Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
99. Pelajaran Untuk Adel


__ADS_3

Adu argumentasi yang paling baik agar tidak mendapatkan hukuman atau mendapatkan hukuman yang lebih ringan dari pak Toni. Namun ternyata argumen ku tidak ada gunanya.


"Maaf Pak karena mobil saya bannya kempes"


"Mengapa tidak di tambal? "


"Karena saya bukan tukang tambal ban pak"


"Hahahahah".


Para murid yang terlambat ikut tertawa mendengar jawabanku. Karena memang benar aku bukan penambal ban. Bagaimana bisa harus menambal ban jika tidak memiliki skill.


"Haduh, haduh haduh. Keyla jawabnmu itu loh. Ihhh, kesel deh" Gayanya yang kocak sudah keluar, saatnya siap-siap di hukum.


Semua pasti tau gaya pak Toni yang jika mengeluarkan kata ihhh kesel deh. Maka itu awal perkataan untuk hukuman lebih besar. Bau-baunya sudah tercium jelas.


"Skot jump semuanya" Bentaknya dengan keras membuat semua murid terdiam lalu melakukan hukuman tersebut.


"Berapa kali pak? " Tanya salah satu murid


"100 kali"


"Hahh" Jawaban yang tak terkira. Tapi tetap dijalani juga karena ini demi masuk ke kelas. Tidak lama kemudian Doni dan David ternyata telat juga.


"Aduh-aduh, kalian ini. Cepat Skot jump tapi nambah 20 jadinya 120 kali" Aku pikir sudah terlambat paling akhir ternyata ada David dan juga doni.


Tapi mengapa David dan Doni masuk sekolah bukannya mereka harus melakukan persiapan untuk bertanding nanti sore, dasar anak teladan.


"Ehhh, bentar bentar. Kalian kan akan bertanding nanti sore. Jadi hukuman kalian saya kurangi" Ucap pak Toni.


"Berapa pak? " Tanya Doni untuk lebih jelas.


"50 saja biar selesainya sama dengan mereka" Enak saja mereka. Sudah telat paling akhir dan sekarang malah mendapatkan hukuman paling ringan.


"Gak adil pak, mereka telat belakangan hukumannya malah tambah ringan" Protes ku pada pak Toni dan diikuti oleh beberapa siswa yang telat.


"Keyla, mau saya tambah hukumanmu? " Tatapannya tajam padaku membuat kumisnya bergetar.


"Hehe, tidak pak. Tidak jadi pak" Ucapku sambil tersenyum lalu melakukan hukuman kembali.


Setelah hukuman selesai, kami membersihkan pakaian lalu mengambil tas dan ingin pergi ke kelas. Tepatnya 2 menit hukumannya namun hampir setengah jam di lapangan. Dasar pak Toni, untung saja jam pertama matematika jadi otakku agak sedikit lega.


"Doni, kok masuk? " Tanyaku pada Doni walaupun di samping juga ada David. Karena aku tau David tidak akan mau bicara denganku jadi aku berjalan dengan Doni saja.


"Iya nih, kita gak boleh dispen mulai awal pelajaran. Hanya diperbolehkan dispen sekitar jam 10. Mana lagi tadi aku telat" Sahut Doni dengan bibir manyunnya dan kesal.


"Hahahhah, rasain. Makanya jangan telat" Ucapku bergembira mendengarkan pernyataan Doni sekalian mengejeknya.


"Kamu sendiri telat keyla" Seketika aku diam mendengarkan balasan Doni.


"Eh iya"


"Hahhahaha" Di sepanjang perjalanan di lorong kelas aku dan Doni tertawa bersama-sama. Dan tidak memperdulikan David yang berjalan sendiri di belakang kami berdua.


"Memangnya kamu telat kenapa? "


"Biasa ada urusan sedikit, yang penting telatnya kan gak sampai jam 12x sahut ku santai.


