
Aku memilih duduk di belakang mereka. Dan aku yakin ibu tau jika mata ini sedang memandanginya. Karena dari tadi dia mencuri pandangan untuk melihat ke belakang lalu menatapku.
Wajahku kali ini datar dan tidak memperlihatkan ekspresi senang ataupun tertawa bahkan raut wajah juga enggan memberikan kesedihan. Sambil menatap mereka, aku menikmati makan batagor dan juga es cincau.
"Enak gak makanannya sayang"
"Enk sekali ma, mama mau? Sini aku suapin" Suapan dari tangan kecil mengarah ke bibir ibu yang sudah menganga. Jadi teringat masa kecilku saat itu.
Menyuapi ibu dengan tangan mungil yang masih lugu. Sebungkus nasi berdua untuk mengganjal lapar di pinggir jalan. Menikmati suasana raungan mesin motor dan mobil yang lalu lalang melewati jalalnan sepanjang hari.
"Kok mama saja, ayah juga dong" Lelaki itu menambahkan untuk ikut disuapin oleh anaknya yang masih kecil. Seorang anak perempuan, Kira-kira umurnya sekitar 7sampai 8 tahunan.
"Beruntung sekali" Gumamku dengan kesendirian yang ditemani segenggam plastik cincau dan batagor.
Setelah semuanya habis, habis pula temanku di tempat duduk ini. Aku beranjak pergi untuk berkeliling kembali melihat hal yang lebih menarik dari ini.
"Aku tidak tertarik dengan kalian" gumamku sambil berjalan sendiri.
Berjalan kembali menelusuri orang-orang yang berdagang banyak macam. Menikmati suasana yang ramai dengan para pengunjung ternyata semakin siang semakakin ramai, aku pikir sudah berkurang ternyata kebalikannya.
"Tunggu" Aku berhenti dengan teriakan itu. Tubuh ini menoleh ke sumber suara yang memanggilku.
"Tunggu Key, ibu ingin bicara" Tangan ibu menggenggam erat lenganku. Mengapa getarannya sampai hingga ke hatiku.
Apa yang akan dibicarakan padaku. Hatiku juga gelisah dan bimbang karena aku juga tidak tau apa yang akan dibicarakan dengan ibu. Dia kembali ada di hadapanku tapi hatiku sudah terlanjur sakit dari kemarin.
"Bagaimana kabarmu nak? " Aku masih terdiam dan melepaskan genggaman ibu dengan paksa.
Apakah aku salah jika harus berbuat seperti ini pada ibu. Aapakah aku sudah benar jika harus berdiam diri menatap ibu. Sebenarnya aku masih sakit, semenjak kepergian ibu.
"Baik" Sahutku singkat
"Ibu rindu nak" Aku menghindar saat ibu ingin memeluk tubuhku.
Memang aku membetuhkan dekapan ini, tapi itu keinginanki dulu saat hatiku sedang hancur saat duniaku sedang rapuh, bukan sekarang. Dan sekarang sudah tidka berguna.
"Ibu ingin memelukmu sebentar saja" Aku kembali menghindar saat ibu mencoba untuk memelukku kembali.
"Aku ingin pulang" Ucapku dan berbalik untuk meninggalkannya.
"Tunggu, ibu sayang padamu. Mengapa kamu seperti ini sekarang seakan tidak mengenali ibu" Tubuhku kembali menatap ibu yang sudah mengeluarkan air mata dan membasahi wajahnya.
Aku menarik nafas sedalam mungkin untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan selama ini.
"Ibu yang membuat aku seperti ini, ibu sendiri yang berkata tidak mengenalku bukan? Lalu mengapa aku harus mengenal ibu dan kenapa ibu datang kembali?. Masih kurang kah luka yang ibu sayatkan pada hatiku" Teriakku di depan ibu dengan tatapan kesal dan juga pilu.
