Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
120. Obat Terlarang


__ADS_3

Sangat asik sekali menggodanya agar dia ketakutan. Suruh siapa dia yang usil duluan dan ingin melakukan kejahatan pada kami. Kali ini aku akan membalasnya.


"Jangan main-main, kau mau mati dua kali?" Ucapnya dengan menatap sembarang arah. Dan lihatlah raut wajah dia benar-benar kocak, rasanya aku ingin tertawa.


"Kamu dulu yang akan aku bunuh. Hihihihihi" Sekarang suaraku menjadi kuntilanak agar meyakinkan. Matanya kembali menatap sekeliling dengan ketakutan.


Pas sekali aku melihat pisau yang berada di pinggir meja. Aku segera bersembunyi di balik meja dan mendorongnya dengan keras sehingga terjatuh ke lantai.


*prakk*


"Aaaaaa" Dia lari ketakutan dan tidak jadi mencampurkan bahan tersebut. Aku lega karena bisa menyelamatkan semua pemain. Ternyata benar apa yang dikatakan Bela bahwa mereka akan berbuat curang.


Tapi obat apa yang mereka gunakan, berwarna putih seperti bubuk garam. Tapi sepertinya sangat halus, dan tidak mungkin dia akan memasukkan garam. sedangkan dia juga bukan koki.


"Syukurlah dia pergi, aku harus tetap berhati-hati" Aku kembali masuk ke dalam ruang makan dan menikmati makan bersama-sama. Awalnya aku takut, tapi ternyata tidak ada hal yang terjadi setelah kami menghabiskan semuanya.


"Baiklah, sekarang lakukan latihan seperti biasa" perintah pelatih.


"siap coach"


Selanjutnya kami melakukan latihan pemanasan sebentar saja seperti biasa. Kemudian menonton pertandingan lawan sebelumnya untuk melakukan evaluasi sebagai gambaran untuk kami semua.


Sedangkan nanti sore akan melakukan latihan sekaligus evaluasi tendangan atau hal-hal yang kurang serta melakukan persiapan yang sangat matang. Dan malamnya kami akan beristirahat untuk persiapan pertandingan besok.


Banyak sekali jadwal yang harus dilakukan, tapi kami harus tetap semangat dan melakukannya dengan lapang dada. Tidak ada kemenangan yang instan, karena semuanya butuh proses walaupun harus jatuh bangun.



Pertandingan sudah tiba. Kami semua berangkat dari penginapan ke lapangan pertandinga untuk melakukan laga terakhir kami di kota ini.



Semua pemain berdoa agar kemenganan menjadi milik kami dan bisa membawa piala pulang ke kampung. Serta menjadikan tim ini satu-satunya tim yang membanggakan untuk membawa nama baik kota kelahiran kami.



"Ani, jangan lupa dukung kita ya" Ucapku dan Ira saat kami duduk bertiga di bangku ruang ganti.



"Tenang saja, aku akan selalu mendukung kalian kok"


"Oh iya, kamu haras tetapi waspada ya. Jangan sampai ada hal aneh" Ucapku.



Aku kembali mengingatkan pada Ani tentang kejadian kemarin. sebelumnya aku sudah menceritakan semuanya pada mereka berdua. Dan sekarang aku hanya meminta Ani untuk lebih waspada lagi.



"Tenang saja, selama ada aku disini maka akan aman" Ucapnya sambil membanggakan dirinya sendiri.



Aku takut mereka masih ingin melakukan hal curang agar kami menjadi kalah di pertandingan kali ini. Aku tidak akan membiarkan mereka melakukan hal yang kotor itu menang. Aku akan mengeluarkan kemampuan terakhir hingga titik penghabisan.



"Ingat, pertandingan ini adalah akhir dari perjuangan kita disini. Usahakan kalian mengeluarkan semua kemampuan yang dimiliki" Nasehat coach Jaka saat kami sudah bersiap diri di ruang ganti.


"Siap coach"



"Sekarang kalian masuk dan keluarkan kemampuan yang terbaik" Kami bersiap dan segera memasuki pertandingan.