"Ya berarti setengah hari dong"


"Hahahha" Asik sekali obrolan ku bersama Doni.


Walaupun hatiku memikirkan David yang dibelakang. Tapi sudahlah, lagipula David sendiri yang menjauhiku. Lalu buat apalagi aku berharap padanya.


"Hati-hati coy"


"Siapppp bosku" semakin hari aku dan Doni sudah semakin akrab. Apalagi sekarang Doni lebih sering dengn puja dan jrang berkumpul bersamamu lagi.


Di persimpangan lorong kami terpisah karena Doni ingin ke kamar mandi. Katanya perutnya sakit jadi dia meninggalkanku. Hanya ada aku dan David yang berjalan bersama di lorong itu untuk menuju ke kelas yang sama.


Kami berdua hanya bisa terdiam dan membisu. Berjalan masing-masing tanpa percakapan apapun. Melewati kelas Adel yang histeris melihat David. Tapi David tidak meresponnya. Saat hampir sampai ke kelas, David berbisik tapi tidak keras.


"Nanti sore datang ke pertandinganku" Ku pikir telinga ini salah mendengarkan. Ternyata benar dia bersbisik lalu wajahnya kembali ke setelan pabrik yang dingin dan masuk tanpa sepatah katapun. Aku juga menyusul untuk masuk kelas.


Untung saja gurunya baik dan memberikan kita ijin untuk segera duduk dan mengikuti pelajaran karena tadi sudah di hukum di depan. Aku juga mengekoru David dari belakang lalu dia duduk kemudian aku juga duduk.


"Telat? " Tanya Ari dan aku menjawabnya dengan anggukan lalu kembali menulis catatan yang ada di papan.


"Hahahaha" Ari tertawa kecil. Sepertinya dia senang karena aku telat dan di hukum.


*plak*

__ADS_1


"Sttt, berisik" Pukulan kecil di badannya membuat Ari diam seketika.


Sedangkan aku tersenyum melihat tingakhnya lalu Ari membalasnya juga dengan senyuman. Yuri ingin menoleh ke belakang tapi ku tahan punggungnya agar tidak jadi menoleh.


*brak*


"Apa itu? " Tanya ibu guru di depan setelah mendengar suara gertakan kaki.


"Tidak apa-apa bu, tadi kaki saya terbentur bu" Sahut ku, padahal suara tadi adalah gertakan kaki Yuri yang kesal karena badannya ku tahan agar tidak menoleh ke belakang.


Saat waktu jam istirahat, aku menceritakan semuanya pada Yuri dan Ari tentang kelakuan lelaki jahat itu. Kalau dia pergi ke hotel pagi ini bersama wanita lain. Padahal masih pagi sudah berbuat mesum saja.


"Lalu apakah kamu memotret nya? " Tanya Ari padaku.


"Sudah dong" Aku mengeluarkan ponsel dan mengirmnya di grup.


"Bagus key, ini bisa aku jadikan bukti ke mama" Senyum Yuri sumringah saat melihat bukti foto yang aku tunjukkan padanya.


"Kerja bagus" Kami bertiga tersenyum sambil menikmati makanan yang sudah di pesan.


Saat makan pikiranku bimbang, karena nanti pertandingan bola dan aku ingin menontonnya. Di lain sisi aku ingin menjenguk ayah tapi takut dengan mamanya kak Dika.


"Key" Gertak Ari padaku


"Eh maaf"


"Kenapa? " Aku hanya menggeleng lalu melanjutkan makan nasi putih dengan telur dan sayur agar tubuh tetap sehat karena tidak banyak lemak bakso.


"Yuhu orang miskin, makannya irit banget ya" Memang si Adel dan kawan-kawan. Tiada hari tanpa membuat onar.


"Coba kalian liat, makannya cuman telur dan sayur. Oh iya aku lupa kalau dia tidak punya uang" Ucapnya pada gengnya, sedangkan kami bertiga menikmati makanan dengan santai tanpa menghiraikan Adel.