"Ibu kemana saat aku kedinginan, ibu kemana saat aku merindukan kasih sayang seperti teman-teman lainnya. Setelah ibu pergi meninggalkanku beberapa tahun yang lalu, sekarang ibu datang dengan mengaku pahlawan padaku?" Aku masih menahan tangis di depan ibu.
Mataku pura-pura tegar padahal hatiku telah hancur berkeping-keping tanpa sisa sedikitpun. Aku ingin menangis tapi air mata ini menahan untuk tidak berseluncur membasahi pipiku.
Sedangkan ibu terdiam dengan tangisannya yang begitu kencang. Membuat wajahnya sangat basah dengan air matanya sendiri. Tangannya terus mencoba menggapai aku, tapi tubuh ini selalu menghindarinya.
"Apakah kamu tidak membaca surat ibu? "
"Surat itu? Apa pentingnya? Oh iya, Key sudah mengumpulkan uang untuk membayar semua uang yang ibu kirim pada Key" Kelasku padanya.
"Tidak-tidak, ibu tidak meminta ganti itu semua uang Key nak" Mudah sekali ibu bilang itu uangku.
Uang yang merenggut semua kasih sayang ibu padaku. Uang itu juga merenggut kebahagiaan dalam hidupku hingga seakan hidup sebagai anak yang terlantar sendirian. Berteman sepi yang rapuh setiap hari.
"Sayang, kamu ngapain? " Teriak suami ibu dari belakang namun jaraknya masih sangat jauh dengan kami.
"Maaf, Key sudah menganggu kebahagiaan ibu. Key janji uang itu akan secepatnya datang pada ibu. Dan satu lagi jangan kirimkan uang lagi pada Key" Aku bergegas pergi meninggalkan ibu sendirian.
Tangan ibu sibuk menyeka air matanya lalu aku lihat ia kembali sibuk berbincang dengan suaminya. Kembali menggendong buah hati mereka yang menangani karena meminta sesuatu.
"Apa yang aku lakukan? apakah aku salah, tapi jika aku salah lalu bagaimana dengan ibu yang meninggalkan aku di waktu selama ini? " gumamku sambil memperhatikan mereka.
__ADS_1
Aku melihat itu semua dari balik pohon besar. Bohong bila aku tidak merindukan ibu, sedangkan hatiku terus mengeluh karena ingin segera bertemu ibu. Tapi jiwaku juga berkata telah marah bila mengingat semuanya.
Lagipula ibu kembali bahagia dengan keluarga barunya setelah aku pergi dari hadapan ibu. Aku juga tidak penting dalam kehidupannya. Mungkin benar, harta lebih menyenangkan daripada kehidupan dengan anak sendiri.
"Key sudah mandiri bu, Key juga sudah menjadi anak baik. Key gak bakalan nyusahin ibu, karena key sudah bisa menjalani kehidupan kejam di dunia bu" Gumamku pada diri sendiri.
Dadaku sangat sesak, air mataku juga mengalir tanpa disuruh. Ternyata sangat susah menahan agar aku tidak menangis. Hingga akhirnya aku menangis juga karena rasa sakit dan juga egoku untuk menjuh dari ibu.
"Apa ini, mengapa seperti ini. Hikss... hiks... " aku terus tertunduk dalam kegelisahan hidupku sendiri.
Tubuhku duduk meringkuk di bawah pohon itu. Menangis sejadi-jadinya tapi berusaha menutupi agar tidak terlihat orang. Untung di sekitar pohon itu sepi jadi aku bisa menangis sepuasnya.
Aku pikir hati ini kuat seperti baja, ternyata bisa rapuh juga seperti ini. Karena aku bukanlah superhero yang kuat.
Tanganku sibuk menyeka air mata yang terus mengalir berulang-ulang. Bajuku juga basah karena mengelap mataku untuk bersih dari tangsian, walaupun sebenarnya masih menangis.
"Key, kamu jangan lemah. Kamu harus kuat" Bentakku pada diri sendiri sambil memukul kecil kepala ini agar berhenti untuk meratapi kesedihan.