Aku akan melakukan apapun yang penting kita menang. Begitu juga pemain lainnya melakukan kerja keras yang tinggi.



\*prittt\* peluit panjang awal babak satu dibunyikan. Permaian kita sudah terlihat sangat baik. Kami sangat menguasai pertandingan dari awal babak ini hingga pertengahan.



Di akhir pertandingan kami berhasil mencetak 2 gol sekaligus. Walaupun kami sudah mengamankan 2 poin gol, tapi waktu babak dua masih panjang. Dan kami haras tetap waspada terhadap serangan.



Saat babak kedua dimulai, tim kmi kembali menambah gol hingga skor sementara berubah 3-0. Tapi di akhir-akhir pertadingan babak kedua kami mengalami kebobolan dari tim lawan yang bisa merubah skor menjadi 3-2.



"Tenang, kalian haras tenang. Kita pasti bisa" Ucap Rika sang kapten mencoba membangun kembali pertahanan yang sempat runtuh. Menit-menit akhir sudah mulai berputar.



Kami hanya menunggu waktu untuk peluit dibunyikan. Tambahan babak kedua sangat panjang yaitu 3 menit. Konsentrasi tidak boleh terkoyak sedikitpun karena ini adalah pertandingan penentuan.



\*pritttt\*



"Yeyyyyy, horeeee" Perjuangan sudah berakhir, kemenganan dapat di genggam di tim kami. Semuanya bersorak bergembira dan berpelukan satu sama lain.



"Ira, " Menjerit pada semua pemain. Memeluk Ira lalu bergantian memeluk pemain lainnya.



"Keyyyyla" Ani dengan jalan perlahan dia menghampiriku. Memeluk dengan kegirangan karena mendengar bau kemengan tiba.



Semuanya bersorak gembira melihat akhir dari perjalanan ini. Kami semua memeluk coach Jaka dan para staf pelatih untuk mengucapkan terima kasih. Tidak lupa kami sujud syukur secara bersama-sama. Karena kemenganan tidak lepas dari sang Pencipta.



"Horeeee"


"Juara"

__ADS_1


"Juara"


"Juara" Teriakan itu dikumandangkan hingga kami masuk kedalam ruang ganti. Teriakan gembira serta bahagia ada di dalam benak kami.



Semuanya tidak akan lepas dari usaha dan doa. Perjuangan kami tidak sia-sia. Piala itu akan kami bawa pulang ke kampung untuk menunjukkan berapa hebatnya tim ini.



"Mereka pak yang melakukan kecurangan" Aku terkejut saat ada polisi datang masuk ke ruang ganti kami.



Senyum kami yang snagat bahagia kini terhenti dan kembali terdiam saat beberapa polisi masuk dan ingin melakukan penangkapan.



"Orang itu" Aku mengenali orang yang berada di samping polisi karena dia yang kemarin ingin memasukkan sesuatu dalam makanan kami.



"Ada apa ini" Tanya coach Jaka yang tidak mengerti apapun dan tiba-tiba polisi masuk untuk meringkus penanggung jawab kami.



"Begini pak saya akan menjelaskan semua" Polisi dan beberapa panita mengajak coach Jaka untuk berbincang-bincang.



Kami yang ada di ruangan sangat kebingungan. Entah apa yang terjadi tiba-tiba ada polisi yang datang. Padahal hari ini adalah kebahagiaan karena kemengan ada di tangan kita yang jelas-jelas nyata.



Semua di ruangan menjadi diam, sunyi dan senyap. Para pemain tertunduk lesu dengan keadaan ini. Tidak tau apa yang akan terjadi, apakah mungkin kemengan ini akan menjadi kesedihan dan trauma.



"Anak-anak, tolong dengarkan saya" Coach jaka masuk membuat wajah kami semua menjadi tegang menatapanya.



"Saya ingin tanya pada kalian tentang kejujuran, siapa yang disini membawa obat-obat terlarang untuk meningkatkan stamina dalam pertandingan" Pertanyaan konyol macam apa itu.



