



"Apa ini ada hubungannya denganmu Key? "


"Sepertinya, sepulang sekolah ikutlah denganku ri"


"Oke"



Aku yakin bahwa penculikan Ani berhubungan dengan orang yang sedang menyinggung namaku. Aku yakin itu dan pasti akan ada petunjuk baru tentang Ani.



"Heyyyy, makanan sudah datang" Dengan rempong Yuri membawa makanan dan minuman. aku segara berdiri dan membantunya. Memang anak satu ini lain dari yang lain. Selalu antusias bila menuju ke kantin.



Kami melanjutkan makan bersama dan tidak menyinggung tentang Ani. Aku tidak ingin Yuri ikut dan terlibat dalam kejadian ini. Lebih baik aku dan Ari saja yang menelusuri.



Pulang sekolah



"Key ayo, jangan sampai Yuri tau" Kami sengaja berjalan paling belakang dan menunggu Yuri pergi bersama supirnya. Lalu aku ikut ke mobil Ari dan bergegas ke tempat latihan kemarin untuk mencari petunjuk.



Dalam perjalanan aku berharap ada sesuatu yang bisa aku cari agar dapat menemukan Ani. Aku tidak ingin dia kenapa-napa, karena jika Ani terluka maka aku tidak bisa menyalahkan diriku sendiri.



"Pak berhenti di sini saja" Perintah Ari pada supirnya.


"Baik den"



"Sebentar Key, disana sudah ada polisi yang ikut menyelidiki. Sepertinya kita tidak bisa mendekat"



Benar kata Ari, apabila aku mendekat ke tempat kejadian hilangnya Yuri maka aku akan menjadi salah satu orang yang diintrogasi oleh mereka. Lebih baik aku berdiskusi dan memantaunya saja dari dalam mobil.



"Apakah aku harus meminta tolong pada Ari untuk mencari tau isi ponsel yuri? ah tidak, dia akan mengadakan Olimpiade minggu ini. aku tidak ingin menganggunya"



Ari memiliki kemampuan untuk menerobos ke jaringan ponsel orang lain. Tapi aku tidakml ingin dia melakukan itu, karena jika dia membuka hal itu maka konsetrasi tentang Olimpiadenya akan terganggu.



Tiba-tiba pikirku mengingat sesuatu pada mobil warna hitam kemarin. Aku memberikan dompet pada pengemudi yang ada di dalam mobil itu. Anehnya mobil itu seperti berbunyi sesuatu yaitu tendangan seseorang. Tapi aku tidak tau apa yang terjadi dengan mobil tersebut.



"Key, ada apa? Apakah ada yang kamu ingat? "


"Benar" Aku menjelaskan hal itu pada Ari.



Kami tidak bisa menyimpulkan jika mobil tersebut sebagai penculik Ani. Sayangnya di daerah ini tidak ada CCTV yang bisa memantau gerak-gerik yang terjadi. Apalagi kemarin satpam penjaga sedang tertidur pulas. Jadi dia tidka tau apa yang terjadi sebenarnya.



"Lebih baik kita pulang saja ri, pikiranku belum jernih" Kepalaku sangat pusing, mungkin karena terlalu sibuk memikirkan Ani yang hilang.



Aku tidak mengerti mengapa hal ini terjadi pada ani. Jika orang itu mengincar ku, kenapa harus ani yang dia culik.



Pertanyaan terus timbul dalam hati dan pikiran ini. aku bahkan tidak mengerti jelas apa yang sedang terjadi sebenarnya. Tapi sepertinya aku butuh istirahat untuk merebahkan otak yang sudah sangat penuh.



"Baiklah key, lebih baik kita pulang dahulu. Aku janji akan menolongmu mencari sesuru tentang ani"



"Jangan ri, lebih baik kamu fokus saja dengan Olimpiademu yang akan datang di minggu depan" Aku tidak ingin Olimpiade ari terganggu karena hanya masalah kecil yang aku miliki.


Aku ingin Ari belajar lebih giat untuk memenangkan olimpiade tingkat provinsi itu.



"Tapi key? "


"Sudahlah, ikuti saja ucapanku. Aku ingin kamu membawaa pulang kemenangan" Aku mencoba tersenyum dan meyakinkan bahwa Ari harus menang dalam perlombaannya.



Aku ingin kedua temanku Ari dan Yuri sukses di jalannya masing-masing. Biarkan saja masalah ini aku genggam sementara, dan mereka berjalan di tempat yang mereka inginkan.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2