"Tidak ada gunanya kamu menangis. Hanya membuang-buang air mata saja, lagipula ibumu sudah bahagia bersama keluarga kecilnya key"
Gumamku sekali lagi sambil sibuk menyeka air mata untuk tidak menangis kembali aku yakin semua ini mengajarkan aku untuk menjadi gadis yang lebih kuat.
*ting* Tiba-tiba ponselku berdering, sebuah pesan masuk.
"David" Bahagiaku kembali saat melihat pesan itu dari David. Sepertinya dia sudah membuka blokirnya dan kembali menghubungiku.
*key, aku lolos masuk ke dalam timnas Garuda u19. Saat ini aku berlarih disini untuk persiapan piala AFF* pesan yang bisa mengembalikan kebahagiaanku*
"Aaa, David. Aku ingin segera menelponnya" Ucapku dengan bahagia kegirangan sambil loncat-loncat dan dilihat beberapa orang yang lewat.
Aku sangat malu dan kembali diam untuk mencari tempat yang nyaman agar bisa berkomunikasi dengan baik bersama David.
Baru saja telepon berdering, David menolaknya. Padahal aku ingin berbicara banyak hal untuk mengetahui tentang sesuatu yang terjadi di sana. Aku mencoba menelpon lagi tapi ia kembali menolaknya.
*Key, jangan menelpon sekarang. Karena kami diberikan batasan untuk memegang ponsel. Dan selanjutnya kami akan berlatih kembali* David kembali mengirimkan pesan padaku.
Ternyata dia memegang ponsel hanya sementara. Tapi dia memilih untuk menghubungiku sebelum latihan. Aku tersenyum sendiri membayangkan hal itu. Seketika sedihku menghilang dan aku segera untuk kembali pulang.
Aku harap dia haik-baik saja saat latihan dan masuk ke dalam timnas. Dan semoga permainan yang dia dapatkan semakin baik dri. kemarin.
Sesampainya di rumah, mbak Nike dan mbak Yeni sedang bersantai di dalam ruang tamu sambil menikmati kopi panas dan coklat panas. Berkumpul tapi saling diam karena sibuk dengan layar laptop di depan mereka.
Aku bergegas membersihkan diri karena bau keringat merekat pada pakaian yang sedang aku gunakan. Aku juga ingin bersantai bersama mereka.
"Assalamu'alaikum, Keyla ikut bapak ke pasar ya"
"baiklah pak" Aku tidak pernah bisa menolak ajakan bapak.
Tapi bapak tiba-tiba datang dan mengajakku untuk ikut berbelanja di pasar besar. Aku sangat senang karena bisa berjalan-jalan dan menikmati keindahan pasar yang luasnya sangat aku kagumi.
"Key mandi dulu ya pak"
"Iya, bapak tunggu kamu di depan ya nak"
"Siap pak bos"
Bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Lalu mengganti pakaian yang selalu melekat pada ciri khas diriku. Yaitu kemeja serta celana jeans.
"Bapak, Key sudah selesai"
"Ayo naik" Aku tersenyum riang dan mencoba mendekat untuk menaiki motor bapak.
"Ihhhh, bapak kenapa tidak mengajak Yeni sih. Kan yeni juga butuh hiburan" Mbak Yeni keluar dan merengek seperti anak kecil.
"Karena kamu sibuk belajar, jadi bapak mengajak key saja"
"Hahahah, weekkkk" Aku tertawa dan mengejek mbak Yeni yang sedang menatap dengan murung.
__ADS_1
Akhirnya aku pergi bersama bapak menikmati suasana jalanan yang sudah cukup panas karena hari juga semakin siang. Debu-debu dan asap saling bersautan tanpa henti hingga tercampur dengan udara segar.
"Pak, kalau Key jadi pemain timnas hmmm... Bapak nonton ya"
"Iya bapak selalu nonton kalau timnas main kok"
"Tapi itu di TV pak, Key pengen bapak sama ibu nonton langsung biar key tambah semangat"
"insyaallah" Bapak mengangguk seakan memberikan jawaban untuk selalu mendukungku dimanapun aku berpijak.