Baru kali ini kami dituduh membawa obat terlarang agar menambah stamina dalam pertandingan. Padahal kami bermain dengan hati demi kemengan, bukan karena obat-obatan yang dituduhkan.



"Kami tidak ada yang membawa itu coach" Ucap salah satu pemain karena kesal dengan tuduhan itu.



"Alah..., kalian sudah pasti banyak yang berbohong" Ternyata lelaki yang disamaping polisi itu panitia dari kota ini. Dan dia juga kemarin yang ingin memasukkan sesuatu pada makanan kami.



"Memang tidak ada coach, kami tidak ada yang menggunakan itu" Ucapku yang berbicara dengan tegas.




Lelaki itu juga dengan lugas mengeluarkan kata-kata kelicikannya untuk meyakinkan polisi bahwa kami adalah pemain yang bersalah.



"Kalau kalian tidak percaya, silahkan cek saja tas kami" Ucapku dengan kesal. Agar mereka tau bahwa tas kami tidak ada yang membawa obat-obatan terlarang.



"Key, maksudmu apa? " Ketus Ani karena menurutnya tas pemain adalah urusan mereka pribadi.



"Tenang saja, kalau kita tidak salah jangan pernah takut" Aku menegaskan kembali dan membuat semua pemain tenang karena mereka merasakan tidak ada yang menggunakan ini.



"Baiklah, saya akan memerikasanya" Para polisi dan panitia memeriksa semua barang bawaan kami. Mereka membongkar semuanya tanpa tersisa sedikitpun. Bahkan tas para pelatih juga diperiksa.



Beberapa menit mereka sibuk memeriksa tas dan ruangan hingga di sudut-sudut. Terlihat dari wajah panitia tersebut merasa kesal karena tidak menemukan apapun di ruangan ini. Setelah itu para polisi memeriksa para pemain tapi tidak ditemukan apapun.



"Maaf Pak, tuduhan anda salah. Kami tidak menemukan apapun" Ucap polisi pada panitia tersebut.



"Alhamdulillah" Semua pemain bersyukur karena tidak ada barang terlarang di lingkungan tim kami.



"Bagaimana bisa pak, coba periksa lagi. Saya yakin pasti ada" Lelaki itu terus ngotot untuk mengatakan bahwa kami membawa barang terlarang tersebut.



Sedikit senyumku terpancar lega karena kami terbukti tidak bersalah dan tidak melakukan hal apapun yang telah dituduhkan.



"Barang itu tidak ada di kami pak, barang itu dia yang bawa" Sahutku santai.



Langkahku menghampiri bapak polisi dan menunjukkan foto saat dia membawa sesuatu di tangannya dan ingin mencampurkan ke makanan kami.



"Maksudmu apa? " Dia membentak ku dengan keras dan hampir memukulku. Untung saja para polisi dan pelatih menahan amarahnya.


__ADS_1


"Lihat saja pak, saya yakin di kantong atau tas dia pasti ada sesuatu" Pak polisi menuruti apa yang aku ucapkan.



Tanpa basa-basi mereka memeriksa tas dan saku celananya. Benar saja mereka menemukan benda yang dicurigai itu obat terlarang dengan jenis s\*bu.



"Ini apa, kamu pemakai atau pengedar" Bentak polisi kesal. Dia yang melaporkan dan dia juga yang bersalah.



"Tidak pak, itu bukan punya saya" Dia masih mengelak bahwa barang tersebut bukan miliknya.



Polisi langsung membawa lelaki itu pergi walaupun dia terus memaksa untuk minta di lepaskan dan berkata bahwa barang itu bukan miliknya. Tapi bukti sudah mengatakan jelas bahwa barang itu ada padanya.



"Alhamdulillah kita benar-benar menang dengan murni" Syukur coach Jaka terucap dalam bibir.



"Alhamdulillah" Semua melakukan sujud syukur di ruang ganti. Karena kami sebentar lagi melakukan pengambilan penghargaan.