Saking banyaknya cacian yang Adel keluarkan, sampai-sampai makanan kami sudah habis dan perut kami kenyang. Sedangkan mulut Adel sudah kenyang meluapkan cacian. Sepertinya aku ingin memberinya pelajaran, kali ini tidak dengan kekerasan.


"Teman-teman, kalian hari ini boleh pesan apa saja karena disini ada orang kaya yang lagi ulang tahun. Katanya mau teraktir kalian, namanya adelia anak kelas 11 Ini orangnya" Teriakku pada seluruh siswa yang membuat semuanya senang mengerubungi Adel untuk memesan makanan.


Aku, Ari dan Yuri segera kabur dari kantin setelah keributan itu. Adel kualahan karena banyak siswa yang mendekat padanya. Saat dia menyangkal, aku kembali berkata jika dia tidak membayar tagihan kantin berarti dia bukan orang kaya. Lalu kami bertiga kabur sejauh mungkin sambil tertawa.


"Gila kamu key" Ucap Yuri saat kami berhenti berlari karena kecapean.


"Biarin, lagian setiap ketemu pasti bibirnya nyinyir. Biar sekalinya kapok tuh dia"


"Aku setuju denganmu key" Sambung Ari sambil mengatur nafas.


"David tunggu" Aku berlari menghampirinya untuk mengatakan sesuatu.


"Semangat, semoga menang" Aku menyalami tangannya dan menatap David dengan senyum. Sepertinya dia menghindari ku karena ada sesuatu bukan kemauannya sendiri.


"Heyyy, lepasin gak" Adel datang dan langsung memisahkan tanganku dan David. Bosan sekali aku melihat Adel yang selalu muncul saat aku bertemu David.


"David, dia sudah ngerjain aku di kantin. Dia suruh aku membayar semua makanan di kantin" Adel merengek dengan manja sambil bergelayut di lengan David, seperti monyet saja.


Aku yang melihat rengekan Adel terasa kesal tapi di lain sisi aku tertawa karena berhasil memberikan pelajaran agar dia tidak selalu merendahkan orang dimanapun dan kapanpun. Untung saja baru satu kantin bukan satu pasar, biar bangkrut sekalian.


"Sudahlah, lagian kamu kaya. Ayo pergi" Aku tersenyum mendengar jawaban David yang memilih menjawab seperti itu dan membawa Adel pergi dari hadapanku. Karena David tau Adel akan berbuat ulah jika bertemu denganku.


Aku kembali ke Yuri dan Ari untuk duduk bersama di depan kelas. Berbincang-bincang bahwa aku tidak jadi untuk menonton pertandingan David karena ingin menjenguk ayah di rumah sakit.


Aku menyuruh Ari dan Yuri saja yang pergi tapi mereka tidak mau. Katanya ingin pergi bersamaku ke rumah sakit sekalian berkunjung menengok ayahku dan juga kak Dika yang saat ini memilih absen untuk menjaga ayah.


"Baiklah, ayo kita masuk. Sebentar lagi bel" Ucap Ari dengan semangat. Kami masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajaran. Sebelumnya aku menyempatkan diri bertemu dengan Doni untuk memberikan semangat juga padanya. Bagaimanapun juga dia teman baikku.




Sepulang sekolah kami bertiga menaiki mobil Ari menuju ke rumah sakit. Sebelumnya aku sudah membeli buah untuk dibawa ke ayah. Aku juga ingin menjenguk ayah karena rasa bersalah ku masih melekat.



"Key, memangnya mamanya kak Dika mau menerimamu" Tanya Ari padaku saat mereka melihat hal perlakuan mama kak dika kemarin saat dia melihatku.



"Sttt, Ari" Yuri melotot pada Ari karena mungkin dia takut jika aku tersinggung dengan pertanyaan.