"Kamu jangan pernah menyerah ya nak, jadilah pemain hebat" Suara samar-samar terbawa angin tapi aku masih mendengarnya.
"Baik Pak, Key janji bakalan terus berjuang"
"Bagus nak, kamu anak hebat" Aku memeluk bapak seperti ayah kandungku sendiri. Aku menyayangi bapak dan ibu seperti menyayangi hidupku sendiri.
Mereka adalah sebagian dari nafasku. Tanpa perjuangan mereka yang membantuku untuk bangkit maka aku tidak akan berjalan sejauh ini hingga sampai detik ini.
"Yeyyy, aku memiliki bapak yang hebat" Teriakku di jalanan sambil merentangkan kedua tangan ke atas. Menadahkan wajah ke langit sebenarnya dengan panas yang menjadi payung.
"Inilah bapak terhebatku"
"Sudah sudah, bapak tidak sehebt yang kamu bilang"
"Tidak, bapakku adalah orang tua terhebat"
Begitu besar kebangganku pada bapak. Aku ingin dunia tau bahwa bapak adalah orang tua yang paling hebat dan memiliki pengaruh penting dalam langkahku.
Aku ingin mereka mendengar bahwa seorang anak memiliki kebanggaan sendiri pada kedua orang taunya. Salah satunya adalah aku pada bapak dan ibu, walau mereka hanya sebagai orang tua angkat.
"Pak coba lihat disana" Mataku terpaku saat kami melewati sebuah lapangan dan disana diadakan pertandingan tarkam. Tapi pertandingan untuk anak kecil, palingan umur mereka sekitar 10-13 tahun.
"Iya ada permainan bola, kamu mau nonton? "
"Tidak pak, takutnya bahan-bahan di pasar habis"
"Hahahhaha, tidak nak. Ayo kita mampir"
"Tidak-tidak, lebih baik kita ke pasar saja"
Akhirnya bapak menuruti ucapanku untuk pergi ke pasar. Hatiku sebenarnya ingin melihat pertandingan itu tapi aku tidak ingin menyusahkan bapak dan membuatnya lelah.
Karena perjalanan ke pasar saja sudah cukup jauh apalagi harus mampir lihat pertandingan, jadinya akan bertambah semakin jauh.
"Ayo turun"
Kami berdua sampai ke sebuah pasar yang besar. Banyak bahan-bahan pangan dan pakaian serta perhiasan. Semuanya lengkap dijual disini. Tapi yang kami butuhkan adalah berbelanja bahan-bahan pokok untuk kebutuhan warung ibu.
Kami berdua menjelajahi waktu dari menit ke menit untuk mengumpulkan bahan-bahan yang sedang di cari. Bapak berbelanja lebih banyak dari biasanya karena ada orang yang ingin memesan nasi pecel untuk sebuah pengajian.
"Pak ini"
"Iya bagus"
"Yeyyy" Menjadi kesenangan sendiri saat aku menemukan sayur yang sedang di cari.
"Kamu bantu bapak bawa itu saja ya biar tidak berat"
"Ah bapak bisa saja, ini enteng tau pak" Aku mencoba mengangkat karung yang ada di depan bapak.
Karung yang berisi sayuran kentang, kol dan wortel ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Benar kata bapak, ternyata memang berat.
"Hmmmm, berat juga ternyata" Gumamku dalam hati sambil mengeluarkan tenaga yang ekstra tapi nyatanya tidak terangkat juga.
"Tuh kan berat"
"Heheheh, iya Pak" Aku tersenyum sambil mengikuti perkataan bapak sebelumnya. Jadi aku membawa dua kantong kresek saja sedangkan karung itu bapak yang membawanya.
__ADS_1
Kami pulang dengan membawa semua bahan pangan. Aku harus membantu ibu besok untuk persiapan pesanan.