Kami segera menuju lapangan untuk mengambil mengambil penghargaan juara 1. Aku memang tidak mendapatkan penghargaan top skor tapi kali ini aku mendapatkan pemain terbaik di tim. Gelar itu kedua kalinya aku dapatkan.



Hadiah yang aku dapatkan juga cukup besar. Buat menambah tabunganku untuk membayar hutang ke ibu. Setengahnya aku akan mentrakrir keluarga bu Yanti dan sahabat terbaikku.



"Alhamdulillah ya Allah, aku harap keluargaku bangga dengan pencapaian ini. Dan aku ingin mereka disiini" Ucapan rasa syukur harus tetap dilakukan.



walaupun hatiku sedikit memegang kesedihan karena tidak melihat keberadaan ibu dan keluarga yang datang untuk menonton pertandingan ku kalo ini.



"Selamat ya, selamat"


"Horeee menanggg"


"Selamat" Semua penonton dan keluarga dari para pemain datang menghampiri untuk memeluk mereka.



Aku yang melihatnya merasa iri, andai ibu sama bapak ada disini. Mungkin aku juga merasakan hal yang sama. Dipeluk dan di manja serta merayakan kemenangan bersama keluarga.



Sedangkan aku berjalan tertunduk sambil membawa penghargaan.



"Key, mau kemana. Sini" Teriak Ani yang senang berkumpul bersama keluarganya.



"Eh ani" Aku segera menuju padanya. Disana terlihat keluarga Ani terdiri dari ayah, ibu, kakak dan adiknya.



Aku sudah mengenalnya semenjak pertandingan tarkam saat itu. Tapi aku malu untuk menyapa terlebih dahulu karena mereka semua orang kaya. Aku merasa tidak pantas bersanding dengan mereka, tapi Ani sudah menganggapku saudara sendiri.



"Selamat ya nak"


"Selamat ya" Keluarga Ani memberiku selamat atas kemengan dan gelar ini. Aku merasakan kehangatan saat berada di samping mereka.


"Terima kasih banyak om, tante dan kakak"



Perbincangan terus nbrgulir diantara kita semua. Tidak lama kemudian keluarga Ira juga datang dan kami saling berkenalan dengn keluarga Ira. Perbincangan yang cukup panjang diantara kami semua.



"Wah ini momen yang cantik, Seharusnya kita abadikan" Ucap Ani dengan senang hati mempteer kebersamaan ini lewat kameranya.



Tidak lupa sesi foto bersama dilakukan, katanya untuk kenang-kenangan suatu sata nanti. Foto ini akan selalu di ingat di setiap pertandingan mana pun walau nanti kita tidak bersama kembali.



Coach Jaka memberi kami kabar bahwa besok kami akan tinggal sehari lagi untuk bersantai dan menikmati pemandangan di kota ini bersama tim. Jadi hari ini tidak boleh pulang bersama orangtua.



Masing-masing orang tua boleh menjemput anak asuhnya saat sudah sampai di kota. Bukan di jemput di kota ini, karena mereka berangkat bersama jadi pulang juga bersama.



"Key, sendirian aja. Lagi ngapain? " Ani dan Ira datang saat aku termenung di bawah rembulan sendirian.


"Lagi melihat bintang yang jauh disana" Sahutku sambil menatap langit.


Lagipula sendiri adalah jawaban yang tepat saat menggambarkan keberadaanku. Dari dulu aku suka sendiri, bulan dan bintang adalah teman semu yang selalu ada slama bayangan.


"Aku tau kamu memikirkan sesuatu" Kali ini Ira mencoba menjadi peramal.


"Apa? "


"Memikirkanku" Wajahnya yang lucu dan menggemaskan, tapi wajah itu membuatku menyesal melihatnya karena kekonyolan yang dia lakukan.


"Hahahhaha" Ani dan Ira asik tertawa. Sedangkan aku masih terdiam, karena ada hal yang terus saja bergilir di pikiranku.


__ADS_1


__ADS_2