"Aku tidak tau, tapi yang paling penting aku menemui ayah saat ini" Kami turun dari mobil dan menyusuri lorong bersama-sama.


__ADS_1


Untung saja kak Dika memberikan nomor kamar ayah pada Yuri. Jadi kami bertiga gampang untuk mencarinya. Dengan senyuman akan aku berikan buah tangan sebagai tanda ucapan maaf pada ayah. Walaupun ini tidak seberapa setidaknya aku bisa mengucapkan maaf langsung padanya.



\*tok, tok, tok\*



\*Ceklek\* mengetuk pintu secara perlahan lalu membukanya. Baru saja aku melangkah untuk masuk, mamanya kak Dika langsung menatapku dengan kejam. Dia menghampiriku dan menyeret ku keluar.



"Sini kamu" Dengan keras tangannya mnecengkeram lenganku.



"Ada apa tante" Aku bertanya-tanya dengan perilakunya saat ini.


"Sudah ku bilang jangan kesini. Kamu punya otak dan telinga apa tidak sih. Omongan orang kok tidak di dengarkan" Bentaknya dengan kesal padaku yang disaksikan Ari dan juga Yuri.



"Tapi tante, key hanya menjenguk ayah untuk mengetahui keadannya" Kelasku


"Tidak perlu" Ketusnya dengan marah


"Tapi tante" Aku masih saja keras kepala untuk menemui ayah.



"Dengar anak pelacur, kamu itu tidak pantas...."


"Cukup tante, jangan hina saya sebagai anak pelacur" Bentak ku dengan keras sambil melemparkan tangannya.



"Berani kamu ya ngelawan saya" Dia menjambakku kembali sambil melontarkan kata-kata hinaan bahwa aku sama dengan ibuku yaitu sebagai pelacur atau pelakor yang tebar pesona.



Aku tidak Terima dengan perilakunya dan langsung mendorong tubuhnya hingga terpental dan terjatuh di atas lantai rumah sakit.



\*brukk\*


"Aduh" Dia teriak kesakitan dan saat itu juga kak Dika datang dan langsung menolong mamanya.



Setelah itu kak Dika menatapku dan memarahiku atas tindakan yang telah kulakukan. Aku mencoba menjelaskan bahwa mamanya yang menyerang ku terlebih dahulu. Tapi kak Dika lebih memilih untuk percaya dengan kata-kata manis mamanya.



"Kak Key itu benar" Ucap Yuri yang mencoba membela ku karena dia dan Ari melihat apa yang sudah terjadi.



"Diam Yuri, ini bukan urusanmu" Bentakan kak Dika membuat Yuri juga marah. Karena baru kali ini kak Dika membentak Yuri dengan keras seperti itu.



Mungkin dia hanya membela ibunya bukan untuk membela mana yang benar dan mana yang salah, sehingga kak Dika dengan murka memarahi Yuri tanpa berfikir apapun.



"Asal kakak tau ya, Key hanya jenguk ayah bukan untuk berantem. Dan satu lagi Key bukan anak pelakor ataupun pelacur" Tegas ku pada kak Dika dengan kesal lalu menggandeng Yuri untuk pergi.



"Oh iya satu lagi kak, ini urusan kita dan jangan pernah bicara kasar pada sahabatku" Aku berbalik sambil mengucapkan kata itu karena tidak terima atas apa yang kak Dika lakukan pada Yuri.



Kami bertiga pergi dengan kesal, padahal aku ingin menjenguk ayah tapi selalu saja ada nenek sihir yang membuat drama. Jika dilihat-lihat dramanya sangat bagus dan cocok jadi bintang sinetron.



Aku menghela nafas kesal dan duduk di sebuah taman dekat rumah sakit. Begitu juga dengan Ari dan Yuri mengikutiku. Dengan rasa kesal dalam hati, aku membuka bingiksan buah yang ada ditangan. Menyobeknya dan mengambil buah tersebut.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2